Ketika Dunia dan Isinya Terlaknat


Sekilas, topik ini cukup ekstrim. Namun jika dicermati dengan seksama dan dikaji lebih mendalam, topik ini justru sarat makna dan memberikan peringatan kepada ummat manusia akan tujuan penciptaanya, termasuk tujuan keberadaanya di muka bumi yang fana ini.

dunia terlaknat1

Tak bisa dipungkiri jika memang dunia ini beserta isinya terlaknat. Namun demikian, fonis terlaknat ini memiliki satu pengecualian yaitu dzikir kepada Allah SWT.

Dzikir dalam konten dan konteks ini adalah terkait dengan segala hal yang dilakukan manusia di muka bumi ini untuk sesuatu yang baik dan bertujuan kebaikan, serta muaranya untuk ibadah kepada Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya dunia ini terlaknat dan termurkai pula apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah, apa saja yang Allah cintai dan seorang yang berilmu atau penuntut ilmu”. (Hadits hasan riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadits ini menegaskan bahwa semua hal di dunia ini tidak akan berarti apa-apa (terlaknat) jika tidak berkenaan (bermuara) pada tujuan untuk mengingat dan beribadah kepada Allah SWT.

Apapun di dunia ini, apakah itu kekayaan, kedudukan, kekuasaan, keindahan, maupun hal lainnya, bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan. Semua itu akan hilang dan binasa seiring berlalunya umur dunia.

Disisi lain pula, dunia ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun demikain, dunia bisa menjadi penghalang untuk bisa sampai kepada Allah. Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang di benci, namun harta itu tercela jika dia melalaikan dari mengingat Allah SWT.

Betapa banyak kaum muslimin yang tertipu dengan gemerlap dunia sehingga lupa akan tujuan penciptaannya. Gemerlap dunia (baik itu, harta, tahta maupun wanita) telah membuat banyak orang hidup menyimpang dan jauh dari kebenaran.

Dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 14 telah dijelaskan bahwa : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Rasulullah Muhammad SAW juga telah mengingatkan hal ini. Dalam sabdanya : “Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk) (HR. Bukhari).

Saudaraku orang Muna, jangan jadikan hatimu terikat dengan dunia. Jangan sampai dunia beserta gemerlap isinya masuk ke dalam hatimu dan bercokol di dalamnya. Jangan sampai urusan dunia ini menundukkan dirimu hingga engkau lebih mementingkan urusan dunia ketimbang ketaatanmu kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakanmu. Dunia ini sementara dan akan ditinggalkan.

Agar urusan dunia ini tidak terlaknat, maka semestinya semua urusan dan kegiatan di dunia ini selalu bermuara pada ibadah dan akhirat. Jangan sampai suatu kegiatan, apakah itu belajar atau mengajarkan suatu ilmu dunia, berbisnis atau melakukan aktivitas dunia lainnya hanya sekedar untuk mendapatkan dunia saja. Jika ini terjadi, maka kerugian dan penyesalan yang akan diperoleh kemudian.

Saudaraku orang Muna, saya tau dan saya pahami, bahwa urusan hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Manusia tidak bisa memberi hidayah atau membuka pintu hati seseorang untuk menempuh jalan kebenaran. Saya juga sadar, saya bukan orang suci, saya hanya berusaha meneruskan/menyampaikan kebenaran, semoga ini menjadi asbab musabab terbukanya pintu hidayah kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an : “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. Al Qashash : 56).    “……….Allah SWT membiarkan sesat orang-orang yang dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki…………” Q.S. Al Muddassir : 31).*

penulis : LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 9999

Iklan

JASA IBU


Ibu……. engkau telah mengandungku selama sembilan bulan. Engkau tidak pernah mengeluh selama mengandungku. Engkau menjerit kesakitan ketika melahirkanku. Engkau rela mempertaruhkan nyawamu demi aku. Engkau menderita menggendongku diwaktu aku kecil. Engkau telah merasakan lelah letih ketika merawatku, tetapi Engkau tidak pernah mengungkapkan itu semua.

ibu

Ibu…….. Engkau menjadi guruku sejak lahir. Engkau mengajariku tentang kehidupan ini tanpa digaji. Engkau mengerjakan semua pekerjaan di rumah tangga tanpa kenal lelah, tak pernah dibayar, dan kadang terlupa untuk dihargai.

Selama membesarkanku, kantuk dan lelah Engkau tak hiraukan. Terkadang engkau menyamarkan suara menguapmu dengan auman harimau. Atau kadang berpura-pura berperan seperti aktris sinetron yang terjatuh dan mati (hanya sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik saja).

Ketika anak-anakmu yang telah dewasa sudah mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, Engkaulah yang paling menangis. Engkau menitikan air mata ditengah kebahagiaan anakmu….

Meski berat, namun Engkau ikhlas mengantar anakmu ke pelaminan. Engkau merelakan buah hatimu yang selama bertahun-tahun bersamamu untuk tak lagi hanya menjadi ‘milikmu’.

Ibu…… Aku berharap dan selalu berdoa kepada Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini agar Engkau diberi umur panjang hingga aku bisa membuatmu bahagia dan mewujudkan semua impianmu……

anakmu, La Ode Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 88888

Titip Rindu Buat Ayah


Ayah, aku sangat merindukanmu. Kepergianmu sejak 6 Juli 2006 silam membuatku kehilangan sosok seorang ayah. Engkau pergi selamanya dari dunia ini. Engkau tak akan pernah kembali lagi. Sejak itu saya menjadi anak yatim. Saat itu kita berpisah dan merupakan hari terakhir saya melihatmu di alam dunia ini. Ayah, aku selalu rindu padamu.

alm. la ode sifu

Ayah, kenangan bersamamu begitu berarti dan tidak bisa terlupakan. Saya rindu tatapan kedua matamu yang tidak pernah lelah karena bekerja siang malam untuk mencukupkan kebutuhanku. Saya menyadari bahwa betapa kau sangat mencintaiku. Betapa kau sangat mengasihiku. Namun, tidak pernah sekalipun saya berterimakasih untuk semua itu.

Ayah, saya belum sempat menjadi anak yang baik. Saya telah membuang begitu banyak momentum yang ingin kau ukir bersamaku. Saya telah menyia-nyiakan waktu yang Tuhan sudah berikan kepadaku yang ternyata begitu singkat. Saya tidak lebih dari seorang anak kecil yang manja dan nakal yang selalu merepotkanmu.

Ayah, kau memang tidak akan pernah datang lagi untuk bersamaku, namun saya masih bisa merasakan aliran darahmu ‘tersenyum’ di dalam aliran darahku. Engkau tidak pernah pergi. Engkau tetap hidup disetiap ukiran senyumanku, disepanjang perjalanan nafasku dan juga disetiap nasehatmu yang terus tumbuh dalam hatiku.

Sekalipun saya telah terhapus dari memorimu, namun masih ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menceritakan kepada Ayah tentang semua peristiwa yang pernah diizinkan-Nya terjadi pada diriku.

Selamanya Ayah akan hidup. Sampai kapanpun Ayah akan tersimpan rapih di sini, di relung hatiku yang paling dalam. Ayah adalah salah satu manusia terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.

Kini saya hanya bisa mendoakanmu, semoga Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini mengampunimu, merahmatimu dan menempatkanmu pada tempat yang terindah disisi-Nya.*

anakmu, La Ode Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 9999

KATOO, Akhir dari Kehidupan Manusia di Dunia


KATOO merupakan bahasa daerah Muna yang berarti kematian. Masyarakat Suku Muna memahami KATOO sebagai akhir dari kehidupan seorang manusia di muka bumi atau di alam dunia ini. KATOO ditandai dengan ketiadaan nyawa seseorang atau berpisahnya antara jasad dan ruh seseorang.

Masyarakat Suku Muna percaya bahwa KATOO merupakan suatu hal yang pasti akan terjadi dan akan menimpa setiap manusia atau setiap makhluk yang bernyawa. KATOO tidak bisa dicegah atau dielakan.

ajal....

Masyarakat Suku Muna juga meyakini KATOO sebagai berita ghaib yang menjadi rahasia Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap orang atau setiap makhluk hidup tidak mengetahui kapan dan dimana KATOO-nya akan terjadi.

KATOO berkaitan dengan jatah umur (takdir umur) yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia atau setiap makhluk hidup. Ketika jatah umur seseorang untuk hidup di dunia telah habis, maka saat itulah KATOO orang tersebut terjadi.

Menurut ajaran agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Suku Muna, kematian (KATOO) merupakan sesuatu yang lazim terjadi. Semua makhluk berasal dari Allah, dan pada saatnya nanti akan kembali (mati).

Seseorang yang menemui ajalnya, maka artinya ia berpindah alam dari alam dunia ke alam barzakh (alam kubur) dan kembali ke asalnya. Seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan beriman, maka dijanjikan oleh Allah akan ditempatkan pada tempat yang mulia dan akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak terputus-putus.

Al Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam dan kitab suci masyarakat Suku Muna juga telah menjelaskan dengan rinci perihal kematian (KATOO) ini. Diantara ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang kematian terdapat dalam Surat Al Imran ayat 185 yang artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

Dalam Surat Al Jumuah ayat 8 juga dijelaskan : “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Umur seorang manusia dalam kehidupan dunia ini, walaupun panjang, pasti akan berakhir. Karena kehidupan yang kekal dan abadi hanya ada di alam akhirat. Alam akhirat ini dapat dimasuki dengan proses kematian. Setiap orang yang sudah mati dan rohnya sudah keluar dari jasadnya, maka itu berarti ‘kiamat’ bagi orang tersebut. Dia akan memulai awal perjalanannya ke alam ghaib, alam akhirat.

KATOO (kematian) akan menghentikan semua angan dan ambisi manusia di alam dunia ini. Ketika kematian merenggut seseorang, maka semua yang dimilikinya (hartanya, jabatannya, istri/suaminya) akan ditinggalkannya.

“Sesungguhnya kamu akan mati. Dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu.” (Q.S. Az-Zumar : 30-31).*

Penulis : LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 9999

Menanggulangi Sampah Plastik di Pesisir Laut Kabupaten Muna


Sampah merupakan salah satu masalah yang belum ditanggulangi dengan baik di tanah Muna. Tidak hanya di daratan, sampah di tanah Muna bahkan telah mengotori wilayah pesisir lautnya.

Sampah (utamanya sampah plastik), tidak hanya mengotori/mencemari lingkungan dan merusak pemandangan/keindahan, namun juga menjadi sumber penyakit serta memberi dampak buruk bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sampah plastik yang mengotori wilayah pesisir berdampak sangat buruk bagi satwa seperti ikan, penyu, burung dan manusia. Kantong plastik yang mengapung di lautan kerap dimakan oleh penyu karena menyerupai ubur-ubur.

Pecahan plastik yang berserakan di pantai dapat dimakan oleh burung karena warnanya menarik perhatian mereka. Partikel plastik yang terurai di lautan dimakan oleh ikan dan terakumulasi dalam tubuhnya yang pada akhirnya membahayakan kesehatan manusia ketika ikan tersebut dikonsumsi oleh manusia.

Sampah yang mengotori daratan dan wilayah pesisir laut Kabupaten Muna umumnya sampah padat yang terbagi dalam dua kategori yakni organik (misalnya sisa makanan, daun kering dan lain-lain) dan anorganik (misalnya logam, plastik, kaleng, karet dan lain-lain).

