UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA MUNA


Budaya merupakan warisan dari leluhur atau nenek moyang kita yang tidak ternilai harganya. Budaya terbentuk dari tradisi atau kebiasaan atau sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat.

......,Ramadan

Demi menjamin kelestarian budaya Muna yang kita cintai, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yakni :

  1. Kenali Budaya Muna

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya Muna. Hal pertama yang dapat dilakukan ialah mengenali budaya Muna. Dengan mengenal budaya Muna, paham apa saja budaya yang diwariskan nenek moyang masyarakat Suku Muna, akan lebih mudah untuk melestarikan budaya Muna karena telah benar-benar memahami dan mengerti bagaimana cara untuk menjaga budaya Muna tersebut.

Dalam hal ini, ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk mengenali budaya Muna yakni :

a. Mencari Tahu Tentang Budaya Muna

Jika belum benar-benar memahami budaya Muna, maka hal yang harus dilakukan ialah mencari tahu berbagai macam informasi yang berhubungan dengan budaya Muna. Informasi terkait budaya Muna dapat diperoleh dari bermacam-macam literatur seperti buku atau bisa juga melalui surat kabar. Apalagi, saat ini, banyak literatur yang membahas mengenai budaya dan kebudayaan sehingga akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi mengenai budaya Muna.

Selain dari literatur cetak, dapat pula mempelajari tentang budaya Muna melalui internet. Dengan perkembangan teknologi yang makin pesat karena pengaruh globalisasi, hal itu akan menjadi langkah mudah untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai budaya Muna.

b. Mengikuti Kegiatan Budaya Muna

Langkah selanjutnya untuk dapat mengenal budaya Muna setelah mempelajari tentang budaya tersebut adalah mengikuti kegiatan budaya Muna. Jika mengikuti kegiatan budaya Muna, maka akan memunculkan perasaan cinta terhadap budaya Muna tersebut. Dalam mengikuti kegiatan budaya Muna, sebaiknya terlibat langsung di dalam kegiatan tersebut, sebab jika hanya mengikuti kegiatan budaya sebatas sebagai penonton atau peserta saja, maka tidak akan mendapatkan pengalaman yang mengesankan.

c. Bergabung dalam Komunitas Budaya Muna

Jika ingin mengenal budaya Muna, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan bergabung dalam komunitas budaya Muna yang ada seperti Komunitas Rumah Hijau Indonesia Kabupaten Muna. Dalam komunitas tersebut akan didapatkan cukup informasi terkait budaya Muna karena dalam sebuah komunitas selalu ada tokoh kebudayaan yang berkunjung untuk menambah pengetahuan anggota komunitas, termasuk adanya diskusi-diskusi diantara sesama anggota komunitas terkait budaya Muna.

 

  1. Mengajarkan Budaya Muna Kepada Orang Lain

Setelah mengenal betul budaya Muna, mulai dari sejarahnya sampai macam-macam kebudayaan yang lahir dari budaya tersebut, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memberikan pengajaran kepada orang lain agar semakin banyak orang yang mengenal budaya Muna tersebut. Dalam hal ini, ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan yaitu mengajar di sekitar lingkungan tempat tingal dan/atau mengajar di sekolah.

a. Mengajar di sekitar lingkungan tempat tinggal

Untuk melakukan hal ini, dapat dibuka sebuah kelas khusus budaya. Dalam kelas ini, sebaiknya siswa yang bergabung adalah anak-anak sampai remaja, sebab rentang umur tersebut sangat mudah terpengaruh dengan budaya asing yang bersifat merusak.

Dapat diamati bahwa saat ini semakin banyak anak-anak dan remaja yang tidak tahu tentang budaya Muna. Mereka justru lebih bangga apabila mereka mengikuti budaya asing yang belum tentu baik untuk mereka. Bahkan, mereka nampak tidak peduli apabila budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka punah. Hal ini sangat miris sebab budaya yang seharusnya mereka cintai dan lestarikan justru menjadi budaya yang tidak diperhatikan.

Oleh karena itu, generasi muda harus bisa memberikan sebuah hal yang baik untuk mereka agar mereka lebih mengenal dan mencintai budaya Muna. Memang, untuk mewujudkan semua hal ini tidaklah mudah jika dilakukan sendiri. Untuk itu diperlukan kerja sama dengan para pihak, utamanya kelompok-kelompok pemuda yang peduli dengan kelestarian budaya.

b. Mengajar di sekolah

Selain membuka kelas budaya di sekitar lingkungan tempat tingal, mengajarkan budaya Muna kepada orang lain dapat pula dilakukan dengan mengajar anak-anak sekolah. Dalam hal ini, yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan menjadi salah satu staf pengajar seni budaya atau aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler budaya di sekolah.

Beberapa kegiatan ekstrakulikuler yang biasanya mengenalkan siswa terhadap kebudayaan adalah teater, musik, dan seni lukis. Mengajarkan budaya Muna kepada siswa di sekolah merupakan kontribusi cukup besar dalam melestarikan budaya Muna kepada generasi muda yang nantinya akan mengemban tugas untuk terus menjaga budaya tersebut.

 

  1. Memperkenalkan Budaya Muna ke Luar Negeri

Cara berikutnya yang dapat dilakukan untuk terus melestarikan budaya Muna adalah dengan memperkenalkan budaya Muna ke luar negeri. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini cukup sulit. Namun sebenarnya hal ini sangatlah mudah untuk dilakukan, apalagi dengan adanya berbagai teknologi canggih saat ini. Ada berbagai hal yang dapat dilakukan jika hendak  memperkenalkan budaya Muna ke luar negeri, seperti :

a. Memposting Kesenian Lokal Muna di Media Sosial

Di era modern ini, makin banyak orang yang mengenal internet dan media sosial. Melalui media sosial yang menghubungkan seluruh orang di dunia inilah dapat diperkenalkan budaya Muna kepada orang luar.

b. Mengenakan Produk Budaya Lokal Muna di Luar Negeri

Selain melalui media sosial, misi memperkenalkan budaya Muna ke luar negeri juga dapat dilakukan jika sedang berada di luar negeri. Memakai produk hasil budaya lokal seperti memakai sarung tenun Masalili saat berada di luar negeri, merupakan salah satu upaya konkret dalam memperkenalkan budaya Muna ke dunia luar.

c. Mengekspor Barang Hasil Kesenian Budaya Muna

Promosi budaya keluar negeri juga dapat dilakukan dengan menjual dan mengembangkan usaha produk budaya Muna hingga ke pasar mancanegara. Jika hal itu telah tercapai, maka produk budaya Muna dapat diekspor ke luar negeri.

