Tingkatkan Nilai Ekonomis Produk Perikanan di Kabupaten Muna dengan JAMAN SEKOLAH


Oleh : La Ode Muhammad Ramadan

Sektor perikanan dan kelautan Kabupaten Muna tidak bisa dipandang sebelah mata. Sektor ini memiliki andil cukup besar terhadap perekonomian Kabupaten Muna karena produksi komoditas perikanan (tangkap dan budidaya) cukup melimpah dengan trend yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya (butuh data otentik untuk membahasnya lebih detil).

IMG_0004

Namun dibalik kelimpahan produk dan andilnya disektor perekonomian, tidaklah berarti jika hanya segelintir saja yang sejahtera sementara nelayan dan pembudidaya ikan masih jauh dari kata sejahtera. Dalam konteks ini, akan percuma jika ada harta yang melimpah ruah namun tak diolah. Dengan potensi perikanan yang melimpah tersebut, Kabupaten Muna seharusnya mampu menjadikan ikan sebagai produk pangan utama bagi masyarakatnya.

Terkait fakta adanya beberapa hasil perikanan dengan nilai ekonomis rendah jika dijual dalam bentuk segar, seperti ikan loba (peperek), ikan lure (teri) dan lain-lain, maka Dinas Perikanan Kabpaten Muna meluncurkan program JAMAN SEKOLAH (Jangan Menjual Sebelum Ikan Diolah) terhadap komoditas dengan nilai ekonomis rendah tersebut.

Program JAMAN SEKOLAH yang telah dipresentasekan dihadapan tim Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Muna melalui Dinas Perikanan untuk meningkatkan harga jual dan nilai ekonomis produk perikanan di tanah Wuna dengan cara melakukan pengolahan terlebih dahulu (terhadap komoditas dengan nilai ekonomis rendah) sebelum dijual.

Selain meningkatkan harga jual dan nilai ekonomis produk perikanan, program JAMAN SEKOLAH juga ditargetkan dapat mengurangi pengangguran dengan terbukanya lapangan kerja baru di sektor pengolahan hasil perikanan yang implikasi akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat Wuna.

Secara sederhana, program JAMAN SEKOLAH akan mendorong upaya terwujudnya produk olahan hasil perikanan di tanah Wuna yang berkualitas dan berdaya saing di pasaran. Produk olahan yang selama ini telah dilakukan oleh neayan dan/atau pembudidaya ikan akan ditingkatkan kualiatsnya hingga pada desain kemasan (branding) yang lebih menarik.

ikan olahan teri

Selama ini, masyarakat Wuna telah menghasilkan berbagai produk olahan hasil perikanan mulai dari teri kering, ikan asin, ikan asap, bakso ikan, nuget ikan, dodol rumput laut, dan lain-lain. Namun demikian, produk olahan tersebut umumnya tidak didukung dengan tekhnologi kemasan sehingga kurang menarik dan daya simpan produk tidak terlalu lama.

Untuk itu, penyusunan langkah strategis dalam upaya meningkatkan dan mewujudkan perikanan dan kelautan yang berdaya saing menjadi hal penting, terutama dalam upaya pencapaian pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di Kabupaten Muna. Paling tidak, terdapat beberapa pilar strategis yang bisa dilakukan seperti membangun sumberdaya manusia berkualitas dan berdaya saing, membangun infrastruktur, serta membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan.

Dalam hal pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

  1. Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.
  2. Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders.
  3. Terbatasnya sarana penanganan ikan di atas kapal, distribusi dan terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih.
  4. Minimnya industri pengolahan. Hal ini menyebabkan pengusaha penangkapan cenderung menjual ikan dalam bentuk ikan utuh (gelondongan).
  5. Bahan baku belum standar. Sebanyak 85 persen produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar bahan baku industri pengolahan.
  6. Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya. Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan, misalnya formalin, borax, zat pewarna, antiseptik, pestisida, antibiotik. Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas, murah dan sangat mudah diperoleh.

Selain enam hal tersebut, dukungan tekhnologi produk perikanan juga menjadi penting. Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya, melalui cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices), SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

Adanya tekhnologi pengembangan produk perikanan (pengolahan hasil) dapat memberi dampak positif terhadap beberapa aspek seperti :

  1. Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan. Hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis, apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.
  2. Menumbuhkan inovasi teknologi modern. Dalam hal pengembangan produk terkait erat dengan rekayasa produksi sehingga diperlukan rekayasa peralatan dan sentuhan teknologi modern.
  3. Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional. Karena dalam pengembangan produk, tidak hanya produk yang melalui proses teknologi modern saja yang menjadi fokus perhatian, produk tradiosionalpun perlu memperoleh apresiasi, sehingga memiliki daya saing dengan produk olahan lainnya. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain kebersihannya/higienisnya, pengemasannya, proses pembuatannya, dan sebagainya.
  4. Membentuk SDM berkualitas dan kompeten, karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen, sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan kompeten.

pengolahan iikan 1

Terkait olahan ikan di Kabupaten Muna, masyarakat telah menghasilkan sejumlah produk seperti ikan asap, ikan garam/kering, teri kering, teri garam/masak, ikan beku, rajungan beku, rajungan masak, rajungan daging, ikan pindang dan bakso ikan.

Berbagai produk ikan olahan tersebut dihasilkan di beberapa lokasi dengan volume bervariasi. Ikan beku dihasilkan di Kecamatan Katobu, Napabalano dan Towea dengan produksi bisa mencapai 260 ton pertahun.

Rajungan beku dihasilkan di Kecamatan Napabalano dan Towea dengan produksi bisa mencapai 76 ton pertahun.

Rajungan masak dihasilkan di Kecamatan Towea dengan nilai produksi bisa mencapai 9 ton pertahun.

Ikan garam/kering dihasilkan di Kecamatan Napabalano dan Towea dengan produksi bisa mencapai 115 ton pertahun.

Teri kering dihasilkan di Kecamatan Napabalano dan Towea dengan produksi bisa mencapai 33 ton pertahun.

Teri garam/masak dihasilkan di Kecamatan Towea dengan produksi bisa mencapai 25 ton pertahun.

Ikan asap dihasilkan di Kecamatan Kontu Kowuna dengan produksi bisa mencapai 52 ton pertahun.

Rajungan daging dihasilkan di Kecamatan Marobo, Duruka, dan Napabalano dengan produksi bisa mencapai 98 ton pertahun.

Ikan pindang dihasilkan di Kecamatan Napabalano dengan produksi bisa mencapai 21 ton pertahun.

Bakso ikan dihasilkan di Kecamatan Katobu dengan produksi bisa mencapai 700 kilogram pertahun.*

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

IMG_0032

IMG_0027

IMG_0022

IMG_0030

IMG_0004

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.