SULTAN MURHUM


Sultan Murhum
TOKOH PEMERSATU KERAJAAN-KERAJAAN TRADISIONAL DI SULAWESI TENGGARA
OLEH; Prof. Mahmud Hamundu
Disajikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Baruga Keraton Buton Sulawesi Tenggara tanggal 5-8 Agustus 2005

1. Pengantar

Jauh sebelum Propinsi Sulawesi Tenggara terbentuk, telah ada ratusan kerajaan di daerah ini dengan status pemerintahan otonom. Dari sekian kerajaan itu sekurang-kurangnya terdapat lima kerajaan besar sebagai kerajaan induk ; Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan Kaledupa, Kerajaan Konawe dan kerajaan Moronene. Dari kelima kerajaan itu hanya Kerajaan Buton yang tercatat dalam sejarah kerjaan-kerajaan besar di Nusantara. Tercatatnya Kerajaan Buton dalam lembaran lembara sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara tersebut tidak berarti bahwa kerajaan-kerajaan tradisional lainya di wilayah Sulawesi Tenggara berada di bawah garis komando atau taklukan Kerajaan Buton, akan tetapi lebih disebabkan oleh factor interen kerajaan itu sendiri.
Hubungan harmonis antara komunitas kerajaan tradisional di Sulawesi Tenggara pada masa itu tidak saja disebabkan oleh kedekatan kultur dan geografis akan tetapi disebabkan oleh factor social ekonomi. Dalam pada itu proses kawin mawin antarakomunitas kerajaan terutama bagi kalangan petinggi kerajaan tidak dapat dihindari. Inilah yang dimaksud dengan strategi politik dalam kerajaan-kerajaan tradisional dalam rangka membangun hubungan kerja sama yang harmonis antarkomunitas keraajaan. Lama kelamaan terjalinlah lintas kepemimpinan dengan figure pemimpin berdarah campuran. Hal ini terlihat pada kepemimpinan Raja La Kilaponto, yaitu pernah memimpin lima kerajaan besar di Sulawesi Tenggarapada zamannya ( Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan Kaledupa, Kerajaan Konawe, dan Kerajaan Kabaena) hal ini sebagai mana dijelaskan kutipan dibawah ini ;

‘ Adapun tatkala Murhum menjadi raja dalam negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian negeri karena ia Raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri ini seperti Kaledupa dialihkannya, Mekongga dialihkannya dan Kobaena dialihkannya. Maka sekalian negeripun dialihkannya oleh Murhum ( Koleksi belanda, hal 1 )’

La Kilaponto di terimah sebagai raja di setiap kerajaan yang dipimpinnya bukan semata-mata karena kharismatik yang dimilikinyaakan tetapi karena kedekatan hubungan kefamilian dengan raja-raja di tempat dia diangkat menjadi raja. Menurut silsilah tampak bahwa La Kilaponto tidak saja memiliki hubungan kefamilian dengan keluarga raja-raja besar di Sulawesi tenggara seperti Kerajaan Buton, Kerajaan Wuna, Kerajaan Tiworo Kerajaan Mekongga Kerajaan Kamaru, Kerajaan Moronene, akan tetapi lebih jauh memiliki hubungan kefamilian dengan raja-raaja Bugis, jawa dan China.

2. Nama dan Gelar

Dalam beberapa kitab kuno Buton yang tersimpan di koleksi KTVL Negeri belanda terutama kitab yang memuat silsilah raja-raja Buton dan silsilah raja-raja Muna diperoleh keterangan bahwa nama La Kolaponto selalu dikaitkan dengan dua nama lain yaitu Murhum dan La Tolaki. Hal ini seperti dijelaskan salah satu kutipan di bawah ini ;

“ bahwa inilah anaknya Wa kaaka yang tinggal di dalam Negeri Buton ini yang bernama Bulawambona. Maka Bulawambona bersuami dengan Labaluwu, maka beranakan seorang seorang laki-laki bancapatola namanya yaitu batara Guru, maka batara Guru beristri dengan Waeloncugi yaitu Dungkucangia tetapi asal peri juga, maka batara Guru dan Waeloncugi pun beranak tiga orang laki-laki pertama Rahja Manguntu, kedua Tua maruju, ketiga Tua Rade. Itulah yang menjadi raja Butun. Dan lagi anaknya kepada gundinya seorang laki-laki yang bernama Kiyaijula. MAKA KIYAIJULA BERISTRI DENGAN ANAKNYA RAJA TIWORO WA RANDEA ( NAMANYA) SAUDARA WA SITAO ISTRI MOKOLE KONAWE BERNAMA WA TUBAPALA, maka Wa Tubapala bersuami dengan Raja Wuna bernama Sugi Manuru. Setelah itu, maka Wa Tubapalu beranak tiga namanya timbang-timbangan La Kilaponto yaaitu Murhum, dan lagi seorang Kobangkuduno yaitu La Posasu namanya. Dan perempuan itu Wa Karamaaguna namanya yaitu Wa Ode Pogo ( Koleksi KTVL Belanda hal.2 )”

Dalam tradisi lisan meuncul pula nama Haluole. yang menurut Rustam Tamburaka nama terakhir ini adalah salah satu nama lain La Kilaponto dan Murhum, tetapi kebenaran pendapat tersebut masih memerlukan studi lebih lanjut. Agar tidak terjadi kesalah pahaman keempat nama dimaksud di jelaskan seperti dibawah ini;

2.1. La Kilaponto

Nama La Kilaponto umumnya lebih popular di kalangan masyarakat Muna. Beliau adalah putra Raja Muna keenam bernamaa Sugi Manuru. Menurut Couvreur (1935;5) Sugimanuru mempunyai empat belas orang putra terdiri atas sebelas orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Keempat belas orang dimaksud adalah (1) Kakodo, (2) Manguntara, (3) La Kakolo, (4) La Pana, (5) Tendridatu, (6) Kalipatolo, (7) Wa Sidakari, (8) La Kilaponto, (9) La Posasu, (10) Rimbaisomba, (11) Kiraimaguna, (12) Patolakamba, (13) Wa Golu, (14) Wa Ode Pogo.

2.2. Murhum atau Marhum

Nama Murhum umumnya popular di dalam lingkungan komunitas masyarakatButon. Murhum adalah gelar yang diberikan kepada La Kilaponto setelah dilantik menjadi Sultan Buton tang pertama oleh Syekh Abdul Wahid berkebangsaan Arab dan salah seorang imam dari patani tahun 948 H atau 1542 M. Beberapa penulis sejarah buton menjelaskan bahwa gelar Murhum diberikan kepada Raja La Kilaponto setelah meninggal dunia, ( Murhum berasal dari kata al-marhum). Sesungguhnya tidaklah demikian, akan tetapi nama murhum dikaitkan dengan nama sebuah kampong dari patani berdekatan dengan kampong Kerisik. Menurut Saghir Abdullah (2000:37) kampong Murhum dikenal sebagai pusat seluruh kegiatan kesultanan Fathani Darus Salam pada zamaan dahulu. Imam Patani yang mendampingi Sykeh Abdul Wahid pada saat pelantikan La Kilaponto menjadi Sultan Buton pertama berasal dari kampong Murhum ini. Tampaknya gelar Murhum tidak saja disandang oleh Sultan di Buton tetapi juga disandang oleh Sultan di Aceh dan sultan di Ternate.
Dalam hikayat Patani (teeuw. 190:133) kata Murhum atau Marhum merupakan padanan kata Raja. Perhatikan kutipan dibawah ini :
“ Setelah sapai ke Patani, maka Syahbandar pun masuk menghadap Duli Yang Diperuan Murhum. “ Suruh panggil orang itu”. Maka Cau Hang pun masuk menghadap Murhum dubawah oleh Syahbandar. Maka titah Paduka Murhum…..”
Di Patani terdapat bebrapa Murhum; Murhum Tambangan, Murhum Besar, Murhum Bungsu, Murhum Tengah, Murhum Teluk, dan Murhum Kelantang.