 

  1. Tidak Terpengaruh Budaya Asing

Untuk terus melestarikan budaya Muna, hal yang harus dilakukan adalah berusaha untuk tidak mudah terperngaruh dengan budaya asing. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada era globalisasi ini, budaya asing sangatlah mudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Dengan asumsi bahwa budaya asing tersebut lebih modern, gaul, dan tidak kampungan, banyak masyarakat yang telah meninggalkan budaya lokal mereka. Maka tidak jarang jika sekarang banyak orang tidak tahu atau paham dengan budaya mereka sendiri.

Agar budaya lokal Muna ini tidak punah, maka harus ada prinsip agar tidak mudah terpengaruh budaya asing. Untuk mewujukdan hal itu, dapat dilakukan beberapa cara dan upaya antara lain :

a. Menjadikan Budaya Muna Sebagai Identitas

Menjadikan budaya Muna sebagai identitas maksudnya ialah adanya rasa bangga terhadap budaya Muna. Menjadikan budaya sebagai identitas memanglah tidak mudah. Apalagi saat ini, banyak orang yang berfikir bahwa budaya daerah merupakan budaya yang sudah ketinggalan jaman. Tentu saja, harus ada banyak usaha yang harus dilakukan.

b. Memilah Kebudayaan Asing

Hal kedua yang dapat dilakukan agar tidak terpengaruh budaya asing adalah dengan memilah dan memilih kebudayaan asing yang masuk. Tidak semua kebudayaan asing memberikan dampak positif terhadap budaya Muna. Maka dari itu, harus diteliti dan dicermati sebelum mengadopsi budaya asing yang datang.

Salah satu contoh budaya asing yang dapat diadopsi karena bernilai positif adalah budaya kerja keras. Hal ini akan memberikan dorongan positif untuk lebih bekerja keras dalam mencapai cita-cita dan juga bekerja keras untuk melestarikan budaya Muna.

Selain hal-hal tersebut, kita juga dapat melakukan upaya culture experience dan culture knowledge dalam melestarikan budaya Muna.

Culture experience merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung. Seperti contoh masyarakat dianjurkan mempelajari tarian daerah dengan baik agar dalam setiap tahunnya tarian ini dapat ditampilkan dan diperkenalkan pada khalayak. Dengan demikian selain dapat melestarikan budaya, kita juga dapat memperkenalkan kebudayaan Muna pada orang banyak.

Sementara culture knowladge merupakan pelestarian budaya dengan cara membuat pusat informasi kebudayaan sehingga mempermudah seseorang untuk mencari tahu tentang kebudayaan Muna. Cara ini dapat menjadi sarana edukasi bagi para pelajar dan dapat pula menjadi sarana wisata bagi para wisatawan yang ingin mencari tahu serta ingin berkunjung ke Muna dengan mendapatkan informasi dari pusat informasi kebudayaan tersebut.

Dari penjelasan yang telah dibahas diatas, dapat diketahui bahwa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga sekaligus melestarikan budaya Muna adalah dengan mengenali budaya Muna melalui bacaan, mengikuti acara-acara kebudayaan, dan bergabung dalam komunitas budaya. Selanjutnya dengan mengajarkan budaya Muna kepada anak-anak dan remaja sebagai generasi muda yang akan mengemban tugas untuk menjaga budaya Muna di masa mendatang. Selain itu, memperkenalkan budaya Muna kepada orang luar negeri menjadi langkah selanjutnya untuk menjaga budaya Muna agar tidak punah, dan terakhir adalah tidak mudah terperngaruh budaya asing yang bisa membuat budaya Muna dilupakan. Dengan cara-cara tersebut, budaya Muna tidak akan mudah dilupakan dan akan terus terjaga.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

Pentingnya Melestarikan Budaya Muna


Muna merupakan salah satu suku di negeri tercinta Indonesia ini yang memiliki aneka macam budaya. Budaya Muna cukup berragam, namun ironisnya tidak sedikit dari generasi penerus, utamanya pemuda yang seakan tidak perduli dan terkesan mengabaikan budaya kita sendiri.

 

IMG_0001

Di era globalisasi ini, budaya-budaya barat sangat mudah masuk di daerah kita. Budaya ini tumbuh dan berkembang dengan pesat. Kita, selaku generasi muda lebih menyukai akan budaya ini ketimbang budaya asli kita. Kita merasa lebih percaya diri dan merasa lebih gaul jika meniru budaya barat.

Dapat dilihat bahwa saat ini semakin banyak anak-anak dan remaja yang tidak tahu tentang budaya mereka. Mereka justru lebih bangga apabila mereka mengikuti budaya asing yang belum tentu baik untuk mereka. Bahkan, mereka nampak tidak peduli apabila budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka punah. Tentu saja hal ini sangat miris sebab budaya yang seharusnya mereka cintai dan lestarikan justru menjadi budaya yang tidak diperhatikan.

Kondisi ini jika dibiarkan akan menggerus budaya kita. Pada saatnya nanti, budaya kita di tanah Muna perlahan-lahan akan sirna tergerus budaya asing. Akibatnya kita akan kehilangan jati diri sebagai MIENO WUNA.

