PULAU GALA


Pulau Gala merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang terdapat di Selat Tiworo.

pulau-gala-2

Pulau ini berada pada koordniat 04o52’200” Lintang Selatan dan 122o16’308” Bujur Timur.

Titik kooridnat tersebut masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat.

Pulau ini memiliki luas sekitar 62 hektar dan panjang garis pantainya hanya berkisar antara 3–4 kilometer.

Masyarakat dari etnis Muna menghuni pulau ini sejak zaman penjajahan Belanda. Jumlah penduduknya saat ini kira-kira sekitar 400-an jiwa lebih.

pulau-gala-1

Mata pencaharian penduduk umunya nelayan dan pembudidaya ikan.

Di pulau ini terdapat sekolah dasar, mesjid, balai desa, puskesmas, dermaga, dan pasar tradisional. la ode muhammad ramadan

Pulau Bangko


Pulau Bangko merupakan salah satu pulau kecil berpenghuni tetap yang masuk dalam wiayah administrasi Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat.

Luas pulau ini kira-kira mencapai 300-an hektar. Panjang garis pantainya berkisar antara 7-8 kilometer.

pulau-bangko-1

Penduduk yang tercatat sebagai penghuni pulau ini bermukim (membuat) rumah terapung di atas permukaan laut yang lokasinya dekat dengan Pulau Bangko. Jaraknya kira-kira sekitar 300-an meter dari Pulau Bangko. Atas kondisi tersebut, penduduk Pulau Bangko disebut sebagai penduduk Desa Terapung Bangko.

Jumlah penduduk yang menghuni pulau ini kira-kira mencapai 1.400-an jiwa yang seluruhnya beragama Islam.

Pulau ini ditandai dengan vegetasi mangrove jenis Rhizophora mucronata, pantai pasir berlumpur tipis, serta terdapat tanaman kelapa, pisang dan kakao pada daratan/dataran dibagian tengah pulau.

Mata pencaharian penduduk Pulau Bangko umumnya nelayan. Di pulau ini terdapat kearifan lokal berupa sanksi menanam 10 (sepuluh) pohon bakau bagi warga/penduduk yang menebang mangrove/bakau tanpa izin atau mengambil bakau yang belum layak panen tanpa prosedur yang telah ditetapkan oleh masyarakat setempat.

Selain itu, terdapat pula Tradisi Maduai Pina sebagai kearifan lokalnya dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut.

Di pulau ini memiliki listrik tenaga surya (LTS), jalan titian, Pustu, balai desa, sekolah, dan mesjid. la ode muhammad ramadan.

Pulau Balu


Pulau Balu merupakan salah satu pulau berpenghuni tetap yang terdapat di Selat Tiworo, Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat.

pulau-balu-1

Luas pulau ini kira-kira mencapai 100-an hektar dengan panjang garis pantai berkisar antara 4-5 kilometer.

Pulau ini dihuni lebih dari seribuan jiwa penduduk dari etnis Bajo, Bugis dan Muna.

Seluruh penghuni pulau ini beragama Islam dengan mata pencaharian sebagai nelayan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, PNS, tukang kayu dan tukang batu.

Di pulau yang tak jauh dari dermaga Tondasi itu memiliki fasilitas/sarana infrastruktur berupa dermaga, balai desa, puskesmas, mesjid, dan mushollah. la ode muhammad ramadan

M O T O N U N O


Motonuno merupakan permandian air tawar (sungai) yang terletak di Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna.

Sungai yang bermuara di lautan ini memiliki jarak dari ibukota Kabupaten Muna di Raha sekitar 10 kilometer.

img_0007

Akses jalan menuju ke lokasi objek wisata ini sudah cukup baik yakni jalan beraspal dengan lebar berkisar antara 3-4 meter.

Permandian ini cukup unik, yakni terletak di kaki sebuh bukit. Di atas bukit tersebut terdapat gua yang didalamnya terdapat danau yang airnya kerap mengalami perubahan warna.

Danau di dalam gua tersebut, menurut penuturan sejumlah warga sekitar, merupakan danau keramat. Air danau tersebut merupakan sumber mata air Motonuno dan menyebar ke berbagai lokasi melalui jalur bawah tanah.

Konon kabarnya, aliran air danau dari gua tersebut berhubungan dengan gua lainya yang didalamnya terdapat air danau.

img_0008

Salah satu danau gua yang berhubungan dengan air danau di gua Motonuno adalah danau di gua Lamaeyo yang letaknya di Desa Lagadi, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat.

Konon kabarnya, benda terapung seperti pikulan kayu yang dihanyutkan di gua Motonuno, setelah tujuh hari kemudian, benda tersebut sudah ditemukan di danau gua Lamaeyo.

Sisi lain dari sungai Motonuno adalah kedalaman airnya. Pada salah satu titik yakni di kaki bukit yang letaknya tepat di bawah gua, memiliki kedalaman hingga puluhan meter.

Penuturan beberapa warga sekitar menyebutkan bahwa suatu hari pernah dilakukan pengukuran dengan menggunakan tali dan pemberat batu. Titik yang diukur kedalamanya adalah dibagian kaki bukit di bawah gua tersebut.

Saat dilakukan pengukuran, pemberat batu yang ditenggelamkan, dirasakan tidak pernah menyentuh dasar sungai, padahal panjang tali yang diulurkan sudah menacapai 40 meter.

Hal lain yang terdapat di permandian Motonuno adalah adanya hal aneh yang terjadi setiap malam jumat. Sejumlah warga mengaku kerap mendengar suara gong dan gendang ditabuh dari dalam gua pada setiap malam jumat.

Motonuno unik dan mistik. Perlu penelusuran lebih mendalam, khsusunya terkait kedalaman serta suara tabuhan gong dan gendang. Mungkin juga perlu peyediaan fasilitas dan infrastruktur pendukung sebuah kawasan wisata.

Beberapa keunikan dan mistik di Motonuno ini dapat dijadikan salah satu materi/bahan promosi wisata bagi pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke lokasi tersebut.SEMOAGA.la ode muhammad ramadan

Prospek Pengembangan Budidaya Laut dan Payau di Kabupaten Muna


Dari 337 kilometer panjang garis pantai dan 2.559,4 kilometer persegi luas lautan Kabupaten Muna, kemungkinannya akan berbanding lurus dengan potensi hasil laut yang terkandung di dalamnya, baik itu yang ditangkap maupun yang dibudidayakan.

Khusus untuk aktivitas penangkapan ikan (berbagai jenis), rata-rata produksi pertahunnya kira-kira mencapai 10 ribuan ton. Angka ini mungkin masih di bawah potensi lestari yang kemungkinanya bisa mencapai angka 35 ribu ton (butuh pembuktian secara ilmiah).

budidaya-laut-1

Untuk produksi dari kegiatan budidaya ikan di Kabupaten Muna, baik itu budidaya laut maupun budidaya payau, bisa diprediksi masih di bawah potensi yang ada. Secara sederhana, luas wilayah laut dan panjang garis pantai bisa dijadikan rujukan untuk memprediksi potensi lahan yang bisa dijadkan lokasi kegiatan budidaya ikan.

Jika merujuk trend perdagangan ikan budidaya, dapat digambarkan bahwa produksi ikan bandeng dalam setahun kira-kira bisa mencapai angka 1.400 ton, udang vanamei sekitar 800 ton pertahun, ikan kerapu sekitar 3 ton pertahun, udang lobster sekitar 0,5 ton pertahun, dan rumput laut kemungkinannya bisa mencapai angka 48.000 ton pertahun.

Jika melihat fakta lapangan saat ini, dapat dikatakan bahwa potensi lahan untuk kegiatan budidaya laut dan payau di Kabupaten Muna yang sudah termanfaatkan masih berada pada kisaran angka kurang dari 50 persen dari potensi yang ada.

