ORANG MUNA LAZIMNYA TIDAK DENDAM (jika Mendendam, Kemungkinan Bukan Orang Muna)


Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang berpotensi membuat salah dan melukai perasaan orang lain. Kesalahan yang timbul bisa karena melakukan hal-hal yang tidak benar, atau hanya masalah persepsi benar atau salah yang berbeda-beda dari setiap orang.

Dalam menyelesaikan berbagai masalah tersebut, orang Muna selazimnya tidak mendendam, namun lebih mengedepankan jalan damai. Langkah ini merupakan salah satu tuntunan ajaran agama Islam yang dianut oleh orang Muna.

jangan dendam

Ajaran agama Islam dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sepertinya menjadi hal wajib untuk diterapkan oleh orang Muna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bukan tanpa dasar. Dalam salah satu falsafah hidup orang Muna menyebutkan : “Hansuru hansuru badha sumano kono hansuru liwu, Hansuru hansuru ana liwu sumano kono hansuru adhati, Hansuru hansuru ana adhati, sumano tangka agama”.

Falsafah hidup orang Muna ini memiliki arti “Biar hancur badan asalkan daerah/kampung terjaga, Biar hancur daerah/kampung asalkan adat istiadat terjaga, Biar hancur adat istiadat asalkan agama (Islam) tetap tegak”.

Bila mencermati falsafah hidup orang Muna tersebut, tersirat bahwa agama (Islam) merupakan benteng utama dan terakhir dalam kehidupan di dunia fana ini. Demi tegaknya agama (Islam), orang Muna siap dan rela ‘mengorbankan’ dirinya, ‘mengorbankan’ kampungnya, termasuk ‘mengrobankan’ adat istiadatnya. Dalam konteks ini, ajaran Islam merupakan pedoman hidup utama bagi orang Muna dalam menjalani kehidupan dunia ini.

Terkait anjuran tidak boleh mendendam, Nabi Muhammad SAW telah memberikan tauladan. Perilaku dan akhlaq yang baik adalah anjuran Nabi Muhammad SAW yang selalu ditekankan pada ummatnya, termasuk orang Muna yang mayoritas beragama Islam. Nabi Muhammad SAW selalu menimpali perbuatan buruk orang lain dengan kasih sayang, dan bahkan berbuat baik terhadap orang yang telah melakukan hal buruk terhadapnya.

Suatu hari Nabi Muhammad SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di tempat tersebut Nabi Muhammad SAW selalu mendapat hinaan, cacian, dan bahkan dilempari kotoran.

Namun Nabi Muhammad SAW tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia (orang yang selalu membuang kotoran) sedang sakit.

Meski selalu mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi Muhammad SAW tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi Muhammad SAW tersebutlah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga saat ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Brangsiapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat dzalim (aniaya) kepada seseorang, maka perbuatan dosa yang dilakukanya akan diampuni (oleh Allah). Dan barangsiapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terdzolimi, memenuhi kebutuhan orang muslim, maka dia akan mendapatkan pahala seperti haji mabrur” (Nashaihul Ibad, hal 21).

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu….” (Q.S. Al Ahzab : 21).

Dalam menjalankan dakwah, tidak jarang Rasulullah Muhammad SAW menerima penolakan-penolakan dan hinaan-hinaan yang sangat kasar. Meski demikian, Rasulullah Muhammad SAW tetap teguh untuk menjadi seorang insan pemaaf, mengabaikan tanggapan negatif tersebut.

Tidak pernah terbesit sedikitpun dibenak Rasulullah Muhammad SAW untuk memuaskan emosi pribadi dengan melancarkan balas dendam terhadap mereka yang menentangnya. Rasulullah Muhammad SAW memilih jalan damai, memaafkan kesalahan orang yang masih dalam ketidaktahuan.

Allah SWT berfirman : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Q.S. Al A’raf/7 : 199).

Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cerminan kebesaran jiwa dan kekuatan hati serta lapang dada. Sebab pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas, namun hal itu tidak dilakukan. Sikap yang baik ini akan menunjukkan kebesaran jiwa, menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya izzah (kemuliaan)” (H.R. Muslim).

Memaafkan musuh atau orang yang memusuhi kita atau menyakiti kita ketika kita dapat melakukan pembalasan adalah satu perbuatan yang sangat baik dan tinggi nilainya disisi Allah SWT. Selain dari itu, juga menambah tinggi martabat dan derajat kita pada pandangan masyarakat dan musuh kita.