Maka dari itu, pedulilah terhadap budaya kita, budaya Muna. kita harus bangga menjadi orang Muna. Bangga akan budaya Muna yang beragam. Ini budayaku, Muna. Sekarang nasib budaya Muna ada di tangan kita, para pemuda. Jadi berilah yang terbaik bagi budaya Kita, budaya Muna.

Selain fenomena akan sirnanya nilai-nilai budaya Muna di masyarakat, hal lain yang mendasari pentingnya upaya melestarikan budaya Muna adalah :

  1. Budaya Muna merupakan warisan leluhur yang tidak ternilai harganya.
  2. Budaya Muna memiliki keterkaitan erat dengan kelangsungan hidup manusia/masyarakat Muna. Dalam konteks ini berhubungan dengan perwujudan dari budaya tersebut yang menghasilkan perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata seperti peralatan hidup, seni dan lain-lain.
  3. Budaya Muna mempengaruhi tingkat pengetahuan manusia/masyarakat Muna.
  4. Budaya Muna mempengaruhi perilaku manusia/masyarakat Muna.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

“ Munajat “ Dalam Buku Tambaga, Bukan “ Negeri Wuna/Muna “


Oleh : Muhammad Alimuddin

  1. Pendahuluan

Kitab “ Assajaru Huliqa Darul Bhanty Wal Darul Munajat “ atau dikalangan masyarakat Muna dan Buton dikenal dengan nama Buku Tambaga ( buku Tembaga ) adalah kitab yang begitu populer bahkan cenderung disakralkan. Kendati demikian, hampir semua masyarakat Muna dan Buton tidak pernah melihat wujud kitab tersebut apalagi membaca isinya. Hal ini bisa dipahami karena kitab tersebut sangat dirahasiakan oleh penyalin awalanya La Ode Muhammad   Ahmadi.

 

Menurut La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir, orang yang membukukan kitab tersebut dalam bentuk stensilan pada tahun 1995 yang juga merupakan cucu dari La Ode Muhammad Ahmadi, sejak disalin oleh kakek nya pada tahun 1863 dari seorang ulama  di Gresik yang bernama Maulana Uztaz Akbar Sayid Abdul Rahman Hadad  yang juga pembimbingnya, kitab tersebut tidak pernah diedarkan atau diperlihatkan pada orang lain kecuali dilingkungan keluarga sendiri. Setelah La Ode Muhammad Ahmadi  meninggal, kitab tersebut diwariskan pada anaknya La Ode Muhammad Amir yang juga merupakan ayah dari La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir. Ditangan La Ode Muhammad Amir sebagaimana diwasiatkan oleh ayahandanya, kitab tersebut tetap dirahasiakan dan tidak pernah diperlihatkan pada orang diluar lingkungan keluarga inti sampai beliau meninggal tahun 1954. ( Baca: LM. Tanzilu, Riwayat Singkat Kisah Terjadinya Negeri Buton dan Muna, 1995 : iv-viii ) .

 

Seperti yang diwasiatkan oleh kakek dan ayahnya, La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir juga merahasiakan buku tersebut. Namuna karena ada desakan dari keluarga, pada tahun 1984, salinan ulang  buku  tersebut sedidikit demi sedikit  mulai dikumpulkan dan dialih aksarakan kedalam aksara latin ( sebelumnya, salinan kitab tersebut beraksara arab ).  Tahun 1995, salinan kitab tersebut baru dibukukan dalam bentuk stensilan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir ahli waris ke – 2 dan hanya beredar dalam lingkungan sendiri. Itupun ketika dibukukukan, kitab aslinya telah tenggelam bersama Kapal Motor Harapan  Bone pada tahun 1970-an.

 

Tenggelamnya Buku Tambaga yang asli tersebut karena dibawah oleh Andi Patiroi  yang dipinjamnya dari La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dan akan di bawah ke  kampung asalnya dan ketika itu Andi Patiroi menumpang kapal naas tersebut sehingga Buku tabaga yang asli tidak terselamatkan dan tidak pernah dilihat oleh masyarakat Buton dan Muna keculai keluarga La Ode Tanzilu Faisal Amir serta Andi Patiroi sendiri. Ketika salinan asli Assajaru Huliqa Darul Bathniy dipinjam oleh Andi Patiroi,  baru sebagian kecil isi nya disalin oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir . Sedangkan isi lainnya di tulis hanya mengandalkan kemampuan ingatannya  atas apa yang telah dibaca dari isi salinan asli buku tersebut, sebagai mana kitipan beriku “ Tapi atas desakan keluarga agar salinan kitab/ buku tersebut di edarkan, maka pada tahun 1984 kitab atau buku salinan kitab atau buku sejarah itu mulai dikumpulkan dan yang belum sempat disalin kembali telah di hafalkan “ ( Riwayat Singkat salinan Kitab Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna, 1995 : iv ) .

 

Anehnya, kendati Buku Tambaga tersebut tidak pernah dilihat apalagi dibaca oleh masyarakat Buton dan Muna, namun Buku Tambaga itu telah melegenda dan bahkan cenderung disakralkan.  Masyarakat Buton dan Muna percaya bahwa buku tambaga tersebut merupakan buku sejarah yang mengisahkan terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna dan selalu diceritakan secara turun temurun pada anak cucunya.

 

Tidak jelas, sejak kapan Buku Tambaga mulai dikenal oleh  masyarakat Buton dan Muna, apakah setelah tiba salinannya di Negeri Buton ketika dibawahn oleh  La Ode Muhamad Ahmadi setelah selesai disalin pada tahun 1863 atau kapan?. Tidak jelas juga apakah  Buku tambaga yang dimaksud oleh masyarakat Muna sama dengan buku tambaga yang dimaksud oleh masyarakat Buton seperti yang dibukukan La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir. Hal ini penulis pertanyakan karena dalam kisah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna terjadi berbedaan yang sangat jauh antara cerita yang beredar dikalangan masyarakat Muna dengan cerita yang berkembang dikalangan masyaraklat Buton seperti yang dikatakan dalam salinan buku Kisah terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna yang di bukukukan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir tersebut.

 

Dalam cerita sejarah yang berkembang dikalangan Muna seperti yang diungkap oleh J. Covreur dalam memorie Van Overgave ( Memori Serah Terima ) yang dibuat pada tahun 1935 dan diberi judul “ Etnografisch Overzicht Van Moena ( Ikhtisar Enografis Mengenai Muna )  serta dibukukan pada tahun 1995 oleh Rene Van Deberg dan diberi judul Sejarah Dan Kebudayaan Kerajaan Muna,  dikatakan bahwa yang menemukan Pulau Muna dan Pulau Buton adalah Nabi Muhammad. Kedua Pulau tersebut baru saja muncul dari permukaan laut serta masih merupakan rawa-rawa berlumpur yang belum ditumbuhi apapun. Setelah menemukan Pulau tersebut, Nabi Muhammad kembali kepada Allah dan memberitahukan apa yang dilihatnya dan menambahkan apabila Allah menghendaki tanah-tanah itu dikeringkan kira-kira akan terdapat daratan yang menyerupai Tanah Rum ( Turki ). Ketika ditanya oleh Allah dimana tempat dimaksud Nabi Muhammad menjawab di bawah daratan Turki atau dalam bahasa Munanya “ We Ghowano Witeno Ruumu “ serta diberi nama Butu’uni ( Rene Van Deberg, 1995:1).

 

Sedangkan cerita yang berkembang dikalangan Masyarakat Buton sebagaimana yang dikatakan dalam Buku “ Kisah terjadinya Negeri buton Dan Negeri Muna “ yang di tulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir  sebagai salinan dari Kitab Assajaru Huliqa Darul Bhatny Wal Darul Munajat dikatakan bahwa Negeri Buton dan Muna pertama kali memperkenalkan dirinya pada Nabi Muhammad dan para sahabat sekitar tahun III Hijriah atau tahun 624 Masehi. Ketika itu seperti biasanya, seusai shalat fardhu subuh, Nabi Muhammad dan para sahabat yang terdiri dari kaum Ansar dan kaum Muhajirin tidak langsung pulang ke rumah masing-masing tetapi tetap berada di masjid Nabawi untuk mendengarkan petuah dan nasehat dari Rasullullah saw.

 

Ketika sedang memberikan petuah  itulah terdengar suara ledakan yang maha dahsyat sebanyak Tiga kali sehingga salah seorang sahabat bertanya pada beliau sebagaimana kutipan berikut :  “ Ya Rasulullah, bunyi apakah gerangan tadi? “ kemudian Rasulullah Saw menjawab “ Sesungguhnya bunyi dentuman yang baru kita dengar bersama-sama tadi adalah menurut firman Allah SWT yang telah di wahyukan kepada Ku melalui hadist qudsi “ bahwa jauh dari sebelah Timur Arabia ini ada Dua gugusan tanah yang telah memperkenalkan dirinya kepada dunia, sedang menurut ramalanku “ Sabda Rasulullah Saw “ Bahwa manusia yang menjadi penghuni Kedua negeri itu sebagian besar akan mengikuti seruanku yaitu beriman dan ber taqwa kepada Allah SWT “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:1) .

 

Kemudian pada tahun VII H,dalam sebuah rapat yang dihadiri Ali Bin Abu Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahrah dan beberapa kerabat tertentu, Rasulullah SAW mengutus dua orang saudara beliau dari bany hasyim yang bernama Abdul Gafur dan Abdul Malik masing-masing sebagai ahli biologi dan antropologi untuk mencari dua negeri yang pernah memperkenalkan diri dengan letusan tersebut dengan berpesan agar semua yang hadir dalam rapat tersebut merahasiakan hasil keputusan dalam rapat tersebut ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995 :2).  Pada Malam nifis Sya’ban, lima belas bulan dilangit  bertepatan dengan  60 tahun wafatnya Rasulullah SAW atau Abad VII M., kedua utusan Rasulullah SAW tersebut menemukan sebuah negeri yang belum berpenghuni yang kemudian mereka beri nama Butuni sesua dengan pesan Rasulullah. ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995: 11 ).

 

Pada kesempatan ini, penulis tidak bermaksud mempolemikan kedua perbedaan persepsi masyarakat ( Buton dan Muna ) mengenai kandungan isi Buku Tambaga tersebut, khususnya perihal asal mula terjadi Negeri Buton dan Negeri Muna sebagaimana yang sedikit diungkap diatas, tetapi penulis hanya menggaris bawahi  kata “ Munajat “ yang selama ini telah diyakini oleh masyarakat Buton dan Juga Masyarakat Muna sebagai Negeri Muna. Menurut penulis, persepsi masyarakat ke dua negeri tersebut  adalah persepsi yang keliru dan perlu diperbaharui lagi melalui  penelaah lebih mendalam lagi isi kandungan Buku dimaksud. Karena salinan aslinya yang disalin ileh La Ode Muhammad Ahmadi telah tenggelam sejak tahun 1970-an,  maka untuk mengungkap fakta bahwa Munajat Bukanlah Negeri Muna/ Wuna bahan utama untuk melakukan penelaan adalah   melalui saduran salinan  buku Assajaru Huliqa Darul Bhatny  yang ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzili Faisal Amir yang diberi judul “ Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna.

 

Ada Dua  alasan mengapa hanya saduran yang ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir yang di analaisis oleh penulis untuk mengungkap kandungan isi Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatny Wal Darul Munajat,  khususnya mengungkap fakta bahwa “ Munajat “ yang dimaksud dalam buku tersebut,  bukanlah “ Negeri Muna/ Wuna “ sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Buton dan Muna serta para sejarawan selama ini,  yaitu : 1). Sebagaimana yang dikatakan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dalam sadurannya tersebut bahwa salinan asli Kitab Assajaru Huliqa Darul Bhtany Wal Darul Munajat atau “ Buku Tambaga ” tidak pernah diperlihatkan atau disiarkan pada orang lain selain keluarga inti. Sehingga kalau ada orang lain selaian keluarga inti La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir yang bicara mengenai kandungan isi “ Buku Tambaga “ maka   dapat dipastikan itu bohong. 2). La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir  mengaku bahwa walau belum semua salinan asli “ Buku Tambaga “ disalin ulang, namun Dia mengaku bahwa sebagaian besar isi salinan buku tersebut telah dihafal. Jadi walaupun penulis tidak tahu apa yang telah disalin tersebut termasuk kisah yang menceritakan tentang terjadinya Negeri Butuuni ( kemudian diterjemahkan sebagai Buton ) dan negeri Munajat ( kemudian diterjemahkan sebagai Muna ) atau tidak. Tapi setidaknya dalam saduran yang telah dibukukan tersebut juga diceritakan mengenai hal itu. Jadi dengan demikian, karena tidak ada yang pernah melihat salinan asli “ Buku Tambaga “ maka apa yang di sadur tersebut dianggap sudah sesuai dengan salinan aslinya.

 

 

  1. Selayang Pandang “ Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dalam bentuk stensilan pada tahun 1995. Seperti pengakuan penulisnya dalam kata pengantar, buku ini adalah saduran dari salinan asli Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat, sedangkan Buku Assajarun Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat sendiri disalin oleh kakek  beliau yang bernama La Ode Muhammad Ahmadi pada tahun 1863 dari seorang sayid di Gresik yang bernama Uztadz Akbar Maulama Sayid Abdul Rahman Hadad. Karena salinan asli buku tersebut diberi sampul depan dengan tembaga tipis, maka masyarakat Buton dan Muna lebih mengenal dengan nama “ Buku Tambaga “.

 

Salinan asli Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat telah tenggelam bersama Kapal Motor Harapan Bone pada tahun 1970-an.  Ketika itu buku yang sangat dirahasiakan dan tidak pernah diperlihatkan serta diedarkan tersebut, dipinjam oleh Andi Patiroi dari ahli warisnya La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dan hendak dibawah ke kampung halamannya. Namun naas, ketika itulah Kapal Motor Harapan Bone yang ditumpanginya tenggelan dan ikut pula menenggelamkan buku yang sangat melegenda,  bahkan disakralkan oleh masyarakat Buton Dan Muna tersebut.

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna terdiri dari 143 halaman  serta terbagi dalam beberapa bagian pokok diantaranya :  1). Kisah Pemenuan Negeri Butuni dan Rijalani ( Munajat ),  2). Asal Mula Manusia Penghuni Negeri Buton dan kisah kedatangan Mia Patamiana serta Rombongan Wakaka, 3). Kisah terdamparnya Wa Tandibe di Loghia dan Pelantikan Raja Muna I Ndokeu atau Banca Patola. Serta Sawerigading, Raja Luwu I tiba di Negeri Muna dan lain-lain.

 

Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena memuat sejarah dua negeri bersaudara yakni Buton dan Muna. Walau sejarah Negeri Muna yang dibahas dalam buku ini hanya sebatas pada terdamparnya Wa Tandiabe di Loghia serta pelantikan raja Muna I namun setidaknya buku ini telah mencomform bahwa Negeri Buton dan Negeri Muna adalah dua Negeri yang merdeka dan berdaulat serta memiliki sejarah sendiri dalam perjalanan politiknya sebagai sebuah Kerajaan. Buku ini juga menconform bawa Munajat yang selama ini dikatakan sebagai Negeri Muna adalah sebuah persepsi yang salah dan tidak berdasar.

 

  1. Fakta-Fakta “ Munajat “ Bukan Negeri Wuna/ Muna

 

Dalam banyak pemahaman masyarakat Buton dan Muna terutama mengenai sejarah kedua negeri tersebut, dipercaya bahwa “ Munajat “  adalah nama lain untuk “ Negeri Muna “.  Bahkan banyak juga penulis sejarah Negeri Muna berasumsi kalau  nama “ Muna “  untuk penyebutan Kerajaan Muna menggantikan Wuna berasal dari kata “ Munajat “.

 

Namun setelah penulis membaca dokumen- dokumen kuno termasuk saduran buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat yang diberi judul Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna, penulis berpendapat yang sebaliknya yakni “ Munajat “  bukanlah Negeri Muna. Untuk memperkuat pendapat itu, penulis akan menguraikan beberapa fakta yaitu :

 

!). Dokumen- Dokumen Kuno

Banyak dokumen kuno, terutama yang ditulis sebelum tahun 1800-an yang tersimpan di museum KILTV Den Hag Belanda,  nama Muna untuk penyebutan sebuah kerajaan tidak pernah ada,  yang ada adalah Wuna seperti kutipan berikut “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian negeri, karena ia Raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna. Jadi ikut sekalian negeri seperti  Kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan Kabaena dialihkan. Maka sekalian negeri dialihkan oleh Murhum “ ( Koleksi Belanda, hal 1 ).  Demikian juga dengan penyebutannya secara lisan, baik orang muna sendiri atau masyarakat lain di sulawesi tenggara bila berbicara dalam bahasa daerah sampai saat ini,  yang dipakai adalah kata Wuna bukan Muna.

 

Nama Muna untuk penyebutan nama kerajaan  mulai muncul pertama kali  dalam dokumen yang disimpan di Museum KILTV  yang ditandatangani oleh Sultan Buton  La Ode Muhammad Qaimuddin  Gelar Kobadiana dengan  Raja Kulisusu, Raja Tiworo,  Raja Kaledupa dan Raja Muna La Ode Sumaili pada tahun 1842.

 

Dokumen itulah yang menjadi dasar bagi Kesultanan Buton untuk pembentukan Barata  atau daerah penyangga. Namun nampaknya perjanjian yang ditanda tangani oleh Raja Muna La Ode Sumaili tersebut ditentang oleh raja berikutnya yaitu La Ode Saete dan Sarano Wuna. Penentangan yang dilakukan oleh Raja La Ode Saete dikarena perjanjian itu bertanggal, dan tahun setelah empat tahun La Ode Saete di lengser dari kedudukannya sebagai  Raja oleh raja berikutnya ( La Ode Saete dan Sarano Wuna ). Itu artinya, ketika La Ode Sumaili menanda tangani perjanjian itu,  beliau tidak  lagi bertindak sebagai Raja Muna karena kedudukannya telah diganti oleh La Ode Saete.

 

Sebagai peneguhan sikap menentang perjanjian ilegal itu, Raja Muna La Ode Saete dan Sarano Wuna sepakat menjatuhkan hukuman gantung  pada La Ode Sumaili Raja yang menandatangani perjanjian itu setelah empat tahun lengser, serta menyatakan perang pada Buton dan sekutunya Kolonial Belanda. Serbagai konsekuensi  penolakan terhadap perjanjian itu, maka terjadi perang antara Buton dan Muna ( Baca : La Ode Saete, Raja Muna – www.formuna.wordpress.com ).

 

2). Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna.

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna  saduran La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dari buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat  mengutip sebuah hadis  yang artinya, “ Sedang negeri terakhir yang ditemui oleh kedua saudara utusanku, kutamsil ibaratkan kedua belah kaki ku dan kunamai Munajat” ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 7: 1995 ), namun hadist itu tidak secara eksplisit menjelaskan kalau yang dimaksud dengan Munajat adalah Negeri Muna. Olehnya itu menurut penulis, sangat naif bila secara serampangan untuk menyimpulkan kalau yang di maksud Munajat  itu sebagai Negeri Muna.

 

Hadist berikutnya yang dikutip penulisnya untuk mendukung hadis diatas, ternyata tidak diartikan dengan benar. Hal itu dapat dilihat sebagaimana kutipan berikut: “ WAL MUNAJAT RIJAALANIY KAL DAL ALAA SUURATI MUHAMMAD “ . kalimat yang dalam bahasa arab itu kemudian diartikan sebagai berikut “ Dan Munajat nama negeri Muna adalah kedua belah kakiku huruf Dal rangkaian huruf namaku Muhammad “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:7 ).  Transliterasi dari  bahasa arab ke bahasa Indonesia terhadap hadist itu jelas – jelas salah karena arti yang sebenarnya adalah “ Dan Munajat Kedua belah kakiku, huruf dal dari rangkaian nama Ku  Muhammad “  Atau bila mengacuh  pada hadits sebelumnya yang juga dikutip dalam buku tersebut yang artinya : “ Menurut hakekat rahasia keyakinan hatiku kedua negeri tersebut kunamai BATHNIY DAN RIJAALANI  “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:4), maka pengartian yang benar untuk kaliamat bahasa arab “ Wal Munajat Rijaalaniy kal Dal alaa Surati Muhammad “ tersebut kedalam bahasa indonesia  adalah “ dan Munajat Negeri Rijaalani  huruf Dal rangkaian namaku Muhammad “ Jadi menurut penulis penyebutan nama Negeri Muna dalam mengartikan  hadist itu adalah interpretasi subyektif penyadur atau penyalin awal dari buku tersebut.

 

Kisah lain dalam Buku  Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna yang memperkuat pendapat penulis kalau Munajat yang dimaksud di Buku tersebut bukalah “ Muna “ adalah tertuang dalam kisah kedatangan Wa Kaa-Kaa dan rombongannya kenegeri Buton.  Dalam kisah itu dikatakan bahwa Wa Kaaka datang ke negeri Buton  bersama saudara misannya Muhammad Ali Idrus dan  dan dua kawan baik mereka yaitu Khun Khan Chiang dan Sang Riarana berserta 40 orang pengawalnya, namun 40 orang pengawal tersebut tidak sampai di negeri Buton. Setelah tiba di Buton mereka berpisah, Khun Khan Chiang dan Sang Riarana ke Tobe-tobe ( La Balawa ), sedangkan Wa Kaaka tinggal pada suatu tempat ( belakangan disebut Sora Wolio ) dan  Muhammad Ali Idrus pergi ke Negeri Munajat.

 

Di ceritakan dalam kisah selanjutnya, di Negeri Munajat Muhammad Ali Idrus menikah dengan Wa Bira Sangia Pure – Pure. Kemudian Muhammad Ali Idrus di Gelar Maligana. Di Negeri Munajat, Muhammad Ali Idrus mendirikan sebuah pondok yang sebagian tiangnya berada di dalam laut yang terdapat kerang raksasa atau dalam bahasa buton dinamakan ‘ Kamatuu  susu “. Akibatnya, setiap saat kerang tersebut menyemprotkan air kedalam podok Muhammad Ali Idrus sehingga dia merasa tidak nyaman.

 

Singkat cerita, akhirnya Muhammad Ali Idrus mengadakan sayembara yang isinya barang siapa  yang dapat  mencongkel  kerang laut raksasa yang mengganggu ketentraman hidupnya tersebut maka akan di nikahkan dengan putrinya. Sayembara itu didengar oleh seorang pemuda dari Bungku Sulawesi Tengah yang bernama Nggori-Nggori. Dengan kesaktiannya, akhirnya Nggori-Nggori dapat mencongkel kerang tersebut, bahkan kerang tersebut melayang dan terbelah dua, kulitnya yang satu jatuh di Ereke yang waktu itu masih bagian dari Buton, sedangkan yang satunya lagi jatuh di daerah Bungku Sulawesi Tengah.  Setelah berhasil mencongkel kerang tersebut, Nggori-Nggori dinikahkan dengan Wa Salambose, anak dari Munammad Ali Idrus dan beranak pinak di  Ereke. ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995: 32,44,45).

 

Penggambaran “ Munajat “ sebagai sebuah negeri dalam kisah tersebut itu semakin memperjelas bahwa “ Munajat “ bukanlah Negeri Muna. Hal itu karena nama-nama negeri yang disebutkan tidak terdapat di daratan Pulau Muna, tetapi daratan Pulau Buton bagian Utara.  Nama-nama negeri yang dimaksud adalah Pure dan Maligana (o) serta Ereke. Itu artinya negeri Munajat yang dituju Muhammad Ali Idrus saudara misan Wa Kaa-ka bukanlah negeri Muna tetapi nama sebuah negeri di Pulau Buton Bagian Utara yang saat ini bernama Maligano, Pure dan Ereke.

 

Di antara  wilayah Pure dan Maligano ada sebuah wilayah yang bernama Batukara.  Boleh jadi nama Batukara itu berasal dari nama sebuah Kerajaan di Melayu Pariaman,  yang diceritakan sebagai negeri asal Kunaifi atau Muhammad Ali Idrus dan  Wa Kaa-kaa atau Musarafatul Izzati Al Fakriy.  Untuk itu simak kutipan berikut “ Karena rindu dengan ayahnya yang bernama Kunaifi Raja Batu Kara yang telah lama tinggal di Negeri Munajat dan adiknya Kaudoro dengan sang Riarana  yang telah berada di Negeri Buton, Banca Patola Alias Ndokeu, nekat meninggalkan istri di Istana Raja Luwu di Sulawesi Selatan, mengarungi lautan dengan hanya seruas bambu tolang sebagai tumpangan sehingga mencapai daratan “ ( LM. Tanziluy Faisal Amir, 1995: 56 ).  Fakta ini juga semakin memperkuat pendapat penulis bahwa Munajat Bukanlah Negeri Muna tetapi Negeri-negri di wilayah Pulau Buton Bagian Utara. Fakta ini juga membuktikan bahwa Banca Patola atau Ndokeu yang dalam buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna, Bukanlah Raja Muna I yang di Muna di kenal dengan nama La Eli atau Baidhulu Dhamani ( Ulasan mengenai fakta ini akan penulis ungkap pada artikel berikutnya ).

 

Memang dalam sejarah Kerajaan Muna dan Buton berikutnya dikisahkan bahwa  negeri – negeri tersebut masuk dalam wilayah teritorial Kerajaan Muna, namun peristiwa masuknya negeri- negri tersebut kedalam wilayah  teritorial Kerajaan Muna terjadi pada masa pemerintahan La Kilaponto sebagai Sultan Buton dan La Posasu ( Raja Muna ), pada tahun 1541 jauh setelah penemuan negeri Munajat oleh Abdul sukur dan  Abdul Gafur serta Muhammad Ali Idrus yang dikisahkan dalam buku Sejaraha Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna. Masuknya begeri-negeri itu kedalam wilayah teritorial Kerajaan Muna sebagai konpensasi atas permintaan La Kilaponto yang membawa dua wilayah Kerajaan Muna ke dalam teritorial Kesultanan Buton yakni Gu dan Mawasangka ( Baca : La Kilaponto Omputo Mepokonduaghono Ghoera- www.formuna.wordpress.com). Itu artinya, baik Abdul Sukur dan Abdul Gafur maupun Muhammad Ali Idrus tidak pernah menginjakan kakinnya di Negeri Muna. Jadi Negeri Munajat yang mereka maksud bukanlah Muna tetapi wilayah Pulau Buton bagian Utara.

 

 

Penutup

Dari fakta-fakta diatas, maka terungkap bahwa “ Munajat “  bukanlah nama lain untuk negeri/kerajaan Muna, tetapi nama wilayah di Pulau Buton bagian Utara yang saat ini menjadi kecamatan Maligano dan Wakorumba Selatan ( Kabupaten Muna ) dan Kecamatan Kulisusu ( Kabupaten Buton Utara ). Untuk itu  maka sudah saatnya untuk kita kembali meng upgrate pemahaman tentang yang telah merasuki sejarah negeri Muna terutama mengenai penyebutan Munajat Sebagai Negeri Muna.

Karena Fakta itulah juga penulis merekomendasikan pada pemerintah Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat dan seluruh stake holder terkait untuk memikirkan pengembalian nama Wuna sebagai Nama Kabupaten menggantikan Nama Kabupaten Muna saat ini. Hal ini penulis rekomendasikan karena menurut hemat penulis, penggunaan Nama Muna untuk menggantikan Wuna sangat kental nuansa politiknya ketimbang latar belakang sejarahnya.

 

Bahan bacaan :

  1. Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negri Muna, LM. Tanzilu Faisal Amir – 1995
  2. Sejarah Dan Kebudayaan Kerajaan Muna, Rene Van Den Berg – Arta Wacana Press, 1995
  3. La Kilaponto Omputo Mepokonduaghono Ghoera, Muhammad Alimuddin – formuna.wordpress.com,
  4. La Ode Saete Raja Muna – formuna.wordpress.com

 

 

KABUTO, KAMBUSE dan KOLOPE


Kabuto, kambuse dan kolope merupkan makanan tradisional khas suku Muna. Ketiga jenis makanan non beras tersebut bersumber dari tanaman yang tumbuh subur di tanah Muna.

ramadan.......

KABUTO

kabutokabuto 1

Kabuto merupakan salah satu makanan khas masyarakat Muna.

Panganan tardisional ini berbahan dasar ketela pohon (ubi kayu).

Cara mengolah ketela pohan (ubi kayu) menjadi kabuto cukup mudah. Ketela pohon atau ubi kayu terlebih dahulu dikupas kulitnya lalu dijemur hingga kering.

Ketela pohon atau ubi kayu yang sudah kering dipotong dengan ukuran kecil lalu dicuci dan direbus hingga matang.