Jumlah sampah di Kabupaten akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sementara masalah dan akibat buruk dari sampah ini akan semakin menghantui seiring lambatnya sistem pembersihan dan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir, kebiasaan buruk masyarakat yang tidak tertib membuang sampah pada tempatnya, serta mental masyarakat yang tidak perduli dengan kebersihan lingkungan.

Masalah sampah di tanah Muna tidak bisa dianggap remeh. Namun sayangnya, penanganan sampah oleh pihak-pihak berkompeten di daerah ini sepertinya baru sebatas membersihkan dan mengangkut (memindahkan) dari suatu tempat ke lokasi lain (tempat pembuangan akhir).

Langkah ini bukanlah suatu upaya terbaik dalam mengatasi atau menanggulangi masalah sampah. Jika cara ini yang terus dipertahankan, maka masalah sampah di Kabupaten Muna tidak akan selesai dengan baik.

Untuk mengatasi masalah sampah di tanah Muna (baik sampah di darat maupun sampah di pesisir laut), selain upaya pembersihan dan pengangkutan secara rutin, ada dua hal pokok yang seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak berkompeten (mungkin pemerintah daerah atau yang lainnya) yakni perubahan perilaku masyarakat dan pengolahan sampah.

Perubahan perilaku masyarakat disini adalah terkait dengan upaya pihak berkompeten atau mungkin pemerintah daerah untuk menumbuhkan kesadaran kepada seluruh elemen masyarakat Muna agar :

(1). Menggalakkan dan/atau membudayakan gaya hidup sehat dan bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan.

(2). Pemerintah secara tegas dan berani menerapkan Undang-Undang nomor 18 Tahun 2008 yang terkait dengan larangan membuang sampah ke sungai atau ke laut.

(3). Membentuk kelompok atau komunitas atau petugas pemerintah yang melakukan aksi-aksi kampanye peduli kebersihan wilayah pesisir dan laut dari sampah plastik, termasuk melakukan monitoring aktivitas pembuangan sampah di masyarakat.

(4). Melakukan sosialisasi di dunia pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) sehubungan dengan pengetahuan pengolahan sampah.

(5). Mewajibkan setiap rumah tangga mengolah sampah, minimal dengan memilah antara sampah organik dan sampah anorganik, lalu sampah-sampah tersebut dibuang ke tempat pembuangan sampah, bukan ke sungai atau laut.

Sementara untuk pengolahan sampah harus dilakukan secara terstruktur mulai dari penyediaan fasilitas penampungan sampah hingga proses pengolahan. Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan tujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis sehingga mempunyai kegunaan/manfaat dan tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.

Ada beberapa metode dan tahapan di dalam pengolahan sampah yakni :

(1). Metode penghindaran dan pengurangan. Metode ini adalah mencegah terbentuknya sampah. Langkah yang dilakukan adalah menggunakan kembali barang bekas pakai yang masih bisa digunakan, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya mengganti kertas tissue dengan serbet), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (misalnya penggunaan botol kaleng minuman).

(2).  Metode pengumpulan/penyimpanan dan pengangkutan. Metode ini dilakukan dengan menempatkan sampah dari sumber sampah (rumah tangga, hotel/ penginapan, kantor dan lain-lain) ke dalam tempat penyimpanan sementara (tempat sampah). Lalu dari tempat penyimpanan sementara ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam rumah sampah berbentuk bak besar dan selanjutnya diangkut secara berkala dan kontinyu ke tempat penampungan akhir atau tempat pemusnahan dengan menggunakan truk pengangkut sampah.

(3).  Metode penimbunan darat. Metode ini biasanya dilakukan di tanah yang telah ditinggalkan seperti lubang bekas pertambangan. Metode penimbunan darat jika didesain dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang higienis dan murah. Namun jika tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti angin berbau sampah, menarik berkumpulnya lalat dan hama, serta adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari metode penimbunan darat yang tidak terdesain dan terkelola dengan baik adalah adanya gas methan dan karbon dioksida yang sangat berbahaya.