2.3. La Tolaki

Nama La tolaki ini, meskipun kurang popular di masyarakaat ( Buton, Muna dan Tolaki), banyak ditemukan dalam beberapa kitab kuno dan arsip-arsip Kerajaan Buton dan Kerajaan Muna. Menurut kedua sumber tersebut, La Kilaponto merupakan nama lain dari La Kilaponto dan Murhum yang juga putera raja Muna Sugi Manuru. La Tolaki adalah nama gelar yang diberikan kepada La Kilaponto setelah diangkkat menjadi Mokole di Konawe. Selah satu sumber arsip menjelaskan seperti di bawah ini :
“ Setelah beberapa lamanya maka terdengar chabar oleh La Kilaponto ( Murhum) bahwa mama dari Wa Sitao anak dari Mokole Konawe telah meninggal dunia dengan meninggalkan harta benda yang menjadi pusaka Wa Sitao dan Wa Randea nenek Murhum tersebut. Mendengar itu, maka La Kilaponto ( Murhum) sampailah di Konawe dan disebut namaanya La tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Mekongga dan Konawe, dalam peperangan itu dimana Konawe mendapaat kemenangan” ( La Ode Abdul Kudus, 1962;2).
Kata Tolaki terdiri dari dua kata, to berarti orang dan laki berarti jantan. Jadi Tolaki berarti orang jantan atau pahlawan. Orang jantan yang dimaksud di sini ditujukan kepada La Kilaponto atas keberaniannya dalam mendamaikan dua kelompok yang berperang.

2.4. Haluoleo
Munculnya nama Haluoleo sebagai nama dari La Kilaponto, Murhum, dan La Tolaki pada prinsipnya baru dikenalkan kemudian dan mengemuka setelah dipublikasikannya hasil penelitian Rustam Tamburakan dkk bertajuk Sejarah Sulawesi Tenggara. Nama ini hanya muncul dlam tradisi lisan, tidak pernah disebut-sebut dalam kitab kuno atau dalam arsip-arsip kerajaan. Haluoleo dalam bahasa Tolaki Delapan hari ( halu = delapan, dan oleo = hari ). Dalam kemunculannya sebagai tradisi lisan tampaknya pemahaman terhadap haluoleo telah melahirkan beberapa versi cerita yang berbeda satu sama lain.
Menurut Versi Tolaki sebagai mana dikembangkan oleh Rustam Tamburaka dkk, Haluoleo adalah nama tokoh yang penamaannya dihubungkan dengan proses kelahirannya yaitu bahwa menjelang kelahirannya ibu dari pasangan ibi dari salah seorang kepala suku di Konawe mengalami rasa sakitsehingga delapan hari. Muna dan Buton, haluoleo bukan nama tokoh tetapi nama peristiwa sejarah. Ketika itu La Kilaponto menjadi Mokole di Konawe, telah terjadi perang saudaraantara Mekongga dan konawe. Perang itu berlangsung selamaa delapan hari dan berhasil didamaikan oleh La Kilaponto atau La Tolaki. Sementara itu versi Moronene, haluoleo dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh sehingga ia diangkat menjadi Raja Moronene. Menurut versi ini Haluoleo dikenal sebagai putra Raja Luwu dan mempunyai dua orang putera masing-masing Mororimpu sebagai Raja Rumbia dan Sangia Tewaleka sebagai Raja Poleang.
Sebagaimana disinggung terdahulu bahwa La Kilaponto pernah menjadi Raja di tiga kerajaan besar di Sulawesi tenggara, yaitu Buton, Muna dan onawe. Tidak diperolah keterangan yang pasti berapa lama La Kilaponto menjadi raja atau mokole. Ia menjadi raja di Muna selama tiga tahun kemudian menjadi Raja Buton selama empat puluh enam Tahun.

3 thoughts on “SULTAN MURHUM

  1. Bangga jadi putra asli Buton yang satu2nya kerajaan di Sulawesi Tenggara yg di Akui di Nusantara.
    Ditambah lagi dgn dimekarkan Provinsi Kepulauan Buton, akan tambah besar dan dikenal lagi.
    Amin…!!!

    Suka

  2. Sultan Murhum, Tokoh Besar Sultan Buton Pertama,
    Kesultanan Buton, dengan 4 Barata.
    – Barata Kaledupa
    – Barata Kulisusu
    – Barata Tiworo
    – Barata Muna

    Suka

    • @La Eda………
      Betul Sultan Murhum yang sebelumnya adalah Raja Wuna VII, Putera Sugi Manuru, Raja Wuna VI adalah raja besar yang mendirikan kesutanan buton dan menjadi sultan pertama setelah di hadiahi kerajaan wolio sebagai imbal jasa menyelamatkan negeri itu dari gangguan bajak laut Labolontio

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s