Sebenarnya, kegiatan budidaya laut dan budidaya payau jika dikelola dengan baik, akan dapat memberikan kontribusi signifikant bagi kemajuan daerah ini.

Kegiatan budidaya laut dan budidaya payau merupakan salah satu subsektor unggulan perikanan budidaya dalam meningkatkan volume produksinya. Umumnya komoditas dari kegiatan budidaya laut dan payau yang dilakukan pada media keramba jaring apung (KJA), rakit gantung, tambak, dan/atau keramba jaring tancap (KJT) memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di pasaran baik dalam negeri maupun luar negeri.

budidaya-laut-2

Pasar untuk komoditas budidaya laut dan payau masih sangat terbuka dan sebagian besar komoditas budidaya laut dan payau di ekspor keluar negeri (minimal perdagangan antar pulau) dengan nilai jual yang cukup tingggi.

Ada beberapa komoditas yang dapat dibudidayakan dan dikembangakan di Kabupaten Muna (Sebagian sudah dilakukan) seperti rumput laut, ikan bandeng, ikan kerapu, ikan kakap, ikan beronang, teripang, ikan kuwe, kerang, udang lobster, kepiting bakau, dan udang vanamei.

RUMPUT LAUT
Rumput laut selain dapat di budidaya di laut juga dapat dibudidayakan di air payau, namun jenisnya berbeda. Rumput laut yang sering dibudidayakan dan dikembangkan diperairan laut selama ini memiliki nama ilmiah euchema cottonii. Sedangkan untuk jenis yang dibudidayakan di air payau adalah Gracilari sp. Rumput laut jenis E. cottonii ini dikembangkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Rumput laut sudah dibudidayakan di Kabupaten Muna dan sudah populer di daerah ini sejak beberap waktu lalu.

IKAN BANDENG
Ikan bandeng adalah komoditas budidaya laut yang dapat juga dibudidayakan di tambak. Ikan ini memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan memiliki rasa yang enak. Pada beberapa daerah ikan ini menjadi makanan khas daerah tersebut. Ikan ini sudah dibudidayakan di Kabupaten Muna sejak lama. Ikan ini juga cukup populer dikalangan petani tambak di Kabupaten Muna

IKAN KERAPU
Sama halnya dengan ikan bandeng, ikan kerapu juga dapat dibudidayakan di tambak. Bedanya ikan kerapu lebih dikenal dan banyak dibudidaya di laut daripada di tambak. Kerapu memiliki tujuh genus yang dikenal di Indonesia, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut yang memiliki nilai komersial adalah genus Chromileptes yang diwakili oleh jenis kerapu bebek, Plectropomus diwakili oleh jenis kerapu sunu, dan Epinephelus yang diwakili oleh jenis kerapu macan. Ikan kerapu dibudidayakan hampir di seluruh daerah di Inonesia, termasuk di Kabupaten Muna.

budidaya-laut-3

IKAN KAKAP
Ikan kakap juga dapat dibudidayakan di laut dan di tambak. Kakap yang dibudidayakan ada dua jenis yaitu kakap putih dan kakap merah. Ikan kakap termasuk ikan yang memiliki toleransi cukup besar terhadap kadar garam. Ikan kakap juga merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk pasar internasional. Budidaya ikan ini belum populer di Kabupaten Muna.

IKAN BERONANG
Ikan beronang memiliki nama ilmiah Siganus sp. Ikan ini sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan. Ikan ini termasuk ikan yang memiliki daging yang gurih dan disukai banyak orang. Sifatnya primary herbivor, suka memakan plankton dan makanan buatan. Ikan ini termasuk komoditas yang mudah dibudidayakan karena mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kadar garam dan tingkat suhu. Ikan ini di alam tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Budidaya ikan ini belum populer di Kabupaten Muna.

TERIPANG PASIR
Teripang pasir merupakan komoditas perairan laut yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Nama latinnya Holothuroidea. Teripang biasa disebut juga sebagai timun laut. Komoditas ini biasa ditemukan di daerah pasang surut air laut sampai dengan daerah laut dalam. Teripang yang dalam bahasa inggrisnya disebut sea cucumber, memiliki manfaat antara lain dapat dijadikan penyembuh luka, pencegah osteoporosis, anti kanker dan anti tumor serta dapat mengendalikan kadar gula darah. Budidaya teripang di Kabupaten Muna masih jarang dilakukan. Umumnya masyarakat melakukan penangkapan teripang dari habitatnya di alam.

IKAN KUWE
Ikan kuwe yang memiliki nama ilmiah Caranx sexfasciatus ini memiliki kebiasaan yang unik. Ia dikenal sebagai ikan yang senang bercengkerama dengan teman sebayanya. Ikan ini termasuk dalam golongan ikan predator yang hidup di daerah karang dangkal di perairan terbuka. Ikan yang tergolong sebagai ikan buas ini hidup dengan membentuk gerombolan. Ikan ini sudah dapat dibudidayakan. Namun di Kabupaten Muna, ikan ini sepertinya belum dibudidayakan.

KERANG
Kerang termasuk komoditas laut yang sudah dapat dibudidayakan. Kerang masuk dalam kategori hewan bertubuh lunak atau mollusca walaupun ia memiliki cangkang yang keras. Ada berbagai macam jenis kerang yang ada di perairan Indonesia. Namun kerang yang sering dibudidayakan antara lain adalah jenis kerang darah, kerang hijau dan abalone. Kerang merupakan komoditas dengan pangsa pasar yang masih sangat terbuka. Komoditas ini dikenal sebagai makanan dengan nilai eksklusif tinggi. Di Kabupaten Muna sepertinya belum populer dengan kegiatan budidaya kerang.

UDANG BARONG atau LOBSTER
Udang barong dikenal dengan nama lobster laut, mencari makanan pada malam hari dan suka tinggal di dalam lubang-lubang. Udang yang memiliki nama ilmiah Panulirus sp ini merupakan komoditas yang sangat potensial. Sama halnya dengan udang yang lain, komoditas ini memiliki nilai jual yang cukup lumayan. Komoditas yang memiliki nama inggris Spiny lobster ini, belum populer dibudidayakan di Kabupaten Muna.

KEPITING BAKAU
Kepiting bakau sudah dapat dibudidayakan walaupun perkembangan budidayanya belum begitu pesat karena memang komoditas jenis ini masih belum dikenal luas sebagai salah satu komoditas budidaya air payau. Padahal pasar kepiting masih sangat luas dan nilai jualnya sangat tinggi. Apalagi kepiting merupakan salah satu makanan favorit pada restoran-restoran seafood. Kabupaten Muna memiliki potensi untuk kegiatan budidaya kepiting bakau.

UDANG VANNAMEI
Udang vannamei adalah jenis udang yang pada awal kemunculannya di Indonesia dikenal sebagai udang yang dapat dibudidayakan denga tingkat ketahanan yang tinggi terhadap serangan hama penyakit. Kegiatan budidaya udang vannamei di Kabupaten Muna sudah cukup populer di kalangan petani tambak.

SEMUA JENIS IKAN DAN ORGANISME TERSEBUT LAYAK DAN DAPAT DIBUDIDAYAKAN DI KABUPATEN MUNA**la ode muhammad ramadan**

Mangrove dan Cadangan Pangan Masyarakat Pesisir


Mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies tumbuh-tumbuhan yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut, pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Mangrove meliputi pohon-pohon dan semak-semak dari  beberapa jenis seperti Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, dan Sonneratia.

mangrove-3

Komunitas mangrove bersifat unik. Hutan-hutan bakau membentuk percampuran yang aneh antara organisme lautan dan daratan dan menggambarkan suatu rangkaian dari darat ke laut dan sebaliknya. Secara fisik, mangrove berfungsi menjaga garis pantai agar tetap stabil; melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi; menahan badai/angin kencang dari laut; menahan hasil proses penimbunan lumpur sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru; menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar; serta mengolah limbah beracun, penghasil oksigen dan penyerap karbon dioksida.