Dalam tarikh dikemukakan perilaku dan ketinggian budi pekerti Rasulullah Muhammad SAW dalam perang uhud, dimana dalam perang tersebut Rasulullah Muhammad SAW mendapat luka pada muka (wajah) dan juga patah pada beberapa giginya. Atas kejadian itu, berkatalah salah seorang sahabatnya : “Cobalah tuan doakan agar mereka celaka. Namun Rasulullah Muhammad SAW menjawab : Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat. Lalu beliau menengadahkan tanganya kepada Allah yang Maha Mulia dan berdoa : Allahummaghfir liqaumi fa innahuma la ya’lamun, Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui”.

Rasulullah Muhammad SAW tidak berniat membalas dendam, tetapi malah memaafkan mereka dan kemudian dengan rasa kasih sayang, beliau mendoakan agar mereka diberi ampunan Allah, karena dianggapnya mereka masih belum tau tujuan ajakan baik yang dilakukannya.

“Memaafkan itu lebih mendekatkan kepada taqwa” (Q.S. Al Baqarah/2 : 237).

“Dan hendaklah mereka suka memaafkan dan mengampuni. Apakah kalian tidak suka jika Allah mengampuni kalian?” (Q.S. An Nur/24 : 22).

Keteladanan lain yang bisa dijadikan acuan bagi orang Muna dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup, khususnya terkait dengan selisih faham atau pertikaian adalah kesabaran khalifah Umar bin Khatab. Umar bin Khatab merupakan salah satu pemimpin ummat Islam yang dikenal merakyat dan memiliki kepekaan/kepedulian yang tinggi terhadap rakyat/ummat Islam yang dipimpinnya. Ia begitu menyayangi ummat/rakyatnya. Bahkan ketika ada rakyatnya yang mengkritik, menyoroti, menuduh dan mengatakan Khalifah Umar bin Khatab jahat karena tidak memperhatikan keadaan rakyatnya, beliau (Umar bin Khatab) tidak marah. Umar bin Khatab tidak memperkarakan rakyatnya tersebut. Justru yang beliau lakukan adalah diam-diam memikul gandum dan membawakan gandum tersebut kepada rakyat yang mengkritiknya.

jangan dendam 1

Umar bin Khatab menyadari dan memahami jika rakyatnya tersebut tidak berdaya. Umar bin Khatab punya keyakinan bahwa penilaian negatif dari salah satu rakyatnya (ummatnya) tersebut akibat faktor ketidaktahuan ummatnya tersebut terhadap sosok sang khalifah.

Khalifah Umar bin Khatab memaafkan rakyatnya (ummatnya) tersebut. Umar bin Khatab tidak menyalahkan dan tidak memperkarakan rakyatnya. Justru Umar bin Khatab melakukan koreksi terhadap segala kelemahan dan kekurangan dirinya dalam memimpin ummat Islam, termasuk melakukan evaluasi terhadap seluruh aparatnya dalam memberikan pelayanan, pengayoman dan perlindungan terhadap rakyatnya (ummat Islam).

Kepemimpinan Umar bin Khatab tersebut sudah jarang dijumpai dizaman sekarang ini. Banyak diantara pemimpin yang mengaku menganut ajaran Islam, baik itu pemimpin disuatu daerah, pemimpin disuatu kelompok tertentu, atau mereka yang punya kekuasaan atau wewenang tertentu justeru menunjukkan sikap dendam terhadap rakyat yang tidak berdaya.

Tidak sedikit dari mereka yang punya kuasa atau wewenang tertentu yang anti kritik, bersifat represif, dan bahkan memperkarakan rakyat kecil tidak berdaya hanya karena persoalan ketersinggungan atau hal-hal kecil yang tidak berguna. Sementara disisi lain mereka mungkin belum berlaku adil ataupun mereka justeru berlaku diskriminatif terhadap orang-orang yang lemah.*

LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan

Iklan

La Ode Afiu dan Nasibnya.


OLEH l LA ODE WIKRA WARDANA

RAJA MUNA LA ODE SAFIU

Laodé Afiu adalah putra Raja Muna Laodé Achmad yang mangkat karena beringin tua, kemudian dia (Laode Afiu) menjadi penggantinya. Namun, ini berjalan cukup dengan kesulitan besar, dan akhirnya membawanya menjadi Sultan Buton untuk beberapa waktu. Terlepas dari banyaknya dukungan, pada akhirnya dia tidak bisa lari dari takdirnya.

Sekitar sebulan setelah mangkatnya Laodé Achmad (Raja Muna), penerjemah saya yang setia bernama Malaraja memasuki kantor saya pada pukul 10 malam dengan wajah yang serius dan tertekan. “Ada kabar buruk, Sir,” dia memulai.
Laodé Afiu telah “memutihkan dirinya” bersama dengan sekitar 15 orang pengikut setianya,
mereka datang ke Waleale, sebuah dusun yang tidak jauh dari Raha, dan mendeklarasikan diri mereka untuk mati dan berperang melawan kompeni. (karena sebelumnya) Laodé Afiu telah menerima laporan dari Gezaghebber Buton kapten de Jong, yang menyatakan bahwa Laode Afiu tidak layak untuk menggantikan ayahnya sebagai Raja Muna. Golongan Laodé Buton lain telah dinominasikan untuk diberi jabatan Raja Muna. Akhirnya Laodé Afiu sekarang malu dan sedang mencari kematian.

Kadang-kadang, di daerah asing seperti Muna dan Buton, terjadi hal-hal yang membutuhkan kecerdasan dan kebijaksanaan seseorang untuk fokus membawa masalah yang tidak menyenangkan ke solusi yang baik. Pesan ini melintasi pikiran saya sehingga saya harus bolak-balik di kantor saya untuk sementara waktu untuk mengambil keputusan. Malaraja saya perintahkan untuk segera pergi menemui Laodé Afiu dan teman-temannya untuk mengatakan kepadanya bahwa Gezaghebber Buton bukanlah dewa yang memiliki segalanya dan bebas melakukan apa saja. Bagaimanapun, diatasnya masih ada asisten residen Van De Riviere, dan diatas itu lagi ada Gubernur Vrijling di Makassar, pembawa M.W.O. dan penasihat ahli asisten residen Goedhart. Segera setelah Malaraja meninggalkan saya, saya menulis surat kepada gubernur Vrijling melalui intervensi (acc) dari Asisten Residen Buton, di mana saya akan menjelaskan secara rinci keberatan Laodé Afiu atas keputusan tuan Gezaghebber Buton dalam otoritasnya untuk tidak mengangkat Laode Afiu sebagai Raja Muna. Surat itu harus ditandatangani oleh Laodé Afiu, dan setelahnya dikirim ke Asisten Residen dengan perahu motor.

Tuan Pella akan ditugaskan untuk mengirim surat itu ke Asisten Residen Buton. Namun, semua ini akan terjadi segera setelah Laodé Afiu menanggalkan pakaian putihnya dan kembali ke Raha. Dia juga harus menginstruksikan pengikutnya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing dan menunggu keputusan Gubernur Vrijling sehubungan dengan masalah ini.

Pukul 3 sore Malaraja kemudian pergi menemui Laodé Afiu untuk menyampaikan saran saya kepadanya. Di malam hari Laodé Afiu datang ke kantor saya, dia tampak lega karena dia melihat bahwa kemungkinan klaimnya untuk dijadikan Raja Muna dapat dihormati. Laodé Afiu mengerti bahasa Belanda, karena dia menempuh pendidikan sekolah kepala (hoofdenschool) di Makassar. Saya menandatangani surat yang saya buat untuk Gubernur Vrijling, lalu Tuan Pella segera pergi mengikuti perahu motor Boswezen untuk menyampaikan surat ke Asisten Residen Buton. Asisten residen meneruskan surat itu kepada Gubernur dengan tambahan catatan bahwa Gezaghebber Buton sering mengambil keputusan yang sangat penting seperti ini tanpa sepengetahuan atasannya. Karena itu dia meminta agar kapten Gezaghebber dipindahkan, karena dia tidak mungkin terus bekerja sama dengannya. Tiga hari kemudian, Gubernur menerima surat itu, yang diantar melalui kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dari Ambon menuju Makassar yang singgah di Buton. Segera setelah itu atasan komandan militer dipanggil dan dia diminta untuk menunjuk kapten Gezaghebber lain untuk Buton. Pilihan jatuh pada kapten de Berge, yang lalu berangkat ke lokasi barunya (Buton) pada hari itu juga dengan menumpang “kapal-poetih”. Keesokan harinya kapten baru ini mengambil alih pekerjaan Kapten de Jong, dan kemudian Kapten De Jong mengemas semua barang-barangnya dan kembali ke Makassar dengan kapal uap. Intervensi cepat ini membuat perubahan besar di Raha.

Beberapa bulan kemudian Laodé Afiu diangkat menjadi Raja Muna. Dia melakukannya dengan sangat baik. Lalu beberapa tahun kemudian sultan Buton meninggal, dan Laodé Afiu terpilih menjadi Sultan penggantinya. Gezaghebber De Berge sangat senang dengan kinerja Laodé Afiu sehingga dia memberinya pistol parabellum. Secara jelas dan detil, kapten de Berge (gezaghebber) telah menunjukkan kepada sultan cara menggunakan dan membongkar senjata ini.

Beberapa bulan kemudian, ada pertemuan besar para kepala distrik di Buton. Laodé Afiu menunjukkan senjata barunya dalam pertemuan itu yang membuat kagum semua orang. Sungguh tak terduga tiba-tiba terdengar suara tembakan, dan bawahan Laodé Afiu meninggal karena tembakan. Kepanikan pun terjadi (di ruang pertemuan). Laodé Afiu kemudian mengisi ulang peluru pistolnya dan masuk ke kamarnya. Lalu terdengar suara tembakan lagi (dari dalam kamar), dan sultan Buton dan Muna tersebut telah pergi (mangkat).

Sebagai orang Barat, tidak layak bagi saya untuk mengutuk bunuh diri ini. Sudah pasti bahwa seluruh penduduk Buton menganggap peristiwa ini sebagai takdir yang tidak bisa dihindari oleh Laodé Afiu. Namun, kita tahu bahwa Pencipta Langit dan bumi adalah satu-satunya yang akan menghakimi makhluknya.

-Tong-Tong 15/02/1968, halaman 8-

PENYERANGAN BIVAK (CAMP) TENTARA BELANDA OLEH LA ODE PAGORA, KAPITALAU LOGHIIA


OLEH : LA ODE WIKRA WARDANA 

Kami mendapatkan kabar ini dari laporan singkat situasi politik di wilayah gubernur celebes tentang Pulau Muna:
Berbagai campur tangan kami dalam urusan pemerintahan tidak dihargai oleh banyak orang. Sumber mata pencaharian mereka adalah tukang batu/buruh dan pemerasan, mereka mengawasi tindakan kami dengan banyak keengganan. Pada malam tanggal 7 hingga 8 Juli, barak kami ditembak ringan, sementara keesokan harinya seorang pria bernama Laode Pagora, yang menjadi pemimpin serangan tersebut, dengan keadaan mabuk, memasuki bivak kami dengan senjata tak bersarung dan berhasil dilumpuhkan.
Kapitalau Lohia, salah satu pemimpin paling berpengaruh di pulau itu, yang menunjukan sikap negatif dan perlawanan sebelumnya, kemudian menunjukkan sikap yang lebih kooperatif.

Sepenggal Cerita KONTU KOWUNA dan PERAHU SAWERIGADING di TANAH MUNA


Akhir pekan pertama bulan Mei tahun 2018 lalu, cuaca begitu cerah di tanah Muna. Mentari yang ‘tersenyum’ diufuk Timur mengawali langkahku menju Kota Wuna, kota bekas Kerajaan Muna masa silam. Kota Wuna, kota tua bersejarah yang berjarak sekitar 35 kilometer dari Raha, ibukota Kabupaten Muna saat ini.

Bertajuk ziarah kubur ke makam leluhur yang berada di kompleks masjid Kota Wuna, saya menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kampung lama Tongkuno, perkampungan yang merupakan wilayah administratif Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna. Saya juga menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah penduduk yang masih bermukim diperkampungan sejarah tersebut.

Selain masjid Wuna, saya mengunjungi tiga buah batu besar yang konon katanya, ketiga batu tersebut pada waktu-waktu tertentu dapat berbunga atau mengeluarkan tunas-tunas baru seperti bunga. Tempat inilah yang disebut sebagai Kontu Kowuna (batu berbunga).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di gugusan bebataun Kontu Kowuna tersebut menurut legenda masyarakat Muna, merupakan lokasi/tempat terdamparnya perahu Sawerigading, Putra Raja Luwu dari Sulawesi Selatan. Dari kejauhan di tengah daratan, nampak terlihat seperti gugusan bukit-bukit yang tinggi dan lembah-lembah yang curam. Jika gugusan bebataun tersebut merupakan lokasi terdamparnya perahu Saweirgading, maka dugaan bahwa Pulau Muna dahulu adalah lautan, benar adanya (baca Muna Pulau Karst di http://www.formuna.wordpress.com).

Beranjak dari pembahasan keberadaan Pulau Muna dari sisi teori batuan, saya sedikit mengurai terkait perahu Sawerigading yang konon terdampar tidak jauh dari masjid Wuna. Dari sejumlah literatur yang pernah saya baca menyebutkan bahwa, Sawerigading digambarkan sebagai orang sakti yang turun dari langit dan mempunyai kesaktian luar biasa, sehingga hampir semua kerajaan-kerajaan di Pulau Sulawesi mengklaim dirinya keturunan Sawerigading, termasuk Kerajaan Muna masa silam yang ada di pulau Muna.

kapal sawerigading

Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah Sawerigading ini adalah seorang manusia sakti atau sebuah dinasti Kerajaan Tua di Sulawesi, Kerajaan Luwu yang menggunakan nama trah Sawerigading, seperti halnya cerita Prabu Siliwangi dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat?

Salah satu literatur/dokumen yang mengisahkan cerita Sawerigading adalah LONTARAK I LA LAGALIGO. Didalam dokumen tersebut, sebagaimana banyak termuat di sejumlah website internet menyebutkan bahwa, cerita Sawerigading terkait dengan Perahu Pinisi yang merupakan satu-satunya perahu tiang tinggi yang dimiliki oleh masyarakat maritim di kepulauan Nusantara kala itu.

Dikisahkan bahwa Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, seorang Putra Mahkota Kerajaan Luwu untuk dipakai berlayar menuju negeri Tiongkok dan hendak meminang seorang Putri Tiongkok bernama We Cudai. Konon menurut cerita, Saweregading membuat kapal ini dari bahan baku pohon Welengreng atau pohon Dewata yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh.

Dalam perjalananya menuju Tiongkok, perahu pinisi yang di nakhodai oleh Saweregading diterjang badai dan gelombang besar. Perahu pinisi itupun kemudian pecah terbelah menjadi tiga bagian. Dari tiga pecahan perahu inilah yang kemudian terseret arus dan terdampar di tiga tempat yakni Desa Ara, Tana’ Lemo dan Tana’ Beru. Itulah cerita singkat terkait Sawerigading yang saat ini menjadi bahan kajian ilmiah para ilmuwan dari berbagai negara.

Namun, dalam konteks ini, saya tidak membahas secara mendalam soal Sawerigading, saya hanya menelusuri situs perahu berbentuk batu di Pulau Muna yang masyarakat lokal menyebutnya sebagai perahu Sawerigading.

Sebenarnya, berdasarkan sejumlah literatur, situs batu yang diklaim sebagai perahu Sawerigading tidak hanya ditemukan di pulau Muna, akan tetapi juga ditemukan di Pulau Selayar. Di daerah tersebut, situs batu menyerupai perahu juga disebut perahu Sawerigading. Batu di Pulau Selayar yang disebut dalam legenda sebagai perahu Sawerigading terletak sekitar 2 (dua) kilometer dari Kampung Rallaiya, Desa Balang Butung, Kecamatan Buki.

Namun demikian, keberadaan situs-situs tersebut masih membutuhkan penelitian lebih mendalam dari para ahli geolog agar dapat dipastikan, apakah batu tersebut berasal dari fosil, atau memang  berasal dari perahu yang membatu.

Dikalangan masyarakat Muna, cerita turun-temurun terkait perahu Sawerigading disebutkan bahwa pada zaman dahulu ada sebuah perahu yang bernama Sawerigading (Sawerigadi) yang berasal dari Luwu Sulawesi Selatan. Perahu ini menabrak karang di Pulau Muna. Lama kelamaan perahu itu diliputi karang sehingga menjadi sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Bahutara (bahutara kemungkinan berasal dari bahasa Melayu yakni kata bahtera yang berarti perahu). Bukit Bahutara tersebut merupakan bukit batu yang sewaktu-waktu tumbuh dan menyerupai bunga. Masyarakat Muna menyebut batu berbunga di bukit Bahutara tersebut sebagai Kontu Kowuna yang artinya batu berbunga.

kapal sawerigading1

Terkait cerita perahu Sawerigading, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah situs Sawerigading tersebut sudah pernah dikaji secara ilmiah? Jika benar itu adalah perahu, kira-kira tahun berapa peristiwa sejarah ia ke Pulau Muna? Semua ini bisa dijawab melalui analisis ilmiah dengan mengukur umur karbon dari bebatuan tersebut sehingga dapat diprediksi umurnya.

Faktanya sekarang, situs batu yang menyerupai perahu di Pulau Muna hingga saat ini belum pernah dilakukan riset dan kajian ilmiah, apakah benar itu perahu Sawerigading atau bukan? Tentu hal ini menarik karena dapat mengungkap sejarah peradaban masa silam pulau Sulawesi, Pulau Muna dan Kepulauan Nusantara yang disebut Santos dan Oppenheimer sebagai “Benua Atlantis” yang tenggelam, sebagaimana dikatakan Plato, filosof Yunani kuno.

Dari berbagai dugaan dan kemungkinan atas cerita perahu Sawerigading tersebut, seharusnya menarik minat para peneliti, wisatawan dan ilmuwan untuk datang ke Pulau Muna guna mengkaji, mendalami dan meneliti misteri Kontu Kowuna dan perahu Sawerigading.*

LaOde Muhammad Ramadan

karena AKU SAYANG KAMU, Wahai Saudaraku ORANG MUNA


Aku tidak menasehatimu untuk memikirkan kehidupan duniamu, karena aku tau, engkau tamak terhadapnya. Aku hanya mengingatkanmu akan urusan akhiratmu. Ambillah dari kehidupan yang sementara ini, untuk sesuatu yang kekal. Pikirkanlah kehidupan ini sebagai sesuatu yang akan engkau tinggalkan. Aku bersumpah, demi Allah, engkau akan meninggalkan dunia ini. Pikirkanlah kematian sebagai sesuatu yang akan engkau rasakan. Pikirkanlah akhirat sebagai rumah yang akan engkau kunjungi. Aku bersumpah, demi Allah, engkau akan berada di sana.

