MENILIK KEKUATAN ANGKATAN PERANG KERAJAAN MUNA


MENILIK KEKUATAN ANGKATAN PERANG KERAJAAN WUNA ( MUNA ) MELALUI SISTEM ORGANISASI MILITER DAN SISTEM PERTAHANAN NYA
Oleh : Muhammad Alimuddin)*
DR. La Ode Salnuddin ) **

Kerajaan Wuna adalah salah satu kerajaan besar yang terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Kerajaan ini didirikan oleh La Eli atau Rimandri Langik dengan gelar Bheteno Ne Tombula dan Bhaidhulu Dhamani sekitar tahun 1321 dengan wilayah mencakup seluruh Pulau Muna dan sebagian Pulau Buton bagian Utara ( Saat ini sebagian masuk Kabupaten Buton Utara dan Kecamatan Wakorumba Selatan, Maligano dan Pasir Putih Raya Kabupaten Muna ).

Dalam catatan sejarah khususnya tradisi lisan yang berkembang dikalangan masyarakat Muna dikisahkan bahwa La Eli adalah sosok manusia fenomenal yang memiliki kesaktian karena ditemukan dalam ruas bamboo oleh sekelompok orang yang sedang mencari bamboo di dalam hutan guna keperluan pembuatan bangsal untuk hajatan Mieno Tongkuno salah seorang pemimpin kampong di Muna ( sebeum terbentuknya kerajaan ). Sedangkan dalam manuskrip yang dokummen nya saat ini tersimpan di Museum KITLV yang ditulis pada tahun 1257 H atau tahun 1840 M dalam kode SBF.308 R.410, SBF.214 R.361, SBF.291 R.3.19, SBF.19 R.1.19, SBF.151 R.2.102, SBF.20 R.120, SBF.207 R.3.54, SBF.175 R.3.22, dan SBF. 184 R.3.31 menginformasikan bahwa La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo dari Muna ( Baca: La Niampe, tanpa tahun). Manuskrip tersebut mengisahkan tentang silsilah Raja- Raja Muna yang di katakan memiliki hubungan dengan kekerabatan dengan raja-raja Jawa ( Majapahit ), Konawe dan Buton.

Ketika Kerajaan Wuna dipimpin oleh Raja Wuna VI Sugi Manuru , terjadi reformasi secara besar-besaran dalam system pemerintahan dan hukum ( adat ). Sugi Manuru juga meletakan sendi-sendi dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Kerajaan Wuna yang di kenal dengan prinsip SOWITE ( untuk tanah air ). Sendi-sendi dasar tersebut menyangkut hubungan individu ( warga kerajaan ) dengan tuhan nya, individu dengan bangsanya dan hubungan antar individu. Prinsip dasar tersebut adalah :
“ Hansuru-hansuru ana bhadha sumano kono hansuru liwu, Hansuru-hansuru ana liwu sumano kono hansuru adhati, Hansuru-hansuru ana adhati sumano tangka agama “
artinya biarlah badan ini hancur asalkan negara terselamatkan, Biarlah negara ancur asalkan adat tetap terjaga, biarlah adat hancur asalkan agama menjadi kuat.

Dengan memegang teguh prisip-prinsip dasar tersebutlah, kemudian Kerajaan Wuna tumbuh menjadi kerajan besar dan kuat sehingga beberapa rajanya berhasil menjadi raja di kerajaan tetangga seperti kerajaan Wolio ( kemudian di rubah menjadi Kesultanan Buton), Konawe, Mekongga dan Selayar. Kuat dan besarnya Kerajaan Wuna tersebut tidak terlepas dari dukungan angkatan perangnya yang kuat dan terorganisir dengan baik.

A Organisasi Angkatan Perang Kerajaan Wuna

Kekuatan angkatan perang suatu negara/ kerajaan dapat dinilai dari seberapa solid dan lengkapnya organisasi militer serta dukungan Alat Utama Sistem Pertahanan ( Alusista ) yang dimilikinya. Suatu negara/kerajaan bisa dianggap sebagai negera/kerajaan yang kuat serta disegani oleh negara/kerajaan tetangganya apabila memiliki angkatan perang yang solid, terorganisir, lengkap dan didukung dengan alusista yang mumpuni.

Bagaimana dengan Kerajaan Wuna ( Muna )? Apakah benar kerajaan itu pernah menjadi suatu kekuatan yang disegani pada masanya ? Untuk menjawab itu semua maka perlu ditilik lebih jauh lagi mengenai struktur organisasi dan system pertahanan yang dimiliki nya. Berikut ini penulis menyajikan struktur organisasi dan system pertahanan yang pernah dimiliki Kerajaan Wuna.

  1. Kapitalao ( Panglima Angkatan Perang ) 

    Kapitalao adalah Panglima Angkatan Perang Kerajaan Wuna yang membawahi 6 komando militer masing-masing  1. Kapita ( Panglima Perang Darat ), 1 Kapitalao Matagholeo ( Panglima Armada Laut Bagian Timur ), 1. Kapitalao Konsoopa ( Panglima Armada Laut Bagian Barat ) dan 3 Bharata ( Komando Daerah Pertahanan Laut ) yang dikenal dengan Bharata Tolu Peleno.

Tugas seorang Kapitalao adalah melakukan pengorganisasian satuan-satuan komando dibawahnya, bertanggungjawab atas kemanan dan pertahanan kerajaan dari gangguan musuh baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar, memastikan keamanan dan keselamatan Omputo ( Raja ) dan seluruh perangkat kerajaan serta menyatakan perang.

Kapitalao Memakai daster dan baju kebesaran militer seorang Panglima Militer, bersenjatakan pedang kebesaran yang dijuluki La wiira ninggai meharono tapuaka (si penangkal isu, si penyapu badai bagai tsunami).
Seorang Kapitalao harus memiliki kemampuan bela diri  Ewa Wuna (Pencak Silat Khas Muna), sara dhiki dan balaba.

  1. Komando Pertahanan Laut

    Sebagai kerajaan pulau yang dikelilingi lautan, Kerajaan Wuna menfokuskan system pertahanannya di daerah pesisir. Kedigdayaan masyarakat Wuna di lautan telah terbentuk jauh sebelum terbentuknya kerajaan. Hal itu dapat dilihat dari gambar-gambar perahu yang ada di dinding-dinding goa di situs pra sejarah Liangkobori. Menurut penelitian, gambar-gambar di situs liangkobori tersebut telah berumur lebih dari 4000 tahun. Itu artinya bahwa jiwa kebaharian masyarakat wuna telah tubuh sejak 4000 tahun lalu.

Bukti lain adalah seperti yang digambarkan dalam epic I Lagaligo dan Sejarah Kerajaan Luwu, sebuah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan. Menurut bebera ahli, epic tersebut berkisah tentang situasi pada abad ke-14 masehi. Dalam Epic I Lagaligo secara tersirat dikatakan bahwa Sawerigading, ( tokoh utama dalam manuskrip tersebut ) bersaudara sepupuh dengan Ri Mandri Langik Raja Wuna I yang di negeri Wuna bernama La Eli. Kedua saudara sepupuh tersebut perna melakukan penaklukan di negeri Cina dan Jawa Wolio. Setelah penaklukan tersebut, Sawerigading kembali ke negeri leluhurnya Kerajaan Luwu. Namun sebelum itu mereka terlebih dahulu singgah di Pulau Muna yang dalam epic I Lagaligo dikatakan sebagai ‘ negeri bawah’.

Mungkin singgahnya Sawerigading dan pasukannya tertersebutlah yang melahirkan mitos tentang terdamparnya kapal Sawerigading di kalangan masyarakat Muna, . Dalam mitos tersebut dituturkan bahwa terdamparnya kapal Swerigading tersebut sebagai asal mula terbentuknya Pulau Muna dan situs batu yang berbentuk sebuah kapal di Kota Wuna dipercaya sebagai fosil kapal Sawerigading yang terdampar tersebut.

Sedangkan dalam sejarah Kerajaan Luwu dikatakan bahwa We Tendriabeng, saudara dari Sawerigading pergi menemui pasangannya yang yang dikenal dengan Ri Mandrilangik di ‘negri bawah’. Kemungkinannya ketika Sawerigang melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Luwu, saudara sepupunya yang bernama Rimandri Langik tetap tinggal di Muna bersama 40 orang lainnya pengikut mereka. Dalam catatan sejarah Kerajaan Wuna, Rimandrilangik atau di negeri Wuna di kenal dengan nama La Eli menjadi Raja Wuna I dengan gelar Bheteno Ne Tombula ( Baca Rene Vandeberg,2005 ).

Masih dalam sejarah Kerajaan Luwu di katakana bahwa Raja Kerajaan Luwu III yang memerintah sekitar tahun 1300 an masehi yang bernama Simpuru Siang adalah anak dari We Tendriabeng, Sejarah Kerajaan Luwu ini memiliki kesamaan dengan sejarah Kerajaan Wuna, dimana anak dari pasangan La Eli gelar Bheteno Ne Tombula Raja Wuna I dengan permaisurinya Wa Tandi Abe ( Wetendri Abeng ) gelar Sangke Palangga yang bernama Runtu Wulae kembali ke negeri leluhur ibunya yaitu Kerajaan Luwu dan menjadi raja di negeri leluhurnya tersebut.

Menurut sejarah Kerajaan Luwu, Simpuru Siang atau Runtuwulae menjadi raja di Kerajaan Luwu sebagai sole watang ( raja pengganti ) sekitar tahun 1300 an Masehi. Ketika Simpuru Siang menjdi raja di Kerajaan Luwu, kerajan tersebut sedang dalam masa ke emasan di bidang kemaritiman. Hal yang tentu saja juga dialami oleh Kerajaan Wuna yang saat itu di pimpin oleh Raja Wuna II, La Aka Kaghua Bhongkano Fotu gelar Sugi Patola yang juga merupakan saudara dari Runtu Wulae. Sekedar informasi, Runtu Wulae atau Simpuru Siang ( nama Runtu Wulae di Kerajaan Luwu ) anak dari La Eli gelar Bheteno Ne Tombula atau Rimandri Langik ( nama La Eli dalam Epic I Lagaligo ) dengan Wa Tandi Abe atau We Tendriabeng ( nama Wa Tandi Abe di Kerajaan Luwu dan Epic I Lagaligo ).

Dinobatkannya Simpuru Siang/ Runtu Wulae sebagai sole watang di Kerajaan Luwu akibat terjadinya kekosongan jabatan raja di kerajaan tersebut karena Sawerigading paman dari Simpuru Siang atau Runtu Wulae yang merupakan pewaris tahta di kerajaan tersebut menolak untuk dilantik sebagai raja. Sawerigading lebih memilih untuk meninggalkan kerajaan untuk menemui seora
ng gadis yang memiliki paras dan kecantikan yang sama dengan We Tendri Abeng yang tinggal dinegeri cina ketimbang menjadi raja.

Bukti yang paling fenomenal tentang kedigdayaan pasukan maritim Kerajaan Wuna adalah ketika putera Sugi Manuru Raja Wuna VI yang benama La Kilaponto ( kemudian menjadi Raja Wuna VII serta Raja Wolio VI ) menghacurkan bajak yang dipimpin oleh Labolontio. Sekedar informasi, bajak laut Labolontio ini sebelumnya telah berhasil membuat kekacauan di pesisir pantai mulai dari Pulau Selayar sampai pesisir Pulau Buton. Bahkan Kerajaan Wolio ( sebuah kerajaan di Pulau Buton ) terancam bubar akibat ulah Labolontio tersebut. Sebagai raja kerajaan tetangga, Raja Wuna VI Sugi Manuru mengutus putera nya yang bernama La Kilaponto bersama pasukannya untuk memerangi Labolontio.