Biasanya kabuto dicampur dengan kelapa parut. Akan lebih nikmat jika disantap dengan ikan asin.*

KAMBUSE

kambuse

Kambuse/kambose adalah salah satu makanan pokok masyarakat Kabupaten Muna. Makanan tradisional ini terbuat dari biji jagung biasa (jagung putih) yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Muna.

Kambuse dikonsumsi dengan sayur bening dan ikan.

Cara memasak kambuse cukup mudah dan sederhana. Pertama-tama, biji jagung kering direbus dalam panci berisi air secukupnya. Setelah mendidih lalu ditambahkan kapur sirih sambil diaduk secara perlahan.

Jika jagung sudah berwarna putih kekuningan dan biji jagung dianggap sudah lembek, maka panci diangkat dan ditiriskan. Setelah itu biji jagung yang telah masak dicuci dengan air bersih beberapa kali agar kapurnya hilang. Jika sudah bersih, kambuse telah siap disantap.*

KOLOPE

kolope1

Kolope merupakan salah satu makanan tradisional atau makanan khas masyarakat Muna.

Makanan ini berbahan dasar atau terbuat dari umbi hutan/gadung yang beracun.

Dalam bahasa daerah Muna, umbi hutan yang tumbuh liar dengan batang berduri, daun yang lebar, dan umbinya besar berbulu di hutan disebut kolope.

Proses pembuatan umbi gadung ini menjadi makanan cukup sulit. Sebelum dimasak, umbi gadung harus terlebih dahulu dihilangkan racunnya dengan cara umbi gadung dikupas kulitnya, lalu diiris tipis-tipis.

Setelah itu, irisan umbi gadung direndam dalam air mengalir selama empat hari empat malam. Proses berikutnya adalah umbi gadung ‘dikucak’ dan dicuci bersih untuk selanjutnya dijemur. Setelah semua proses tersebut dilakukan, kolope sudah dapat dikukus untuk dikonsumsi.

Kolope biasanya dicampur dengan kelapa parut dan disantap bersama sayur bening dan ikan kering atau ikan asin.*

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

Karya, ‘Pengumuman’ Adanya Gadis yang Siap Dilamar dan Menikah


Karya (pingitan) adalah salah satu budaya masyarakat Muna yang merupakan prosesi adat bagi seorang wanita yang telah memasuki usia dewasa sebelum melangsungkan pernikahan.

Ramadan..........

Karya menjadi prasyarat bagi seorang gadis untuk melangsungkan pernikahan. Dikalangan masyarakat Muna, seorang gadis tidak boleh menikah jika belum melalui proses upacara adat karya.

Prosesi upacara adat karya mengisyaratkan bahwa dirumah yang melangsungkan kegiatan budaya tersebut terdapat gadis yang sudah siap dilamar dan dinikahi.

Dalam prosesi adat karya, seorang gadis ditempa dan dipersiapkan untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

Salah satu unsur dalam budaya karya adalah kaghombo. Dalam prosesi kaghombo tersebut, seorang gadis tidak diperkenankan buang hajat besar, dan tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang/pihak luar.

Larangan ini mengisyaratkan agar seorang gadis memiliki kemampuan mengendalikan diri dan mengendalikan hawa nafsunya.

Hal terpenting lainnya dalam prosesi kaghombo adalah adanya petuah-petuah kepada sang gadis terkait dengan akhlakul karimah dan nasihat yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga.

Adapun proses pelaksanaan upacara adat karya meliputi tiga tahapan yakni tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan dan tahapan akhir.

Tahapan persiapan karya meliputi aktivitas atau kegiatan :

  1. Kaalano oe (pengambilan air) dari sungai yang mengalir dengan menggunakan tombula (seruas bambu).
  2. Kaalano bansa (pengambilan mayang pinang dan mayang kelapa).
  3. Kaalano kamba wuna (pengambilan kembang bunga seroja) oleh kodasanoa (yang punya hajat melaksanakan pingitan).
  4. Selain ketiga aktivitas tersebut, pada tahapan ini juga dipersiapkan perangkat lain berupa 2 (dua) buah palangga (berupa wadah yang terbuat dari anyaman lidi pohon aren), padjamara (lampu minyak tradisional), polulu (kampak), kandole (salah satu alat tenun sarung tradisional), Bhansano ghai (kuncup bunga kelapa), bhansanao bea (kuncup bunga pinang), dan 2 (dua) buah kelapa.

Tahapan pelaksanaan meliputi kegiatan :

  1. Kafoluku (memasukan peserta karya ke dalam ruang khusus atau songi).
  2. Kafosampu (pemindahan peserta karya dari songi ke panggung)
  3. Katandano wite (sentuhan tanah)

Tahapan akhir dari prosesi adat karya adalah kaghorono bhansa (membuang mayang pinang atau mayang kelapa di sungai).

Semua hal dan semua bahan yang digunakan dalam prosesi adat karya tersebut memiliki makna filosofi tertentu. Diantara filosofi dari hal dan bahan yang digunakan dalam prosesi adat karya adalah :

  • Songi merupakan kamar dalam istana/kamali. Songi disimbolkan sebagai rahim ibu.
  • Kafoluku yakni wanita yang akan dikarya masuk ke dalam songi. Hal ini disimbolkan sebagai keberadaan mausia di alam arwah yang gelap gulita.
  • Padjamara disimbolkan sebagai lampu penerang di alam insani.
  • Polulu dan kandole merupakan simbol dari kesiapan menghadapi kehidupan rumah tangga yang penuh dengan tantangan.
  • Bhansano bea, Bhansano ghai dan dua buah kelapa merupakan simbol dari alat untuk menumpahkan segala kotoran dan daki yang ada pada diri wanita yang dikarya.
  • Katandano wite merupakan simbol pemindahan alam dari alam misal ke alam insani.
  • Kaghorono bhansa merupakan filosofi dari membuang sifat-sifat jelek/tidak baik dari wanita yang dikarya.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan