Festival di Teluk Meleura


Penghujung tahun 2017, Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna ‘menggeliat’. Tidak seperti biasanya, desa kecil yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Raha, Ibukota Kabupaten Muna itu mendadak ramai.

meleura 1

Situasi yang tidak biasanya dijumpai di desa tersebut terjadi karena Pemerintah Kabupaten Muna menjadikan lokasi ini sebagai ajang berbagai kegiatan menjelang akhir tahun 2017.

Aneka kegiatan yang ‘menggairahkan’ aktivitas masyarakat di tempat tersebut meliputi pembangunan infrastruktur jalan ke lokasi-lokasi objek wisata, kegiatan perkemahan pelajar hingga festival seni budaya.

Kegiatan perkemahan pelajar telah berlangsung pada November lalu. Kini aktivitas pembangunan infrastruktur jalan yang terus berlanjut di seputaran Meleura dan Motonuno. Puncaknya nanti adalah kegiatan Festival Pantai Meleura yang dijadwalkan berlangsung medio Desember 2017, tepatnya 13 – 17 Desember 2017.

Festival Pantai Meleura yang dipusatkan di Teluk Meleura dipastkan bakal meriah. Berbagai kegiatan yang ditampilkan akan semarak dengan paduan keindahan panorama alam Meleura. Daerah pesisir dengan gugusan pulau-pulau kecilnya yang dapat ditempuh sekitar 30 menit mengunakan tranportasi darat dari Raha, dipastikan akan dapat memikat hati para pengunjungnya.

Terkait dengan Festival Pantai Meleura, ada dua hal penting yang termuat di dalamnya yakni kegiatan festival dan Teluk Meleura sebagai lokasi kegiatan.

Festival merupakan suatu kegiatan atau pesta besar atau acara meriah untuk suatu tujuan tertentu. Dalam konteks Festival Pantai Meleura, dapat diterjemahkan sebagai suatu bentuk kegiatan atau pesta besar atau acara meriah untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kabupaten Muna.

Kegiatan ini menjadi suatu wadah atau wahana atau dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk penjabaran dan realisasi dari program Mai Te Wuna yang digalakan oleh Pemerintah Kabupaten Muna.

meleura 2

Jika dicermati, Festival Pantai Meleura ini pada dasarnya serupa dengan festival-festival yang pernah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Diperiode yang lalu, pernah ada Festival Napabale dan Festival Layang-Layang Internasional.

Bedanya dengan Festival Panta Meleura kali ini adalah pada aspek jenis kegiatannya. Jika festival-festival sebelumnya kemungkinan tidak ‘diperkaya’ dengan berbagai kegiatan menarik, maka Festival Pantai Meleura kali ini dikembangkan dengan berbagai kegiatan yang meliputi banyak aspek, mulai dari seni budaya, kelestarian alam/lingkungan, kearifan lokal, pariwisata hingga olahgraga.

Tercatat ada sejulah item kegiatan yang bakal digelar dengan meriah pada Festival Pantai Meleura meliputi pameran kuliner khas Muna, pameran kerajinan dan tenunan Muna, lomba foto destinasi wisata, lomba lari 10 kilometer, lomba perahu hias, lomba rambi Wuna, lomba kantola, lomba tari linda, dan lomba modero.

Selain itu, menyambut Festival Pantai Meleura ini, Pemerintah Kabupaten Muna juga menata dan meningkatkan infrastruktur mulai dari peningkatan infrastruktur jalan hingga sarana prasarana yang ada di sejumlah objek wisata di Kabupaten Muna.

Ada hal menarik dari geliat pembangunan yang terus ditunjukan Pemerintah Kabupaten Muna kepada masyarakatnya. Bahwa masyarakat Muna cukup proporsional dan tidak berlebihan dalam mengapresiasi setiap program pembangunan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Muna.

Masyarakat Muna tidak begitu over acting dengan jalan raya dua jalur beserta lampu jalanya. Masyarakat Muna tidak lantas guling-guling diri dijalan beraspal dan tidak serta merta peluk cium tiang listrik dengan hadirnya lampu jalan di malam hari.

Masyarakat Muna tidak lantas menghebohkan diri dengan segela kemajuan yang ada. Mereka sadar bahwa keberhasilan Pemerintah Kabupaten Muna membangun infrastruktur yang ada, tidak harus diluapkan dengan jungkir salto atau berguling di jalanan, namun diwujudkan dengan memberikan dukungan moril dan tenaga terhadap Pemerintah Kabupaten Muna dalam memajukan daerah ini.

Hal penting lainya pada ajang Festival Pantai Meleura adalah Teluk Meleura yang menjadi lokasi kegiatan festival.

Teluk adalah peraiaran laut yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya. Merujuk defenisi ini, maka Meleura termasuk kategori teluk.

meleura 3

Di Teluk Meleura tesrebut terdapat 10 (sepuluh) pulau kecil tidak berpenghuni. Kesepuluh gugusan pulau kecil tidak berpenghuni yang menempati perairan Teluk Meleura tersebut meliputi :

  1. Pulau Tampuno Meleura. Pula kecil ini terletak pada koordinat 04°55,792′ Lintang Selatan – 122°45,871′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,014 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,042 kilometer.

  2. Pulau Lapandulangi. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,638′ Lintang Selatan – 122°45,406′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,03 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,061 kilometer.

  3. Pulau Lemo. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,632′ Lintang Selatan – 122°45,441′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,005 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,025 kilometer.

  4. Pulau Labokeo. Pulau kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,592′ Lintang Selatan – 122°45,394′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,05 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,079 kilometer.

  5. Pulau Labokeo Kecil. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,631′ Lintang Selatan – 122°45,630′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,045 hektar dan panjang garis pantai hingga  0,075 kilometer.

  6. Pulau Sampalu 1. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,727′ Lintang Selatan – 122°45,336′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,01 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,035 kilometer.

  7. Pulau Sampalu 2. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,730′ Lintang Selatan – 122°45,356′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,08 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,032 kilometer.

  8. Pulau Sampalu 3. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,780′ Lintang Selatan – 122°45,453′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,003 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,019 kilometer.

  9. Pulau Ghilei 1. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,899′ Bujur Timur – 122°45,638′ Lintang Selatan dengan luas mencapai 0,02 hektar dan panjang garis pantai hingga 0,05 kilometer.

  10. Pulau Ghilei 2. Pulau Kecil ini berada pada titik koordinat 04°55,890′ Lintang Selatan – 122°45,630′ Bujur Timur dengan luas mencapai 0,02 hektar dengan panjang garis pantai hingga 0,05 kilometer.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

......utk2

Iklan

Witeno Wuna dengan Gugusan Pulau-Pulau Kecilnya


Witeno Wuna wite barakati merupakan sebutan ‘sakral’ terhadap keberkatan tanah di Kabupaten Muna. Daerah yang termasuk kabupaten kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini memiliki wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan wilayah daratanya. Luas wilayah lautnya tercatat mencapai angka 2.559,4 kilometer persegi dengan panjang garis pantai hingga 337 kilometer.