aku sayang kamu

Wahai orang-orang yang selalu mencela, menghina, melecehkan orang lain, mendustai orang lain, dan berkhianat, apakah engkau lepas dari ujian dan cobaan? Apakah engkau punya komitmen dengan hari-hari bahwa engkau tidak akan terkena musibah? Ataukah hari-hari telah memberi jaminan untuk keselamatan engkau dari berbagai bencana dan cobaan? Lalu mengapa engkau selalu mencela, menghina, memfitnah, berdusta, berkhianat, dan melecehkan orang lain? Tidakkah engkau tau bahwa sesungguhnya orang yang selalu mencela, menghina, memfitnah, berdusta, berkhianat, dan melecehkan orang lain merupakan orang yang bodoh dan tertipu.

Saudaraku orang Muna………., ingatkah engkau terhadap kematian? Apakah engkau lupa terhadap hari perpisahan dengan orang yang engkau kasihi karena kematian? Lupakah engkau terhadap kubur yang akan menjadi tempat tinggalmu bersama kesepian dan kesedihan? Tahukah engkau kapan ajal akan datang menjemputmu? Semua itu pasti engkau akan lalui, namun tidak pernah engkau ketahui kapan waktunya akan terjadi.

Untuk itu, engkau harus sadar akan arti kehidupan ini. Engkau tidak boleh terbuai dan terlena dengan mewahnya dunia. Engkau tidak boleh terjebak dengan harta, tahta dan wanita karena semua itu akan engkau tinggalkan.

Saudaraku orang Muna………, berapa banyak raja, pejabat dan penguasa yang kini menghuni kubur, padahal mereka memiliki banyak prajurit dan tukang pukul. Berapa banyak orang kaya yang kini terbujur kaku di liang lahat, padahal mereka punya banyak harta. Berapa banyak orang pintar yang kini membisu di dalam tanah.

Mengapa para prajurit, tukang pukul, harta dan kepintaran itu tidak mampu membendung kematian? Kemana para kekasih, tetangga, dokter dan yang lainnya. Mengapa mereka tak kuasa menghalau kematian?

Saat kematianmu, kerabatmu bukannya membahagiakanmu, namun justeru menyerahkan engkau ke liang lahat. Betapa jahatnya mereka, betapa buruknya kelakuan mereka yang membagi-bagi harta kekayaanmu di dunia yang tidak bisa engkau bawa saat kematianmu. Setelah kematianmu juga, isterimu yang cantik atau suamimu yang ganteng mulai melupakanmu dan mencintai orang lain lalu menikah lagi.

Ingatlah wahai saudaraku orang Muna, tidak ada keabadian di dunia ini. Manusia hanya singgah sementara untuk mengumpul bekal amal menuju perjalanan panjang di akhirat kelak.

Saudaraku, saya tau dan saya pahami, bahwa urusan hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Manusia tidak bisa memberi hidayah atau membuka pintu hati seseorang untuk menempuh jalan kebenaran. Saya juga bukan orang suci, saya hanya meneruskan/menyampaikan kebenaran, semoga ini menjadi asbab musabab terbukanya pintu hidayah kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. Al Qashash : 56).*

LaOde Muhammad Ramadan

Ramadan..........La ode muhammad ramadan18

SAUDARAKU ORANG MUNA, MARI MERENUNG


Saudaraku orang Muna, di dunia ini, tidak ada kepastian yang lebih niscaya dari kematian. Kita yakini hal itu. Namun demikian, gemerlap dunia kerap menyilaukan mata hati dan membuat kita terlena, bahkan tersesat. Padahal, seluruh angan dan ambisi manusia hanya dibatasi oleh satu kata, “AJAL”. Selanjutnya, sikap terhadap dunialah yang akan menentukan status liang kubur, apakah menjadi sepetak taman surga atau justeru menjelma menjadi sepercik api neraka.

merenungkan akhirat

Anak manusia memang mengherankan. Membangun kehidupan dunia, padahal akan ditinggalkanya. Kita kerap merobohkan bangunan akhirat, padahal disanalah kita akan tinggal selamanya. Segalanya kita kerahkan untuk meraup sekeping kenikmatan dunia yang tak lebih dari sekedar air yang menetes dari jari yang baru saja diangkat dari samudera, bila dibandingkan dengan samudera itu sendiri. Dunia adalah fatamorgana. Dibawah bayang-bayang fatamorgana itulah, kita semua bernaung menanti ditiupnya pluit kematian.

