Penguatan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut di Kabupaten Muna


Oleh : La Ode Muhammad Ramadan

Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut melalui penguatan kearifan lokal merupakan suatu kegiatan atau aktifitas stakeholders dalam memanfaatkan segala yang ada di pesisir dan laut, khususnya sumberdaya ikan, terumbu karang, dan mangrove dengan cara-cara yang ramah lingkungan untuk kesejahteraan hidup manusia. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut juga mencakup aspek upaya atau usaha stakeholders dalam mengubah ekosistem pesisir dan laut untuk memperoleh manfaat maksimal dengan mengupayakan kesinambungan produksi dan menjamin kelestarian sumberdaya tersebut.

ramadan

Aspek kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tersebut termanifestasikan pada kegiatan atau aktivitas yang ramah lingkungan karena kearifan lokal itu sendiri merupakan berbagai gagasan berupa pengetahuan dan pemahaman masyarakat setempat terkait hubungan manusia dengan alam dalam mengelola sumberdaya pesisir dan laut yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik. Kearifan lokal juga menyangkut keyakinan, budaya, adat kebiasaan dan etika yang baik tentang hubungan manusia dengan alam (sumberdaya pesisir dan laut) sebagai suatu komunitas ekologis.

Sejak dahulu kala sebelum zaman kecanggihan tekhnologi, sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna dikelola dengan segala kearifan lokal yang ada. Berbagai kearifan lokal yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tersebut seperti kafoghira di Desa Wadolao; Maluppa Tambar Adah Kampoh di Desa Tapi-tapi; Andre Sikullung Assena dan Dipadoeang Pina di Desa Pasikuta; Decera di Desa Pajala; Kaago-ago di Desa Kembar Maminasa; Maduai Pina di Desa Bangko; Bala di Kelurahan Napabalano; Kapopanga di Kelurahan Tampo dan Katingka di Desa Napalakura.

Kearifan lokal tersebut mampu menjaga kelestarian sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna, khususnya sumberdaya ikan, mangrove dan terumbu karang. Stakeholder di Ka bupaten Muna mengakui bahwa berbagai aturan dan larangan dalam tradisi dan budaya yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mampu menjaga kelestarian sumberdaya pesisir dan laut dari kerusakan. Tradisi dan budaya tersebut cukup ampuh dalam mengendalikan berbagai aktivitas yang bersifat destruktif dan merusak. Kondisi ini terjadi sebelum era tahun 1990-an.

Memasuki era tahun 1990-an, tanda-tanda kerusakan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna mulai terlihat. Sejumlah stakeholders menilai, tanda-tanda kerusakan itu seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Di era ini, konfigurasi sistem pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut moderen mulai melemahkan kearifan lokal yang ada. Munculnya armada dan alat penangkapan ikan modern yang dapat menangkap ikan dalam jumlah besar namun tidak ramah lingkungan membuat banyak masyarakat lokal meninggalkan kearifan lokalnya dengan mengabaikan berbagai tradisi dan budaya yang mereka miliki.

Melemahnya kearifan lokal tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya pesisir dan laut. Dampak ikutannya adalah menurunnya hasil tangkapan ikan akibat eksploitasi berlebihan, termasuk hilangnya sejumlah jenis ikan akibat kerusakan terumbu karang dan mangrove.

Belajar dari fenomena kerusakan lingkungan akibat meninggalkan nilai-nilai tradisi dan budaya sebagai suatu kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, maka penguatan kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting.

Upaya dan langkah-langkah yang dilakukan sebagai bentuk penguatan dalam mewujudkan kearifan lokal agar menjadi dasar pijakan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna dapat mencakup :

  1. Meningkatkan kepatuhan dan ketaatan stakeholders terhadap berbagai tradisi, budaya, dan/atau hukum adat yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna.
  1. Meningkatkan keikutsertaan stakeholders dalam setiap kegiatan budaya, tradisi, dan/atau hukum adat yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut meskipun tanpa dukungan pemerintah setempat.
  1. Adanya ide, gagasan, dan kehendak stakeholders yang disampaikan kepada pemerintah daerah agar kearifan lokal diperkuat dengan hukum positif baik berupa peraturan desa maupun peraturan daerah.
  1. Melakukan upacara adat atau ritual yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut secara rutin.
  2. Menyampaikan cerita-cerita rakyat terkait kearifan lokal pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut kepada anak-anak.

ramadan

‘Memetik’ Hikmah ……. dari Cerita Fiksi Si Gulap yang Sabar


DIKUTIP DARI : http://www.sastrawan.com/index.php/puisi/cerita-dongeng-cerita-rakyat,137/si-gulap-yang-sabar,949

Si Gulap adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang tinggal di sebuah desa di daerah Bengkulu. Suatu ketika, si Gulap dan keenam saudaranya bergantian melamar seorang putri raja karena mereka ingin hidup sejahtera. Namun, lamaran si Sulung hingga saudara yang keenam ditolak karena tidak mampu memenuhi syarat yang diajukan oleh sang Raja. Bagaimana dengan si Gulap? Berhasilkah ia menikahi putri raja itu? Simak kisahnya dalam cerita Si Gulap yang Sabar berikut ini!

ramadan


Dahulu, di daerah Bengkulu, hiduplah seorang janda bersama tujuh orang anak laki-lakinya. Anak sulungnya bernama Umar, sedangkan anak bungsunya bernama si Gulap. Sehari-hari keluarga janda itu bekerja di ladang dengan menanam singkong dan sayur-sayuran. Hasilnya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena ladang yang mereka miliki sangat sempit. Keadaan tersebut membuat Umar sering duduk termenung seorang diri. Hatinya gundah gulana memikirkan nasib ibu dan adik-adiknya.

Suatu hari, sepulang dari ladang, Umar duduk menyendiri di bawah pohon di samping rumah.

“Ya, Tuhan. Apakah hidup kami akan terus kekurangan begini?” keluh Umar.

Baru saja Umar selesai bergumam, tiba-tiba ibunya datang menghampiri.

“Umar, anakku. Ibu lihat akhir-akhir ini kamu sering termenung. Ada apa, Nak?” tanya ibunya.

“Umar sedih melihat Ibu dan adik-adik,” jawab Umar, “Umar ingin mengubah nasib kita, Bu.”

“Lalu, apa rencanamu, Anakku?” tanya ibunya.

Umar tidak langsung menjawab pertanyaan perempuan yang telah melahirkannya itu. Sejenak, ia menghela nafas panjang.

“Umar juga masih bingung, Bu. Tapi, Umar harus mencari akal untuk bisa memperbaiki nasib keluarga kita,” kata Umar.

“Baiklah, Anakku. Tapi, jangan sampai memikirkan hal itu lalu kamu lupa makan dan istirahat,” pesan ibunya seraya beranjak dari tempat itu.

‘Iya, Bu,” jawab Umar.

Hari sudah sore, Umar masih saja duduk termenung. Ia masih berpikir bagaimana cara bisa mensejahterakan keluarganya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.

“Hmmm… Jika aku bisa menikahi putri raja yang kaya raya itu, nasib keluargaku pasti akan membaik,” gumamnya, “Ya, hanya itu satu-satu jalan yang dapat kulakukan.”

Rupanya, Umar benar-benar berniat ingin melamar putri sang Raja. Malam harinya, ia pun menyampaikan niat itu kepada ibunya.

“Bu, tolong lamarkan sang Putri untukku,” pinta Umar.

Ibunya yang sedang menganyam tikar tersentak mendengar permintaan Umar.

“Sadarkah kamu dengan perkataanmu itu, Anakku?” tanya ibunya dengan terkejut,

“Kita ini orang miskin, tidak pantas meminang seorang putri.”

“Umar menyadari itu, Bu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita mencobanya dulu,” jawab Umar.

Meskipun sang Ibu berkali-kali menasehatinya, Umar tetap bersikeras ingin melamar putri raja. Maka dengan berat hati, sang Ibu pun memberanikan diri menghadap sang Raja pada esok harinya. Setiba di istana, perempuan paruh baya itu memberikan sembah hormat kepada sang Raja.

“Mohon ampun Baginda atas kelancangan hamba. Hamba datang menghadap untuk menyampaikan lamaran Umar anak hamba,” lapor ibu Umar.

Sang Raja tahu jika Umar yang akan menjadi menantunya itu berasal dari rakyat biasa. Sebagai seorang raja, tentu ia tidak ingin kewibawaan keluarga kerajaan tercoreng karena memiliki menantu dari kalangan orang biasa. Untuk itulah, ia harus memberikan syarat kepada Umar sebelum menerima lamarannya.

“Baiklah, lamaran Umar aku terima tapi dengan satu syarat,” kata sang Raja.

“Ampun, Baginda. Apakah syarat itu?” tanya ibu Umar.

“Sebelum pernikahan ini dilangsungkan, Umar harus tinggal di istana dalam waktu beberapa hari untuk mengikuti beberapa ujian. Selama tinggal di istana, ia tidak boleh marah sekali saja dengan tugas apa pun yang kuberikan. Jika ia melanggarnya, maka ia akan kujual sebagai budak ke negeri lain. Sebaliknya, jika aku yang marah karena perbuatan Umar, maka akulah yang harus dijual sebagai budak,” jelas sang Raja.

“Baik, Baginda. Syarat ini akan hamba sampaikan kepada anak hamba,” kata ibu Umar seraya mohon diri.

Setiba di rumah, janda itu pun menyampaikan syarat sang Raja kepada Umar. Maka, hari itu juga Umar berangkat ke istana. Setiba di sana, sang Raja pun langsung memberinya tugas.

“Hai, Umar. Aku perintahkan kamu membajak sawahku yang luas itu!” titah sang Raja.

“Baik, Baginda Raja,” jawab Umar.

Umar pun mulai membajak sawah sang Raja. Ketika hari menjelang siang, ia kembali ke istana dengan keadaan haus dan lapar. Namun, setiba di istana, ia tidak diberi minum dan makan sedikit pun oleh sang Raja. Rupanya, Umar tidak tahan dengan perlakuan itu sehingga ia pun menjadi marah.

“Ampun, Baginda. Kenapa hamba tidak diberi makan dan minum? Padahal, hamba sudah bekerja keras membajak sawah Baginda,” kata Umar dengan perasaan kesal di hadapan sang Raja.

“Apakah kamu marah, Umar?” tanya sang Raja.

“Ampun, Baginda. Siapa yang tidak marah jika diperlakukan seperti ini?” jawab Umar.

Mendengar jawab itu, sang Raja pun menyatakan bahwa Umar telah melanggar janji. Ia pun tidak boleh memperistri putri raja. Sialnya lagi, ia dijual sebagai budak ke luar negeri. Ibu dan adik-adik Umar yang mengetahui kabar tersebut menjadi sedih.

Namun, hal itu tidak membuat adik-adik Umar berputus asa. Mereka pun mencoba untuk melamar sang Putri. Ketika anak kedua janda itu melamar sang Putri, ternyata dia juga gagal melalui ujian sehingga dijual sebagai budak ke luar negeri. Begitu pula anak ketiga hingga anak keenam janda itu mengalami nasib yang sama.

Kini, tinggal si Gulap yang menemani ibunya. Ketika ia berniat untuk melamar Putri raja, sang Ibu melarangnya.

“Jangan, Nak! Tinggal kamulah satu-satunya milik Ibu di dunia ini. Ibu tidak ingin kamu mengalami nasib sama seperti kakak-kakakmu. Lagi pula, Ibu sangat malu kepada Raja,” ujar sang Ibu.

“Tidak, Bu. Gulap tidak akan mengecewakan Ibu. Izinkanlah Gulap untuk mencobanya,” pinta Gulap.

Sang Ibu pun tidak bisa menolak keinginan putra bungsunya. Maka, ia terpaksa menghadap sang Raja lagi. Sang Raja pun bersedia menerima lamaran Gulap. Seperti keenam kakaknya, Gulap pun tinggal di istana. Ketika diperintahkan membajak sawah sang Raja yang luas itu, ia bekerja dengan tekun tanpa mengenal lelah.

Meskipun tidak diberi makanan dan minuman, Gulap tetap bersabar menahan rasa lapar. Untuk melepas rasa dahaga, sekali-kali ia meminum air sawah. Akhirnya, pekerjaannya pun selesai saat hari mulai senja. Dengan rasa capai yang begitu berat, Gulap pulang ke istana.

“Hai, Gulap. Kenapa baru pulang? Apakah kamu tidak merasa haus dan lapar?” tanya sang Raja.

“Ampun, Baginda. Sebenarnya hamba sangat lapar, tapi ada orang yang mengirimi hamba makanan,” jawab Gulap dengan tenang.

“Apakah kamu marah, Gulap?” tanya sang Raja.

“Tidak, Baginda,” jawab Gulap singkat.

“Tapi, kenapa wajahmu merah seperti itu?” tanya sang Raja lagi.

“Ampun, Baginda. Wajah hamba merah begini karena terkena terik matahari,” jawab Gulap.

Sang Raja tersenyum lebar. Ia amat puas melihat atas keberhasilan Gulap melalui ujian itu. Namun, hal itu bukan berarti Gulap sudah boleh menikah dengan sang Putri. Masih ada ujian lain yang harus dilaluinya. Keesokan hari, ia diajak oleh sang Raja ke kebun tebu yang amat luas miliknya sang Raja.

“Gulap, bersihkan dan buanglah daun-daun tebu itu!” titah sang Raja.

“Baik, Baginda,” jawab Gulap.

Setelah sang Raja kembali ke istana, Gulap pun mulai bekerja. Namun, baru beberapa batang pohon tebu ia bersihkan tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya.

“Wah, kalau begini terus keadaannya, lama-lama kesabaranku bisa hilang,” gumam Gulap.

Gulap pun berpikir keras bagaimana cara membuat sang Raja marah. Jika hal itu terjadi, tentu sang Rajalah yang akan dijual sebagai budak ke luar negeri.

“Hmmm… aku harus melakukan sesuatu agar sang Raja marah,” gumamnya.

Pemuda cerdik itu pun segera membuat lubang besar untuk pembuangan daun-daun tebu. Setelah itu, ia membersihkan daun-daun tebu itu lalu membuangnya ke dalam lubang yang telah dibuatnya. Setelah selesai, ia kembali ke istana untuk melapor kepada sang Raja.

“Ampun, Baginda. Hamba telah menyelesaikan tugas hamba,” lapor Gulap.

“Bagus, Gulap. Kamu memang pemuda yang tekun dan rajin,” puji sang Raja.

Namun, alangkah murkanya sang Raja ketika memeriksa kebun tebunya. Seluruh tanaman tebunya telah gundul.

“Hai, Gulap. Kenapa kamu menggundul semua tanaman tebuku?” tanya sang Raja dengan kesal.

“Apakah Baginda marah kepada hamba?” Gulap balik bertanya.

“Iya, aku sangat marah. Kamu telah menggundul seluruh tanaman tebuku, padahal belum saatnya dipanen,” jawab sang Raja dengan muka merah.

“Ampun, Baginda. Masih ingatkah dengan janji yang pernah Baginda ucapkan?” tanya Gulap.

Sang Raja pun terdiam. Ia baru sadar bahwa dirinya telah melanggar janji.

“Iya, kamu benar. Aku pernah berjanji bahwa jika aku marah karena perbuatanmu, akulah yang akan dijual sebagai budak,” kata sang Raja, “Tapi, aku mohon jangan jual aku, Gulap! Aku berjanji akan menikahkanmu dengan putriku.”

“Baiklah, Baginda. Tapi, hamba pun mempunyai satu permintaan,” kata Gulap.

“Apa permintaanmu, Gulap?” tanya sang Raja.

“Hamba mohon agar keenam kakak hamba ditebus dan dibawa ke istana,” pinta Gulap.

Sang Raja pun memenuhi permintaan Gulap. Setelah keenam kakaknya dikembalikan ke istana, pernikahaan Gulap dengan sang Putri pun dilangsungkan dengan meriah. Keduanya pun hidup berbahagia. Untuk melengkapi kebahagiaan itu, Gulap memboyong ibu dan saudara-saudaranya untuk tinggal di istana.

Beberapa tahun kemudian, Gulap dinobatkan sebagai raja menggantikan mertuanya yang sudah tua. Sejak itulah, Gulap memimpin kerajaan itu dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup aman, tenteram, dan sejahtera.


Demikian cerita Si Gulap yang Sabar dari daerah Bengkulu. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang sabar seperti Gulap pada akhirnya akan mendapat kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang suka marah seperti keenam kakaknya akan menerima ganjarannya, walaupun pada akhirnya mereka dibebaskan dari perbudakan.

Urgensi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (di Kabupaten Muna)


Sektor perikanan dan kelautan Kabupaten Muna tidak bisa dipandang sebelah mata. Sektor ini memiliki andil cukup besar terhadap perekonomian Kabupaten Muna karena produksi komoditas perkanan (tangkap dan budidaya) cukup melimpah dengan trend yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya (butuh data otentik untuk membahasnya lebih dalam).

ramadan-4

Namun dibalik kelimpahan produk dan andil disektor perekonomian, tidaklah berati jika hanya segelintir saja yang sejahtera sementara nelayan dan pembudidaya ikan masih jauh dari kata sejahtera. Dalam konteks ini, akan percuma jika ada harta yang melimpah ruah namun tak diolah. Dengan potensi perikanan yang melimpah tersebut, Kabupaten Muna seharusnya mampu menjadikan ikan sebagai produk pangan utama bagi masyarakat.

Untuk itu, penyusunan langkah strategis dalam upaya meningkatkan dan mewujudkan perikanan dan kelautan yang berdaya saing menjadi hal penting, terutama dalam upaya pencapaian pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di Kabupaten Muna. Paling tidak, terdapat beberapa pilar strategis yang bisa dilakukan seperti membangun sumberdaya manusia berkualitas dan berdaya saing, membangun infrastruktur, serta membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan.

Dalam hal pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

  1. Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.
  2. Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders.
  3. Terbatasnya sarana penanganan ikan di atas kapal, distribusi dan terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih.
  4. Minimnya industri pengolahan. Hal ini menyebabkan pengusaha penangkapan cenderung menjual ikan dalam bentuk ikan utuh (gelondongan).
  5. Bahan baku belum standar. Sebanyak 85 persen produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar bahan baku industri pengolahan.
  6. Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya. Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan, misalnya formalin, borax, zat pewarna, antiseptik, pestisida, antibiotik. Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas, murah dan sangat mudah diperoleh.

Selain enam hal tersebut, dukungan tekhnologi produk perikanan juga menjadi penting. Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya, melalui cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices), SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

Adanya tekhnologi pengembangan produk perikanan (pengolahan hasil) dapat memberi dampak positif terhadap beberapa aspek seperti :

  1. Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan. Hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis, apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.
  2. Menumbuhkan inovasi teknologi modern. Dalam hal pengembangan produk terkait erat dengan rekayasa produksi sehingga diperlukan rekayasa peralatan dan sentuhan teknologi modern.
  3. Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional. Karena dalam pengembangan produk, tidak hanya produk yang melalui proses teknologi modern saja yang menjadi fokus perhatian, produk tradiosionalpun perlu memperoleh apresiasi, sehingga memiliki daya saing dengan produk olahan lainnya. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain kebersihannya/higienisnya, pengemasannya, proses pembuatannya, dan sebagainya.
  4. Membentuk SDM berkualitas dan kompeten, karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen, sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan kompeten.

Upayakan mengolah terlebih dahulu sebelum dijual. Minimalkan menjual gelondongan agar ada nilai tambah dari produk tersebut.

Mari Lestarikan Mangrove (Hutan Bakau)


oleh : LA ODE MUHAMMAD RAMADAN

ramadan

Mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies tumbuh-tumbuhan yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Mangrove dipengaruhi oleh pasang surut air laut, pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Mangrove meliputi pohon-pohon dan semak-semak dari  beberapa jenis seperti Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, dan Sonneratia.

Komunitas mangrove bersifat unik. Hutan-hutan bakau membentuk percampuran yang aneh antara organisme lautan dan daratan dan menggambarkan suatu rangkaian dari darat ke laut dan sebaliknya. Secara fisik, mangrove berfungsi menjaga garis pantai agar tetap stabil; melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi; menahan badai/angin kencang dari laut; menahan hasil proses penimbunan lumpur sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru; menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar; serta mengolah limbah beracun, penghasil oksigen dan penyerap karbon dioksida.

mangrove-3

Secara biologis, mangrove berfungsi menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton sehingga sangat penting bagi keberlanjutan rantai makanan; tempat ruaya, memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang; tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak burung dan satwa lain; serta habitat alami bagi berbagai jenis biota baik laut maupun darat.

Secara ekonomis, mangrove berfungsi sebagai penghasil kayu bakar, arang, bahan bangunan; penghasil bahan baku industri untuk pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, dan kosmetik; penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting; serta sebagai tempat wisata, penelitian dan pendidikan.

Mangrove untuk Cadangan Pangan Masyarakat Pesisir

Masyarakat umum belum begitu mengenal potensi hutan mangrove sebagai penghasil cadangan pangan untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat pesisir. Bagi masyarakat yang tinggal dan berinteraksi dengan hutan mangrove dalam kehidupan sehari-hari,sudah sangat paham akan manfaat mangrove sebagai sumber cadangan pangan. Masyarakat pesisir secara tradisional sudah sejak dulu telah memanfaatkan mangrove sebagai pengganti nasi.

Masyarakat pesisir meyakini bahwa buah mangrove bisa dimakan dan tidak beracun karena secara logika buah ini sering dimakan oleh satwa yang hidup didalamnya misalnya kera, burung dan ular pohon. Beberapa jenis buah mangrove yang bisa diolah menjadi bahan pangan diantaranya adalah mangrove jenis Avicennia alba dan Avicennia marina atau yang lebih dikenal masyarakat dengan naman api-api. Mangrove jenis ini lebih cocok untuk dibuat keripik karena ukurannya kecil seperti kacang kapri dan rasanya gurih serta renyah seperti emping melinjo.

Adapun Rhizopora mucronata atau biasa disebut bakau perempuan yang tingggi buahnya sekitar 70 sentimeter serta Rhizopora apiculata (bakau laki) yang tinggi buahnya sekitar 40 sentimeter, lebih cocok dibuat sayur asam karena rasanya segar. Sementara Sonneratia alba yang biasa disebut pedada yang buahnya seperti granat nanas, lebih cocok dibuat permen karena rasanya asam. Sedang Nypa frutican lebih cocok untuk kolak dan campuran es buah.

Beberapa contoh masyarakat pesisir yang telah memanfaatkan buah mangrove menjadi bahan pangan antara lain masyarakat di Balikpapan yang memanfaatkan buah mangrove sebagai pengganti nasi. Caranya dengan merebus buah mangrove sampai empuk kemudian dimakan dengan parutan kelapa. Untuk menghilangkan rasa pahit, buah mangrove tersebut ditaburi dengan nira dari pohon kelapa atau nipah yang banyak terdapat di sekitar pantai.

Di pesisir Kabupaten Biak, masyaraktnya justru telah menjadikan buah mangrove sebagai komoditi agrobisnis andalan masa mendatang.  Komoditi ini akan menjadi komoditi alternatif pengganti beras dan ubi yang akan digunakan jika sewaktu-waktu terjadi gagal panen. Masyarakat Biak biasa mengolah buah mangrove dari jenis Bruguiera sp dengan cara direbus dengan tujuan untuk memudahkan pengupasan. Setelah dikupas kemudian diiris dan direndam selama lebih dari 10 jam, setelah itu dikeringkan untuk pengawetan dan dijadikan tepung sebagai bahan dasar membuat kue.

Masyarakat pesisir di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara juga berhasil memanfaatkan buah mangrove menjadi makanan yang bernilai ekonomis tinggi. Salah satu jenis makanan yang berhasil dibuat dari hasil pengolahan buah mangrove adalah kue kelepon. Kue ini awalnya terbuat dari tepung sagu atau tepung tapioka. Namun melalui pengetahuan warga, kue kelepon bisa dibuat dari tepung buah mangrove. Selain kue kelepon masyarakat juga memanfaatkan buah mangrove menjadi dodol, sirup dan makanan lezat lainnya.

Selain dibuat kue, buah mangrove jenis Avicennia alba dan Avicennia marina atau api-api juga dimanfaatkan menjadi sirup dan manisan. Buah nipah bisa dijadikan pudding yang dicampur agar-agar. Penemuan pemanfaatan buah mangrove menjadi aneka resep makanan dan minuman adalah hal yang sangat menggembirakan. Dengan sedikit kreasi dan inovasi, mangrove yang dulunya dikatakan sampah dan tak memiliki nilai ekonomis, kini dipandang sebagai tumbuhan yang memiliki nilai jual. Dengan adanya usaha-usaha seperti ini diharapkan masyarakat lebih tergerak untuk turut menjaga mangrove dari kerusakan.

Ancaman Kerusakan Mangrove

Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan makanan hanyalah sebagian kecil dari manfaat mangrove untuk masyarakat. Manfaat yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kelestarian hutan mangrove itu sendiri. Usaha-usaha rehabilitasi hutan mangrove yang dilakukan oleh pemerintah dengan berbagai macam programnya tidak akan berhasil tanpa melibatkan masyarakat pesisir secara langsung mulai perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan.

Kelestarian hutan mangrove ini penting, karena akar mangrove yang menjalar ke mana-mana menjadi habitat berbagai jenis biota perairan pantai seperti ikan, udang, kepiting dan kerang. Rusaknya hutan mangrove akan menyebabkan hilangnya berbagai jenis biota pantai yang tentu akan mengganggu keseimbangan lingkungan, paling tidak pendapatan nelayan berkurang.

Pada sisi lain hutan mangrove juga berfungsi untuk menahan intrusi air laut ke daratan serta menahan abrasi di sepanjang pantai. Pengakaran mangrove yang kuat juga akan mampu menahan gelombang dan menetralisasi senyawa-senyawa yang mengandung racun. Ekosistem mangrove mempunyai manfaat yang sangat besar dalam menunjang kehidupan masyarakat pesisir.

Seiring pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan di segala bidang, keberadaan mangrove juga ikut terpengaruh. Tingkat kerusakan mangrove mengalami peningkatan signifikan. Dua faktor utama yang memicu terjadinya kerusakan mangrove adalah faktor alam dan faktor manusia.

Faktor alam merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan mangrove yang bersifat sekunder, yakni faktor penyebabnya jarang terjadi atau sewaktu-waktu dan wilayah kerusakannya relatif sempit. Faktor alam yang memicu kerusakan mangrove yakni angin topan dan tsunami. Angin topan dapat merusak dengan mencabut pohon-pohon bakau sampai keakarnya. Sementara gelombang tsunami juga dapat merusak pohon-pohon bakau hingga tercabut dari akarnya.

Sementara itu, manusia merupakan faktor penyebab kerusakan mangrove yang bersifat primer. Manusia setiap saat dapat merusak mangrove dan wilayah kerusakannya cukup luas. Beberapa ulah manusia yang merusak mangrove yakni alih fungsi mangrove untuk pemukiman atau lokasi pertambakan; eksploitasi mangrove untuk kayu bakar, bahaan baku pembuatan perahu, kayu/tiang penyangga pengecoran bangunan dan lain-lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kerusakan mangrove akan berdampak pada terjadinya instrusi air laut yang semakin jauh ke darat yang akan menyebabkan terjadinya krisis air bersih; menurunnya kemampuan ekosistem mendegradasi sampah organik; menurunnya keanekaragaman hayati di wilayah pesisir; meningkatnya abrasi pantai; menurunnya sumber makanan, tempat pemijah dan bertelur biota laut yang berakibat pada menurunya hasil tangkapan ikan; menurunnya kemampuan ekosistem dalam menahan tiupan angin dan gelombang air laut; serta peningkatan pencemaran pantai.

Upaya Pelestarian Mangrove

Mengingatnya pentingnya mangrove bagi kehidupan masyarakat, khususnya di daerah pesisir pantai, maka upaya untuk melestarikan mangrove dari ancaman kerusakan menjadi sangat penting. Selain patuh pada regulasi terkait mangrove, upaya lain yang  dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan hutan mangrove antara lain :

(Pertama) penanaman kembali mangrove di lokasi-lokasi yang telah mengalami kerusakan dengan melibatkan masyarakat setempat; (keda) peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab, berkelanjutan, dan ramah lingkungan; (ketiga) peningkatan pengetahuan dan penerapan kearifan lokal tentang fungsi ekologi dan konservasi hutan mangrove; (keempat) program komunikasi yang berkesinambungan antara masyarakat sekitar dengan instansi terkait tentang fungsi ekologi dan konservasi hutan mangrove; (kelima) penegakan hukum yang tegas kepada siapa saja yang memanfaatkan hutan mangrove tanpa  terkendali sehingga merusak hutan mangrove yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekologi hutan mangrove.*****

Peran Komunikasi dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kabupaten Muna


Masyarakat pesisir di negeri kita, termasuk di Kabupaten Muna, masih diidentikan dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang rentan terhadap tekanan pemilik modal. Terdapat sejumlah persoalan yang diduga memicu rendahnya taraf hidup masyarakat pesisir seperti akses yang terbatas akan aset dan sumber-sumber pembiayaan bagi nelayan kecil, aspek ekologis, dan sosial.

komunikasi

Salah satu upaya memecahkan sejumlah persoalan nelayan di negeri ini adalah komunikasi pembangunan partisipatif. Pendekatan ini dilakukan melalui pendidikan non formal dengan menitikberatkan pada komunikasi dialogis antar orang yang terlibat dalam proses pembangunan. Pola ini ditempuh dengan maksud memberdayakan semua elemen yang ada di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dalam konteks realisasi di lapangan, komunikasi program dalam menghadapi permasalahan masyarakat pesisir dapat dilakukan melalui lima hal yakni (pertama) Peningkatan keterampilan nelayan dan keluarganya dalam mengelola hasil tangkapan, memperbaiki sikap yang merusak lingkungan dengan mensosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam.

(kedua) Peningkatan kemampuan manajemen usaha penangkapan dan diversifikasi usaha yang disertai penguatan ekonomi keluarga melalui usaha produktif. (ketiga) Penguatan kelembagaan lokal termasuk organisasi pemasaran hasil perikanan; (keempat) Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dengan mengedepankan prinsip sustainability (sumberdaya alam) dan kesejahteraan masyarakat; serta (kelima) Membangun jejaring (network) dengan mitra usaha guna memperbesar armada dan menggunakan alat tangkap yang lebih efektif dan tidak merusak lingkungan.

Dari lima metode komunikasi itu, diharapkan pesan-pesan atau materi dalam komunikasi pembangunan masyarakat pesisir tidak sekedar mentransferkan informasi saja, namun menyangkut aspek transformasi keadaan dari kondisi sekarang yakni nelayan dan keluarganya yang masih terpinggirkan, menjadi lebih mandiri, sejahtera dan bermartabat.

Komunikasi pembangunan harus diselenggarakan secara partisipatif, sebab pendekatan ini memudahkan agent of change membantu masyarakat menyelesaikan persoalannya. Komunikasi pembangunan dapat dipandang sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, yang dalam kegiatannya berkaitan dengan orang dewasa.  Implikasi dari hal ini adalah pendekatan yang digunakan harus berorientasi pada pembelajaran orang dewasa (adult learning approach). Untuk itu, dalam penyiapan dan penyelenggaraannya perlu memperhatikan kebutuhan nyata peserta proses belajar.

Orang dewasa merupakan orang yang sudah kaya pengalaman sehingga perlu memperhatikan hal-hal berikut : (pertama) Pembelajaran orang dewasa didasarkan pada pengalaman masa lalu dan patut dihargai; (kedua) Pengalaman masa lampau tersebut harus dihargai oleh peserta lainnya dan harus diupayakan diterapkan dalam proses belajar. Pembelajaran yang melibatkan transformasi pengalaman masa lalu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar dibandingkan model belajar lainnya.

(ketiga) Lingkungan mempengaruhi kemampuan orang dewasa dalam belajar.  Lingkungan terbaik seperti kondisi yang mengurangi gangguan pada orang dewasa yang sedang belajar akan memberikan dukungan yang berharga.  Peserta dewasa akan belajar dengan baik di lokasinya sendiri.  Orang dewasa tidak akan efektif jika belajar di bawah tekanan atau waktu yang dibatasi.  Mereka tidak  suka membuang waktu, dan orang dewasa lebih tertarik pada proses belajar yang memberikan hasil nyata dan cepat.

(keempat) Orang dewasa akan belajar selektif terhadap bahan atau materi yang dia perlukan, (kelima) Orang dewasa dapat didorong untuk belajar pada materi yang relevan pada peran dan kehidupannya saat ini, dan (keenam) Orang dewasa belajar untuk kehidupannya dan untuk mereka yang terlibat dalam kelompoknya.

Prinsip partisipasi dalam komunikasi pembangunan bukan sebatas proses sekedar hadir, memberikan pendapat atau hanya berdasarkan persepsi pemerintah atau penyuluh sendiri.  Sangat rasional, jika masyarakat pesisir belum mau terlibat dalam berbagai program pembangunan, khususnya kegiatan penyuluhan karena sejak awal masyarakat tidak terlibat dalam menentukan kegiatan yang diprogramkan.

Terkait hal ini, proses aksi sosial dan proses pengambilan keputusan dapat dimodifikasi. Proses aksi sosial meliputi lima tahap yakni (1) stimulasi minat (stimulation of interest) yaitu inisiatif dalam komunitas mulai berkembang pada tahap awal dalam ide baru dan praktek; (2) inisiasi (initiation) yaitu kelompok yang besar mempertimbangkan ide baru atau praktek dan alternatif dalam implementasi; (3) legitimitasi (legitimation) merupakan tahap saat pimpinan komunitas memutuskan akan meneruskan tindakan atau tidak; (4) keputusan bertindak adalah rencana spesifik tindakan mulai dibangun; dan (5) aksi yaitu penerapan rencana.

Menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi isu yang dihadapi saja, tetapi perlu diwujudkan beberapa aspek yaitu adanya aspek situasional, kolaborasi dan evaluasi diri dari setiap unsur yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program.

Sebagai sebuah sistem sosial, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki struktur sosial tertentu, memiliki status dan peran pada tiap anggota masyarakat. Strategi komunikasi pembangunan pada masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil harus bersifat spesifik untuk tiap wilayah. Setiap upaya perubahan perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti masalah sosial ekonomi, kondisi fisik lingkungan (sumber daya alam), dan sumber daya manusia secara umum (termasuk agen pembaharu).

Unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi pembangunan berubah-ubah dan harus diantisipasi secepatnya. Perubahan merupakan proses alamiah yang tidak bisa dihindari dan harus terjadi pada sesuatu, individu atau masyarakat sebagai reaksi atau adaptasi pada kondisi yang dihadapi.

Proses perubahan pada masyarakat pesisir dalam konteks perubahan sosial ke arah yang lebih baik berkaitan dengan transformasi struktur dan interaksi sosial dari sebuah masyarakat dan merupakan variasi atau modifikasi dalam pola organisasi sosial atau sub kelompok dalam masyarakat atau pada keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, kendala-kendala yang dihadapi dan masalah yang timbul diantaranya adalah adanya keinginan untuk mempertahankan status quo (reluctant to change) oleh sekelompok masyarakat yang dapat mempengaruhi proses perubahan dapat diminimalisir.

Sebagaimana diketahui, dalam teori adopsi-inovasi ada tahapan yang dilalui jika suatu ide baru diterapkan dan proses itu merupakan proses mental.  Setiap tahap akan memerlukan waktu, pemikiran dan respon yang berlainan (awareness, interest, trial, evaluation dan keputusan apakah menolak ataukah menerima inovasi (pembaharuan–ide atau teknologi baru).  Mengantisipasi hal ini, sangat relevan bagi agen pembaharu untuk menerapkan pendekatan penyuluhan yang tepat sesuai dengan tahapan komunikasi yang sedang berlangsung di masyarakat.

Terdapat tiga pilihan metode pendekatan atau kombinasi ketiganya yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program untuk memberdayakan masyarakat pesisir yakni : (pertama) Pendekatan perorangan, misalnya kegiatan kunjungan perorangan, konsultasi ke rumah, penggunaan surat atau telepon, dan magang. (kedua) Pendekatan kelompok, misalnya kursus tani-nelayan, demonstrasi cara atau hasil, kunjungan kelompok, karyawisata, diskusi kelompok, ceramah, pertunjukan film, slide, penyebaran brosur, buletin, folder, asah terampil, sarasehan, rembug, temu wicara, temu usaha, temu karya dan temu lapang. (ketiga) Pendekatan massal seperti pameran, pekan nasional (penas), pekan daerah (peda), pertunjukan film, drama, penyebaran pesan melalui siaran radio, televisi, surat kabar, selebaran atau majalah, pemasangan poster atau spanduk dan sebagainya. La Ode Muhammad Ramadan