Dalam sebuah pertempuran hebat di pesisir Barat Pulau Buton, pemimpin bajak laut Labolontio berhasil di bunuh oleh La Kilaponto dan kepalanya di bawa kehadapn Raja Wolio kala itu yang bernama Lamule untuk meyakinkan raja negeri tetangga tersebut bahwa pengacau keamanan yang selama ini mengacu di Kerjaan Wolio telah terbunuh ( karena keberhasilannya tersebut, La Kilaponto di nobatkan menjadi Raja Wolio VI setelah Lamulae Raja Wolio V meninggal dunia).

Setelah membunuh Labolontio dan menghancurkan pasukannya, La Kilaponto bersama pasukan angkatan laut Kerajaan Wuna melanjutkan misi pembersihan terhadap sisa-sisa bajak Labolontio dengan melakukan penyisiran di sepanjang pesisir yang pernah dikuasai oleh bajak laut tersebut. Bahkan untuk memastikan bahwa seluruh pasukan Labolontio telah hancur lebur, maka La Kilaponto melakukan pengejaran sampai di pesisir Darwin Australia. Sebagai bukti kalau pasukan Kerajaan Wuna di bawah komando La Kilaponto pernah sampai ke Benua Australia adalah adanya daerah di benua tersebut yang bernama ‘Wuna Land’ atau dalam Bahasa Muna berarti ‘Witeno Wuna ‘

Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa La Kilaponto Raja Wuna VII dinobatkan menjadi Raja Wolio Vi beberapa saat setelah menjadi raja di Kerajaan Wuna ( 1538 ). Tiga tahun kemudian ( 1541 ), La Kilaponto mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Butuuni Darussalam yang kemudian lebih popular dengan nama Buton dalam sebuah kesepakatan antara lima kerajaan yaitu Kerajaan Wuna, Kerjaan Mekongga, Kerajaan Wolio, Kerajaan Kaledupa, dan Kerajaan Kabaena, sebagaimana kutipan berikut;

“ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian Negeri, karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Wuna dan Wolio, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 dalam Mahmud Hamundu, 2002).
.
Kesepkatan itu ditandatangani disebuah tempat di Kerajaan Wuna yang bernama Kape-peo sehingga kesepakatan itu diberi nama ‘ Aka ‘ ( Pakta ) Kapeo-peo ( La Ode Sirad Imbo : wawancara, 2012 ). Hal ini diperkuat oleh La Niampe dalam desertasi doctoral nya yang berjudul “Kajian Tasawuf Alam Kitab Undang-Undang Kerajaan Buton” . Dalam desertasinya tersebut di katakan bahwa Kerajaan Wolio, Tiworo, Wuna, Kulisusu, dan Kaledupa merupakan kerajaan fatsal Buton. Dalam pembuatan desertasinya tersebut, La Niampe melakukan penelitian terhadap beberapa dokumen yang tersimpan di museum KILTV Denhag Belanda.

1.2. Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopa ( Panglima Armada Laut Bagian Timur Dan Barat ).

Selain bertugas mengamankan wilayah pesisir laut Timur dan Barat serta melakukan koodinasi dengan Bharata Tolu Peleno, Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopa juga selalu mendampingi Omputo untuk memastikan keselamatannya. Ketika Omputo melakukan kunjungan ke daerah-daerah ( kampong-kampung), Kapitalao Matagholeo dan Kapitalao Kansoopa selalu berada di sisi kiri dan kanan Omputo. Setiap kali robongan Omputo tiba di suatu daerah, Kapitalao Matagholeo selalu berkata dengan suara menggelegar sambil mengaun- ayun kan Pedangnya:  ‘Turu, turu,turu; laha lahae somogilino wampanino, bisaramo nando aitu; ainihae la wiira ninggai meharono tapuaka; turu, turu, turu (tunduk, tunduk, tunduk; siapa-siapa yang ingin menentang, katakanlah sekarang juga; ini dia si penangkal isu, si penyapu bagai tsunami). Sedangkan Kapitalao Kansoopa memegang Pandanga (Tombak Kebesaran) dalam sikap siaga penuh menunggu kalau-kalau ada penantang. Tujuan seruan tersebut adalah untuk memastikan bahwa seluruh masyarakat Kerjaan Wuna tetap setia dan patuh terhadap Omputo ( Raja ) Wuna. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kapitalao Matagholeo pada saat pelantikan Omputo yang telah disepakati oleh Sarano Wuna ( La Kimi Batoa, 1995 )

2.2. Bharata Tolu Peleno ( Tiga Komando Pertahanan Laut )

Bharata merupakan daerah – daerah yang berada di wilayah pesisir dan Bandar Kerajaan Wuna. Bharata di pimpin oleh seorang Kino Bharata. Mereka adalah pimpinan komando daerah militer  di 3 Bharata yakni Bharatano Laghontoghe dan Bharatano Loghia di pesisir Timur serta Bharatano Wasolangkan di pesisir Barat. Kino Bharata  menggunakan pakaian kebesaran militer  Sarano Wuna. Bharata Tolu Peleno di bentuk oleh Raja Wuna VII La Posasu yang memerintah dari tahun 1541.1551 ( baca: J.Couvreur, 1935:10). Pembentukan Bharata ini sebagai konsekuensi pengalihan jabatan Raja dari Raja Wuna VII La Kilaponto yang menobatkan diri sebagai Sultan Buton I ke adiknya La Posasu. Hal itu juga merupakan implementasi dari ‘Aka” Kapeo-peo dimana dalam salah satu dictum dari ‘Aka’ tersebut adalah pembagian wilayah kekuasan di lutan yaitu Wilayah pertahanan kerajaan Tiworo sampai Wawoni, Kerajaan Wuna sampai Sagori, Kerajaan Kulisusu sampai Murumako, dan Kerajaan Kaledupa sampai Batu Atas ( Koleksi Museum KILTV kode SBF. 168 R.2.15 )

Tugas Bharata Tolu Peleno adalah melindungi wilayah Kerajaan Wuna dari penyerangan musuh yang berasal luar, khususnya musuh yang datangnya dari laut serta menjaga keselamatan dan hak-hak Omputo ( Raja ) Wuna . Selain memiliki tugas di bidang pertahanan, Kino Bharata juga dibebani dengan tugas untuk memungut bea masuk dan bea keluar dari para pedagang yang berlabuh di Bandar wilayah kerja para Kino Bharata. Tiap-tiap Bharata dilengkapi dengan alat utama system pertahan berupa perahu berlayar satu yang bernama bhoti dan koli-koli. Setiap prajurit Bharata dipersenjatai dengan lolabi dan leko ( senjata tradisional masyarakat muna sejenis keris ) serta pandanga ( senjata tradisional berbentuk tombak )

Selain tugas menjaga pertahanan dan keamanan wilayah Kerajaan Wuna dan memungut bea pada kapal-kapal asing yang berlabuh di pelabuhan Loghia,Laghontoghe dan Wasolangka. Bharata juga diberi hak otoritas untuk mengatur daerah ( kampong ) yang berada di bawah nya. Umumnya daerah-daerah tersebut berada di pesisir dan memiliki bandar. Adapun pembagian wiyayah – wilayah bharata tersebut adalah :

Bharatano Loghia membawahi daerah-daerah yaitu Duruka, Banggai, Masalili, Mabolu, Mabodo, Watuputi, Bangkali, Ghonsume dan Kondongia. Semuanya ini disebut Siua Limbono, yang berarti ‘ sembilan daerah Khusus’ serta satu Bandar ( pelabuhan ) yaitu Bandar Loghia.

Bharatano Laghontoghe membawahi daerah-daerah Lianosa dan Wakowanenta.

Sedangkan Bharatano Wasolangka membawahi daerah-daerah Marobo, Matombura, Matanapa, Labuandiri, Manggarai, Wabalomo, Wadolau, dan Waburanse serta satu Bandar Wasoangka

  1. Komando Pasukan Darat

1.3. Pasukan Pogala ( Zeni Tempur );
Pasukan Pogala ( Zeni Tempur ),  ialah regu perintis yang bersenjatakan tombak pemungkas (Gala). Pasukan ini betugas menyiapkan segalah infrastruktur ( jalan, kamp, dll ) untuk menunjang pergerakan pasukan lain ketika melakukan inflitrsi ke daerah musuh. Prajurit pasukan Pogala selain dibekali dengan ilmu bela diri ewa wuna dan balaba, juga dibekali dengan kemampuan intelejen. Keberhasilan kerja pasukan pogala sangat menentukan keberhasilan operasi militer berikutnya. Selain bertugas memfasiitasi laju gerak pasukan lainnya, pasukan Pogala juga memiliki mobilitas yang besar sehingga mereka dapat bergerak cepat kedalam wilayah pertahanan musuh serta mampu bertempur satu lawan satu atau lebih dengan pasukan musuh. Olehnya itu, pasukan Pogala dibekali dengan ilmu bela diri ‘ ewa wuna, saradhiki dan balaba.

Sebagai regu perintis jalan, prajurit Pogala dibekali senjata lolabi, kapulu dan pandanga. Pasukan pogala beranggotakan prajurit – prajurit pilihan yang mampu bergerak cepat. Pasukan Pogala dalam operasinya selalu membawa Tombi (bendera) yang akan ditancapkan di daerah musuh yang berhasil di infiltrasi dan gendang Pomani (gendang perang) yang ditabuh sebagi pertanda dimulainya sebuah peperangan dan ketika merayakan kemenangan.

 2.3. Sampu Moose/Kejora Hinggap ( Pasukan Kavaleri )
Anggota pasukan ini adalah prajurit-prajurit pilihan yang memiliki kemahiran menunggng kuda dan menggunakan sejata berupa tombak. Pasukan Sampu Moose memiliki kemampuan gerak cepat dan mobile sekaligus befungsi sebagai penyerang dadakan atau pembuka jalan bagi pasukan infantry yang bergerak berikutnya. Untuk menunjang kinerjanya, setiap prajurit pasukan kafaleri dibekali dengan kemampuan bela diri ewa wuna, balaba dan kontau serta keterampilan menunggang kuda. Olehnya itu, setiap prajurit Sampu Moose ( Kavaleri ) mampu bertarung dengan menggunkan senjata atau dengan tangan kosong baik dari atas kuda maupun dibawah.

Pasukan Kavaleri Kerajaan Wuna dalam melakukan aksinya di bagi dalam regu-regu kecil yang terdiri dari 10 orang prajurit setiap regunya. Pasukan infantry berpakaian resmi Sampu Moose, menunggangi kuda berlonceng dan berkekang kuningan. Pasukan infantry memiliki kemampuan menginfiltrasi daerah pertahanan musuh dalam waktu cepat dan melakukan penyerangan yang tidak terduga oleh musuh. Pasukan Sampu Moose juga melakukan operasi sapu bersih di daerah musuh yang telah di infiltrasi untuk memastikan bahwa musuh benar-benar telah takluk.