Karakter desain dari penimbunan darat yang moderen diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kestabilannya dan ditutup untuk tidak menarik hama (seperti tikus). Penimbunan sampah harus mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul dapat dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar pada mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.

(4). Metode Pemusnahan Sampah. Metode ini meliputi pembakaran, daur ulang, pengolahan biologis dan pemulihan energi.

Metode pemusnahan sampah yang pertama adalah PEMBAKARAN. Pembakaran merupakan metode pemusnahan sampah dengan cara dibakar pada temperatur tinggi. Langkah ini dapat merubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu. Manfaat dari penerapan metode ini adalah volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya, tidak memerlukan ruang yang luas, panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap, dan pengolahan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja yang dapat diatur sesuai kebutuhan.

Metode pemusnahan sampah yang kedua adalah dengan DAUR ULANG. Daur ulang merupakan proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali. Cara daur ulang yakni mengambil bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik.

Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan untuk digunakan kembali. Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminium, kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE, botol kaca, kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti PVC, LDPE dan PS juga bisa di daur ulang.

Metode pemusnahan sampah yang ketiga adalah PENGOLAHAN BIOLOGIS atau biasa juga disebut pengkomposan. Metode ini menggunakan material sampah organik , seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas untuk selanjutnya diolah dengan menggunakan proses biologis menjadi kompos. Hasil dari proses ini adalah kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk dan gas methana yang dapat digunakan untuk membangkitkan listrik.

Metode pemusnahan sampah yang keempat adalah PEMULIHAN ENERGI. Metode ini dilakukan dengan mengambil langsung kandungan energi dalam sampah untuk menjadi bahan bakar atau mengambil secara tidak langsung kandungan energi dalam sampah lalu diolah menjadi bahan bakar tipe lain. Dengan menggunakan sentuhan tekhnologi, sampah dapat diolah dan menghasilkan bahan bakar untuk memasak, menghasilkan uap dan tenaga listrik.*

Penulis : LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 9999

NOBIE WOWOHONO MEINTARANO LIWU


“Nobie Wowohono Meintarano Liwu” merupakan salah satu kalimat kunci yang saya dapatkan saat silaturahmi dan berdiskusi dengan sejumlah tokoh masyarakat di tanah Muna beberapa waktu lalu. Di benak saya, kalimat ini memiliki makna mendalam dalam tatanan kehidupan masyarakat Suku Muna, karena berkaitan dengan urusan mengatur hajat hidup orang banyak.

raja bijaksana

“Nobie Wowohono Meintarano Liwu” adalah bahasa Daerah Muna yang maknanya menunjukkan beratnya beban seorang pemimpin. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah. Seorang pemimpin, baik itu kepala kampung atau kepala wilayah atau kepala daerah memiliki beban tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang cukup berat.

Menurut para tokoh di tanah Muna, seorang pemimpin, harus mampu menjamin keamanan kampung atau wilayah atau daerah, serta orang-orang yang dipimpinnya. Jaminan keamanan yang dimaksudkan disini adalah keamanan dari serangan musuh, kelaparan, wabah penyakit, dan pertikaian sesama warga atau masyarakat atau rakyat.

Jika jaminan keamanan tersebut belum mampu dipenuhi oleh seseorang, maka orang tersebut dianggap belum layak untuk menjadi seorang pemimpin disuatu kampung atau wilayah atau daerah di tanah Muna.

Dikisahkan oleh parah tokoh, bahwa dizaman dahulu kala, seorang pemimpin di tanah Muna harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menjaga rakyat dan wilayah yang dipimpinnya. Seorang pemimpin di tanah Muna harus memiliki kesaktian dan ilmu kanuragan yang tinggi serta memiliki keahlian dan kecerdasan intelektual dalam urusan politik, ekonomi, hukum dan sosial kemasyarakatan.