Secara biologis, mangrove berfungsi menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton sehingga sangat penting bagi keberlanjutan rantai makanan; tempat ruaya, memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang; tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak burung dan satwa lain; serta habitat alami bagi berbagai jenis biota baik laut maupun darat.

Secara ekonomis, mangrove berfungsi sebagai penghasil kayu bakar, arang, bahan bangunan; penghasil bahan baku industri untuk pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, dan kosmetik; penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting; serta sebagai tempat wisata, penelitian dan pendidikan.

Mangrove untuk Cadangan Pangan Masyarakat Pesisir

Masyarakat umum belum begitu mengenal potensi hutan mangrove sebagai penghasil cadangan pangan untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat pesisir. Bagi masyarakat yang tinggal dan berinteraksi dengan hutan mangrove dalam kehidupan sehari-hari,sudah sangat paham akan manfaat mangrove sebagai sumber cadangan pangan. Masyarakat pesisir secara tradisional sudah sejak dulu telah memanfaatkan mangrove sebagai pengganti nasi.

buah-mangrove

Masyarakat pesisir meyakini bahwa buah mangrove bisa dimakan dan tidak beracun karena secara logika buah ini sering dimakan oleh satwa yang hidup didalamnya misalnya kera, burung dan ular pohon. Beberapa jenis buah mangrove yang bisa diolah menjadi bahan pangan diantaranya adalah mangrove jenis Avicennia alba dan Avicennia marina atau yang lebih dikenal masyarakat dengan naman api-api. Mangrove jenis ini lebih cocok untuk dibuat keripik karena ukurannya kecil seperti kacang kapri dan rasanya gurih serta renyah seperti emping melinjo.

Adapun Rhizopora mucronata atau biasa disebut bakau perempuan yang tingggi buahnya sekitar 70 sentimeter serta Rhizopora apiculata (bakau laki) yang tinggi buahnya sekitar 40 sentimeter, lebih cocok dibuat sayur asam karena rasanya segar. Sementara Sonneratia alba yang biasa disebut pedada yang buahnya seperti granat nanas, lebih cocok dibuat permen karena rasanya asam. Sedang Nypa frutican lebih cocok untuk kolak dan campuran es buah.

Beberapa contoh masyarakat pesisir yang telah memanfaatkan buah mangrove menjadi bahan pangan antara lain masyarakat di Balikpapan yang memanfaatkan buah mangrove sebagai pengganti nasi. Caranya dengan merebus buah mangrove sampai empuk kemudian dimakan dengan parutan kelapa. Untuk menghilangkan rasa pahit, buah mangrove tersebut ditaburi dengan nira dari pohon kelapa atau nipah yang banyak terdapat di sekitar pantai.

Di pesisir Kabupaten Biak, masyaraktnya justru telah menjadikan buah mangrove sebagai komoditi agrobisnis andalan masa mendatang.  Komoditi ini akan menjadi komoditi alternatif pengganti beras dan ubi yang akan digunakan jika sewaktu-waktu terjadi gagal panen. Masyarakat Biak biasa mengolah buah mangrove dari jenis Bruguiera sp dengan cara direbus dengan tujuan untuk memudahkan pengupasan. Setelah dikupas kemudian diiris dan direndam selama lebih dari 10 jam, setelah itu dikeringkan untuk pengawetan dan dijadikan tepung sebagai bahan dasar membuat kue.

buah-mangrove-1

Masyarakat pesisir di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara juga berhasil memanfaatkan buah mangrove menjadi makanan yang bernilai ekonomis tinggi. Salah satu jenis makanan yang berhasil dibuat dari hasil pengolahan buah mangrove adalah kue kelepon. Kue ini awalnya terbuat dari tepung sagu atau tepung tapioka. Namun melalui pengetahuan warga, kue kelepon bisa dibuat dari tepung buah mangrove. Selain kue kelepon masyarakat juga memanfaatkan buah mangrove menjadi dodol, sirup dan makanan lezat lainnya.

Selain dibuat kue, buah mangrove jenis Avicennia alba dan Avicennia marina atau api-api juga dimanfaatkan menjadi sirup dan manisan. Buah nipah bisa dijadikan pudding yang dicampur agar-agar. Penemuan pemanfaatan buah mangrove menjadi aneka resep makanan dan minuman adalah hal yang sangat menggembirakan. Dengan sedikit kreasi dan inovasi, mangrove yang dulunya dikatakan sampah dan tak memiliki nilai ekonomis, kini dipandang sebagai tumbuhan yang memiliki nilai jual. Dengan adanya usaha-usaha seperti ini diharapkan masyarakat lebih tergerak untuk turut menjaga mangrove dari kerusakan.

Ancaman Kerusakan Mangrove

Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan makanan hanyalah sebagian kecil dari manfaat mangrove untuk masyarakat. Manfaat yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kelestarian hutan mangrove itu sendiri. Usaha-usaha rehabilitasi hutan mangrove yang dilakukan oleh pemerintah dengan berbagai macam programnya tidak akan berhasil tanpa melibatkan masyarakat pesisir secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan.

Kelestarian hutan mangrove ini penting, karena akar mangrove yang menjalar ke mana-mana menjadi habitat berbagai jenis biota perairan pantai seperti ikan, udang, kepiting dan kerang. Rusaknya hutan mangrove akan menyebabkan hilangnya berbagai jenis biota pantai yang tentu akan mengganggu keseimbangan lingkungan, paling tidak pendapatan nelayan berkurang.

Pada sisi lain hutan mangrove juga berfungsi untuk menahan intrusi air laut ke daratan serta menahan abrasi di sepanjang pantai. Pengakaran mangrove yang kuat juga akan mampu menahan gelombang dan menetralisasi senyawa-senyawa yang mengandung racun. Ekosistem mangrove mempunyai manfaat yang sangat besar dalam menunjang kehidupan masyarakat pesisir.

Seiring pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan di segala bidang, keberadaan mangrove juga ikut terpengaruh. Tingkat kerusakan mangrove mengalami peningkatan signifikan. Dua faktor utama yang memicu terjadinya kerusakan mangrove adalah faktor alam dan faktor manusia.

Faktor alam merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan mangrove yang bersifat sekunder, yakni faktor penyebabnya jarang terjadi atau sewaktu-waktu dan wilayah kerusakannya relatif sempit. Faktor alam yang memicu kerusakan mangrove yakni angin topan dan tsunami. Angin topan dapat merusak dengan mencabut pohon-pohon bakau sampai keakarnya. Sementara gelombang tsunami juga dapat merusak pohon-pohon bakau hingga tercabut dari akarnya.

Sementara itu, manusia merupakan faktor penyebab kerusakan mangrove yang bersifat primer. Manusia setiap saat dapat merusak mangrove dan wilayah kerusakannya cukup luas. Beberapa ulah manusia yang merusak mangrove yakni alih fungsi mangrove untuk pemukiman atau lokasi pertambakan; eksploitasi mangrove untuk kayu bakar, bahaan baku pembuatan perahu, kayu/tiang penyangga pengecoran bangunan dan lain-lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kerusakan mangrove akan berdampak pada terjadinya instrusi air laut yang semakin jauh ke darat yang akan menyebabkan terjadinya krisis air bersih; menurunnya kemampuan ekosistem mendegradasi sampah organik; menurunnya keanekaragaman hayati di wilayah pesisir; meningkatnya abrasi pantai; menurunnya sumber makanan, tempat pemijah dan bertelur biota laut yang berakibat pada menurunya hasil tangkapan ikan; menurunnya kemampuan ekosistem dalam menahan tiupan angin dan gelombang air laut; serta peningkatan pencemaran pantai.

Upaya Pelestarian Mangrove

Mengingatnya pentingnya mangrove bagi kehidupan masyarakat, khususnya di daerah pesisir pantai, maka upaya untuk melestarikan mangrove dari ancaman kerusakan menjadi sangat penting. Selain patuh pada regulasi terkait mangrove, upaya lain yang  dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan hutan mangrove antara lain :

(Pertama) penanaman kembali mangrove di lokasi-lokasi yang telah mengalami kerusakan dengan melibatkan masyarakat setempat; (keda) peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab, berkelanjutan, dan ramah lingkungan; (ketiga) peningkatan pengetahuan dan penerapan kearifan lokal tentang fungsi ekologi dan konservasi hutan mangrove; (keempat) program komunikasi yang berkesinambungan antara masyarakat sekitar dengan instansi terkait tentang fungsi ekologi dan konservasi hutan mangrove; (kelima) penegakan hukum yang tegas kepada siapa saja yang memanfaatkan hutan mangrove tanpa  terkendali sehingga merusak hutan mangrove yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekologi hutan mangrove.la ode muhammad ramadan

TERUMBU KARANG DI PERAIRAN LAUT KABUPATEN MUNA


Terumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk struktur kalsium karbonat, semacam batu kapur. Ekosistem ini menjadi habitat hidup berbagai satwa laut.

Terumbu karang bersama-sama hutan mangrove merupakan ekosistem penting yang menjadi gudang keanekaragaman hayati di laut. Dari sisi keanekaragaman hayati, terumbu karang disebut-sebut sebagai hutan tropis di lautan.

DSC05618

Selain sebagai habitat hidup sejumlah spesies binatang laut, ekosistem terumbu karang juga menjadi tempat pemijahan, peneluran dan pembesaran anak-anak ikan. Dalam ekosistem ini terdapat banyak makanan bagi ikan-ikan kecil. Diperkirakan terdapat lebih dari satu juta spesies mendiami ekosistem terumbu karang ini.

Di perairan laut Kabupaten Muna, luas kawasan terumbu karang mencapai 38.391 hektar. Kawasan terumbu karang tersebut tersebar diseluruh wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Muna.

Keindahan terumbu karang di Kabupaten Muna tidak kalah dari terumbu karang yang ada Raja Ampat, Bunaken ataupun Wakatobi. Tercatat ada 5 (lima) Jenis terumbu karang di perairan laut Kabupaten Muna yakni Acropora, Montipora, Pectinia, Galatea, dan Lobopilya.

DSC05681

Secara umum, kondisi terumbu karang di perairan laut Kabupaten Muna masih tergolong bagus dan sangat bagus seperti yang terdapat di sekitaran perairan Tanjung Laiworu, Raimuna, Teluk Ghoghombio, Pasir Putih, Pulau Munante dan sekitaran perairan Bonea. Pada titik-titik tersebut, tutupan terumbu karanya berkisar antara 51 persen – 82 persen.

Terumbu karang di lokasi lain seperti perairan Pulau Lima, Torega, Anangkalau, Pulau Tobea, Pulau Bontu-Bontu, Tanjung Meleura, dan mercusur sekitaran Dermaga Raha, kondisinya tergolong sedang dengan tutupan karang berkisar antara 26 persen – 50 persen.

Sementara terumbu karang di peraiaran sekitaran danau asin Napabale dan Nanasi, teridentifikasi dalam kondisi rusak dengan tutupan karang kurang dari 25 persen. Biasanya, kerusakan terumbu karang dipicu oleh aktivitas penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom atau racun sianida. Selain itu, kerusakan juga terjadi akibat pengambilan batu karang ataupun karena faktor perubahan iklim akibat pemanasan global.**la ode muhammad ramadan**