3.3. Bobato Oaluno ( Batalion Infantri ); Pasukan ini merupakan prajurit pejalan kaki, bersenjatakan lolabi ( sejata khas muna sejenis keris ) dan dan pandanga ( tombak ) dengan pakaian kebesaran seseorang Adipati. Komandang pasukan ini merupakan pimpinan di delapan Bobato yaitu; Labhoora, Lakologou, Lagadi, Watumelaa, Lasehao, Kasaka, Mantobua dan Tobea. Setiap komandan pasukan diberi kewenangan untuk memilih orang-orang pilihan di daerahnya masing-masing untuk di jadikan prajurit. Setiap prajurit infantry memiliki kemahiran bela diri ewa wuna serta balaba. Para prajuit tersebut selain dapat bertempur dengan menggunakan senjata, mereka juga mampu bertarung dengan tangan kosong. Prajurit infantri pada umum nya memiliki ilmu kekebalan terhadap senjata.

  1. Bhelo Bharuga (Pasukan Pengawal Raja)

    Selain memiliki pasukan tempur, militer kerajan Wuna juga memiliki pasukan khusus kawal istana. Adapun pasukan kawal istana yang dimiliki oleh Kerajaan Wuna adalah :

1.4. Wangkaawi (Regu pembawa senjata Kerajaan) berjumlah 12 orang terdiri dari : Tunani (perwira) 4 orang. Firisi (Opsir) 4 orang, Siriganti (Bintara) 4 orang. Wangkaawi merupakan pasukan pengawal Omputo ( Raja ) sehingga kemanapun omputo berada Wangkaawi selalu melakukan pengawalan. Jejeran Wangkaawi dalam melakukan pegawalan Omputo diatur sebagi berikut, Tunani berada dibarisan depan, menyusul Firisi ditengah dan Siriganti dibelakang.

2.4.  Kapita (Pimpinan Komando kawal Keraton); Pasukan ini bertugas melakukan penjagaan di kediaman ( istana/ Kamali ) Omputo. Kapita berpakaian kebesaran selaku Perwira Militer, bersenjata keris. Ketika Omputo melakukan kunjungan ke Daerah-daerah Kapita juga selalu menyertai Omputo dan berjalan disebelah kanan Wangkaawi.

 3.4. Bhonto Kapili (perwira pilihan); terdiri dari 4 orang perwira. Seorang memayungi raja dengan payung kebesaran; dua orang ajudan dan seorang lainnya memegang gambi (kendaga) raja yang berisi sirih pinang serta perlengkapannya. Mereka berderet dibelakang raja.

4.4. Pasi (Prajurit Yudha); berpakaian seragam militer Sarano Wuna dan berenjata. Terdiri dari 40 orang, 5 staf masing-masing 8 orang.

5.4  Bhonto Litau (pemangku Protokoler Istana ); berpakaian resmi sebagai seorang pemangku dan bersenjata. Bhonto Litau merupakan staf istana Kerajaan Wuna yang selalu menyertai kemanapun Omputo berpergian. Ketika menyertai Omputo, Bhonto Litau berjalan berderet bersama barisan fato lindono.
 

B. GHUNTELI SEBAGAI DASAR MEMBANGUN SITEM PERTAHANAN DAN PEMERINTAHAN KERAJAAN MUNA

system pertahanan dan system pemerintahan di Kerajaan Wuna menganut system pertahanan keamanan rakyat semesta ( HANKAMRATA ), maksudnya dalam menciptakan keamanan dan pertahanan kerajaan selalu melibatkan seluruh rakyat sebagai komponen utama nya. Yang unik dari system yang dianut oleh Kerajaan Wuna ini adalah dimana dalam menyusun system pertahanan dan keamanannya dipadukan dengan system pemerintahan sehingga terjadi sinergitas yang harmonis antara keduanya.

Daam menyusun system yang terpadu tersebut, pemerintahan Kerajaan Wuna melalui Raja Wuna VIII La Posasu ( 1541 – 1551 ) menggunakan telur sebagai dasar filsafatnya ( lihat gambar dibawah ). Penggunaan telur tersebut karena telur dianggap sebagai awal dari cikal bakal lahirnya mahluk baru.
Untuk itu, system pertahanan dan pemerintahan Kerajaan Wuna disusun berdasarkan fungsi-fungsi dari pada telur. Untuk jelasnya dijelaskan sebagai berikut :

Fungsi dari bagian-bagian telur tersebut yaitu:

  1. Cangkang Telur berfungi sebagai pelindung utama telur. Bagian ini memiliki pori-pori untuk keluar-masuknya udara. merupakan pasukan pertahanan kerajaan yang diterjemahkan dengan kampung/negeri siua liwu no yang berada disisi timur pulau Muna yaitu daerah Duruka, Banggai, Masalili, Mabolu, Mabodo, Watopute, Bangkali, Ghonsume dan Kondongia. Sebagimana fungsi cangkang, siuwa liwuno berfungsi sebagai benteng/pelindung Kerajaan Wuna dari gangguan yang datangnya dari luar khususnya yang berasal dari pesisir laut kerajaan.
  • Membran cangkang merupakan selaput tipis di dalam cangkang telur. Pada salah satu ujung telur, selaput ini tidak menempel pada cangkang sehingga membentuk rongga udara. kondisi ini merupakan fungsi dari Kapitalao Matagholeo ( Panglima Armada Laut Bagian Timur )yang mana markas besarnya di tempatkan di Loghia dan Kapitalao Kansoopa (( Armada Laut Bagian Barat ) yang di kenal dengan Lawalangi.
  • Rongga udara berfungsi sumber oksigen bagi embrio. diwakili oleh kampung-kampung penyuplai logistik seluruh rakyat kerajaan. Kampung-kampung ini merupakan wilayah yang subur dan dapat ditumbuhi segala jenis tanaman yang merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat kerajaan. Kampung- kampong itu adalah Mabolu, masalili, kontunaga dan sebagaian lawa.

  • Keping germinal (zigot/sel embrio) merupakan calon individu baru. merupakan negeri yang terganbung dalam fato ghoerano ( empat daerah otonom )

  • Kuning telur (yolk) adalah cadangan makanan bagi embrio. komponen masyarakat yang disebut bangsa phopano

  • Putih telur (albumin) berfungsi sebagai pelindung embrio dari goncangan dan sebagai cadangan makanan dan air. adalah para penasehat yang berasal dari imam dan pimpinan kampung yang mengitari kerajaan muna.

  • Kalaza (tali kuning telur) berfungsi untuk menahan kuning telur agar tetap pada tempatnya dan menjaga embrio agar tetap berada di bagian atas kuning telur. diterjemahkan sebagai para sara kerajaan. 

  • Catatan : Gambar bagian telur diambil dari “http://mopindonesia.blogspot.com/” sedangkan gambar system pertahanan Kerajaan Wuna dikutip dari buku Sejarah dan Kebuadayaan Muna oleh Rene Van Deberg.

    Penulis adalah :
    * Pemerhati Sejarah dan Budaya Muna
    ** Pemerhati sejarah dan budaya muna, dosen pada Univ. Sultan Khairun Ternate,

    MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN  ANTAR ETNIK DI SULAWESI


    1. Pendahuluan

    Politik De Vide Et Impera yang ditanamkan   oleh Kolonial Belanda ( VOC ) sejak awal abad  XVII pada kerajaan-kerjaan yang ada di Sulawesi Tenggara, di sadari atau tidak  telah menumbuhkan benih-benih perpecahan dan rasa Hegemonisme suatu etnik terhadap etnik lainnya.  Ironi nya benih-benih perpecahan dan rasa hegemonisme tersebut  telah menjadi warisan history yang membebani jiwa sebagian generasi muda sampai saat ini.  Akibatnya hubugan kekerabatan yang telah terjalin sebelum nya menjadi tercerabut dan bahkan tidak jarang terjadi gesekan antar  etnik yang menjurus pada disintegrasi bangsa.

    Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd. mengutip Warsila, mensinyalir  pada saat ini Indonesia sedang menghadapi permasalahan disintegrasi bangsa yang diakibatkan beban history masa lalu. Menurut  Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd,  sekurang-kurangnya ada tiga masalah yang harus segera dipecahkan, diantaranya problema historis yang berkaitan dengan konflik sosial, yakni berupa krisis ketika konflik-konflik masa lalu belum terselesaikan dan tertinggal (Warsilah, 2000 dalam H. Anwar Hafid,2013). Olehnya itu tantangan masa depan kita tehadap problema tersebut adalah bagaimana mengantisipasi gejala hegemoni kebudayaan, karena jika hal ini terjadi akan cenderung merelatifkan kebenaran (H. Anwar Hafid, 2013 ).

    Berawal dari realitas tersebut dan menjawab tantangan masa depan guna melepaskan diri dari virus yang di tanamankan oleh koloniaisme di dalam jiwa sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara, penulis mencoba menggali history keberadaan seorang tokoh perempuan yang berasal dari etnik Tolaki, salah satu etnik di Sulawesi Tenggara yang bernama Wasitao. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Wasitao, bahkan tidak jarang keberadaannya sengaja di tutupi hanya untuk menunjukan hegemoni suatu etnik terhadap etnik lainnya. Atau juga kemungkinan lain  adalah akibat adanya beban history masa lalu yang telah  ditanamkan pada sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara oleh Kolonial Belanda sebagai perwujudan dari politik de vide et impera.

    Padahal dalam beberapa literature baik berupa manuskrip dan buku sejarah secara maupun tradisi lisan masyarakat tegas dikatakan bahwa Wasitao adalah seorang perempuan yang menurunkan raja-raja besar yang pernah memerintah di Kerajaan-kerjaan  besar  di Sulawesi Tenggara,  yakni Kerrajaan Wuna ( Muna ), Konawe, Mekongga dan Buton ( Wolio ). Dokumen – dokumen tersebut adalah seperti   dokumen yang tersimpan di KITLV dalam kode SBF.308 R.410, SBF.214 R.361, SBF.291 R.3.19, SBF.19 R.1.19, SBF.151 R.2.102, SBF.20 R.120, SBF.207 R.3.54, SBF.175 R.3.22, dan SBF. 184 R.3.31  yang  menginformasikan bahwa raja-raja Tiworo memiliki Hubungan silsila dengan Raja-raja Muna, Wolio, Konawe, Melayu, Gowa dan Kulisusu ( La Niampe, 2012 ), Sejarah Kerajaan Muna ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2), Pekukuno Konawe versi Ranomeeto (  Alm  H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh  Alm  A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Bapak Ambo Zaid Pamanggala ), buku sejarah Sulawesi Tenggara (  Prof Tamburaka, 2005 ) dan lain -lain . Olehnya itu, artikel ini penulis beri judul MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN ANTAR ETNIK DI SULAWESI TENGGARA.

    Artikel ini adalah merupakan kelanjutan dari artikel kami terdahulu dalam bentuk tulisan reportase ilmiah dengan judul PENCARIAN JEJAK LELUHUR YANG TERLUPAKAN, – Penelusuran Ke makam Wasitao, Perempuan Yang menurunkan Raja – Raja Di Kerajaan Konawe, Mekonongga, Wuna dan Buton Di  Desa Lambo  Tua,  Kecamatan Mowewe Koltim” , yang penulis  publikasikan di blog pribadi www.mabhuty.yu.tl dan www.formuna.wordpress.com.

     

    Penulis menyadari sebagian konten dari artikel ini akan menjadi polemic dan kontroversi di kalangan masyarakat dari etnik-etnik diatas. Namun bagaimana pun juga kebenaran itu harus di ungkap apalagi mengenai profil seorang tokoh yang darahnya mengalir hampir di sumua etnik di Sulawesi Tenggara. Tujuan pengungkapannya jelas yakni untuk mengikis virus politik de vide et impera yang tanamkan colonial yang mana sampai saat ini masih melekat dalam jiwa sebagian masyarakat.

