D. Aspek Aksiologi Penulisan Sejarah Dinasti Kerajaan Muna


D. Aspek Aksiologi Penulisan Sejarah Dinasti Kerajaan Muna

Selanjutnya dilihat dari aspek aksiologi dalam penulisan Sejarah Dinasti Kerajaan Muna Laode Rere sebagai Raja Muna Terakhir, dapat menambah wawasan mengenai pengetahuan tentang kebenaran sejarah Muna umumnya dan khususnya hubungan kerajaan Muna dan kesultanan Buton. Dan yang tidak kala pentingnya untuk diketahui dari buku ini.
Pertama, bahwa agar anak cucu kita tidak diajarkan pada cerita tentang sejarah Muna, khususnya tentang pemerintahan dinasti kerajaan Muna tanpa didukung dengan fakta yang dapat diterima secara ilmiah atau penulisan sejarah yang dijauhkan dari ajaran “ Logico-Hypotetico-Verivicatie “, sehingga menggambarkan ketidakobyektifan dalam penulisan sejarah Muna pada umumnya dan sejarah tentang pemerintahan dinasti kerajaan Muna khususnya.
Kedua, untuk menunjukkan kebenaran mengenai kerajaan Muna yang dipimpin secara turun temurun (dinasti) atau dalam bahasa adat Muna disebut “Sampuha”. Dan kerajan bentuk dinasti di Muna berakhir tahun 1928.
Ketiga, untuk diketahui tentang kebenaran sejarah, bahwa kesultanan Buton merupakan bagian dari sejarah kerajaan Muna, mengingat eksistensi kepemimpinan kesultanan Buton di awali dari kekuasaan yang lahir dari seorang raja Muna yang bernama La Kilaponto atau di Buton disebut dengan nama Murhum. Beliau ini memegang kukuasaan di kesultanan Buton selalam 46 tahun.
Keempat, untuk diketahui bahwa hubungan antara kesultanan Buton dan kerajaan Muna tidak dapat dipisahkan karena jika dilihat dari bagan silsilah kesultanan Buton pada bab 3 bagian 2, menunjukkan bahwa secara berturut-turut sultan-sultan di Buton umumnya adalah keturunan raja Muna La Kilaponto, meskipun berasal dari anak-anak perempuan La Kilaponto. Dengan demikian melalui buku ini dapat diketahui bahwa anggapan bahwa kerajaan Muna sebagai bagian atau bharata/jajahan dari kesultan Buton tidak benar atau merupakan pembohonngan sejarah Muna dan Buton.
Namun sebaliknya dalam buku ini menjelaskan tentang tradisi lisan di masyarakat Muna, bahwa Wa Kaa Kaa ialah anak dari raja Muna ke-1 Baidulzaman. Dan suami dari Wa Kaa Kaa ialah raja Buton bernama Sibatara dan di Muna dikenal dengan nama La Tua Sari yang juga merupakan bekas anak tinggal dari raja Muna ke-1.
Kelima, untuk diketahui bahwa persitiwa sejarah yang selama ini tidak terungkap terkait dengan kekuasaan raja Muna di kesultanan Buton selain dari aspek kekuasaan, juga tidak kala pentingnya dapat dilihat dari aspek bahasa yang digunakan masyarakat Buton umumnya menggunakan bahasa Muna.
16
Selanjutnya aspek kependudukan dimana penduduk Buton umumnya ialah orang Muna, dan demikian pula aspek adat dan budaya, dimana secara tersirat Buton berada dalam lingkup adat kerajaan Muna (lihat : Ter Haar hlm 301).
Keenam, sering masyarakat kurang memahami sistem pemerintahan yang ada di kesultanan Buton, dimana sesuai dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat, dan terakhir berdasarkan korte verklaring tanggal 2 Agustus 1918, maka pemerintah kesultanan Buton sudah tidak berdaulat, semenjak terbentuknya pemerintahan Swapraja. Swapraja adalah sistem dalam pemerintahan Hindia Belanda, yakni pemerintahan otonomi yang diberikan kepada raja-raja dengan syarat membuat perjanjian bahwa bersedia menjadi bagian atau bharata dari penjajahan Belanda (lihat : dokumen Arsip Nasional RI atau ANRI). Sebagai sultan hanya mengurus rumah tangga dalam lingkungan kraton kesultanan sebagai pusat pemerintahan. Namun keluar sudah menjalankan kewenangan yang dimiliki berdasarkan perintah atau petunjuk dari pemerintah jajahan Belanda.
Sultan Buton sebagai Kepala Swapraja selalu melakukan provokasi terhadap pemerintahan kerajaan Muna, hal inilah yang selalu diwaspadai oleh raja Muna. Dalam beberapa catatan sejarah kurang diperhatikan hal ini, sehingga beberapa penulis sering melihat bahwa Muna itu berada dalam kontrol sultan Buton atau sebagai subordinasi kesultanan Buton atau dalam istilah di Buton bahwa Muna sebagai bharata dari Buton, padahal menurut Arowuna Laode Rere sebagaimana disampaikan anak pertamanya Laode Badia tidak demikian.
Sultan Buton sudah merupakan bagian atau bharata dari penjajah Belanda, maka sultan Buton sudah tidak berdaulat lagi. Hal ini sesuai perjanjian penundukan yang dibuat sultan Buton semenjak tahun 1663 sampai dengan kemerdekaan Indonesia, sehingga sesuai dengan perjanjian tersebut maka sultan Buton tidak punya kekuasaan untuk bertindak keluar (lihat : Prof. Mahadi hlm 38). Disinilah letak perbedaan antara sultan Buton dan raja Muna. Raja Muna sejak awal kedatangan Belanda di Buton sudah menentangnya, namun sultan Buton tetap pada sikapnya untuk menerima sebagai bharatanya atau sebagai daerah taklukan Belanda, sehingga hilanglah kedaulatannya sebagai kesultanan dan secara tidak langsung tidak dapat mempertahankan ajaran-ajaran dari pendiri kesultanan Buton, yaitu raja Muna La Kilaponto.
Berdasarkan kondisi di atas, praktis sultan Buton merupakan unsure pemerintahan jajahan Belanda dan diberikan otonomi untuk menjalankan pemerintahannya dengan sebutan Swapraja Buton dan Laiwoi, hal ini sesuai dokumen Negara yang terdapat dalam Kantor Arsip Nasional.
Pemerintahaan Jajahan Belanda menempatkan Muna sebagai bagian dari pemerintahan Swapraja Buton dan Laiwoi dimasa raja Muna dipimpin oleh Laode ahmad Makutubu karena menerima korte verklaring tanggal 2 Agustus 1918, namun raja Muna berikutnya, yakni raja Laode Rere tidak menerima korte verklaring tanggal 2 Agustus 1918, sehingga Muna dibawah kepemimpinan raja Laode Rere tetap menempatkan Muna tetap dalam system kerajaan yang berbentuk dinasti dan berdaulat atau tidak menerima sebagai bagian dari pemerintahan swapraja Buton dan Laiwoi. Konsekwensinya, Belanda mengangap raja Muna Laode Rere melawan kebijaksanaan pemerintahan jajahan Belanda, sehingga beliau melalui sultan Buton diupayakan agar dinasti kerajaan Muna
1

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

SOWITE : " Hansuru hansuru badha, sumano kono hansuru liwu, Hansuru hansuru ana liwu, sumano kono hansuru adhati- Hansuru hansuru ana adhati, sumano tangka agama "

%d blogger menyukai ini: