Raja Muna XXIII – La Ode Sumaili Gelar Omputo ne Sombo.



Pada masa pemerintahan La Ode Sulaili terjadi pemberotakan yang dilakukan oleh Wa Ode Kadingke Cucu dari Sangia La Tugho. Pemberotakan itu dipicu oleh perlawanan terhadap sistem adat dalam hal kawin-mawin.

Wa Ode Kadingke menolak denda adat yang begitu besar yang dibebankan pada suaminya Daeng Marewa dari Suku Bugis. Menurut adat saat itu, apabila ada perempuan keturunan yang berdara Kaomu ( Keturunan Raja ) akan menikah dengan orang yang bukan suku Wuna maka laki-laki tersebut akan dikenakan denda adat berupa membayar mahar sebesar 110 Boka ( saat ini satu boka dinilai dengan Rp.24000,-).

Menurut pandangan Wa Ode Kadingke yang berkeyakinan keislamannya cukup tinggi denda tersebut bertentangan dengan hukum islam sebab menurut hukum islam mengenai besaran mahar itu ditentukan oleh wanita yang akan menikah dan tidak membebani pihak laki-laki.

Pemberontakan itu semakin meluas, karena Waode Kadingke sangat mahir dalam strategi perang.  La Ode Sumaili tidak mampu meredam pemberontakan tersebut,bahkan akibat  pemberontakan itu Wa Ode Kadingke bersama suaminya Daeng Marewa mendirikan  Kesultanan Tiworo  di bagian barat Pulau Muna.

Ketidak mapuan La Ode  Sumaili menumpas pemberotakan tersebut oleh sarano wuna dianggap sebagai suatu kesalahan besar yang dilakukan oleh Raja La Ode Sumaili, olehnya itu La Ode Sumaili harus mendapat hukuman yang setimpal. Dalam sebuah Rapat dewan sara diputuskan La Ode Sumaili untuk dihukum cambuk. Itulah sebabnya La Ode Sumaili digelar Omputo Nesombo artinya Raja yang dihukum ambuk.

Setelah La Ode Sumaili mangkat akibat hukuman gantung yang dijatuhkan padanya tersebut Sarano Wuna (Dewan Sarah) dengan suara bulat (aklamasi) mengangkat La Ode Saete Putera Wa Ode Kadingke dengan Daeng Marewa sebagai Raja Muna. Pada saat yang bersamaan, Pemerintah Kolonial mengangkat La Ode Wita sebagai Raja Muna sehingga terjadi dualisme kepemimpian di Kerajaan Muna.

Kontan saja ampur tangan  Pemerintah VOC Belanda terhadap Kerajaan Muna tersebut  mendapat penolakan dari Sarano Wuna dan seluruh Rakyat Muna. Wujud dari penolakan tersebut adalah tidak mengakui La Ode Wita sebagai Raja Muna dan mengusirnya dari Kerjaan Muna.Penolakan  Masyarakat Kerajaan Muna tersebut membuat Pemerintah VOC Belanda sehingga selama pemerintahan La Ode Saete terjadi perang antara Kerjaan Muna dan VOC Belanda yang dibantu oleh sekutunya Buton.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s