Sebagai daerah kepulauan, Witeno Wuna dikelilingi oleh gugusan pulau-pulau kecil, baik itu pulau kecil berpenghuni maupun pulau kecil tidak berpenghuni. Terdapat 203 pulau kecil yang mengitari Kabupaten Muna dengan rincian 7 pulau kecil berpenghuni tetap, 4 pulau kecil berpenghuni tidak tetap dan 192 pulau kecil tidak berpenghuni.

Pulau-pulau kecil yang berpenghuni tetap itu dapat digambarkan sebagai berikut :    

PULAU KOGHOLIFANO

Pulau Kogholifano merupakan desa pulau yang berada pada koordinat 04°58,305′ Lintang Selatan dan 122°47,256′ Bujur Timur. Pulau ini merupakan wilayah administratif Kecamatan Pasir Putih.

Pantai dan Perumahan

Pulau yang memiliki luas sekitar 151 hektar atau 1,51 kilometer persegi dengan panjang garis pantai mencapai 5,50 kilometer itu, memiliki 2 (dua) dusun dan 4 (empat) RT.

Penduduk yang bermukim di pulau ini mencapai 900-an jiwa dengan 180 rumah tangga.

Pulau Kogholifano memiliki ciri-ciri fisik berbentuk elips yang memanjang dari Barat ke Timur dengan ketinggian daratan berkisar 2 – 9 meter di atas permukaan laut, dan kondisi pantai sebagian besar berbatu.

Sarana infrastruktur yang terdapat di Pulau Kogholifano meliputi Mesjid, SD dan SMP satu atap, dermaga, balai desa, pustu, pasar desa/pasar tradisional.

Sumber air bersih diperoleh masyarakat dari Desa Pola dan Mata Indaha. Sementara untuk penerangan listrik berasal dari Listrik Tenaga Surya (LTS) dan listrik desa tenaga diesel.

Mata pencaharian utama penduduk Desa Kogholifano, Pulau Kogholifano meliputi nelayan dengan alat tangkap pukat dan pancing rawai; petani/pekebun; dan jasa pertukangan.

Penduduk Pulau Kogholifano didominasi oleh Suku Muna yang seluruhnya beragama Islam.

PULAU BAKEALU

Pulau Bakealu merupakan desa pulau yang terdapat di Kecamatan Wakorumba Selatan. Posisinya berada di Selat Buton dengan luas wilayah mencapai 12,32 hektar atau 0,12 kilometer persegi. Panjang garis pantainya sekitar 1,8 kilometer. Di pulau kecil ini, terdapat 2 (dua) dusun, 1 (satu) RT, dan 2 (dua) RW.

Bakealu 11

Pulau yang berada koordinat 04°50,022′ Lintang Selatan dan 122°44,648′ Bujur Timur itu dihuni sekitar 300-an jiwa penduduk. Pulau ini didominasi oleh Suku Muna. Ciri-ciri fisik pulau adalah pantai berpasir yang cukup landai dengan ketinggian 0-16 meter di atas permukaan laut.

Pulau Bakealu cukup potensial bagi pengembangan budidaya rumput laut dan ikan. Parameter kualitas air di perairan pulau tersebut meliputi suhu rata-rata 29oC, kecepatan arus 9,69 sentimeter perdetik, kecerahan 7 meter, salinitas 32 Ppm dan pH 7,6.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau Bekealu adalah Mesjid, Sekolah Dasar, Dermaga, Balai Desa, dan kebun bibit rumput laut.

Pada tahun 2010 lalu melalui kegiatan PNPM dilakukan pemasangan jaringan air bersih. Sumber air berasal dari mata air Amanggili, Desa Wakorumba, Kecamatan Wakorumba Selatan.

Sebagian besar penduduk Desa Bakealu telah menggunakan sarana MCK. Tercatat ada 26 unit MCK yang digunakan warga.

PULAU BONTU-BONTU TIMUR DAN PULAU BONTU-BONTU BARAT

Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat merupakan wilayah administrasi Kecamatan Towea. Kedua pulau ini terpisah oleh kanal selebar 30 meter. Dibagian Barat kanal disebut Pulau Bontu-Bontu Barat dan dibagian Timur kanal disebut Pulau Bontu-Bontu Timur. Antara Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat tersebut dihubungkan sebuah jembatan dengan konstruksi kayu.

1

Pulau Bontu-Bontu Timur yang menempati koordinat 04°35,739′ Lintang Selatan dan 122°43,156′ Bujur Timur memiliki luas sekitar 69,37 hektar. Panjang garis pantainya mencapai 5,08 kilometer. Penduduk yang mendiami Pulau Bontu-Bontu Timur mencapai 800-an jiwa dengan 126 rumah tangga.

Di Bontu-Bontu Barat, luasnya mencapai 59,50 hektar dengan panjang garis pantai 3,88 kilometer. Penduduk yang menghuni pulau yang berada di koordinat 04°35,680′ Lintang Selatan dan 122°43,016′ Bujur Timur ini mencapai 600-an jiwa dengan 80 rumah tangga.

Secara fisik, Pulau Bontu-Bontu Timur dan  Pulau Bontu-Bontu Barat memiliki ciri-ciri

  1. Kedua pulau ini dipisahkan oleh kanal dengan lebar sekitar 30 meter;
  2. Daratannya memiliki hutan mangrove yang didominasi species Rhizophora mucronata, Bruguiera Gymnorhiza dan Soneratia alba;
  3. Dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang namun kondisinya telah rusak berat;
  4. Berpantai pasir dan batu cadas;
  5. Posisi pulau terletak di depan Dermaga Fery Tampo dengan jarak tempuh dari dermaga tersebut sekitar 10 – 15 menit.

Kondisi kualitas air disekitar Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat meliputi suhu berkisar 26oC, kecepatan arus 23,47 sentimeter perdetik, kecerahan 8,0 meter, pH 8,1 dan salinitas 33 ppm. Kondisi demikian cukup potensial untuk kegiatan budidaya laut seperti rumput laut dan teripang.

Sarana dan prasarana yang terdapat di kedua pulau ini adalah Mesjid, Sekolah, Dermaga, Balai Desa, Puskesmas, dan Pasar Desa/tradisional.

PULAU TOBEA

Pulau Tobea merupakan salah satu pulau yang tedapat di Kecamatan Towea. Luas Pulau ini mencapai 2.410,95 hektar atau 24,11 kilometer persegi dengan panjang garis pantai 42,56 kilometer.

Dusun Torega 1

Di pulau yang terbentang pada koordinat 04°31,228′ – 04°34,497′ Lintang Selatan dan 122°43,115′ – 122°44,517′ Bujur Timur ini terdapat 3 (tiga) desa yakni Desa Moasi (ibu kota kecamatan), Desa Wangkolabu, dan Desa Lakarama.

Ciri-ciri fisik pulau adalah :

  • Hampir seluruh pantainya memiliki mangrove, terutama bagian barat dan selebihnya pantai berpasir dan batu;
  • Daratannya terdiri dari tanah dan sebagian batu;
  • Ketinggian daratan berkisar antara 0 – 80 meter di atas permukaan laut.

Adapun data demografi, sosial ekonomi dan infrastruktur yang terdapat pada masing-masing desa pada Pulau Tobea adalah sebagai berikut :

  1. Desa Moasi

Jumlah Penduduk Desa Moasi mencapai 1.000-an jiwa dengan 182 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk meliputi nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Moasi beragama Islam. Suku yang mendiami desa tersebut adalah Suku Muna yang jumlahnya mencapai 90 persen, dan selebihnya suku Bajo, Bugis, Buton dan Jawa.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Moasi meliputi Mesjid, sekolah, dermaga tambatan perahu, balai desa, puskesmas, dan sumber air bersih berupa sumur gali.

  1. Desa Wangkolabu

Penduduk yang mendiami Desa Wangkolabu mencapai 500-an jiwa dengan 124 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk terdiri atas nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Wangkolabu beragama Islam. Etnis Muna, Bugis dan Bajo merupakan penghuni desa ini.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Wangkolabu meliputi Mesjid, dermaga tambatan perahu, balai desa, dan sumber air bersih berupa sumur gali.

  1. Desa Lakarama

Desa Lakarama dihuni sekitar 1.300-an jiwa dengan 267 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk terdiri atas nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumpu laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Lakarama beragama Islam. Sarana dan Prasarana yang terdapat di desa yang dihuni oleh etnis Muna dan Bajo ini meliputi Mesjid, sekolah, dermaga, balai desa, puskesmas, sumber air bersih berupa sumur gali, dan pasar desa/tradisional.

PULAU RENDA

Pulau Renda merupakan wilayah administrasi Desa Renda, Kecamatan Towea yang terbentang pada koordinat 04°34,329′ Lintang Selatan – 122°40,574′ Bujur Timur. Luas pulau ini mencapai 159,6 hektar atau 1,596 kilometer persegi. Jumlah penduduknya mencapai 400-an jiwa dengan 121 rumah tangga.

Renda 8a

Pulau yang didiami sejak tahun 1970-an oleh etnis Muna dan Bajo ini memiliki panjang garis pantai mencapai 7,57 kilometer. Bahasa Muna dan Bajo merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di pulau ini.

Ciri-ciri fisik pulau adalah terdapat hutan mangrove yang didominasi oleh species Rhizopora mucronata, Aegiceras floridum dan Bruguiera ghymnorrhiza. Ketinggian daratan Pulau Renda adalah 1 – 3 meter  di atas permukaan laut dengan karakteristik pantai landai dan berpasir putih. Pulau ini juga dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang dengan kondisi rusak.

Pulau Renda memiliki potensi yang layak untuk pengembangan budidaya kerapu dalam keramba (keramba jaring tancap dan keramba jaring apung), budidaya teripang dan budidaya rumput laut.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau Renda adalah Mesjid, sekolah, dermaga, balai desa, puskesmas/pustu.

PULAU PASIKUTA

Pulau Pasikuta merupakan pulau di Kecamatan Marobo yang berada pada koordinat 05°01,252′ Lintang Selatan dan 122°16,284′ Bujur Timur. Pulau ini terdiri atas 1 (satu) desa yaitu Desa Pasikuta.

Pasi Kuta 3

Luas pulau ini mencapai 2,96 hektar atau 0,03 kilometer persegi dengan panjang garis pantai mencapai 0,89 kilometer.

Jumlah penduduk pulau yang dihuni oleh etnis Muna, Bugis dan Bajo mencapai 900-an jiwa dengan 149 rumah tangga.

Ciri-ciri fisik Pulau Pasikuta adalah memiliki pantai berpasir putih kasar bercampur batuan kecil dengan ketinggian daratan berkisar 1 – 4 meter di atas permukaan laut.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau tersebut adalah  sekolah dasar, SMP, dan Mesjid.

DESA TERAPUNG TAPI

Tapi-tapi merupakan desa terapung. Disebut sebagai Desa Terapung karena wilayah yang dijadikan kawasan pemukiman tersebut berada di lokasi yang tidak tampak massa daratannya meskipun pada saat surut terendah.

tapi-tapi

Secara administratif, Desa Tapi-Tapi masuk dalam wilayah hukum Kecamatan Marobo.

Jumlah penduduk yang bermukim di Desa terapung Tapi-Tapi mencapai 2.300-an jiwa dengan 149 rumah tangga. Penduduk Desa Tapi-tapi merupakan perpaduan beberapa etnis yakni Etnis Muna, Bugis dan Bajo.

Pulau ini memiliki kondisi perairan laut yang cocok untuk kegiatan budidaya laut seperti budidaya teripang, lobster, rumput laut, dan lainnya.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

Ramadan..........

PULAU-PULAU KECIL BERPENGHUNI DI SELAT TIWORO


PULAU TASIPI

Pulau Tasipi merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang terdapat di Selat Tiworo.

Pulau Tasipi 1

Pulau ini merupakan wilayah administratif Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat yang berada pada koordinat 04o37’283” Lintang Selatan dan 122o20’002” Bujur Timur.

Luas pulau ini hanya sekitar 3 (tiga) hektar dengan panjang garis pantai kurang dari 1 (satu) kilometer.

Pulau Tasipi mulai dihuni oleh etnis Bajo sejak tahun 1960-an. Seiring perjalanan waktu, pulau ini juga didiami oleh etnis Muna dan Bugis.

Saat ini, penduduk yang bermukim di Pulau Tasipi diperkirakan sudah mencapai 800-an jiwa. Seluruh penghuni pulau ini beragama Islam.

Mata pencaharian penduduk yang mendiami Pulau Tasipi umumnya nelayan dan pembudidaya ikan.

Pulau Tasipi 2

Di Pulau ini terdapat infrastruktur dermaga, sekolah, balai desa, Mesjid, genset, dan pembangkit listrik tenaga surya.

 

PULAU TIGA

Pulau Tiga merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap di perairan Selat Tiworo.

Pulau Tiga 1

Terletak pada koordinat 04o39’948” lintang selatan dan 122o18’006” bujur timur.

Merupakan wilayah administratif Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat.

Luas pulau ini sekitar 109 hektar dengan panjang garis pantai sekitar 5 kilometer.

Sejak zaman penjajahan Belanda, pulau ini sudah dihuni oleh etnis Bajo, Bugis, dan Muna.

Penduduk pulau ini mencapai 500-an jiwa yang seluruhnya beragama Islam.

Mata pencaharian penduduk umumnya nelayan dan pembudidaya ikan dan/atau rumput laut.

Pulau ini dikenal dengan aneka hasil laut seperti ikan pelagis, ikan demersal, kepiting rajungan, rumput laut dan hasil laut lainnya.

Di Pulau Tiga terdapat sekolah, Mesjid, balai desa, listrik tenaga surya dan genset.

 

PULAU SANTIGI

Pulau Santigi merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang terdapat di perairan Selat Tiworo.

Pulau Santigi 3

Pulau yang merupakan wilayah administratif Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat ini terbentuk dari endapan pasir putih dan bebatuan.

Di pulau ini terdapat vegetasi mangrove dan kelapa. Selain itu, terdapat pula ekosistem terumbu karang di sekitar perairan pulau ini.

Ketinggian daratan Pulau Santigi berkisar antara 1 – 10 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah sekitar 300-an hektar. Sementara panjang garis pantainya hanya sekitar 3 (tiga) kilometer.

Pulau ini sudah didiami sejak tahun 1980-an lalu oleh etnis Bajo, Bugis, dan Muna. Saat ini, penduduk yang bermukim di Pulau Santigi diperkiraan mencapai 300-an jiwa. Seluruh penduduk di pulau ini beragama Islam.

Mata pencaarian utama masyarakat di pulau ini adalah nelayan dan pembudidaya ikan.

Pulau Santigi 2

Di pulau ini terdapat sekolah, mesjid, balai desa, listrik (genset), dan dermaga tambatan perahu.

 

PULAU PASI PADANGAN

Pasi Padangan merupakan pulau kecil berpenghuni tetap.

pulau pasi padanga 1

Pulau ini terbentuk dari endapan pasir putih dengan ketinggian daratan kurang dari 2 (dua) meter di atas permukaan laut. .

Berada pada koordinat 04o58’242” Lintang Selatan dan 122o10’469” Bujur Timur.

Merupakan wilayah administratif Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat.

Luas pulau sekitar 2 (dua) hektar. Panjang garis pantainya kurang dari 1 (satu) kilometer.

Pulau ini dihuni sejak tahun 1950-an oleh etnis Bajo. Penduduknya mencapai 500-an jiwa.

Vegetasi utama pulai ini adalah pohon kelapa.

 

PULAU MANDIKE

Pulau Mandike merupakan pulau kecil berpenghuni tetap yang daratanya terbentuk dari endapan pasir putih.

Pulau Mandike 2

Luas pulau yang terdapat di perairan Selat Tiworo ini hanya sekitar 7 (tujuh) hektar.  Panjang garis pantainya sekitar 1 (satu) kilometer, dan ketinggian daratanya hanya 2 (dua) meter di atas permukaan laut.

Selain pasir putih, di pulau ini juga terdapat bebatuan cadas dan pohon kelapa sebagai vegetasinya.

Pulau Mandike merupakan wilayah administratif Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat.

Pulau ini sudah didiami sejak tahun 1930-an oleh masyarakat etnis Muna, Bugis dan Bajo. Saat ini, penduduk yang menghuni Pulau Mandike diperkirakan sudah mencapai seribuan jiwa.

Seluruh penduduk di pulau ini beragama Islam. Mata pencaharian mereka adalah nelayan dan pembudidaya ikan.

Infrastruktur dan fasilitas di pulau ini antara lain pelabuhan tambatan perahu, mesjid, sekolah, balai desa, puskesmas, pasar, dan peneragan (LTS dan generator).

 

PULAU MAGINTI

Pulau Maginti merupakan salah satu pulau yang termasuk kategori pulau kecil berpenghuni tetap. Luas pulau ini sekitar 35 hektar dengan panjang garis pantainya berkisar antara 3 – 4 kilometer.

pulau maginti 1

Pulau yang berada pada koordinat 04o50’158” Lintang Selatan dan 122o11’803” Bujur Timur ini merupakan daerah terluar dari wilayah Kabupaten Muna Barat. Seperti halnya Pulau Gala, Pulau Maginti juga memiliki jarak yang cukup dekat dengan Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana.

Secara administratif, pulau Maginti merupakan wilayah Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat. Di pulau ini terdapat 2 (dua) desa yakni Desa Maginti dan Desa Kangkunawe.

Penduduk yang menghuni Pulau Maginti merupakan perpaduan 3 (tiga) etnis yakni Muna, Bugis, dan Bajo dengan jumlah penduduk kira-kira mencapai 2.000-an jiwa. Bahasa Bajo merupakan bahasa sehari-hari penduduk Pulau Maginti.

Daratan pulau ini tersusun dari komponen/material tanah dan pasir (tanah berpasir). Pesisir pantainya tersusun atas materail pasir kasar dan bebatuan.

Fasilitas dan infrastruktur di pulau ini meliputi sekolah, puskesmas, mesjid, balai desa, sumur air bersih, dan dermaga.

Pulau Maginti merupakan salah satu daerah penghasil kepiting rajungan, lobster, ikan kerapu, ikan-ikan demersal, ikan-ikan pelagis, dan rumput laut.

 

PULAU KATELA

Pulau Katela merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang berada di Selat Tiworo. Daratan pulau ini hanya berada sekitar 2 (dua) meter di atas permukaan laut.

pulau katela 1

Secara administratif, Pulau Katela masuk dalam wilayah Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat.

Pulau ini memiliki garis pantai kurang dari 1,5 kilometer dengan luas wilayahnya kurang dari 8 (delapan) hektar.

Sejak tahun 1970-an, pulau ini sudah dihuni oleh masyarakat dari etnis Muna. Saat ini, penduduk yang mendiami Pulau Katela sudah melebihi angka 1.000-an orang. Mata pencaharian penduduk Pulau Katela adalah nelayan dan pembudidaya ikan dan/atau rumput laut.

Vegetasi pulau ini adalah mangrove jenis Soneratia dan Rhizophora. Terdapat pula hamparan pasir pada tepian pulau.

Di pulau ini terdapat infrastruktur dermaga, sekolah dasar, mesjid, dan balai desa.

 

PULAU INDO

Pulau Indo merupakan pulau kecil berpenghuni tetap. Terletak di Selat Tiworo.

pulau indo 2

Secara administratif berada di wilayah Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat.

Luasnya sekitar 5 hektar dengan ketinggian hingga 3 meter di atas permukaan laut.

Panjng garis pantainya hanya sekitar 1 (satu) kilometer.

Terdapat hamparan pasir putih, serta pohon kelapa dan pinus sebagai vegetasinya.

Sekitar tahun 1963 lalu, pulau ini sudah mulai dihuni oleh 3 (tiga) kepala keluarga.

Saat ini penduduknya sudah mencapai puluhan orang.

 

PULAU GALA

Pulau Gala merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang terdapat di Selat Tiworo.

Pulau gala 2

Pulau ini berada pada koordniat 04o52’200” Lintang Selatan dan 122o16’308” Bujur Timur.

Titik kooridnat tersebut masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat.

Pulau ini memiliki luas sekitar 62 hektar dan panjang garis pantainya hanya berkisar antara 3–4 kilometer.

Masyarakat dari etnis Muna menghuni pulau ini sejak zaman penjajahan Belanda. Jumlah penduduknya saat ini kira-kira sekitar 400-an jiwa lebih.

Mata pencaharian penduduk umunya nelayan dan pembudidaya ikan.

Di pulau ini terdapat sekolah dasar, mesjid, balai desa, puskesmas, dermaga, dan pasar tradisional.

 

PULAU BANGKO

Pulau Bangko merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang masuk dalam wiayah administrasi Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat.

pulau bangko 1

Luas pulau ini kira-kira mencapai 300-an hektar. Panjang garis pantainya berkisar antara 7-8 kilometer.

Penduduk yang tercatat sebagai penghuni pulau ini bermukim (membuat) rumah terapung di atas permukaan laut yang lokasinya dekat dengan Pulau Bangko. Jaraknya kira-kira sekitar 300-an meter dari Pulau Bangko. Atas kondisi tersebut, penduduk Pulau Bangko disebut sebagai penduduk Desa Terapung Bangko.

Jumlah penduduk yang menghuni pulau ini kira-kira mencapai 1.400-an jiwa yang seluruhnya beragama Islam.

Pulau ini ditandai dengan vegetasi mangrove jenis Rhizophora mucronata, pantai pasir berlumpur tipis, serta terdapat tanaman kelapa, pisang dan kakao pada daratan/dataran dibagian tengah pulau.

Mata pencaharian penduduk Pulau Bangko umumnya nelayan. Di pulau ini terdapat kearifan lokal berupa sanksi menanam 10 (sepuluh) pohon bakau bagi warga/penduduk yang menebang mangrove/bakau tanpa izin atau mengambil bakau yang belum layak panen tanpa prosedur yang telah ditetapkan oleh masyarakat setempat.

Selain itu, terdapat pula Tradisi Maduai Pina sebagai kearifan lokalnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut.

Di pulau ini memiliki listrik tenaga surya (LTS), jalan titian, Pustu, balai desa, sekolah, dan mesjid.

 

PULAU BALU

Pulau Balu merupakan salah satu pulau berpenghuni tetap yang terdapat di Selat Tiworo, Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat.

Pulau Balu 1

Luas pulau ini kira-kira mencapai 100-an hektar dengan panjang garis pantai berkisar antara 4-5 kilometer.

Pulau ini dihuni lebih dari seribuan jiwa penduduk dari etnis Bajo, Bugis dan Muna.

Seluruh penghuni pulau ini beragama Islam dengan mata pencaharian sebagai nelayan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, PNS, tukang kayu dan tukang batu. .

Di pulau yang tak jauh dari dermaga Tondasi itu memiliki fasilitas/sarana infrastruktur berupa dermaga, balai desa, puskesmas, mesjid, dan mushollah.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

Ramadan.......,,,,

Kisah Saidi Raba Dan Kehamilan Permaisuri Raja Muna Sangia La Tugho Di Usia 90 Tahun


Syahdan, suatu masa sekira abad ke 17, Kerajaan Muna dipimpin oleh seorang raja yang bernama Laode Abdul Rahman ( 1671 – 1716 ), gelar Sangia)1  Latugho. Pemberian gelar itu kemungkinan dikarenakan pada saat berkuasa, Kamali nya)2  dibangun di kampong Latugho, suatu kampong yang ada di Kerajaan Muna. Pemberian gelar sesuai dengan nama tempat kediaman atau dimakamkan seorang Omputo atau pemimpin lainnya semacam itu adalah hal yang biasa di Kerajaan Muna.

Dikisahkan dalam lembaran sejarah kebudayaan Muna, Sangia Latugho menikah dengan seorang perempuan yang telah berusia hampir 90 tahun yang bernama Wa Sope)3 . Isteri dari sangia Latugho tersebut adalah perempuan yang pernah dijodohkan dengan ayahanda beliau Laode Ngkadiri yang bergelar Sangia Kaindea) , namun perjodohan itu di tolak oleh Sangia Kaindea)4.

Akibat dari penolakan terhadap perjodohan itu, menimbulkan perselisihan antara Kerajaan Muna dengan Kesultanan Buton sehingga beberapa kali terjadi perang fisik )5. Perselisihan itu kemudian ditunggangi oleh VOC yang sebelumnya ditolak kehadirannya di Muna dan Buton oleh Omputo Sangia Kaindea.

Jadi kemungkinan untuk menghindari perselisihan yang berkepanjangan, Sangia Latugho memilih untuk menikahi perempuan yang lebih cocok sebagai ibunya tersebut yang juga merupakan orang yang pernah dijodohkan dengan ayahandanya itu.

Setelah sekian lama berumah tangga, Omputo Sangia Latugho belum juga dikaruniai seorang putera . Hal ini membuat Sang Raja gunda gulana. Harapanya untuk mendapatkan seorang putera seakan telah tertutup mengingat isterinya yang sudah uzur yang tidak mungkin bisa hamil. Hampir setiap saat Omputo Sangia Latugho menghabiskan waktunya hanya termenung di Tambi)6  Kamalinya, memikirkan perjalanan Kerajaan Muna yang dipimpinya serta penerus tahtanya.

Beliau tidak menginginkan, bila sepeninggalnya nanti tahta raja di Kerajaan Muna menjadi rebutan orang-orang yang tidak berhak dan tidak kapabel atau Kerajaan Muna di kuasai oleh kerajaan lain. Keresahan Omputo Sangia Latugho itu sangat beralasan mengingat konflik dengan Kesultanan Buton yang pernah tercetus ketika ayahandanya berkuasa belum benar-benar pulih.

Suatu sore, ketika Omputo Sangia Latugho sedang termenung di tambi Kamalinya, tiba –tiba seorang Kafowawe )7 yang sedang bertugas datang menghampirinya dan menyampaikan suatu kabar.
“ Omputo , beberapa waktu belakangan ini kami melihat tuanku selalu termenung saja. Adakah hal yang tuanku risaukan? “ sapa Kafowawe itu penuh hormat.
“ Benar Kafowawe, saya benar-benar resah mengingat usia saya yang semakin tua, sementara Allah belum juga mengaruniai saya seorang anak pun. Dipihak lain, perselisahan dengan saudara kita Buton belum sepenuhnya pulih. “ ujar Omputo Sangia Latungho pada abdinya tersebut seraya mengarahkan pandangannya jauh kedepan dengan tatapan kosong.

Belum lagi Kafowawe menimpali omongan Tuannya, Omputo)8  Sangia Latugho melanjutkan pembicaraannya “ Yang saya takutkan, bila saya meninggal nanti, sementara tidak ada penerus saya maka tahta kerajaan akan menjadi rebutan. Dan parahnya lagi, VOC yang telah bercokol di Buton akan memanfaatkan situasi ini dengan melakukan adu domba antara Muna dan Buton dengan memperucing perselisihan yang sebelumnya pernah terjadi “ terang nya panjang lebar.
“ Ampun tuan ku, menurut informasi, di Bharata)9  Loghia bermukim seorang Ulama besar bernama Saidi Raba)10 . Ulama ini terkenal sakti dan doa-doa nya sangat makbul. Jadi kalau Tuan ku tidak keberatan kita undang saja Ulama itu datang ke kemari dan mendoakan agar Rimbi)11  bisa hamil dan Tuan ku bisa mendapatkan keturunan “ ucap Kafowawe itu.
“ Tapi apa mungkin, Rimbi yang sudah berusia 90 tahun itu bisa hamil ? “ timpal Raja Sangia Latugho yang terlihat mulai marah karena merasa di hina oleh Kafowawe nya itu.
“ Kita coba saja dulu tuan ku, siapa tahu Allah punya kehendak lain dan apa yang menjadi impian tuan ku bisa di Kabulkan Nya “ kata Kafowawe itu dengan nada gemetar karena takut raja nya murka dengan apa yang disarankan itu.

Mendengar argument Kafowawe itu, Omputo Sangia Latugho mulai berpikir mungkin sebaiknya dia mengikuti saja saran bawahannya itu. Sebagai penganut Islam yang taat dia percaya bahwa Allah SWT adalah Maha Kuasa. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Hanya dengan ucapan Kunfayakun maka atas kehendak Nya semuanya bisa terjadi. Bukankah perempuan suci Mariam bisa hamil dan melahirkan Nabi Isa tanpa seorang ayah? Pikir Omputo Sangia Latugho.

Sementara itu, hati kecilnya juga masih mempertanyakan apakah benar doa-doa Saidi Raba makbul seperti apa yang di katakana Kafowawe nya itu? Tapi sebagai ikhtiar rasanya tidak ada salahnya kalau saram Kafowawenya itu di coba.
“ Baiklah, kalau begitu saya tugaskan anda untuk menemui Ulama itu. Katakan padanya bahwa Saya Omputo Muna Sangia Latugho mengundang beliau untuk bertandang Kota Wuna sekaligus meminta tolong untuk mendoakan Rimbi agar bisa hamil “ ucap Omputo Sangia Latugho member perintah pada kafowawenya.
“ Ampun tuan ku, titah baginda segera saya lakukan “ sambut Kafowawe seraya berepamitan dan mohon doa restu agar tugasnya tersebut berjalan sesuai rencana.

Setelah mendapat tugas dari tuan nya, Kafowawe itu langsung bergegas menuju Loghia untuk menemui Saidi Raba. Sesampai di Loghia, Kafowawe tidak langsung menuju ke kediaman Ulama besar dan sakti itu, tetapi terlebih dahulu menemui Kino Bhaerata Loghia untuk menyampaikan tugas dari Penguasa Tanah Muna yang diembankan padanya. Kafowawe yang setia itu menjelaskan bahwa misinya ini adalah sangat penting bagi kelangsungan kerajaan. Olehnya itu dia mohon bantuan Sang Kino untuk mengantar dirinya menemui Saidi Raba.

Setelah semuanya jelas, akhirnya Kafowawe bersama Kino Bharata menemui Saidi Raba yang bermukim di lingkungan Masjid Quba)12  yang letaknya tidak jauh dari kediaman Kino Bharata. Saidi Raba menyambut keduanya dengan suka cita. Setelah berbasa basi seadanya, Kafowawe dan Kino) Bharata Loghia menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“ Sebenarnya kedatangan kami kemari untuk menyampaikan undangan Omputo Kino Wuna pada Yang Mulia tuan Ustazd. Beliau berharap Yang Mulia berkenang untuk bertandang ke Kamali beliau “ ucap Kafowawe menyampaikan maksud kedatangan mereka pada Saidi Raba. “ Kami juga perlu sampaikan bahwa omputo saat ini benar-benar dalam kegalauan sebab sampai usianya yang sudah mulai lanjut saat ini, beliau belum juga di karuniai anak untuk meneruskan tahtanya “ lanjutnya.
“ Oh, ya. Memangnya sudah seberapa tua Sang Omputo Kino Wuna itu dan isterinya ? “ Tanya Saidi Raba merespon kedua tamunya itu.
“ Omputo kira-kira berusia 65 tahun sedangkan isterinya sudah lebih dari 90 tahun “ tukas Kafowawe menjawab pertayaan Sang Ulama.
“ Kenapa Omputo tidak kawin lagi saja ? Bukankah sebagai seorang Penguasa, beliau dengan sangat mudah untuk mendapat isteri dari perempuan-perempuan tercantik di negeri ini? “ selah Saidi Raba dengan sedikit bingung.
“ Sebenarnya dewan sara)13  telah memberikan masukan pada Omputo agar menikah lagi mengingat isteri beliau tidak mungkin hamil lagi mengingat usianya yang sudah tua. Namun karena Omputo sangat menyayangi isteri nya, maka beliau tidak mengindahkan saran dewan sara tersebut.” Kafowawe menjelaskan mengapa Omputo tidak mau menikah lagi. “ Sebenarnya dengan penolakan terhadap masukan dari dewan sara itu, Omputo bisa saja di gua)14 , namun karena Omputo sangat berwibawa dan di segani oleh seluruh masyarakat Muna, maka beliau tetap pada posisinya “ lanjut nya.
“ Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu ? “ Saidi Raba kembali bertanya.
“ Sambutlah undangan Omputo itu dan berkunjunglah ke Kamali beliau “ sela Kino Bharata Loghia yang sedari tadi hanya terdiam mendengar percakapan Saidi Raba dan Kafowawe utusan Omputo. “ Di sana Yang Mulia mendoakan Rimbi agar bisa hamil dan dikaruniai seorang putera.” Lanjut nya.
“ Sebenarnya ini berat, apalagi Rimbi telah berusia lanjut. Tapi kita coba saja, sebab bagi Allah SWT tidak ada yang tidak mungkin.” Ungkap Saidi Raba dengan jidat berkerut.
“ Jadi Yang Mulia mau menyambut undangan Omputo ? “ sambar Kino Bharata Loghia dan Kafowawe bersamaan.
“ Insya Allah, tapi ada syaratnya. Kalau Omputo menyanggupi syarat itu maka saya akan bertandang ke Kamali beliau sekaligus mendoakan agar Rimbi bisa hamil dan mereka di karaniai anak yang saleh, berbakti pada kedua orang tua dan berguna bagi bangsa dan negaranya serta berwibawa “ kata Saidi Raba member syarat. “ Tapi bila syarat saya itu tidak di sanggupi maka saya tidak akan bertandang ke Kamali beliau.” Lanjutnya.
“ Apa syaratnya Ustadz ? “ sambar Kafowawe penuh semangat.

“ Mudah saja kok yaitu Omputo harus menjalankan ajaran Islam secara kaffa, Shalat tahajut setiap malam, berpusa selama 40 hari penuh, memerintahkan agar semua warga yang ada di dalam Kotano Wuna untuk melaksakan shalat jumat di masjid serta memberikan tempat pada saya untuk mengajarkan islam dalam lingkungan Kotano Wuna.” Ujar Saidi Raba menguraikan syarat nya. “ sebelum Omputo menyanggupi syarat itu maka saya belum mau datang ke Kotano Wuna. Untuk itu, Kafowawe dan Kino Bharata pulang saja dulu dan datang kembali kalau Omputo sudah menyanggupinya. “ lanjutnya.
“ Kalau hanya itu syarat, saya rasa Omputo tidak keberatan. “ sambut Kafowawe dan Kino Bharata Loghia berbarengan seraya berpamitan untuk pulang.


Sesampai di Kotano Wuna, Kafowawe yang ditugaskan menemui Saidi Raba menghadap Omputo Sangia Latugho guna melaporkan hasil pertemuannya dengan Saidi Raba termasuk menyampaikan syarat yang harus dilakukan oleh Omputo bila ingin di doakan oleh ulama sakti tersebut. Mendengar syarat yang diajukan oleh Saidi Raba, Omputo Sangia Latugho langsung menerimanya tampa berpikir panjang.

Setelah cukup 40 hari menjalankan semua syarat yang di berikan oleh Saidi Raba, Omputo Sangia Latugho kembali memanggil Kafowawe untuk diperintahkan kembali ke Loghia guna menjemput Saidi Raba.
“ Sudah 40 hari saya menjalankan semua syarat yang diajukan oleh Saidi Raba. Kini saat kamu menjemput Ulama besar itu sekaligus menyampaikan padanya bahwa saya telah melaksanakan semua syarat yang beliau ajukan “ tegas Omputo Sangia Latugho pada Kafowawenya. “ Saya juga mengutus tiga orang lainya untuk mendampingi anda untuk menjemput Ulama besar itu sebagai rasa hormat saya padanya.” Lanjut Omputo Sangia Latuhgo.
“ Baiklah tuan ku. Dengan iringan doa tuan ku hamba akan menjalanka titah tuanku dengan penuh rasa tanggungjawab.” Sembah Kafowawe seraya memohon pamit.
Sepanjang perjalanan dari Kotano Wuna ke Loghia, Kafowawe dan tiga orang temannya itu terus berbincang apakah benar Saidi Raba bisa di kabulkan doa nya oleh Allah sehingga Omputo Rimbi bisa hamil dan melahirkan keturunan sebagai putera mahkota penerus raja di Kerajaan Muna? Kerisauan yang melanda hati Kafowawe itu sangat beralasan sebab walau yang mengusulkan ide itu adalah dirinya, namun mengingat usia Omputo Rimbi yang sudah uzur maka mustahil untuk bisa hamil.
Sesampai nya di Loghi Kafowawe dan tiga temannya tersebut langsung menemui Saidi Raba, dan langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka. Tentu saja kunjungannya ke kediaman Saidi Raba kali ini tetap didampingi oleh Kino Barata Loghia. Mendengar apa yang disampaikan utusan Omputo Sangia Latugho itu, Saidi Raba hanya tersenyum kecil seraya mengiyakan untuk menyambut undangan Penguasa di Negeri Muna itu. Tampa pikir panjang lagi Saidi Raba langsung mengajak ke empat utusan Sangia berangkat ke Kotano Wuna tempat Kamali Omputo Sangia Latugho.

Di Kamali Omputo Sangia Latugho, Saidi Raba langsung disambut oleh tuan rumah dengan penuh kehangatan. Rasa gembira betul-betul menyelimuti hati dan perasaan Omputo Sangia Latugho karena harapanya untuk mendapatkan seorang putera seakan bisa terkabul.

Omputo Sangia Latugho benar-benar sudah tidak sabar, sehingga walau tamunya baru sedikit beristirahat beliau langsung meminta tamunya itu untuk melaksanakan ritul, mendoakan isterinya agar bisa hamil seperti yang dijanjikan. Maka dipanggilah Omputo Rimbi ke ruang tamu untuk melaksanakan ritual dan memanjatkan doa pada Allah SWT.

Namun betapa terkejutnya Saidi Raba begitu melihat Omputo Rimbi yang telah bungkuk dan rambutnya penuh uban. Tapi karena terlanjut berjanji, Saidi Raba mencoba mengendalikan dirinya seraya berserah diri dan bermunajat pada Allah SWT semoga apa yang ikhtiarkan bisa terkabul.
“ Tolong ambilkan air untuk memandikan Omputo Rimbi “ pinta Saidi Raba pada Kafowawe.
Setelah dimandikan oleh Saidi Raba, dalam waktu sekejab tampang Omputo Rimbi benar-benar berubah dan terlihat bagai gadis remaja. Semua yang menyaksikan peristiwa tersebut terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sehabis Omputo Rimbi berganti pakaian, Saidi Raba melanjutkan ritualnya dengan memanjatkan doa pada Allah SWT agar Omputo Rimbi bisa hamil. Sebelum berdoa, Saidi Raba meminta pada Omputo untuk terus memperhatikan matanya.
“ Bila nanti air mataku setetes menetes dari mata kanan ku itu berarti Ompito akan dikaruniai anak laki-laki. Bila menetes dari mata kiriku berarti perempuan, sedangkan bila menetes dari dua mataku beerarti kembar satu laki-laki dan satunya lagi perempuan “ pinta Saidi Raba yang langsung melaksanakan ritualnya.
Selama ritual doa dijalankan, Omputo Sangia Latugho terus memperhatikan wajah Saidi Raba, sehingga tidak sekalipun matanya berkedip. Beliau benar-benar ingin tahu dari mata sebelah mana air mata Saidi Raba menetes. Dengan demikian dia dapat mengetahui jenis kelamin anak nya.

Setelah selesai berdoa, Saidi Raba bertanya pada Omputo Sangia Latugho dari mata sebelah mana air matanya menetes ketika berdoa tadi. Maka Omputo Sangia Latugho menjawab bahwa yang dilihat tadi air mata Saidi Raba mengalir dari matanya yang sebelah kanan. Namun anehnya, yang menetes tadi bukan setetes, tapi ada dua tetes.
Mendengar jawaban Omputo Sangia Latugho, Saidi Raba lansung menimpali “ Seperti yang saya katakana tadi, bila hanya setetes yang tumpah itu artinya Omputo akan dikarunia seorang anak. Begitu juga bila ada dua tetes yang tumpah dari mata kanan dan kiri berarti Omputo akan mendapatkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Namun karena tadi yang tumpa dua tetes dan menetesnya dari mata kanan, itu artinya Omputo akan dikaruniai anak kembar yang keduanya adalah laki-laki.” Jelas Saidi Raba panjang lebar. “ Olehnya itu yang lahir pertama saya namakan Hasan dan kedua Husain. Hal itu untuk mengenang cucu Rasulullah Saw.” Lanjutnya.

Tidak berapa lama setelah Saidi Raba melaksanakan ritual itu, tersiar kabar Omputo Rimbi hamil. Mendengar kabar itu, Omputo Sangia benar-benar bahagia. Hampir disetiap kesempatan, beliau selalu menceritakan hal yang membahagiakan itu. Demikian juga hal nya dengan masyarakat Muna, mereka juga terlarut dalam kebahagiaan yang dirasakan oleh rajanya.

Seperti yang dikatakan Saidi Raba , Omputo Rimbi benar-benar melahirkan anak laki-laki kembar. Olehnya itu begitu lahir, Omputo Sangia Latugho memberi nama keduanya dengan Laode Hasan dan Laode Husain. Sesuai dengan harapan orang tuanya, Laode Hasan dan Laode Husain tumbuh menjadi seorang pemimpin.
Karena dalam perkembangannya Laode Husain lebih menonjol dari segi kepemimpinan dan kewibawaannya, maka walau beliua kemudian dinobatkan sebagai omputo menggantikan ayahandanya, Sedangkan Laode Hasan diangkat menjadi Kino Ghoerano)15 Kabawo.

Omputo Sangia Latugho juga menepati janjinya yang lain yakni memberikan keleluasaan pada mengajarkan agama islam di dalam lingkungan Kotano wuna, kota dalam benteng)16   yang panjangnya lebih dari 9000 meter . Masjid Kotano Wuna yang dibangun oleh Omputo La Posasu, Raja Muna ke-8 pada tahun 1614)17  menjadi pusat peribadatan sekaligus dijadikan pusat pengembangan dan pendidikan agama islam. Laode Hasan dan Laode Husain, putera kembar Omputo Sangia Latugho juga belajar agama islam dari Saidi Raba di masjid tersebut.

 

Bibliography1

[1] Sangia ( bahasa muna ) berarti keramat atau yang dikeramatkan

[2] Kamali adalah rumah kediaman raja di Kerajaan Muna

[3] Wa Sope adalah anak dari Sapati Baluwu, sapati atau patih di Kesultanan Buton. Literature Sejarah Kerajaan Muna mengatakana bahwa Wa Sope pernah diasuh oleh Spelman, Gubernur Hindia Belanda di Sulawesi ( La Oba,  2005)

[4)  Kaindea ( bahasa Muna ) adalah areal perkebunan, biasanya kaindea berisikan tanaman sejenis. Pemberian gelar Sangia Kaindea pada Raja Laode Ngkadiri karena beliau pernah di tangkap diatas sebuah kapal yang diatasnya ada tamannya oleh koalisi Buton, Ternate dan Belanda. Kehadiran Laode Ngkadiri diatas kapal tersebut karena diundang oleh Belanda untuk melakukan perundingan guna mengakhiri konflik antara Muna dan Buton namun pada saat menghadiri perundingan tersebut, Laode Ngkadiri justeru ditangkap dan diasingkan ke Ternate

[5] Baca  La Oba, , 2005:43&62 , Uddin. 1977: 205, La Kimi Batoa 1993

[6] Tambi adalah sejenis teras pada rumah adat Muna.

[7]Kafowawe adalah suatu jabatan di Kerajaan Muna yang bertugas di kamali Raja. Tugas utama kafowawe adalah memberikan pelayanan

[8] Omputo, adalah sebutan bagi seorang raja oleh masyarakat Muna,

[9]  Bharata adalah sebuah wilayah otonom sekaligus sebagai daerah pertahanan laut  di Kerajaan Muna. Bharata membawahi beberapa kampong  dan di pimpin oleh Kino Bharata. Bharata di tetapkan oleh Raja Muna ke-8 La Posasu pada tahun 1542.  Di Kerajaan Muna ada tiga Bharata yaitu Bharata No Loghia, Laghontoghe dan Wasolangka. Ketika Kesultanan Buton di pimpin oleh Sultan La Elangi  cucu  La Kilaponto  Sistem pertahanan Bharata ini di adopsi di Kesultanan Buton. La Kilaponto adalah Raja Muna ke-7  yang kemudian mendirikan Kesultanan Buton pada tahun 1541 ( Dokumenta 1977, LM. Tanzilu, M. Alimuddin. 2008, La Kimi Batoa, 1993 )

[10] Saidi Raba adalah penyebar agama islam ke-3 di Kererajaan Muna,( La Kimi Batoa, 1993 & La Oba 2005 )

[11] Rimbi adalah permaisuri raja di Kerajaan Muna

[12] Masjid Quba Loghia adalah masjid ke -2 yang didirikan  di Kerajaan Muna.  Masjid ini bangun oleh Saidi Raba  pada tahun 1663 untuk melaksanakan shalat sekaligus pusat pendidikan agama islam bagi masyarakat Loghia.

[13] Sara adalah  perangkat Kerajaan Muna yang berwenang menetapkan hokum, mengangkat dan memberhentikan raja serta memberikan nasehat dan pertimbangan pada raja

[14] Gua ( bahasa muna ) artinya di dorong ( dijorokin ) dengan tidak layak atau di singkirka atau di lengserkan dari jabatan.

[15] Ghoera adalah satuan wilayah setingkat distrik di system pemerintahan Kerajaan Muna

[16] Baca J.Couvreur , 1925 yang diterjemahkan oleh Rene Vaderberg dengan judul Sejarah Dan Kebudayaan Kerajaan Muna,  2005

[17)  Baca: La Kimi Batoa 1991, formuna.wordpress.com/raja-raja-muna/raja-raja-wuna/

Makna kata “BUNGA” dalam Bahasa Daerah Muna


“BUNGA” merupakan salah satu kata dalam bahasa daerah Muna. Kata “BUNGA” jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki sekitar 12 makna/arti. Diantara arti kata “BUNGA” dalam bahasa Indonesia adalah rente/riba/bunga uang, gambar/motif, tumbuhan/tanaman untuk hiasan dan lain-lain……

Beranjak dari berbagai arti/makna kata “BUNGA” tersebut, hal menarik untuk diulas adalah “BUNGA” dalam konteks riba/rente/bunga uang.

riba

Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan).

Riba dapat dijumpai pada dua transaksi, yaitu transaksi jual beli dan utang piutang. Menurut ajaran Islam, ada dua jenis riba yakni riba fadhl dan riba nasiah.

Fadhl berarti riba yang diharamkan karena kelebihan barang yang sama jenisnya. Misalnya beras ditukar dengan beras yang lebih banyak. Ini dilarang karena jenisnya sama dan biasanya salah satu penukar berasnya dua kali lebih banyak dengan kualitas lebih rendah.

Sementara riba nasiah berarti riba yang dilarang karena adanya penentuan waktu atau tempo. Misalnya, seseorang meminjam uang Rp 100 ribu lantas jika sudah satu bulan tidak dibayarkan, nilai pinjamannya akan bertambah. Ini biasa disebut dengan bunga. Hukumnya haram karena salah satu akan terdzalimi.

Riba sangat diharamkan dalam Islam. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 dan 276 diterangkan tentang larangan memakan harta riba. “Orang-orang yang memakan riba tdak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila……..” (Q.S. Al Baqarah : 275).

Begitu dahsyatnya riba itu, sampai-sampai disebutkan bahwa dosa menjalankan riba setara dengan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri. Berzina saja sudah berdosa, apalagi berzinanya dengan ibu kandung sendiri. Naudzubillahi minzalik.

Hadis Nabi Muhammad SAW, “Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar dari pada berzina sebanyak 36 kali“. (HR. Ahmad)*

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

ramadan.......