Raja Muna VI Sugi Manuru ( 1527-1538 ).


SUGI MANURU adalah Raja Muna VI terkenal bijaksana dan memiliki wawasan luas dan sangat ahli dalam ilmu ketata negaraan.  Dikalangan masyarakat Muna   SUGI MANURU  diberi gelar sebagai ‘ omputo mepasokino Adhati’  artinya Raja yang menetapkan Hukum , adat, nilai-nilai dan falsafa dasar berbangsa dan bernegara. Gelar tersebut diberikan sebab pada masa pemerintahan SUGI MANURU lah dirumuskan dan ditetapkan tatanan,  nilai-nilai dasr dan sendi-sendi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di kerajaan Muna.

Tatanan kehidupan bermasyarakat yang dirumuskan dan ditetapkan pada masa pemerintahan Sugi Manuru. Nilai-nilai dan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut dikaitkan dengan   relevansi wilayah dalam hubungannya dengan manusia, alam dan Tuhan.

Penetapan hubungan wilayah dengan manusia tersebut dipengaruhi oleh ajaran dan nilai-nilai islam. Itu artinya walaupun Sugi manuru belum memeluk islam, namun nilai-nilai islam telah berpengaruh di kalangan istana kerajaan Muna.

Masuknya pegaruh islam di Kerajaan Muna dalam sistem ketatanegaraan dikrajaan Muna pada masa pemerintahan Sugi manuru setelah masuknya penyebar islam I di Muna yaitu Syekh Abdul Wahid. Menurut beberapa catatan, Syekh Abdul Wahid adalah seorang misionaris islam yang berasal dari Arab. Namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau adalah pedagang dari Gujarad.

Islam mulai diajarkan  secara luas oleh Syekh Abdul Wahid di Kerajaan Muna pada masa-masa akhir pemerintahan Sugi manuru. Salah satu murid pertama Syekh Abdul Wahid adalah La Kilaponto, Putera Raja Sugi Manuru yang kemudian menjadi Raja Muna VII dan akhirnya menjadi Raja Buton VI.

Setelah Menjadi Raja Buton, La Kilaponto kemudian memboyong gurunya tersebut di kerajaan Buton. Hal inilah yang menyebabkan proses islamisasi di kerajaan muna menjadi terhenti

.Hal yang berbeda terjadi di Kerajaan Buton. Seiring dengan peningkatan intensitas pengajaran islam di kalangan masyarakat buton, maka proses islamisasi di Kerajaan tersebut  berjalan sangat pesat. Bahkan dalam waktu tiga tahun agama Islam resmi menjadi agama kerajaan.

Bukti diterimanya agama islam sebagai agama kerajaan adalah berubahnya bentuk Kerajaan menjadi kesultanan dan Sultan pertamanya adalah La Kilaponto. Setelah resmi menjadi Sultan, Lakilaponto Kemudian Bergelar Sultan Qaimuddin Khalifatul Khamis.

Sebagai mana halnya dengan pemerintahan tradisonal lainnya, di kerajaan Muna juga menganggap  seorang raja sebagai poros kekuaasaan dan sumber keteladanan. Jadi apapun yang dilakukan, diyakini atapun yang dititahkan  raja  maka semua warga kerajaan  wajib mengikuti tanpa terlebih dahulu menannyakan apalagi menilai baik-buruknya. Jadi karena Islamisasi fase pertama ini belum mampu mengislamkan raja serta masih kuatnya keyakinan Orang Muna dengan kepercayan leluhurnya yaitu animisme dan dinamisme maka misi Misionaris Islam pertam yakni Syeh Abdul Wahid di Muna dapat dikatakan mengalami kegagalan, walau tidak sepenuhnya sebab Raja Munasaat itu Sugi Manuru telah banyak memiliki pehaman terhadap nilai-nilai islam.

Sebagai mana yang dijelaskan terdahulu, Walaupun pada masa Pemerintaha SUGI MANURU Islam baru diperkenalkan oleh Syekh Abdul Wahid  di Kerajaan Muna serta  SUGI MANURU sendiri belum memeluk islam, namun sepertinya SUGI MANURU telah memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Islam.

Pemahaman Sugi manuru terhadap nilai-nilai islam  dapat dilihat saat membagi  Kerajaan dalam empat wilayah besar yang disebut dengan Ghoera yaitu Ghoerano Tongkuno, Ghoerano Lawa, Ghoerano Katobu. Dan Ghoerano Kabawo

Pembagian wilayah Kerajaan Muna menjadi empat Ghoera tersebut oleh Sugi manuru di ibaratkan sebagai ;

1. Ghoerano Tongkuno di ibaratkan asal api hurufnya alif.

2. Ghoerano Lawa di ibaratkan asal angin hurufnya ha.

3. Ghoerano Kabawo di ibaratakan asal air huruf nya mim.

4. Ghoerano Katobu di ibaratkan asal tanah huruf nya dal.

Pengibaratan tersebut bertitik tolak pada  hakikat penciptaan manusia yang memiliki  sifat– sifat  api, angin,air dan tanah.Keempat sifat tersebut kemudian diuraikan sebagai berikut ;

1. Sifat api; adalah menggambarkan  manusia yang memiliki  emosi. Sebagaimana Api, emosi ini kalau dikelola dengan baik akan memberi manfaat bagi banyak orang, tapi kalau tidak terkontrol maka akan menyebabkan kehancuran yang besar.

2. Sifat angin adalah menggambarkan manusia yang memiliki  ambisi. Ambisi yang dimiliki setiap manusia itu bagaikan senjata. Kalau ambisi berada pada orang yang baik maka ambisi itu akan  diarahkan pada hal-hal yang positif dan menjadi motifasi untuk mencapai kesuksesan dengan cara-cara yang benar.  Tapi kalau berada pada orang yang tidak baik maka akan diarahkan pada ha-hal yang negative bahkan kadang  menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang di cita-citakaan.

3. Sifat air menggambarkan  sifat manusia yang tenang selalu memberikan kesegaran dan kesejukan serta  menghilangkan dahaga. Namun demikian kalau pengelolaan dan penggunaanya dilakukan dengan cara yang tidak baik dan tidak benar, maka akan menjadi petaka. Air juga memiliki sifat selalu mengalir ditempat yang lebih rendah, maksudnya manusia harus memiliki sifat rendah hati, tidak sombong walau memiliki kekuatan yang besar.

Hal yang paling pokok adalah sifat air yang selalu mengikuti bentuk wadahnya, ini artinya manusia harus dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi dimana dia berada.

4. Sifat Tanah diibaratkan sebagai sifat manusia yang sabar dan tidak menuntut imbalan atas segalah sesuatu yang dilakukan untuk kepentingan orang lain. Hal ini dapat dilihat dari sifat tanah yang selalu sabar walalupun telah menumbuhkan tanaman sebagai sumber kehidupan manusia, walaupun telah menyediakan tempat untuk berpijak manusia tapi dia tidak pernah menuntut imbalan. Bahkan ketika diinjak dan diberaki tanah tidak pernah marah.

Selain itu empat huruf yang digunakan sebagai pengandaian empat wilayah dalam Kerajaan Muna tersebut kalau dirangkai suatu kalimat ” Ahmad” Ahmad ini dalam sejarah islam dan dalam Al-Qur’an disebut sebagai nama lain dari Muhammad SWA, nabi dan rasul junjungan umat islam.

Begitu bijaksananya , sehingga dalam melakukan pembagian wilayah pun SUGI MANURU melakukan pengandaian dengan hakikat penciptaan manusia sebagaimana yang dikandung oleh nilai-nilai islam.

 Disebutkan pula bahwa SUGI MANURU  yang menetapkan pembagian golongan di Kerajaan Muna. Adapun golongan itu adalah Kaoumu, Walaka, Olindo Fitu Bangkaono,dan Wawono Liwu. Yang secara hakikat dapat pula dikatakan bahwa susunan golongan-golongan itu di ibaratkan sebagaai struktur raga manusia yaitu :

 O kaomu,  di ibaratkan kepala manusia huruf nya mimawal.

  O walaka di ibaratkan badan manusia huruf nya Ha.

 O lindo Fitu bengkauno di ibaratkan perut hurufnya mim akhir.

  Owawono Liwu di ibaratkan kaki hurupnya Dal.

Inilah yang dikatakan pengendali dan yang dikendali. Kaomu dan Walaka adalah mitra kerja yang mengendali, Olindo Fitu Bangkauno serta Wawono Liwu adalah sumber daya manusia dan sumber daya alam, bakalan yang akan di atur.

Nilai-nilai yang diajarkan SUGI MANURU Inilah yang dikatakan sebagai rahasia wawasan negeri dalam pengertian  SOWITE ( untuk tanah air ). SOWITE ini kemudian diuraikan  agar mudah dalam implementasinya sebagai landasan idiologi  yang dikenal dengan falsafah hidup masyarakat Muna, yaitu “ Koemo Bhada Sumanomo Liwu, Koemo Liwu Sumanomo Sara, Koemo Sara Semanomo Oadhati, Koemo Oadhati Sumanomo Agama”, artinya ; Rela mengorbankan Jiwa dan raga demi bangsa dan negara, Tegakkan Hukum walaupun bumi runtuh, kalaupun hukum tidak berjalan, adat istiadat tetap harus dipertahankan, Kalaupun adat istidat sudah tidak memberi arah,  nilai-nilai,  agama yang akan dijadikan pegangan.

Penetapan empat landasan idiologi sebagai falsafah hidup Masyarakat Muna tersebut sangat jelas dipengaruhi oleh ajaran Islam. Hal ini ditandai dengan penghargaan agama sebagai ajaran yang harus dipegang dan menjadi petunjuk apabila ajaran-ajaran lainnya tidak berjalan dengan baik.

J. Couvreur (1935;5) mengatakan bahwa Sugimanuru mempunyai empat belas orang putra terdiri atas sebelas orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Keempat belas  orang dimaksud adalah (1) Kakodo, (2) Manguntara, (3) La Kakolo, (4) La Pana, (5) Tendridatu, (6) Kalipatolo, (7) Wa Sidakari, (8) La Kilaponto, (9) La Posasu, (10) Rampeisomba, (11) Kiraimaguna, (12) Patolakamba, (13) Wa Golu, (14) Wa Ode ogo.

Oleh karena itu dalam Penentuan tingkatan golongan masyarakat pada masa pemerintahan SUGI MANURU di klasifikasikan berdasarkan keturunannya. Pengklasifikasian berdasarkan keturunan  ini dimaksudkan agar kelak tidak terjadi konflik perebutan kekuasaan diantara keturunannnya.  Struktur tingkatan golongan masyarakat  itu adalah :

1. Golongan Kaomu.

Golongan ini bersumber dari anak laki-laki Sugi Manuru yang memiliki kemampuan dan keahlian dibidang pemerintahan. Kaomu adalah goloangan teratas yang berhak menduduki jabatan Raja Muna dan Jabatan-Jabatan eksekutif lainnya yang sesui dengan hukum adat ( Kuasa eksekutif ).

2. Golongan Walaka.

Golongan ini bersumber dari anak Perempuan Sugi Manuru yaitu Wa ode pago yang kawin dengan La Pokainse anak Mieno Wamelai. Walaka adalah golongan yang berhak dan memiliki kuasa dalam mengangkat Raja Muna, memegang kekuasaan menetapkan  hukum hukum adaat dan mengawasi pelaksanaannya ( kuasa legislatif dan Yudikatif ).

3. Goloangan Wawono Liwu.

Goloangan ini terbagi atas tiga tingkatan yaitu :

a. Golongan Wawono Liwu Ghoera atau Fitu Bengkauno, Golongan  ini bermula dari 7 orang anak laki-laki Sugi Manuru dari istri selir. Golongan ini berhak untuk menjadi kepalah pemerintahan Ghoera (kuasa Pemerintah daerah) yaitu;

  1. Ghoerano Tongkuno
  2. Ghoerano Kabawo
  3. Ghoerano Lawa
  4. Ghoerano Katobu

b.Golongan Wawono Ghaoera Papara

Golongan ini berarasal dariturunan dari ke 4 Kamokulano dahulu yaitu;

1. Kamokulano Tongkuno.

2. Kamokulano Barangka,

3. Kamokulano Lindo,

4. Kamokulano Wapepi.

c. Golongan Poino Kontu Lakono Sau.

Golongan ini adalah golongan Wawono Liwu yang terendah, ibarat sebuah batu dan sepotong kayu didalam masyarakat Kerajaan Muna. Mereka ini turunan dari ke empat Mieno yaitu;

1. Mieno Kaura,

2. Mieno Kasintala,

3. Meino Lembo,dan

4.  Meino Ndoke.

Sugi Manuru juga menetapkan mekanisme pengangkatan pemimpin, mulai dari tingkat Raja sampai pada tingkat pemerintahan terendah yaitu Mieno. Menurut ajaran Sugi manuru Penentuan siapa yang akan  menjadi pemimpin dimasing-masing tingkatan dan golongan ditentukan oleh Sara berdasarkan kapasitas masing-massing indifidu. Pengangkatannya berdasarkan hasil rapat dewan adat yang anggotanya berasal dari golongan Walaka.

Selain Menyusun tingkatan golongan masyarakat, SUGI MANURU juga menetapkan  struktur pemerintahan kerajaan. Struktur pemerintahan kerajaan pada jaman SUGI MANURU adalah ;

  1. 1.  Raja (Eksekutif), dari Golongan Kaomu
  2. 2.  Bonto ( Legislatif ), dari golongan walaka

3. Mintarano Bhitara ( Yudikatif ), dari golongan Walaka    ( No 1- 3 adalah pemerintah pusat )

4. Mowano Ghoera  ———— pemerintahan setingkat dibawah pemerintah pusat

5. Kamokula & Mieno ————- setingkat dibawah Ghoera

Semua perangkat kerajaan termasuk raja disebut sebagai Sarano Wuna. Mereka itu harus dapat merepresentasikan muna secara keseluruhan.Dewan Sara dipimpin oleh Bonto dari golongan Kaomu. Sidang – sidang dewan Sara bertugas mengangkat dan memberhentikan Raja  serta menetapkan arah haluan kebijakan Kerajaan.

 

 

 

24 thoughts on “Raja Muna VI Sugi Manuru ( 1527-1538 ).

  1. Sugi Manuru Anaknya siapa? Bapaknya Sugi Manuru Anaknya Siapa? Kakeknya Sugi Manuru anaknya Siapa? dan seterusnya… mohon dijelaskan… sebab ada sebagia informasi bahwa Lakilaponto anak Sugimanuru adahal Cucu dari Raja Buton yang bernama Btaraguru… ! benarkah demikian?

    Suka

    • Sugi manuru raja muna ke 6. Bpknya la sugi la ende raja muna ke 5, trus bpknya sugi patani raja muna ke 4, sugi ambno 3, sugi patola la aka 2 dan la eli raja muna 1. La kilaponto adlah ank sugi manuru. Dia menjdi sultan buton 1, raja buton 6 dan raja tolaki di kndari. ( j.couvreur etnografis ovezich van moena thn 1933-1935)

      Suka

      • si MR j.couvreur adalah adalah pegawai penjajah belanda, bukanlah sejarawan murni…tentu sumber yg di pake berasal dr orang muna itu sendiri yg coba berusaha membuat klaim sejarah sendiri.

        buku tersebut seolah-olah dibuat oleh si pegawai penjajah belanda, padahal dibuat oleh orang muna sendiri.
        entahlah sudah berapa banyak orang muna dibohongi oleh kalangan sendiri.

        dan sangat tidak konsisten…menganggap belanda musuh,,eh ternyata mau juga dibuatkan sejarah oleh si penjajah kolonialism.

        Suka

        • Pa Ode…. jangan asal ngomong coba banta tulisan saya diatas dengan fakta sejarah yang bapak tahu… jangan asal nyerocos.
          j.couvreur adalah residen belnda seorang antropolog. Dikirim di ke Wuna krena belanda kehabisn akal unuk menghadapi militansi masyarakat kerajaan Wuna,sehingga perlu dilakukan pengenalan sosio ultur masyarakat muna dlam kajian antropolog. Metoe ini pernah dilakukan belanda ketika merk tidak mampu menaklukan aceh. statgi seperti itulah yang digunakan belanda untuk memadmkan perlawanan mayarakat Muna namun gagal. j.couvreur, kemudian di pindhkan ke NTT, sehingga banyak dokumen-dokmen yg dibuat kalah di menjdi rsiden di Muna terimpn di NTT. Pelu and kethui buku j.couvreur itu tidak diterbitkan di muna atau orng muna ttapi i NTT olh orag Australia, Bahkan orng muna yag pernh meliht nuku itu sangat sedikit karena tidak beredar di una

          Suka

          • wah, anda bohong lagi..
            j.couvreur, adalah pegawai pemerintah kolonial Belanda yang pernah menjabat sebagai kontroler (setingkat bupati).

            baca kembali pak..jangan ngarang/bo’ong lagi

            Suka

            • Ode mals dikusi denga anda hanya bisa biang org lain bohong dan tidak mendasr tapi anda tidak punya argumen yg dapat mematahkan argumn org lain. Kalau mengikuti alur berpikir anda sama saja debat kusir.

              Suka

              • tu kan…justru ANDA YANG TUKANG BOHONG..
                anda katakan bahwa j.couvreur, seorang Antropolgi.
                setelah ditelusuri ternyata dia hanyalah seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda yang pernah menjabat sebagai kontroler (setingkat bupati).

                jadi, yg debat kusir siapa ??

                Suka

                • satu lagi, tulisan j.couvreur, adalah koleksi pribadi..tak layak dijadikan referensi sejarah. apalagi dia hanyalah seorang opsir penjajah belanda.

                  Suka

    • buat LM Nur jaya ini jawaban yg tepat

      SULTAN MURHUM KAIMUDDIN I / Timbang-timbanga/La Kilaponto

      Turunan langsung Raja Buton III, Raja buton II dan Raja Buton I

      Nama asli LAKILAPONTO, julukan HALUOLEO/MURHUM/LA TOLAKI/LAKI OMPUTO, gelar SULTAN MUHAMMAD KAIMUDDIN I

      ASAL USUL
      Sultan Murhum atau Lakilaponto adalah putra Lakina Wuna “Sugi Manuru” buah perkawinannya dengan “Wa Tupabala” Putri Lakina (Adipati) Tiworo Kiy Jula.

      Sugi Manuru adalah putra Sugi Patani yang merupakan putra Sugi Patola sedangkan Sugi Patola adalah putra Banca Patola Lakina Wuna I.

      Dalam hubungan itu, Kiy Jula adalah putra Bataraguru, Raja Buton III, buah perkawinannya dengan seorang putri dari Kalaotoa.

      Bataraguru yang dikenal dengan nama Banca Patola adalah pejabat Lakina Wuna I sebelum menjadi Raja Buton, ia adalah putra Ratu Buton II Bulawambona.

      Sedangkan Bulawambona tidak lain adalah putrid Ratu Buton I Wa ka ka, buah perkawinannya dengan seorang pangeran putra Raja Manyuba/Jayanegara, Raja Kerajaan Majapahit yang bernama Sri Batara yang dikenal dalam dialek Wolio ”Si Batara”.

      Dengan demikian, maka menurut silsilah kekerabatannya, Murhum dari pihak kakeknya (Bataraguru) memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Luwu Bataralattu, sebab kakek Murhum tersebut adalah putra La Baalawu dari perkawinannya dengan Bulawambona Raja Buton II, dimana La Baaluwu tidak lain adalah putra Bataralattu yang mempunyai dua orang putra dan satu orang putrid yaitu :
      1. Sawerigading
      2. La Baaluwu
      3. Watenriabeng
      Berdasarkan silsilah itu maka raja-raja Buton dan Muna ada perkaitan kekerabatan yang erat dengan raja Luwu dan kerajaan Majapahit, sebab permaisuri raja Luwu Bataralattu yang bernama “Putri Lasem” saudara kandung Sri Batara (Si Batara) suami Ratu Buton pertama adalah berasal dari kerajaan Majapahit.
      Semasa hidupnya, Murhum melakukan perkawinan sebanyak 6 kali dan berturut-turut putri yang dikawininya adalah :
      1. Wa Ode Pogo (kemenakan Raja Muna)
      2. Wa Tampoidongi (putri Raja Buton V)
      3. Anawai Angguhairah (putri raja Konawe)
      4. putri raja Jampe
      5. putri raja Selayar
      6. Wa Sameka (putri Sangia Yi Tete)
      Dari masing-masing perkawinannya tersebut, Sultan Murhum memperoleh putra dan putri yaitu :
      1. perkawinan dengan Wa Ode Pogo memperoleh satu orang putera tetapi meninggal semasih kecil dan dikenal dengan nama gelar oleh masyarakat Buton ”Sangia I Rape”
      2. perkawinan dengan Wa Tampoidongi tidak memperoleh anak
      3. perkawinan dengan Anawai Angguhairah memperoleh 3 orang puteri yaitu Wa Ode Poasia, Wa Ode Lepo-lepo dan Wa Ode Konawe.
      4. perkawinan dengan putri raja Jampae memperoleh 1 orang putera yang bernama La Tumparasi (Sangia Boleko)
      5. perkawinan dengan putri raja Selayar memperoleh 1 orang putera yang bernama La Sangaji (Sangia Makengkuna)
      6. perkawinan dengan Wa Sameka memperoleh 4 orang puteri yaitu Paramasuni (istri La Siridatu putra Raja Batauga), Wasugirampu (istri La Galunga cucu Raja Buton V), Wabunganila (istri La Kabaura putra raja Batauga) dan Wabeta (istri La Songo raja Kambe-kambero)
      Sultan Murhum mengakhiri masa pemerintahannya karena wafat tahun 1584 setelah memerintah lebih kurang 46 tahun, sebagai raja Buton VI selama 3 tahun dan sebagai Sultan I selama 43 tahun. Setelah Sultan Murhum meninggal dunia, Sara Kesultanan Buton memilih La Tumparasi (Sangi Boleka) sebagai sultan Buton II dan dilantik pada tahun itu juga.

      (sumber : History of Buton Empire)

      Suka

      • Pa Ode kenapa sih anda mempertahankan ketidak jujuran anda? ket.ahuilah akibat ketidak jujuran org2 butn seperti anda hubungan kerajaan wuna dengan kesultanan butuuni darusalam menjadi tidak akur. PPadahal Kesltaan itu dibangun org muna dengan kucuran darah dan keringat. Ingat berapa org muna (asukan La Kilaponto) mnjadi korban ketika melawan labolontio dan pasukannya. Kemudian bagai mana sulitnya La Kilaponto ,putera raja wuna Sugi Manuru, menyatukan kerajaan2 teangga untuk membentuk kesultanan Butuui Darusalam. Semua pengrbanan itu malah dibalas dengan penghianatan Sapati La Singga dan Sutan Dayanu Ikhsanuddin yag nota bene adalah cucu nya sendiri untuk kepentingan dirinya sendir.

        Kemudian silsilah yg anda tulis itu kan dibuat org2 buton yang nota bene penghianat….org wuna td pernah mengkui itu, karena org wuna punya silsilah sendiri yang dirjujuk dari kitab I Lagaligo.

        Perlu anda ketahiiii.. La Baluwu org yg anda banggakan itu adalah budak raja Wuna ke II yang bernama La Aka gelar Sugi Patola, Sugi Patola adalah anak La Eli, gelar Bheteno Netombula.

        La Baaluwu dibawa oleh Raja Wuna ke II La Aka dari Luwu saat La Aka berkunjung ke kerajaan itu yang kebetulan dipimpin oleh adiknya. Di Wuna La Baluwu diberi nama tua sare berasal dari bahasa makassar yang artiya tukang sadap tuak. Tua sare menyeberang ke daratan buton karena diusir oleh tuannya la Aka. Di Buton kemudian menikah dengan Bulawambona sehigga dinobatkan menjadi raja. Perkawinannya dengan Bulawambona bataraguru.

        ini fakta. untuk menverifikasi itu silkan baca kitab I Lagaligo, atau baca buku Anhar gonggong.

        Suka

        • anda bilang:
          PPadahal Kesltaan itu dibangun org muna dengan kucuran darah dan keringat.

          Bantahan atas Bualanmu:
          Justru kesultanan Buton dibangun oleh kekuatan persatuan suku yang ada di Buton (Cia-cia, Kaumbeda/wakatobi, Wolio, Kulisusu, termasuk Pancana).

          La Kilaponto Hanyalah seorang Musyrik, datang ke Buton masuk islam/Mullaf dan bergelar SULTAN MURHUM KAIMUDDIN I KHALFATUL KHAMIS bukan nama Lakilaponto yang diangkat oleh SIOLIMBONA yg terdiri dari bangsawan beberapa suku di BUTON (Cia-cia, Kaumbeda/wakatobi, Wolio, Kulisusu, termasuk Pancana).

          jadi, gak usah bangga dengan nama La Kilaponto yg Musyrik itu.

          Suka

            • Bapak LM. Nurjaya, faktanya begini
              1. Raja wolio pertama adalah Wakaka.berasal dari cina atau majapahit bersuamikan Si Batara dari Majapahit Melahirkan Bulawabona ( raja buton ke 2 bersuamikan Labaluwu berasal dari luwu beranakan Betoambari ( raja buton ke 3 melahirkan tua rade ( raja buton ke 4,) melahirkan Lamulae.( raja buton ke 5 ).ini berarti mereka bukan org buton.
              2. Raja buton ke 6/ sultan buton pertama La Kilaponto/ Murhum anak dari raja Wuna ke 6. Sultan buton ke 2 La Tumparasi adalah anak dari la kilaponto dgn istrinya anak opu manjawari raja selayar. Sultan buton ke 3 la sangaji anak dari la kiaponto dgn ixtrinya anak raja jampea. Sultan buton ke 4 la elangi adalah cucu la kilaponto dan cucu la mulae. Sultan2 buton selanjutnya adalH anak dan cicit dari la elangi. Ini berarti mereka itu bukan org buton
              3. Selanjutnya silakan analisis sendiri

              Suka

  2. Tahukh km km siapa2 sj anak raja mulae? Thukh km siapa pmbnuh asli labolontio? Thukh km sejak kpan islam msuk dbuton? Kami org buton tau crita aslix, yg klian phami cm luarx sj bung. Buton sejak dl sdh jaya dan dprhtungkn, mmgx dlm kitab ngrakrtgma ada dsebut muna, yg ada cm buton bung.. dan itu fakta, bkn rkyasa blanda yg klian msuhi tp mau jg dbodohi olh bku ciptaan mrk..

    Suka

  3. “”””Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

    Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge’ langi’ kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu’, sebuah daerah di Luwu’, sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone””””

    Aforatokomiu hintumiu basitieku te wuna…….. “kalian mau kah punya moyang yang tidak jelas asl usulnya seperti yang dikutip LAGALIGO diatas……… lebih hebatmi dia daripada manusia pertama yang disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu Adam,,, berapa ribu tahun selisih umurnya LAGALIGO dengan Nabi Adam?…… aitu maka lagaligo yini…. galigo galigo…. fekabohemo mieno wuna”

    Suka

    • saudara sangia, kami bangga anda memiliki kepedulian terhadap sejarah peradaban masyarakat wuna. Namun yg perlu diketahui dalam memahami sejarah itu tdk cukup dgn hanya membaca konteksnya saja, tetapi perlu dikaji dari segi sosiologi dan antropologi bagai mana latar belakang lahirnya sebuah cerita aejarah yg sering disebut sebagai legenda. sdh menjadi hal yg lumrah dalam melahirkan pemimpin dalam suatu komunitas selalu dibaluti dgn mitos dan cerita luar biasa sehingga masyarakat menganggap pemimpin yg akan mereka tunjuk memiliki kelebihan yg tidk dimiliki warga kebanyakan. dgn demikian pemimpin yg ditunjuk dipatuhi oleh seluruh warga. jd saran saya, jgn dulu kita menganggap org lain tdk paham sebelum kita sendiri tdk memiliki pemahamam yg cukup ttg sesuatu.

      Suka

  4. Alhamdulillah bhasitieku Muhammad Alimuddin….. akhirnya dibalas juga komenku…….

    Saya melihat bhasitieku di Muna ini terlalu membanggakan Asal Muasal Muna yang berdasar dari Epik Galigo……. Saya juga ini Orang Muna… kalau begitu coba jelaskan saya kajian sosiologi & Antropologi sebagai pembenaran dari Kutipan Epik Galigo……. karna 1000% sangat saya tidak setuju & sependapat kalau Moyangku seperti yang di Kutip Epik Galigo…… contoh kecil saja…secara fisik apakah sama dengan orang selatan??????????????????

    Coba kit menoleh kebelang lagi…. tentang Liang Kobori….. coba kaitkan dengan Kutipan Epik Galigo….. Apa kaitannya????

    *** Satu Hal yang Harus kita ingat……. jangan saling menghujat antara Buton & Muna atau sebaliknya…. kita ini satu…. tidak akan dikatakan Muna kalau Tidak ada Buton…. Begitu juga sebaliknya…….****

    nb. Sejarah itu memang penting untuk di ketahui dan di Kaji kebenarannya… tapi jangan sejrahnya mengada ngada….

    sebuah Tesis merupakan hasil dari penelitian….. namun dikatakan Tesis karnya belum diatau Kebenarannya secara pasti……..

    Suka

  5. saudara sangia yg smart,
    sekali lagi kami ucapkan trima kasih atas kepedulian anda terhadap sejarah peradaba orang muna. tp sayangnya saya tdk mengerti dgn apa yg anda maksud serta tdk tahu apa yg anda kritik sebab menurut saya tdk ada dlm tulisan saya seperti yg anda maksud tsb.

    pd kesempatan ini saya sarankan supaya membaca buku sejarah peradaban orang muna, suatu upaya pelurusan sejarah di blog ini https://formuna.wordpress.com/buku/mengenal-sejarah-dan-peradaban-orang-muna-upaya-pelurusan-sejarah/ khususnya bab asal usul pulau muna dan bab orang muna.
    di kedua bab itu menjelaskan siapa sebenarnya nenek moyang orang muna dan sebagian besar oramg buton

    Suka

  6. Aslm sdraku “sangia”

    maaf, sya nimbrung berkomentar…., apa yang sdr sanksikan tentang asal muasal orang muna bukan sedikit orang muna yang mempertanyakannya…., pembuktian ilmiah menunggu pembenaran dari sejarah lisan yang kita dengar dari leluhur… , Sya pun memberi nilai pada sejarah lisan tsb sebagai signal untuk melakukan pembuktian. Apa boleh buat suatu kalimat yang sangat menyakitkan jika kita menelaah secara mentah2 apa yang tertuang dari epik lagaligo… dimana epik tsb juga sya belum pernah baca (kalo lihat pernah tapi hanya penggalann di benteng Makassar/musium lagaligo).

    untuk hal diatas saya masih mencari jalan pembuktian tentang hal tsb, beberapa masukan yang saya dapatkan :
    1). Lagaligo adalah anak dari sawerigading…. sawerigading menurut orang luwu (kbtulan ada teman orang luwuk) adalah manusia (dilahirkan di luwuk) dan saya lupa nama kampung kelahiran sawerigading tsb (insya Allah sya akan cek ulang). ini berarti Lagaligo adalah manusia… dalam epik yang dibuatnya atau epik yang menceritakan tentang lagaligo dengan kisah dialam khayangan (ghaib) mesti kita harus cermati pemaknaannya……, jangankan pada masa itu masa raja muna I (La Eli) saja cerita bernuansa ghaib mengikiuti perjalanannya…. dan model kayak begini juga dijumpai pada beberapa kitab ditanah jawa (majapahit).
    2). Berdasarkan penelitian Hall (2001) dan bross (2005) menunjukkan bahwa pulau Muna muncul pada masa 15 juta thun yang lalu. klau saja epik lagaligo ada stelah itu maka epik tsb bisa memberi informasi ilmiah (signal). namun rana ilmiahnya memerlukan hal (ilmu) khusus krena epik yang tertulis dalam bentuk puisi merupakan “kalimat bersayap”. malah saya berfikir (mungkin) bahwa epik lagaligo semacam kitab suci….. allahu alam. namun intinya bahwa peradaban dimuna sudah lama ada dan itu dibuktikan pada relief pada liang kabori, dari hal tsb bahwa Ras manusia telah ada.
    3. sya juga tidak melihat secara jelas sejarah lisan masyarakat muna yang membedakan rana prasejarah dan sejarah. hal ini terkait apa yang saya dapatkan di tanah maluku utara, bahwa negeri muna mereka menyebutnya negeri Almaliki, dimana la Eli membawa perintah dari kerajaan abbasiah untuk menjadi raja di tanah muna dan kondisi tsb dijelaskan dalam sejarah lisan sebagai betheneno ne tombula.
    4. nama tempat dan masyarakat muna pernah berubah dari negeri almalik menjadi negeri munajat, uraian ini sya dengar langsung dari uraian Siohi cina (penjaga gunung tidore) yang jabatannya kita samakan saja dengan mba marijan yang menyebutnya negeri muna buton adalah negeri almalik (9 kerajaan). Nama muna mulai dipakai setelah Laode Pada (Syech Almunawar) melakukan munajat untuk kelahiran Laode Husein, sehingga peristiwa tersebut adalah titik balik sejarah dan peradaban muna yakni negeri almalik menjadi pulau muna dan mulai penggunaan nama depan nama menggunakan Laode.

    dari hal ini maka sya melihat 3 hal… 1) masyarakat muna sdh lama ada dan mendiami pulau muna namun dari mana penduduk aslinya (keturunan siapa) allahu allam …. 2) masyarakat muna digambarkan dalam struktur masyarakat (kerajaan) ada sejak La Eli jadi raja I ditanah almalik, adapun kisah gaib dari bambu saya melihatnya sebagai bahasa sastra yang mengandung makna membawa perintah yang disimpan dari bambu (semacam fungsi amplop). 3) Nama tanah muna dan masyarakat muna dimulai sejak Lahirnya omputho sangia.

    hanya Allahlah sumber kebenaran.

    Suka

    • sy hanya ingin tau hal yg sebenar2nya : “BENARKAH SEMUA RAJA/SULTAN BUTON ADALAH BUKAN ORANG ASLI BUTON?” mohon penjelasan yg sebenar2nya. apabila dalam penjelasan bapak2 terdapat hal2 yg subyektif, SAYA “MENYUMPAI” bapak2 “TIDAK PANJANG UMUR”

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s