    Untuk meminimalkan polemik dan kontroversi tersebut, penulis sangat berhati-hati dalam melakukan penelusuran dan mengumpulkan referensi. Berbagai sumber penulis coba gali bahkan sampai  mengunjungi beberapa situs yang di duga sebagai makam Wasitao. Guna memastikan apakah referensi tersebut memiliki ke akurasian yang tinggi, penulis melakukan singkronisasi data-data yang di dapat satu dengan lainnya. Apabila data-data tersebut memiliki kemiripan barulah data itu di gunakan sebagai sumber referensi untuk menarik kesimpulan dalam pengungkapan jati diri Wasitao. Sedangkan yang tidak, penulis kesampingkan.

    Selain itu penulis juga merangkum tradisi tutur yang berkembang di etnik-etnik besar tersebut yang berkaitan dengan cerita seputar Keberadaan Wasitao. Pemilihan referensi dari tradisi tutur tersebut karena menurut penulis laporan/ hasi penelitian prehistory yang menceritakan tentang jati diri Wasitao belum cukup memberikan keterangan yang memadai. Olehnya itu penulis melakukan pendekatan dengan menelusuri melalui tradisi lisan ( baca, Amir Sahaka 2010:25 ) Penulis juga melakukan tinjauan lokasi/situs untuk melengkapi informasi seputar sejarah dan jati diri Wasitao. Jadi tinjauan pustakan hanya menekankan pada kegiatan melihat, lebih  tepatnya meninjau kembali hasil-hasil penelitian/tulisan yang telah dilakukan peneliti/penulis terdahulu ( lihat Sangidu, 2005:109 dalam Amir Sahaka dkk, 2010: 83 )

    1. Asal Usul Masyarakat Di Sulawesi Tenggara Dan Terbentuknya Kekerabatan

    `Menurut H. Anwar Hafid, nenek moyang penduduk yang berdiam di daerah Sulawesi Tenggara sekarang ini. merupakan pertemuan ras Mongoloid dari Utara, ras Austro-Melanesoid dari Timur dan Proto-Melayu  dari Barat/Utara. (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid 2010). Suku Moronene, Tolaki, Wawonii, dan Kulisusu mempunyai ciri fisik dan budaya yang mirip dengan suku-suku yang ada di Sulawesi Tengah dan mungkin juga Sulawesi Utara. Jika dilihat dari cepkalik- index, mata, rambut maupun warna kulit suku-suku tersebut memiliki persamaan dengan ras Mongoloid, diduga berasal dari Asia Timur ke Jepang kemudian tersebar ke selatan melalui Kepulauan Riukyu, Taiwan, Philipina, Sangir Talaud, Pantai Timur Pulau Sulawesi kemudian sampai ke Sulawesi Tenggara. Sementara itu penduduk kepulauan (Muna dan Buton), termasuk di Kepulauan Banggai (Sulteng) dan suku-suku di NTT banyak memiliki persamaan dengan ras Austro-Melanesoid (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid, 2013).

    Masyarakat yang berkembang di Sulawesi Tenggara saat ini seperti yang dikatakan H. Anwar Hafid, bukanlah manusai purba pendukung situs yang ada di Gua Liangkobori di Kabupaten Muna.  Hal itu didasari pada asumsi dimana manusia purba pendukung relief di Gua Liangkobori adalah masyarakat yang masih tinggal di dalam gua dan untuk memenuhi kebutuhan makan nya masih mengandalkan berburu dan meramu. Sedangkan manusia sebagai nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini, saat bermigrasi ke daerah-daerah Sulawesi telah mengenal teknologi pembuatan rumah dan telah pandai  bercocok tanam dan berternak. Menurut La Oba ( 2005:10-11 ) manusia purba pendukung situs  yang ada di Liang Kobori, sebagai manusia purba pertama yang mendiami Sulawesi Tenggara  mengalami kepunahan sebagaimana halnya manusia purba lainya yang pernah ada di Nusantara.Jadi secara umum yang menjadi nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara berasal dari dua ras yang berbeda yakni ras Mongoloid   mendiami daratan Sulawesi dan dan ras Austro-Melanesoid yang mendiami dua pulau besar di jazirah tersebut ( Muna dan Buton ).

     Para migran tersebut, ketika sampai di daerah ini membentuk perkampungan di wilayah-wilayah yang menawarkan kehidupan bagi mereka, seperti di lembah sungai atau di sekitar danau (ingat: Sungai Lasolo, Sungai Konaweeha, Danau Amboau) pusat konsentrasi pemukiman kuno di Sulawesi Tenggara. Dari sini mereka membentuk pemerintahan desa atau kerajaan-kerajaan kecil dan kemudian membentuk konfederasi (H. Anwar Hafid, 2010 ).

    Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk dan semakin moderennya system social maka semakin kompleks juga kebutuhan mereka. Demikian pula dalam proses interaksi,bila sebelumnya interaksi itu terjadi hanya sebatas diantara anggota komunitas ( kelompok Sosial ), maka seiring dengan semakin kompleks nya kebutuhan, kegiatan interaksi mulai berkembang diluar komunitas mereka. Konsekuensi dari interaksi antar komunitas tersebut salah satunya adalah terjadinya   proses kawin mawin diantara komunitas dan ras yang berbeda. Dari proses kawin mawin tersebut maka lahir lah generasi baru yang memiliki darah trans etnik dan ras yaitu penggabungan antara ras dan etnik sehingga terjalin hubungan kekerabatan diantara etnik dan ras yang ada di Sulawesi Tenggara . Salah seorang tokoh yang feomenal yang terlahir dari generasi trans etnik dan ras  tersebut adalah La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo.

    Ber titik tolak dari hal itu maka  dapat dikatakan bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya  masyarakat dari etnik Muna, Tolaki dan Buton saat ini masih memiliki hubungan kekerabatan satu dengan lainnya dan tidak ada alasan untuk menyimpan rasa hegemoni diantara etnik karena pada hakekatnya semua etnik di Sulawesi Tenggara yang ada saat ini masih memiliki hubungan darah yang diawali dari hubungan perkawinan antara    La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao ( anak Mokole Konawe ).

    Jadi dengan demikin maka dapat dikatakan bahwa hubungan kekerabatan diantara etnik di Sulawesi Tenggara ( Muna, Tolaki dan Buton ) mulai terjalin sejak terjadinya perkawinan antara La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao Puteri Mbulada gelar Elu Langgai (Mokole Konawe keturunan ke – 6 Oheo dan Wekoila). Jalinan kekerabatan itu semakin kuat, setelah Sugi Manuru ( Raja Wuna VI ) menikahi Watubapala cucu dari La Tiworo dan Wasitao serta seorang perempuan lainnya dari bangsawan Konawe yang bernama Wasarone. Demikian juga dengan di Buton hubungan kekerabatan antara etnik Buton, etni Tolaki dan etnik Muna  terjalin  melalui keturunan La Kilaponto gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton I. La Kilaponto  adalah Raja Wuna VII anak Raja Wuna VI Sugi Manuru dari Permaisurinya Watubapala yang kemudian mendirikan Kesultanan Buton sekaligus menjadi Sultan I dengan gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis. Selain memiliki darah Tolaki yang diturunkan melalui  neneknya Waradea. Dalam beberapa leteratur di katakan  bahwa La Kilaponto juga  memiliki istri dari anak Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri. Dari perkawinan La Kilaponto dengan Anaway Ngguluri tersebut kemudian memiliki tiga orang anak yang kesemuanya adalah perempuan yang diberi nama masing-masing, Wade Konawe, Wade Poasia dan Wade Lepo-lepo ( M. Alimuddin, 2008 ). Jadi pada hakekatnya kekerabatan terjadi karena hubungan darah dan proses perkawinan. Hubungan darah berada sekitar saudara sepupu sekali, sepupu dua kali, sepupu tiga kali, sepupu empat kali. Sepupu lima kali dianggap suatu keluarga yang mulai menjauh. Perkawinan di luar lingkungan sepupu tiga kali menyebabkan batas kekerabatan menjadi semakin luas, ini sering terjadi di kalangan etnis-etnis yang ada di Sultra. Meskipun umumnya orang mengakui kerabat jika dalam kelompok itu terjadi saling kenal-mengenal, oleh Koentjaraningrat (1982) disebutnya kerabat sosilogis (H. Anwar Hafid, 2013 ) .

    Ketika La Kilaponto alias Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Haluoleo Mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Buton ( 1498) sekaligus menjadi Sultan Pertama nya, kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Tenggara yakni Wuna, Buton, Mekongga, Kabaena dan Kaledupa menggabungkan diri dalam sebuah Konfederasi ( sejenis Persemakmuran ) sebagaimana kutipan berikut :

    “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah  sekalian Negeri,  karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Wuna dan Buton, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 dalam Hamundu, 2012 ).

    Pendeklarasian konfederasi tersebut di kenal “ Aka Kapeo-peo “ ( Pakta Kapeo-peo ) dan menganut system “ Torumbalili “ ( Kekuasaan bergilir ),  dengan dua  prinsip utama Yaitu : Pertama, pinsip Soi Laompo ( Kesetaraan ) yaitu, status sosial dan wilayah yang sejajar, setara
    laksana  rajukan sero, Kedua prinsip Toru Mbalili yakni ( Mahkota bergilir ),yakni  mahkota sultan dijabat secara bergiliran oleh semua anggota konfederasi. Kendatipun jabatan Sultan, namun untuk menjadi sultan seseorang harus memiliki tiga syarat untuk dapat menjadi calon sultan yaitu,
    Kumbewaha (kewibaan ),  Tanailandu ( keteladan utama ) dan  Tapi-tapi (senioritas ) baik kecerdasan maupun usia.
    ( Baca: La Ode Sirad Imbo, 2012 ).

    1. Mengenal Wasitao

    Dari beberapa literature  baik Manuskrip, buku-buku sejarah maupun tradisi lisan yang berkembang dikalangan masyarakat di Sulawesi Tenggara khususnya di tiga etnik besar Muna, Tolaki dan Buton dikatakan bahwa La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo adalah putera Raja Muna VI Sugi Manuru dari permaisurin nya yang bernama Watubapala. Watubapala sendiri merupakan Puteri dari Warandea dari perkawinannya dengan Kijula. Sedangkan Warandea merupakan anak dari Wasitao Puteri Mokole Konawe yang bernama Elu Langgai alias Mbulada  yang menikah dengan Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria sebagi mana kutipan berikut,

    La Tiworo (Raja Tiworo I) gelar benteno Neparia adalah bersaudara kandung dengan La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. Mereka adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo (dari Muna). La Tiworo mengawiniWa Sitao (Putri Raja Konawe, yaitu hasil perkawinan Elu La Nggai dan Wealanda), dikaruniai seorang anak perempuan bernama Wa Randea. Wa Randea dikawini Ki Jula dan dikaruniai sala seorang putri bernama Wa Tubapala” ( Dokumen KILTV )

    Memang literatur- liteatur yang ada tersebut tidak menggambarkan secara jelas apa peran Wasitao selain sebagai isteri dari Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria  sehingga keberadaannya menjadi kabur.

    Ulasan berikutnya yang mengenai Wasitao di ungkap Prof. Mahmud Hamundu yang mengutip tulisan La Ode Abdul Kudus. Itu pun karena berkaitan dengan silsilah La Kilaponto  sebagai mana sebagai mana  kutipan berikut

    “ Setelah beberapa lamanya maka terdengarlah chabar oleh La Kilaponto ( Murhum ) bahwa Wasitao anak Mokole Konawe telah meninggal dunia dan meninggalkan harta  yang menjadi  pusaka Warandea nenek murhum tersebut. Mendengar itu maka La Kilaponto ( Murhum ) sampailah di Konawe dan disebut namanya La Tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Konawe dan Mekongga. Dalam peperangan itu dimana Konawe  mendapat kemenangan “ ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2 dalam Mahmud Hamundu, 2005).

     

    Menurut Mahmud Hamundu ( 2005 ) pemakaian nama Haluoleo sebagai nama lain La Kilaponto di kalangan etnik Tolaki baru mengemuka setelah di publikasikan hasil penelitian Tamburaka dan kawan-kawan yang bertjuk Sejarah Sulawesi Tenggara. Hamundu juga  menjelaskan selain dalam tradisi lisan, nama Haluoleo untuk penyebutan nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki sebelumnya tidak pernah muncul dalam kitab kuno atau arsip kerajaan. Mungkin karena itulah sehingga nama Haluoleo sebagai nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki tidak terlalu popular khususnya dikalangan etnik Tolaki. Namun bila mencermati  Pekukuno ( Silsilah ) Konawe versi Ranomeeto  yang dibuat oleh ( Alm ) H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh ( Alm ) A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Ambo Zaid Pamanggala maka dapat dikatan bahwa sungguhnya hasil penelitian Tamburaka memiliki singkronisasi dengan Pekukuno Konawe tersebut. Dalam pekukuno itu di katakana bahwa Mbulada ( Elu Langgai ) adalah keturunan ke enam dari Oheo ( Raja I Konawe ) dengan  Wekoile.  Mbulada ( Elu Langgai ) memiliki dua orang isteri yaitu  Tanggolowuta ( Arikei Lambulangi ) dan  Wealanda. Hasil perkawinan Mbulada dengan Wealanda  menurunkan Haluoleo.

    Memang dalam Pekukuno Konawe tersebut tidak secara  jelas menyebutkan siapa saja anak Mbulada dengan Wealanda sampai menurunkan Haluoleo. Namun bila merujuk pada   dokumen yang tersimpan di museum KLITV tersebut maka kita  dapat berkesimpulan kalau Haluoleo adalah La Kilaponto. Hal ini berdasarkan informasi dari dokumen tersebut bahwa Wasitao adalah anak dari Elulanggai dengan Wealanda sebagaimana yang dikutip dalam pembahasan di atas. Menurut asumsi penulis tidak dicantumkannya nama Wasitao dalam Pekukuno tersebut diakibatkan karena Wasitao menikah dengan orang yang berasal dari luar garis keturunan  yag menurunkan raja- raja Konawe. Munculnya kembali nama Haluole dalam slsilh itudapat menjadi bukti bahwa benar Haluoleo atau La Kilaponto/ Murhum/ La Tolaki pernah menjadi raja di Kerajaan Konawe. Demikian juga dengan terputusnya silsilah Haluoleo dalam Pekukuno ( Silsilah ) tersebut karena pasca Haluoleo tidak ada lagi keturunan Haluoleo yang menjadi raja di Kerajan Konawe. Hal itu terjadi karena tiga orang anak Haluoleo dari isteri nya puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri kesemuanya perempuan,. Sedangkan dalam pola kehidupan social masyarakat etnik Tolaki menganut prinsip paternalistic, sehingga keturunan Hluoleo tidak memiliki hak untuk menjadi raja.

    Keturunan wasitao di Muna, melalui cucu nya yang bernama  Watubapala  yang menikah dengan   Raja Muna VI Sugi Manuru pada akhirnya menurunkan raja-raja di Kerajaan Muna yang dikenal dengan golongan Kaomu, sedangkan keturunan Wasarone, puteri bangsawan Konawe lainnya yang juga menikah dengan Sugi Manuru menurukan golongan walaka ( Baca : Rene Van Deberg,2005, M. Alimuddin,2008, dan La Oba, 2005 ).

    Demikian juga di Buton, Wasitao melalui cicitnya La Kilaponto Sultan Buton I menurunkan raja-raja/sultan di Kesultanan tersebut. Dari beberapa catatan serjarah keturunan murni Wasitao dan Raja Muna Sugi Manuru  menjadi raja/Sultan di Kesultanan Buton hampir 200 tahun. Mereka yang pernah menjadi raja/sultan tersebut adalah La Kilaponto ( Sultan Buton I ), La Sangaji Sultan Buton II ), La Tumparasi ( Sultan Buton III ) dan La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( Sultan Buton IV ).

     Setelah Kesultanan Buton mendeklarasikan Martabat Tujuh sebagai konstitusi kesultanan maka keturunan Wasitao melalui Dinasti Kumbewaha sebagai representasi trah La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( cucu La Kilaponto ) dan dua dinasti lainya ( Dinasti Tapi-tapi dan Tanailandu ) berbagi peran secara bergilir  di pilih menjadi Sultan Buton. Kendatipun demikian, dalam prakteknya yang paling dominan menjadi Sultan di Buton adalah keturunan Wasitao ( Dinasti Kumbewaha ).

    Penutup

    Masyarakat Sulawesi Tenggara pada dasarnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat antara satu etnik dengan etnik lainnya. Hubungan kekerabatan itu di mulai dari hubungan kawin mawin yang ditandai dengan perkawinan antara Wasitao ( etnik Tolaki ) Puteri Mbulada Raja Konawe dengan La Tiworo Raja Tiworo I anak dari Wa Bokeo ( entik muna ) sejak awal abad ke 14. Hubungan kekerabatan itu semakin meluas di hampir semua etnik setelah La Kilaponto alias Murhum alias La Tolaki alias Haluoleo putera Raja Wuna VII Sugi Manuru yang juga cicit Wasitao dengan La Tiworo menjadi Sultan Buton I dan keturunannya menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton. Selain menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton, La Kilaponto/Murhum/La Tolaki/ Haluoleo juga menikahi puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri dan memiliki tiga orang puteri yang pada akhirnya berkembang biak di komunitas etnik Tolaki.

                Olehnya itu tidak ada alasan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini khususnya generasi muda nya  terpecah akibat perbedaan etnik karena hal itu ternyata adalah beban sejarah yang merupakan residu dari politik de vide et impera warisan  kolonialisme Belanda ( VOC ). Generasi muda harusnya menghapus sentimen stereotipe yang menyesatkan, seakan-akan “kami”  lebih baik dari “mereka”, karena sentiment stereotype tersebut dapat menimbulkan perpecahan diantara etnik. Hal itu didasari karena sejatinya masyarakat Sulawesi Tenggara adala memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat  atara satu etnik dengan etnik lainnya. Di dalam tubuh setiap orang dari berbagai etnik di Sulawesi Tenggara mengalir dari dari nenek moyang yang sama yakni La Tiworo dan wasitao.

    Referensi :

    1. La Niampe. Prof, 2012, Informasi Mengenai Masa Lampau Tiworo
      Dalam Koleksi Koninklijk Instituut Vdr Taal,
      Land-En Volkenkunde (Kitlv) Di Leiden
      Negeri BELANDA—– Artikel
    2. Hamundu Mahmud. Prof, 2005—– Murhum Tokoh Pemersatu Kerajaan-Kerajaan Besar Di Sulawesi Tenggara. MakaLah
    3. Rabani La Ode 2012, Profil Sejarah Kerajaan Muna Dan Hubungannya Dengan Kerajaan Di Tanah Melayu Artikel
    4. Dr. H.Anwar Hafid, M.Pd. 2013 Hubungan Kekerabatan Antar Etnik Di Sulawesi Tenggara Dalam Analisis Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Sejak Masa Kerajaan Hingga Kini.  Artikel
    5. Amir Sahaka Dkk, 2010, Kearifan Lokal Dalam Masyarakat Mekongga (Cetakan II) Diamika Press Jakarta
    6. La Oba Drs Dkk, 2005—- Muna Dalam Lintasan Sejarah Sinyo MP Bandung
    7. Alimuddin 2006, Mengenal Sejarah Peradaban Orang Muna, Upaya Pelurusan Sejarah—– www.formuna.wordpress.com
    8. Ambo Zaid Pamanggala tanpa tahun, Pekukuno ( Silsilah ) Raja-Raja Konawe versi Ranomeeto.
    9. ——— 1987Dampak Mordenisasi Daam Hubungan Kekerabatan Di Sulawesi Tenggara. Proyek IDK Sulawesi Tenggara Kemdari

    Baubau, 26 Oktober 2015

    Pencarian Jejak Leluhur Yang Terlupakan


    Penelusuran Ke makam Wasitao, Perempuan Yang menurunkan Raja – Raja Di Kerajaan Konawe, Mekonongga, Wuna dan Buton Di Desa Lambo Tua, Kecamatan Mowewe Koltim
    jam telah menunjukan pukul dua siang ketika saya menginjakan kaki di Kelurahan Woitombo Kecamatan Mowewe
    Kabupaten Kolaka Timur ( DOB pemekaran dari Kabupaten Kolaka ). Didepan saya terlihat deretan gunung seakan mengucapkan selamat datang menyambut kedatangan saya hari itu.
    Ya, deretan gunung itu tdak bermaksud untuk menghadang langkah bermaksud untuk menuju desa Lambo Tua yang terletak di lembah persis ditengah- tengah lingkaran pegunungan yang sebagaiannya ada d hadapan saya saat itu, tapi Pegunungan hijau nan asri itu menunjukan sikap yang rama seakan menerima keadiran saya yang bermaksud memecahkan misteri yang telah terkubur dalam ditengah-tengah lembah nya, tentang seorang perempuan yang feomenal yang bernama Wasitao anak dari Mokole Konawe yang hidup sekitar awal abad ke 13 yang kini berbaring tenang dalam peristirahatannya yang terakhir..
    Sebelum saya menuju ke tujuan saya yakni makam Wasitao, Isteri La tiworo Raja I Kerajaan Tiworo pada abad ke 13 itu, terlebih dahulu saya mengontak sahabat saya yang saya kenal melalui media social facebook yang bernama Nurlina. Beliau adalah seorang guru salah satu sekolah dasar di desa tersebut. Sahabat saya itu kemudian menganalkan saya pada seorang pria paruh baya yang juga berprofesi sebagai guru. Pria itu bernama la Ode Talifu disebut sebagai juru kunci situs-situs bersejarah di Desa Lambo Tua termasuk makam Wasitao. Saya sangat cepat akrab dengan La Ode Talifu karena selain beliau sangat ramah menerimah kedatangan saya, ternyata beliau juga adalah Orang Muna yang berarti satu suku dengan saya.
    Siapa sebenarnya Wasitao sehingga saya begitu berhasrat untuk men ziarahi makan nya? Dokumen yang tersimpan di Museum KITLV Belanda Berbahasa Wolio dan beraksara arab, menginformasikan bahwa La Tiworo (Raja Tiworo I) gelar benteno Neparia adalah bersaudara kandung dengan La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. Mereka adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo (dari Muna). La Tiworo mengawini Wa Sitao (Putri Raja Konawe, yaitu hasil perkawinan Elu La Nggai dan Wealanda), dikaruniai seorang anak perempuan bernama Wa Randea. Wa Randea dikawini Ki Jula dan dikaruniai sala seorang putri bernama Wa Tubapala. Watubapala kemudian menikah dengan Raja Muna Ke IV Sugi Manuru dan memiliki tiga orang anak masing-masing, La Kilaponto, La Posasu dan wade Pogo ( Dokumen KITLV ).
    La Kilaponto Cucu dari Wasitao tersebut kemudian menjadi Raja Wuna ( Muna ) Ke 7 menggantikan ayahandanya Sugi Manuru Raja Wuna ke 6, kemudian dalam beberapa catatan sejarah dikatakan bahwa La Kilaponto adalah Raja yang mempersatukan kerajaan kerajaan besar di Sulawesi Tenggara ( Baca : SULTAN MURHUM ) yakni, Kerajaan Wuna, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Wolio ( La Kimi Batoa : 1995 ). Sedangkan dalam dokumen lainnya, dikatakan selain Tiga kerajaan besar tersebut, dua kerajaan lainya ikut menggabungkan diri sebagamana ungkapan berikut “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian Negeri, karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum ” ( Koleksi Belanda, hal 1 ).
    Kembali pada cerita di Desa Lambo Tua, Sore harinya sekitar pukul 16.00 Wita, La Ode Talifu mengajak saya ke Desa Lambo Tua untuk men ziarahi makam Wasitao. Dengan masing- masing kami menunggangi sepeda motor, kami mulai menapaki jalan tanah yang mendaki cukup tinggi sepanjang satu setengah kilometer dari kaki bukit di Kelurahan Woitombo . Setelah sampai di puncak, kami kembali menuruni jalan yang juga sangat curam menuju dasar lembah dengan jarak yang sama. Didasar lembah itulah letak Desa Lambo Tua dan makam Wasitao. Menurut tradisi lisan yang berkembang dituturkan bahwa dilembah itulah pusat kerajaan Laiwoi/ Konawe atau mekongga dimana ayah Wasitao menjadi Mokole/ Raja.
    Sesampai di dasar lembah, saya sangat terkejut. Pasalnya situasi di dasar lembah dimana tempat yang diduga sebagai pusat pemerintahan kerajaan Konawe itu kondisi bentang alamnya persis dengan Kota Muna pusat Kerajaan Wuna yang di bangun oleh La Kilaponto Raja Muna ke 7 yang merangkap menjadi Raja Wolio/Buton ke 6. Sekeliling lembah berjajar barisan pengunungan nan hijau. Bahkan menurut La Ode Talifu, di puncak pegunungan itu terdapat susunan batu-batu serupa benteng, persis seperti benteng terpanjang di dunia yang mengelilingi Kota Muna.
    Kondisi bentang alam Desa Lambo Tua itu yang memiliki kemiripan dengan Kota Muna, pusat pemerintahan Kerajaan Muna tersebut menambah keyakinan saya bahwa benar wilayah itu pernah menjadi pusat kerajaan yang dibangun oleh leluhur Wasitao nenek dari La Kilaponto. Bahkan boleh jadi ketika membangun Kota Wuna, La Kilaponto terinspirasi dengan wilayah itu. Hal itu bisa saja, sebab sebelum menjadi Raja Muna \dan membangun Kota Muna, La Kilaponto terlebih dahulu berkunjung ke Kerajaa Konawe untuk mengurus warisan yang ditinggalkan oleh nenek nya Wasitao dan menjadi Raja/Mokole di sana, sebagaimana kutipan berikut : “ Setelah beberapa lamanya maka terdengarlah chabar oleh La Kilaponto ( Murhum ) bahwa Wasitao anak Mokole Konawe telah meninggal dunia dan meninggalkan harta yang menjadi pusaka Warandea nenek murhum tersebut. Mendengar itu maka La Kilaponto ( Murhum ) sampailah di Konawe dan disebut namanya La Tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Konawe dan Mekongga. Dalam peperangan itu dimana Konawe mendapat kemenangan “ ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2).
    Jadi begitu kembali ke Kerajaan Muna setelah lawatnnya tersebut dan menjadi Raja Muna Ke 7 menggntikan Raja Muna ke 6, dan ingin meningkatkan kewibawaannya, akhirnya la Kilaponto membangun sebuah tatanan pemerintahan yang lebih modern dan memusatkan pusat pemerintahan dengan membangun pusat pemerintahan di Kota Muna. Dan wilayah yang dipilih adalah kawasan yang memiliki kemiripan dengan pusat pemerintahan negeri leluhurnya yang pernah dikunjungi dan bahkan sempat menjadi mokole/raja di sana.
    Menurut J. couvreur seorang kontrolir pemerintah Hindia Belanda yang pernah bertugas di Raha dalam laporan serah terima jabatan dalam bahasa Belanda( 1935 ) dan di bukukan dalam Bahasa Indonesia oleh Rene Van Deberg ( 2005 ), Kota Muna yang dibangun oleh Raja La Kilaponto tersebut dikelilingi oleh tembok batu ( benteng ) sepanjang 9,08 Km dengan ketebalan 2-3 meter yang dibangun selama 3 tahun oleh La Kilaponto (1538-1541). Dalam membangun benteng tersebut La Kilaponto di bantu oleh para Jin dan mahluk ghaib lainnya ( Van De berg, 2005: 10 ). Menyusul terbentuknya Kesultanan Buton ( 1541 ) dan dinobatkannya La Kilaponto sebagai Sultan Buton Ke 1 dengan gelar Murhum/ Qaimuin Khalifatul Khamis, pembangunan Kota Muna menjadi terhenti namun bentengnya telah selesai. Kota yang dibangun tersebut masih kosong. Pembangunan Kota dilanjutkan oleh Raja Muna ke 8 yang juga adik La Kilaponto yang bernama La Posasu ( Van Deberg, 2005:10 ).
    Belum habis rasa takjub saya terhdap panorama lembah desa Lambo Tua tersebut, La Ode Talifu sudah kembali mengajak saya untuk mengunjungi Makam Wasitao. Di kompleks pemakaman yang sepertinya tidak terawatt tersebut, terhampar lima buah makam yang gunduknnya lebih tinggi dari tanah sekitarnya sebagaimana layaknya makam-makam raja atau keturunan bangsawan dalam masyarakat Tolaki dan Mekongga.
    Dari lima buah makam yang ada di Kompleks pemakaman itu hanya ada dua makam perempuan yang letaknya masih satu gundukan dan makam itulah yang dikatakan sebagai makam Wasitao dan dayangnya. Sedangkan empat lainnya adalah makam laki-laki. Pengklasifikasian makam berasarkan jenis kelamin tersebut ditandai dari batu nisannya. Sebagaimana budaya masyarakat Tolaki- Mekongga dan masyarakat Muna, makam permpuan diberi dua nisan, sedangkan laki-laki nisannya hanya satu. .Selain hanya ada satu makam perempuan di kompleks pemakaman tersebut, ada juga satu makam laki-laki yang sangat menonjol dan lain dari makam-makam lainnya dimana makam tersebut memiliki nisan yang lebih besar. Ketika saya menanyakan pada La Ode Talifu siapa yang memiliki makam tersebut, namun beliau rupanya juga tidak tahu, Hanya menurut sepengetahuannya, ketika Wasitao di makam kan turut dikuburkan pula pengawa-pengawalnya secara hidup-hidup. Cerita ini memilki kisah yang sama dengan cara dimakam kan Raja Konawe yang bernama La Kidende yang makam nya ada di Unaaha, Ibukota Kabupaten Konawe. .
    Kali Putih, Kali Bercabang Dua Yang Unik
    Setelah mengirimkan doa untuk Nenek Wasito, La Ode Talifu kembi mengajak saya untuk melihat-lihat Kali Putih yang konon kali tempat yang sering digunakan oleh Wasitao untuk mandi. Kali yang bercabang dua ini cukup unik sebab walau kedua aliran kalinya berdekatan ( kira-kira berjarak 5 meter ) namun kondisi airnya sangat jelas perbedaannya. Cabang yang satunya, yang mengalir dari arah utara ke selatan airnya terlihat sangat jernih sedangkan yang satunya lagi, yang mengalir dari arah Barat ke Timur sedikit agak terlihat keruh.
    Menurut masyarakat setempat, perbedaan itu semakin jelas apabila musim hujan. Pada saat-saat itu, khususnya setelah habis hujan, kali yang alirannya dari Barat ke Timur berwarna sangat kuning kecoklatan, sedangkan yang satunya tetap bening. Cerita masyarakat tentang keunikan Kali Putih tersebut seakan mengundang saya untuk kembali berkunjung ke tempat itu ketika bertepatan dengan musim hujan untuk menyaksikan sendiri keunikan kali tersebut.
    Setelah senjah mulai datang menyelimuti Desa Lambo Tua dan sekitarnya, La Ode Talifu mengajak saya untuk kembali ke Kelurahan Woitombo kediaman beliau. Kaki ini terasa berat untuk meninggalkan desa nan asri dimana leluhur kami di makam kan. Namun karena hari sudah mulai gelap, akhirnya kuda besi yang saya tunggangiw saya hidupkan juga mesinnya dan langsung tancap gas mendaki bukit yang tadi kami turuni. Persis pukul 18:15, kami tiba di kediaman bapak La Ode Talifu yang mana malam itu menjadi tempat saya menginap.
    Perjalanan singkat saya memang belum memberikan kesimpulan yang final tentang keberadaan makam Wasitao, nenek dari pada La Kilaponto alias Murhum alias Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Timba-timbaga Alias Haluoleo tersebut, namun setidaknya telah member seberkas sinar yang dapat mengarahkan para peneliti yang lebih expert di berbagai bidang untuk memecahkan misteri keberadaan leluhur masyarakat Muna, Buton, Mekongga dan Tolaki tersebut. Harapan saya, setelah reportase kunjungan saya di Desa Lambo Tua ini di publikasikan, ada para ahli yang mau tergerak hatinya untuk melakukan penelitian yang lebih paripurna lagi agar asal- usul La Kilaponto alias Murhum alias Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Timba-timbaga Alias Haluoleo dapat terungkap.
    Akhir kata saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap masyarakat Kelurahan Woitombo dan Desa Lambo Tua atas keramahannya dalam menerima saya, terkhusus pada Ibu guru Nurlina, Ichsan Safii dan Bapak La Ode Talifu yang telah memberikan tumpangan rumah nya untuk saya bermalam.
    Woitombo, 23 Abustus 2015

    Tata Bahasa Muna


    Kamus Bahasa Muna
    A. Frase Benda/ Frase Nomina
    Contoh:
    mie pasole = orang cantik
    lemo kakolo = lemon (yang)
    kecut
    putolo morokono = pensil yang
    runcing
    piso morokono = pisau tajam
    oe karindima = air (yang)
    dingin
    kaghau mombakano = makanan
    (yang) enak
    lambu mobhalano = rumah (yang)
    besar
    lambu karubhu = rumah (yang)
    kecil
    mie kamokulahi = orang (yang)
    tua
    Frase Verba
    Contoh:
    wanu fekarimba = bangun
    cepat
    buri fekakesa = tulis
    yang bagus
    nando nolodo = sedang tidur
    hadae norendemo = barangkali
    telah menyala
    fumaa fekabhasri-bhari = makan
    dengan banyak
    Frase Adjektif
    Contoh:
    norubu sipaliha = kecil sekali
    nopute sipaliha = putih sekali
    bhala nopanda = besar pendek
    nopanda sipaliha = pendek sekali
    newanta sipaliha = panjang
    sekali
    nongkubu sipaliha = pendek sekali
    nokesa sipaliha = bagus sekali
    Frase Bilangan
    Contoh:
    seghonu baguli = sebuah
    kelereng
    sepolompu towu = satu rumpun
    tebu
    sepughu kulidawa = satu pohon
    jati
    sekilo dhambu sera = satu kilo
    jambu mete
    Frase Preposisi
    Contoh:
    we lambu = di rumah
    nokala we sikola = ia pergi ke
    sekolah
    nekabua we tehi = ia memancing
    di laut
    te watu ini = di sana
    nofopikae te badhu = dilekatkan
    pada baju
    dohoro te lani = mereka
    terbang ke langit
    dosuli te kampo = mereka
    pulang di kampung
    TIPE KONSTRUKSI FRASE
    Frase Subtipe Konstruksi
    Endosentrik Atribut
    rase Benda
    Kata benda yang pertama sebagai
    pusat yang kedua sebagai atribut.
    Contoh:
    gulupu roti = tepung beras
    kontuno pae = batu beras
    lambu dhopi = rumah kayu
    manu kampo = ayam kampung
    manu lesi = ayam jantan
    bheka robine = kucing betina
    kalei bogisi = pisang bugis
    Kata benda sebagai unsur pusat
    dan
    verba sebagai atribut.
    Contoh:
    boku kaada = buku yang
    dipinjam
    bheta kabhensi = sarung yang
    robek
    kenta katunu = ikan yang dibakar
    kenta kakabua = ikan yang
    dipancing
    Kata benda sebagai unsur pusat
    dan
    kata sifat sebagai atribut.
    Contoh:
    sala kangkubu = celana pendek
    badhu ngkadea = buku merah
    badhu monifino = baju tipis
    rabuta kawanta = tali panjang
    lambu mokesa = rumah bagus
    kapaea ngkalamata= pepaya
    mengkal
    foo motahano = mangga masak
    paeasa bhalano = cermin besar
    Kata benda sebagai unsur
    pusatnya
    dan kata ganti sebagai atributnya.
    Contoh:
    lambu aiku = rumah adikku
    bokuno pisaku = bukunya
    sepupuku
    putolo isaku = pensil kakakku
    o manu amaku = ayam ayahku
    kaghauno inaku = masakan ibuku
    Kata benda sebagai unsur
    pusatnya
    dan kata keterangan sebagai
    atributnya.
    Contoh:
    kabisara ainiini = pembicaraan
    tadi
    gholeo naefitu = hari ke tujuh
    katisa sewulamo = tanaman bulan
    lalu
    badhu bughou = baju baru
    kagau indewi = masakan kemarin
    Kata benda sebagai unsur
    pusatnya
    dan kata bilangan sebagai
    atributnya.
    Contoh:
    tolu polompu bhasari = tiga
    rumpun basari
    raawua foo = tiga
    buah mangga
    sepughu banggai = satu pohon
    kelor
    ompulu rupia = sepuluh
    rupiah
    tolu losi piri = tiga lusin
    piring
    FraseVerba
    Verba sebagai pusat dan
    keterangan waktu sebagai
    atributnya.
    Contoh:
    metofa naewine = mencuci
    besok
    pogurumo aitu = belajar
    sekarang
    nokala setaghumo = pergi setahun
    yang lalu
    metambu aitu = menimba
    sekarang
    Verba sebagai pusat dan kata
    keterangan aspek atributnya.
    Contoh:
    nopoguru dua = belajar juga
    nobisara kansuru = bicara terus
    Frase Keterangan
    Contoh:
    namaghuleo aitu = malam ini
    gholeo naewine = hari besok
    gholeo indewi = hari
    kemarin
    Frase Adjektif
    Contoh:
    noradhi sipaliha = rajin
    sekali
    nentalea kansuru = terang
    terus
    Frase Subtipe Konstruksi
    Endosentrik Atribut
    Frase Benda
    Koordinasi nomina tanpa
    perangkai
    Contoh:
    robine moghane = laki-laki
    perempuan
    rangkaea misikini = kaya
    miskin
    Koordinasi nomina tanpa
    perangkai
    Contoh:
    o sala bhe badhu = celana dan
    baju
    o oe bhe ifi = air dan api
    siakito bhe gola = semut dan gula
    Koordinasi nomina tanpa
    perangkai
    Contoh:
    inodi bhe andoa = saya dan
    mereka
    anoa bhe intaidi = dia dengan
    kami
    anoa bhe andoa = dia dan mereka
    Frase Verba
    Contoh:
    fumaa foroghu = makan minum
    Frase Adjektif
    Koordinasi adjektif tanpa
    perangkai
    Contoh:
    karindi kapana = panas dingin
    kakesa nonggela = bagus bersih
    Koordinasi adjektif tanpa
    perangkai
    Contoh:
    kalea bhe nopii = sakit dan
    pedis
    nolalesa bhe nonggela = luas dan
    besar
    Bahasa Muna adalah salah satu
    Bahasa
    Daerah di Sulawesi Tenggara yang
    digunakan oleh seluruh Penduduk
    Pulau
    Muna dan Pulau Buton Utara.
    Bahasa
    Daerah memiliki beberapa
    rumpun bahasa.
    Seperti halnya bahasa lain,
    Bahasa Muna
    juga memiliki tata bahasa. Pada
    kesempatan ini, penulis akan coba
    membahas beberapa awalan
    (prefix) dalam
    Bahasa Muna, yakni sebagai
    berikut:
    1. Awalan ne-
    Awalan ne- dalam bahasa muna
    berarti
    sama dengan awalan me- dalam
    bahasa
    Indonesia. Penggunaan awalan
    ne- ini
    dalam bahasa Muna tidak
    mengubah kata
    dasarnya. Contoh dan
    Penggunaan:
    Neala, artinya mengambil
    (kata dasar: ala), contoh:
    La Ali neala oe we laa
    rangkowine (La Ali
    mengambil air di kuala
    tadi pagi)
    Nehela, artinya menarik
    (kata dasar: hela),
    contoh: Embuno tehi
    nehela kapala bhalano
    (Gurita laut menarik kapal
    besar)
    Nenghoro artinya
    membuang (kata dasar:
    ghoro), contoh: Wa Bunti
    neghoro rewu we kundono
    lambu (Wa Bunti
    membuang sampah di
    belakang rumah)
    Negholi artinya membeli
    (kata dasar: gholi),
    contoh:Inaku negholi
    kenta katowo we daoa
    (Ibuku membeli ikan
    panggang di pasar)
    2. Awalan me-
    Penggunaan awalan me- dalam
    bahasa
    Muna hampir sama dengan
    penggunaan
    awalan ne-. Perhatikan contoh
    penggunaan
    awalan me- berikut:
    Ali, o meala dua sau aini
    (Ali, apakah engkau akan
    mengambil juga kayu ini)
    Budi, o megholi moreha
    aniini we daoa rangkowine
    (Budi, apakah engkau
    membeli beras di pasar
    tadi pagi)
    Jadi penggunaan awalan me-
    dalam
    bahasa muna selalu diikuti
    dengan partikel
    o- dan penggunaannya berbentuk
    kalimat
    Tanya.
    3. Awalan fo-
    Awalan fo- sama dengan akhiran –
    kan
    dalam bahasa Indonesia.
    Penggunaan:
    Fofoni : naikkan. Contoh:
    Fononi kaawu kulino te
    wawono lambu (naikkan
    saja kulitnya di atas
    rumah)
    Fondawu: jatuhkan.
    Contoh: Fondawu kulino
    bubuno aitu we wawa
    (Jatuhkan kulit langsat itu
    di kolong rumah)
    4. Awalan fe-
    Awalan fe- dalam bahasa Muna
    sama
    dengan akhiran -kan atau akhiran
    –i
    dalam bahasa Indonesia.
    Fetingke (tingke :
    dengar), contoh: Andi,
    ane atumolaku fetingke
    kanau (Andi, kalau saya
    memanggilmu mohon
    dengarkan saya)
    Fenami (nami : rasa).
    Contoh: Fenami kadada
    aitu bhahi pedahaemo
    namino (Cicipi sayur itu
    bagaimana rasanya)
    Fekadea (kadea: merah),
    contoh: Fekadea wuluno
    lambu bughoumu itu
    (Merahkan warna rumah
    barumu itu)
    5. Awalan Gabungan ne-fo
    Awalan gabungan ne-fo dalam
    bahasa
    Muna sama dengan imbungan
    gabungan
    me-kan dalam Bahasa Indonesia.
    Nefondawu (ndawu:
    jatuh), contoh: La Ali
    nefondawu tongkuno kalei
    tolu tongku (La Ali
    menjatuhkan pelepah
    pisang sebanyak 3
    pelepah).
    Nefoampe (ampe: naik/
    bawa ke atas), contoh: Wa
    Abe nefoampe kahitela te
    wawono ghahu (Wa Abe
    menaikkan jagung ke atas
    loteng/plafon).
    6. Awalan gabungan no-fo
    Pada dasarnya awalan gabungan
    no-fo
    artinya sama dengan awalan
    gabungan
    ne-fo hanya saja apa yang
    dilakukan oleh
    subjek pada penggunaan no-fo ini
    mengenai atau tertuju pada apa
    yang
    dimiliki oleh subjek.
    Contoh:
    Nofondawu (ndawu:
    jatuh): La Ali nofondawu
    tongkuno kaleino tolu
    tongku (La Ali
    menjatuhkan pelepah
    pisangnya 3 pelepah)
    Nofoampe (ampe: bawa/
    membawa naik ke atas):
    Wa Abe nofoampe
    kahitelano te wawono
    ghahu (Wa Abe menaikkan
    jagungnya di atas loteng/
    plafon)
    Noforame (rame: ramai):
    Isaku noforame kampuano
    anano (Kakakku
    meramaikan acara Aqiah
    anaknya).
    7. Awalan gabungan de-fo
    Awalan de-fo artinya sama dengan
    awalan
    gabungan ne-fo hanya saja kalau
    ne-fo
    yang menjadi subjek adalah
    tunggal
    (orang ketiga tunggal) sedangkan
    pada
    awalan gabungan de-fo yang
    menjadi
    subjek adalah jamak (ketiga
    jamak).
    Contohnya kalimatnya sama
    dengan
    awalan gabungan ne-fo hanya
    subjek saja
    yang berbeda.
    8. Awalan gabungan do-fo
    Sama dengan awalan gabungan
    no-fo
    hanya saja pelaku/subjek adalah
    jamak
    (ketiga jamak).
    9. Awalan gabungan ae-fo
    Awakan gabungan ae-fo dalam
    Bahasa
    Indonesia kira-kira sama dengan
    imbuhan
    me-kan. Apabila suatu kata sudah
    terdapat suku kata fo- maka suku
    kata
    tersebut tidak boleh diulang
    (hanya 1 suku
    kata fo- saja). Pelakunya hanya
    orang
    pertama tunggal.
    Contoh:
    Aefoowa (owa: bawa):
    Inodi aefoowa bhirita we
    liwu sewetano (Saya akan
    membawakan berita ke
    daerah seberang)
    Aeforato (forato:
    menginformasikan): Inodi
    aeforato mieno liwu ane
    naewine bhe rompuha
    (Saya akan
    menginformasikan kepada
    penduduk desa kalau esok
    hari ada pertemuan).
    10. Awalan gabungan dae-fo
    Penggunaannya sama dengan
    awalan
    gabungan ae-fo hanya saja yang
    menjadi
    subjek adalah orang ketiga jamak.
    11. Awalan gabungan tae-fo
    Penggunaannya sama dengan
    awalan
    gabungan ae-fo dan dae-fo hanya
    saja
    yang menjadi subjek pada awalan
    gabungan ini adalah orang
    pertama
    jamak.
    12. Awalan gabungan a-fo
    Awalan gabungan ini
    penggunaannya
    sangat beragam, seperti kasus
    berikut:
    Apabila kalimat tidak
    memiliki objek, dan jika
    bertemu suku kata fo
    maka cukup 1 suku kata
    fo saja dalam kalimat.
    Contoh: Inodi afoni te galu
    rangkowine (Saya naik/
    berangkat ke kebun tadi
    pagi)
    Apabila kalimat memiliki
    objek, dan jika bertemu
    suku kata fo maka harus
    diulang. Contoh: Inodi
    afofoni anaku te wawono
    lambu (Saya menaikkan
    anakku ke atas rumah

    Soudheen Faithful > Muna
    MENGENAL AWALAN (PREFIX)
    DALAM BAHASA DAERAH MUNA
    Bahasa Muna adalah salah satu
    Bahasa
    Daerah di Sulawesi Tenggara yang
    digunakan oleh seluruh Penduduk
    Pulau
    Muna dan Pulau Buton Utara,
    sebagian Maluku utara dan
    sebaian kecil papua Bahasa
    Daerah memiliki beberapa
    rumpun bahasa.
    Seperti halnya bahasa lain,
    Bahasa Muna
    juga memiliki tata bahasa. Pada
    kesempatan ini, penulis akan coba
    membahas beberapa awalan
    (prefix) dalam
    Bahasa Muna, yakni sebagai
    berikut:
    1. Awalan ne-
    Awalan ne- dalam bahasa muna
    berarti
    sama dengan awalan me- dalam
    bahasa
    Indonesia. Penggunaan awalan
    ne- ini
    dalam bahasa Muna tidak
    mengubah kata
    dasarnya. Contoh dan
    Penggunaan:
    Neala, artinya mengambil
    (kata dasar: ala), contoh:
    La Ali neala oe we laa
    rangkowine (La Ali
    mengambil air di kuala
    tadi pagi)
    Nehela, artinya menarik
    (kata dasar: hela),
    contoh: Embuno tehi
    nehela kapala bhalano
    (Gurita laut menarik kapal
    besar)
    Nenghoro artinya
    membuang (kata dasar:
    ghoro), contoh: Wa Bunti
    neghoro rewu we kundono
    lambu (Wa Bunti
    membuang sampah di
    belakang rumah)
    Negholi artinya membeli
    (kata dasar: gholi),
    contoh:Inaku negholi
    kenta katowo we daoa
    (Ibuku membeli ikan
    panggang di pasar)
    2. Awalan me-
    Penggunaan awalan me- dalam
    bahasa
    Muna hampir sama dengan
    penggunaan
    awalan ne-. Perhatikan contoh
    penggunaan
    awalan me- berikut:
    Ali, o meala dua sau aini
    (Ali, apakah engkau akan
    mengambil juga kayu ini)
    Budi, o megholi moreha
    aniini we daoa rangkowine
    (Budi, apakah engkau
    membeli beras di pasar
    tadi pagi)
    Jadi penggunaan awalan me-
    dalam
    bahasa muna selalu diikuti
    dengan partikel
    o- dan penggunaannya berbentuk
    kalimat
    Tanya.
    3. Awalan fo-
    Awalan fo- sama dengan akhiran –
    kan
    dalam bahasa Indonesia.
    Penggunaan:
    Fofoni : naikkan. Contoh:
    Fononi kaawu kulino te
    wawono lambu (naikkan
    saja kulitnya di atas
    rumah)
    Fondawu: jatuhkan.
    Contoh: Fondawu kulino
    bubuno aitu we wawa
    (Jatuhkan kulit langsat itu
    di kolong rumah)
    4. Awalan fe-
    Awalan fe- dalam bahasa Muna
    sama
    dengan akhiran -kan atau akhiran
    –i
    dalam bahasa Indonesia.
    Fetingke (tingke :
    dengar), contoh: Andi,
    ane atumolaku fetingke
    kanau (Andi, kalau saya
    memanggilmu mohon
    dengarkan saya)
    Fenami (nami : rasa).
    Contoh: Fenami kadada
    aitu bhahi pedahaemo
    namino (Cicipi sayur itu
    bagaimana rasanya)
    Fekadea (kadea: merah),
    contoh: Fekadea wuluno
    lambu bughoumu itu
    (Merahkan warna rumah
    barumu itu)
    5. Awalan Gabungan ne-fo
    Awalan gabungan ne-fo dalam
    bahasa
    Muna sama dengan imbungan
    gabungan
    me-kan dalam Bahasa Indonesia.
    Nefondawu (ndawu:
    jatuh), contoh: La Ali
    nefondawu tongkuno kalei
    tolu tongku (La Ali
    menjatuhkan pelepah
    pisang sebanyak 3
    pelepah).
    Nefoampe (ampe: naik/
    bawa ke atas), contoh: Wa
    Abe nefoampe kahitela te
    wawono ghahu (Wa Abe
    menaikkan jagung ke atas
    loteng/plafon).
    6. Awalan gabungan no-fo
    Pada dasarnya awalan gabungan
    no-fo
    artinya sama dengan awalan
    gabungan
    ne-fo hanya saja apa yang
    dilakukan oleh
    subjek pada penggunaan no-fo ini
    mengenai atau tertuju pada apa
    yang
    dimiliki oleh subjek.
    Contoh:
    Nofondawu (ndawu:
    jatuh): La Ali nofondawu
    tongkuno kaleino tolu
    tongku (La Ali
    menjatuhkan pelepah
    pisangnya 3 pelepah)
    Nofoampe (ampe: bawa/
    membawa naik ke atas):
    Wa Abe nofoampe
    kahitelano te wawono
    ghahu (Wa Abe menaikkan
    jagungnya di atas loteng/
    plafon)
    Noforame (rame: ramai):
    Isaku noforame kampuano
    anano (Kakakku
    meramaikan acara Aqiah
    anaknya).
    7. Awalan gabungan de-fo
    Awalan de-fo artinya sama dengan
    awalan
    gabungan ne-fo hanya saja kalau
    ne-fo
    yang menjadi subjek adalah
    tunggal
    (orang ketiga tunggal) sedangkan
    pada
    awalan gabungan de-fo yang
    menjadi
    subjek adalah jamak (ketiga
    jamak).
    Contohnya kalimatnya sama
    dengan
    awalan gabungan ne-fo hanya
    subjek saja
    yang berbeda.
    8. Awalan gabungan do-fo
    Sama dengan awalan gabungan
    no-fo
    hanya saja pelaku/subjek adalah
    jamak
    (ketiga jamak).
    9. Awalan gabungan ae-fo
    Awakan gabungan ae-fo dalam
    Bahasa
    Indonesia kira-kira sama dengan
    imbuhan
    me-kan. Apabila suatu kata sudah
    terdapat suku kata fo- maka suku
    kata
    tersebut tidak boleh diulang
    (hanya 1 suku
    kata fo- saja). Pelakunya hanya
    orang
    pertama tunggal.
    Contoh:
    Aefoowa (owa: bawa):
    Inodi aefoowa bhirita we
    liwu sewetano (Saya akan
    membawakan berita ke
    daerah seberang)
    Aeforato (forato:
    menginformasikan): Inodi
    aeforato mieno liwu ane
    naewine bhe rompuha
    (Saya akan
    menginformasikan kepada
    penduduk desa kalau esok
    hari ada pertemuan).
    10. Awalan gabungan dae-fo
    Penggunaannya sama dengan
    awalan
    gabungan ae-fo hanya saja yang
    menjadi
    subjek adalah orang ketiga jamak.
    11. Awalan gabungan tae-fo
    Penggunaannya sama dengan
    awalan
    gabungan ae-fo dan dae-fo hanya
    saja
    yang menjadi subjek pada awalan
    gabungan ini adalah orang
    pertama
    jamak.
    12. Awalan gabungan a-fo
    Awalan gabungan ini
    penggunaannya
    sangat beragam, seperti kasus
    berikut:
    Apabila kalimat tidak
    memiliki objek, dan jika
    bertemu suku kata fo
    maka cukup 1 suku kata
    fo saja dalam kalimat.
    Contoh: Inodi afoni te galu
    rangkowine (Saya naik/
    berangkat ke kebun tadi
    pagi)
    Apabila kalimat memiliki
    objek, dan jika bertemu
    suku kata fo maka harus
    diulang. Contoh: Inodi
    afofoni anaku te wawono
    lambu (Saya menaikkan
    anakku ke atas rumah).
    Dan masih banyak lagi contoh
    lainnya dan
    yang menjadi subjek adalah orang
    pertama tunggal.
    Masih banyak lagi awalan lainnya.
    Catatan:
    Subjek berbeda
    penggunaan awalan dalam
    Bahasa Muna juga
    berbeda walaupun artinya
    sama.
    Penulis menulir artikel ini
    tanpa membaca buku tata
    bahasa muna dan hanya
    berdasarkan pengetahuan
    sendiri dan jika terdapat
    kesalahan mohon saran
    dan kritiknya.

    PulauMuna, Terbentuk dari KarsBatukarang


    Pulau Muna yang
    terletak di Provinsi Sulawesi
    Tenggara hampir seluruhnya
    tersusun oleh batu gamping
    berumur Pleistosen (sekitar 1,8 juta
    tahun yang lalu). Batu gamping ini
    diperkirakan dari Formasi Wapulaka,
    seperti terlihat pada tebing-tebing
    batu gamping di sepanjang pantai.
    Batu gamping ini merupakan
    terumbu karang yang terangkat dan
    sekarang membentuk kawasan kars
    yang luas.
    Demikian dipaparkan dalam Panel
    Monitor Kars Indonesia yang
    terdapat dalam Museum Kars di
    Desa Gebangharjo, Kecamatan
    Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri,
    Jawa Tengah. Kawasan kars Muna
    merupakan salah satu bentang kars
    di daerah Sulawesi. Kars Muna juga
    memiliki ciri tersendiri pada proses
    pembentukannya. Selain itu juga
    ditandai oleh adanya stalaktit dan
    stalakmit yang telah menyatu di gua
    Liang Metandono.
    Di daerah Sulawesi, selain Kawasan
    Kars Muna juga dijumpai kawasan
    kars lainnya. Antara lain adalah
    kawasan Kars Wawolesea, Sulawesi
    Tenggara dan Kawasan Kars Maros-
    Pangkep, Sulawesi Tenggara.
    Berbagai ciri khusus menandai
    masing-masing kawasan kars ini.
    Baik dari proses pembentukannya
    hingga kondisi fisik, lingkungan
    maupun sosio-budaya yang
    melingkupinya.
    Kawasan kars Indonesia juga
    dijumpai di daerah Kalimantan
    antara lain Kawasan Kars
    Sangkulirang, Tanjung Mangkaliat,
    Tapin, Kalimantan Timur. Kawasan
    kars ini terkenal karena gua-guanya
    merupakan situs arkeologi yang
    belum banyak diungkap dan
    diketahui. Beragam tema dan
    artefak terdapat dalam gua ini. Kars
    Indonesia juga terdapat di Aceh,
    Sumatera Barat serta berbagai
    tempat lainnya.

    sumber: http://www.esdm.go.id/berita/42-geologi/2750-mengenal-museum-kars-9-pulau-muna-terbentuk-dari-kars-batukarang.html