Saudaraku orang Muna,……

Kita seharusnya memiliki prinsip, misi dan masalah yang lebih agung dari sekedar balas dendam, benci, atau dengki dengan orang-orang yang berbuat jahat/berkhianat/berdusta. Kita harusnya mengumpulkan bekal yang banyak untuk perjalanan panjang dikemudian hari. “Sesungguhnya jika kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakan tanganku untuk membunuhmu” (Q.S. Al Maidah : 28).

Qalbu orang jahat/khianat/ingkar janji itu sudah membeku sehingga tidak ada satu titikpun kebaikan yang bersemi. Mereka hanya bisa menyakiti dan mengkhianati orang lain tanpa belas kasihan. “Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka memiliki telinga tetapi tidak dipergunakanya untuk mendengar ayat-ayat Allah” (Q.S. Al A’raf : 179).

Orang yang selalu gundah karena kesenanganya tidak kunjung tiba dan tidak sabar menunggu datangnya rezeki adalah seperti makmum yang mendahului imam, padahal ia tau bahwa ia boleh salam setelah imam melakukanya. Segala permasalahan manusia dan rezeki itu sudah ditentukan dan sudah selesai sejak lima puluh ribu tahun sebelum adanya penciptaan itu sendiri.

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan” (Q.S. An-Nahl : 1). …..”Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya” (Q.S. Yunus : 107).  …..”Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S. Ali Imran : 185).

Saudaraku orang Muna, demi Allah, tidak ada suatu bencana yang akan terus menerus menimpa seseorang. Jika bencana datang, jangan tunduk kepadanya. Banyak orang mulia ditimpa musibah, tapi dia sabar. Dan musibah-musibah itu pun akan menghilang dengan sendirinya.

Ketahuilah, diatas langit masih ada langit. Janganlah anda sombong di muka bumi ini karena kesombonganmu itu akan membuatmu hancur. Akui kelebihan orang, sadari kekurangan diri. Jangan meremehkan/merendahkan orang lain, karena perbedaan manusia dihadapa Allah SWT hanyalah taqwanya. Sadarilah bahwa kemenangan hari ini bukan berarti kemenangan esok hari. Kegagalan hari ini bukan berarti pula kegagalan untuk esok hari.

Saudaraku orang Muna, saya tau dan saya pahami, bahwa urusan hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Manusia tidak bisa memberi hidayah atau membuka pintu hati seseorang untuk menempuh jalan kebenaran. Saya juga sadar, saya bukan orang suci, saya hanya berusaha meneruskan/menyampaikan kebenaran, semoga ini menjadi asbab musabab terbukanya pintu hidayah kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an : “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. Al Qashash : 56).    “……….Allah SWT membiarkan sesat orang-orang yang dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki…………” Q.S. Al Muddassir : 31).*

LaOde Muhammad Ramadan

 

GENERASI MUNA dalam BERGAUL dan MEMILIH TEMAN


Moral, tata krama dan sopan santun merupakan salah satu aspek penting yang ditanamkan oleh leluhur orang Muna terhadap generasi penerusnya. Setiap generasi penerus Muna sedini mungkin diajarkan perilaku yang baik dan saling menghargai satu sama lain.

teman yang baik

Salah satu tradisi dan/atau budaya di tanah Muna yang mentransferkan ajaran moral yang baik dan berbudi luhur adalah Katoba. Di dalam nasihat Katoba tersebut, ada petuah kepada putra putri Muna yang menekankan persoalan memilah dan memilih teman pergaulan, termasuk menjauhi dan/atau menghindari siapa saja yang berperangai buruk.

Dalam ajaran islam, upaya untuk menjauhi dan/atau menghindari keburukan atau fitnah dibolehkan. Langkah ini disebut ‘uzlah’ yang berarti mengasingkan diri dari pergaulan demi menghindarkan diri dari keburukan dan fitnah.

Terkait persoalan ‘uzlah’ ini, Rasululullah Muhammad SAW bersabda, “Seseorang bertanya kepada Nabi SAW : ya Rasulullah, siapakah manusia yang utama? Nabi SAW menjawab : ‘seorang mu’min yang berjuang dengan jiwa raganya dan hartanya untuk menegakkan agama Allah’. Kemudian siapa? Nabi SAW menjawab : ‘seseorang yang beruzlah (menyendiri) disuatu tempat untuk bertaqwa kepada Allah SWT dan menghindarkan diri dari manusia dan kejahatanya’ (HR, Bukhari dan Muslim).

Nantinya diyaumil akhir, hanya ada tujuh golongan yang akan memperoleh perlindungan dihari kiamat disaat-saat tidak adanya perlindungan kecuali perlindungan Allah SWT. Salah satu dari tujuh golongan itu adalah dua orang yang bersahabat karena Allah (tidak ada pamrih), bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Bertemu bukan karena kepentingan harta, bukan karena kepentingan pencapaian tujuan duniawi, serta berpisah bukan karena telah terpenuhinya hal/tujuan duniawi yang dikejar.

Pengaruh teman dalam pergaulan sangat besar dan signifikant. Untuk itu, seseorang berkewajiban untuk hati-hati, jangan sampai keliru dalam memilih teman bergaul. Berteman mesti dengan orang-orang tepat yang bisa membuat tenang dalam pergaulan sehari-hari.

Orang yang bisa dijadikan teman akrab bila orang tersebut dapat membantu dalam kelancaran menunaikan kewajiban kepada Allah SWT dan menjaga hak-hak, baik itu haqullah maupun haqul adami. Disisi lain juga, teman akrab adalah mereka yang berani mencegah perbuatan jahat dan melawan pelanggaran hukum. Teman yang baik adalah teman yang dapat membawa kita ke jalan menuju penunaian kewajiabn kepada Allah SWT dan senantiasa hidup dalam keridhaan Allah SWT.

Teman yang baik adalah orang yang dapat membawa kita kepada keberhasilan di dunia dan kebahagiaan diakhirat kelak. Sedangkan teman yang tidak baik adalah mereka yang selalu ceroboh, tidak mengingatkan kita pada kebaikan dan bahkan menyakiti kita ketika menghadapi cobaan.

Memilih dan memilah teman itu sangat penting karena penuluran kejelekan lebih cepat daripada menularkan kebaikan. Sering terjadi pada orang yang berkepribadian kuat berubah menjadi kurang baik karena pengaruh teman. Untuk membina dan memelihara akhlaq mulia, Rasulullah Muhammad SAW menekankan ummatnya agar memilih teman yang baik. Sebagaimana sabdanya :

“Sebenarnya perumpaman sahabat yang baik dan sahabat yang buruk itu bagaikan pembawa misik (kasturi) dan peniup api. Maka pembawa misik adakalanya memberi kepadamu atau kau mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api, kalau tidak membakar pakaianmu, maka kau akan mendapat busuk daripadanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa pengaruh teman begitu cepat. Diumpamakan oleh Nabi Muhammad SAW, teman yang baik itu bagaikan bau minyak wangi yang semerbak yang baunya cepat kita hirup. Sementara teman yang buruk diumpamakan seperti penjaga peniup api ubaban pada tukang pandai besi. Pengaruh api, jika tidak membakar pakaianmu, maka ia akan mendapatkan bau busuk daripadanya.

Karena itu, apabila mencari teman/sahabat, berhati-hatilah. Carilah orang-orang yang cerdik pandai, khususnya orang shalih karena pasti akan mengangkat derajatmu menjadi mulia. Memilih teman bergaul hendaknya yang sepaham dan berlandaskan pada aqidah yang kuat dan amal perbuatan yang terpuji.

Persahabatan yang terjalin karena Allah SWT semata-mata dan karena taat atas perintah-Nya, maka persahabatan itu akan kekal. Sebaliknya, persahabatan yang terjalin karena adanya pamrih/kepentingan/keinginan tertentu, sewaktu-waktu akan mudah goyah atau retak. Ketika keinginan atau tujuan atau kepentingan tidak tercapai, maka goyah/retaklah persahabatan itu. Demikian pula ketika kepentingan atau keinginan atau tujuanya sudah dicapai, maka persahabatan itu akan goyah/retak juga karena ia merasa sudah tidak membutuhkan sahabat/temannya lagi.*

LaOde Muhammad Ramadan

La ode muhammad ramadan12

La ode muhammad ramadan25

SOWITE : " Hansuru hansuru badha, sumano kono hansuru liwu, Hansuru hansuru ana liwu, sumano kono hansuru adhati- Hansuru hansuru ana adhati, sumano tangka agama "

MEDIA ONLINE NASIONAL

MENYAJIKAN BERITA AKTUAL TAJAM DAN TERPERCAYA

My Universe

about me and around me

Wasbang 9

Blog Kelas 9 Wawasan Kebangsaan

FOR-WUNA

SOWITE : " Hansuru hansuru badha, sumano kono hansuru liwu, Hansuru hansuru ana liwu, sumano kono hansuru adhati- Hansuru hansuru ana adhati, sumano tangka agama "

Ailtje Ni Diomasaigh

Ramblings of an Indonesian Woman

Motivator Pendidikan Kreatif

Namin AB Ibnu Solihin

Coretan-coretan Harian

Yuli Jannaini Bercerita

rama arya's blog

travel | art | volunteering | ruminations

Idiot Joy Showland

This is why I hate intellectuals