Dari diskusi panjang dengan sejumlah tokoh masyarakat di tanah Muna, saya memetik beberapa point penting yang terkait dengan keberadaan seorang pemimpin. Bahwa sejatinya pemimpin di tanah Muna harus memiliki sifat dan karakter antara lain :

(1). Memperhatikan/mengusahakan kemajuan dan perkembangan kampung atau wilayah atau daerah dan orang-orang yang dipimpinnya.

(2). Memiliki kecerdasan intelektual untuk menjadi tempat bertanya bagi rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya ketika memerlukan jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya.

(3). Adil dan memiliki ketegasan dalam menegakkan hukum. Seorang pemimpin di tanah Muna harus menimbang secara adil terhadap semua jenis kejahatan, baik itu kecil maupun besar. Hukum diterapkan tanpa pandang buluh, termasuk pada anggota keluarganya. Tidak ada orang yang bisa lolos dari jerat hukum jika melakukan kesalahan.

(4). Memiliki kemampuan menggali sumber-sumber kehidupan dan pendapatan bagi kampung atau wilayah atau daerah yang dipimpinnya. Dalam konteks ini, seorang pemimpin di tanah Muna harus memiliki kemampuan dibidang ekonomi dan keuangan untuk mengentaskan kemiskinan orang-orang yang dipimpinnya dan mengantarkan mereka kepada kesejahteraan.

(5). Memiliki pesona dan kepribadian menarik. Dengan hal ini, seorang pemimpin di tanah Muna akan mendapatkan empati dan simpati dari rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya. Rakyat atau masyarakat akan merindukan pemimpin yang hadir dengan kata-kata menyejukkan, menaburkan beni-benih persatuan dan kebersamaan, bukan benih-benih hasut, iri, dengki dan permusuhan. Dengan demikian, rakyat atau masyarakat akan selalu setia, tunduk dan patuh kepada pemimpinnya. Kampung atau wilayah atau daerah yang dipimpinpun akan menjadi tenteram dan damai, tidak ada permusuhan di antara sesama rakyat atau masyarakat.

(6). Memiliki keteguhan hati untuk berpijak pada kebenaran dan tidak mudah terhasut.

raja.....

(7). Sederhana dan menjaga diri dari gemerlap kemewahan dunia. Hal ini akan membuat seorang pemimpin di tanah Muna selalu terjaga dari perilaku tidak terpuji seperti korupsi, suap, kolusi dan nepotisme.

raja

(8). Berani dan memiliki wawasan kewilayahan yang memadai. Pada zaman dahulu, hal ini berkaitan dengan upaya mengkonsolidasikan kekuatan dalam menghadapi musuh yang mengancam kampung atau wilayah atau daerah yang dipimpinnya. Dizaman sekarang, hal ini terkait dengan rencana tata ruang untuk membangun kampung atau wilayah atau daerah yang dipimpinnya.

(9). Bersahaja, mengayomi dan rendah hati.

Dalam kehidupan nyata dan fakta yang terjadi, rasanya sulit menemukan sosok pemimpin yang bisa memenuhi semua kriteria tersebut. Dalam catatan sejarah, sosok-sosok pemimpin yang pernah berkuasa di tanah Muna memiliki sifat dan karakter berbeda-beda. Ada sosok pendekar, ada sosok sederhana, ada sosok toleran, ada sosok yang tegas, ada sosok yang kejam dan lain-lain.

Namun pastinya, bagaimanapun model, sifat dan karakter seorang pemimpin dalam memerintah dan menjalankan kekuasaannya di tanah Muna, suatu saat nanti kepemimpinannya itu akan dipertanggungjawabkannya.

Ada saatnya nanti setiap amanah itu akan dipertanggungjawabkan pada tempat yang telah ditentukan. Akan selalu ada konsekuensi dari setiap tindakan dan gaya kepemimpinan seseorang, entah itu kepemimpinan otoriter, egois, arogan, sederhana ataupun yang lainnya. Semuanya akan mendapatkan ganjaran dan balasan berupa kebaikan atau keburukan.*

Penulis : LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 126

 

KABARAKATINO WITENO WUNA


“Kabarakatino Witeno Wuna” merupakan bahasa daerah Suku Muna yang bermakna keberkahan atau kesakralan tanah Muna.

Oleh masyarakat Suku Muna, kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” diyakini dapat memberi sugesti dan keberuntungan kepada orang Muna yang mengucapkannya.

kabaraktino witeno wuna

Merujuk cerita orang-orang tua di tanah Muna disebutkan bahwa, dizaman dahulu masyarakat Suku Muna sangat meyakini adanya sugesti dan kesakralan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna”.

Kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” diyakini mampu membantu orang Muna yang sedang menghadapi situasi sulit di tanah rantau, termasuk dapat memudahkan urusan orang Muna dalam mencapai suatu tujuan yang diusahakannya.

Konon, ketika orang Muna ditimpa suatu kesulitan atau masalah ditanah rantau, maka dengan mengucapkan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna”, masalah atau kesulitan yang dihadapinya dapat teratasi dengan mudah.

Dikisahkan pula oleh para orang tua di tanah Muna bahwa, kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” yang diucapkan seseorang Suku Muna saat berada dimedan perang atau ketika mengikuti sautu ajang adu kekuatan fisik, akan mampu menundukan peluru, senjata tajam dan senjata lainya.

Kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” menurut cerita zaman dahulu, diyakini dapat membuat orang Muna yang mengucapkanya kebal terhadap berbagai kekuatan senjata tajam.

Konon kabarnya juga, dalam siatuasi sulit dan terdesak, dengan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna”, orang Muna dapat berjalan di atas air, serta mampu melumpuhkan kekuatan diluar batas kemampun manusia.

Sejumlah orang tua Masyarakat Suku Muna mengisahkan, kesakralan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” dizaman dahulu karena dimasa lalu masyarakat Suku Muna sangat menjaga kesucian dirinya dari hal-hal yang tidak baik.

Para petuah Suku Muna berkeyakinan bahwa yang dapat merasakan kesakralan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” adalah mereka yang mampu menjaga kesucian dirinya, menjauhi segala larangan, menghindari maksiat, tidak berbohong, dan tidak berkhianat.

Sementara mereka yang tidak jujur, kerap berdusta, dan tidak menjaga kesucian dirinya dari segala hal buruk, tidak akan dapat merasakan kesakralan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna”.

Seribu kalipun kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna” diucapkan oleh mereka yang dzalim dan tidak menjaga kesucian dirinya, maka kalimat tersebut tidak akan memberikan sugesti, tidak akan sakral, dan tidak akan berarti apa-apa.

Beranjak dari kisah kesakralan kalimat “Kabarakatino Witeno Wuna”, keberkahan dan kesakralan suatu negeri sesungguhnya tergantung dari masyarakat yang menghuni dan mendiami negeri tersebut.

Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa serta menjauhi perbuatan dosa, maksiat dan kemungkaran, maka negeri tersebut akan diberkahi oleh Allah SWT, tanahnya subur, serta rakyat/masyarakatnya akan makmur, tentram dan damai.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. al-A’raf : 96).

Namun jika penduduk/masyarakat suatu negeri kufur dan ingkar, maka negeri tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi tidak aman, tidak damai dan tidak berkah.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (Q.S. An Nahl: 112).

Penulis : LaOde Muhammad Ramadan

la ode muhammad ramadan 9999

SOWITE : " Hansuru hansuru badha, sumano kono hansuru liwu, Hansuru hansuru ana liwu, sumano kono hansuru adhati- Hansuru hansuru ana adhati, sumano tangka agama "

%d blogger menyukai ini: