B. Kamali Sebagai Sarana Menemukan Kesempurnaan


B. Kamali Sebagai Sarana Menemukan Kesempurnaan

Kata Kamali dalam bahasa Muna berarti tempat tinggal atau Istana Raja. Akan tetapi, menurut Madinur Halidin orang Buton yang telah lama bermukim di Muna dan berdasarkan silsilah raja Muna beliau juga merupakan keturunan dari raja Muna Sangia Laghada, menjelaskan bahwa kata Kamali jika dirunut asalnya adalah dari bahasa Arab yakni Kamal yang artinya sempurna.
Berdasarkan pengertian di atas, nampaknya kata Kamal dianggap paling pas untuk menunjukkan kesempurnaan kediaman seorang raja sehingga diadopsi ke dalam bahasa Muna menjadi Kamali.
Demi kesempurnaan dan menjaga harkat serta wibawa kekuasaan Raja, desain dan struktur bangunan Kamali dirancang dengan melekatkan simbol-simbol agama dan kedalaman spiritual yang memperlihatkan kekuatan, kedisiplinan dan ketaatan.
Kamali Kerajaan Muna dibangun atas persetujuan Dewan Syarat Muna atau dalam bahasan Muna disebut “ Dofongkorae O Syarah “. Adapun kamali yang dibangun atas persetujuan Dewan Syarat Muna, antara lain kamali yang ditempati raja Muna Laode Ahmad Makutubu dengan nama Kamali Panda, letaknya di Laende, Kamali di Masalili dan kamali yang dibangun sangia Kaindea terletak di Lohia yang berada dalam benteng, namun menurut salah seorang keturunan dari Sangia Kaindea yaitu Laode Ngkowawe, bahwa benteng dan kamali tersebut dihancurkan dimasa pemerintahan Laode Dika.
Adapun tanah bekas Kamali Panda sekarang dimiliki oleh Laode Shalihi mantan Kepala Distrik Katobu, anak dari Raja Muna Laode Fiu karena terakhir kamali tersebut ditempati kakeknya, yaitu raja Muna Laode Ahmad Makutubu
10
Pada Tahun 1928 Raja Muna Laode Rere membangun Istana atau Kamali, letaknya sekarang ini berdiri bangunan gedung pertemuan Wamelai atau persisnya di samping kiri kantor Camat Katobu dan pernah dipergunakan sebagai kantor Polres Muna.
Kamali ini dibangun oleh ahli pertukangan dari Buton dengan tiang bangunan (katubo) sebanyak 99 katubo, ruang pertemuan, ruang istrahat Raja, ruang keluarga. Namun sayangnya Kamali yang dibangun raja Muna Laode Rere dihancurkan oleh Bupati Muna Laode Kaimuddin.
Kamali yang memiliki 99 katubo ( tiang) sebagai wujud dari 99 sifat Allah dan menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya “ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual “ atau yang terkenal dengan sebutan ESQ (hlm 69) menjelaskan bahwa 99 sifat Allah yang terdapat dalam Al Qur’an tersebut terefleksikan pada God-Spot (Spritual Center)
Menurut Madinur Halidin, Kamali atau istana Raja dapat dijadikan sebagai pusat kajian spritual (god-Spot) untuk menyempurnakan diri, sikap dan perilakunya sebagai hamba dihadapan Allaah Azza Wajalla. Menyempurnakan kesejahteraan rakyatnya, menyempurnakan rasa keadilan, menyempurnakan hukum dan titahnya, menyempurnakan bangunan bangsa dan negaranya demi keamanan dan ketentraman rakyatnya. Dari Kamalilah memancar kewibawaan Raja, dari Kamalilah keadilan ditegakan dan dari Kamalilah keberlangsungan kerajaan ditentukan.
Selanjutnya Kamali atau istana kerajaan juga sebagai titik pusat kehidupan sosial raja atau orang Jawa menyebutnya “paku buwana”, yang dikitari oleh para priyayi, dalam sistem lingkaran hirarki yang cukup ketat; lingkaran yang lebih luar lagi terdiri atas para pedagang dan para tukang; yang paling luar adalah para petani
Dengan berakhirnya Laode Rere menjadi Raja Muna, Kamali Wamelai ditinggalkan oleh Laode Rere dan tidak ada satupun isi dari Kamali dibawah Laode Rere, kecuali keris yang diberi nama Lameunda. Keris Lameunda adalah milik pribadi keluarga Laode Rere, yaitu milik dari kakaknya Laode Haerun Baradhai. Sebenarnya saat itu Dewan Syarat Muna menyarankan agar Laode Rere tetap untuk menempati Kamali tersebut, karena menurut pertimbangan Syarat Muna ketika itu Laode Rere adalah Raja Muna terakhir dan berhak untuk menempatinya, namun Laode Rere menolak. Padahal saat itu Laode Rere tidak mempunyai rumah dan terpaksa Laode Rere membangun rumah di tanah yang dibelinya dari La Kalende letaknya di depan penjara atau sekarang didepan Rumah Tahanan (Rutan) Raha yang lama, yaitu di jalan Basuki Rahmat No.16.
Selanjutnya, begitu Syarat Muna mendengar bahwa Arowuna Laode Rere membangunan rumah di depan Penjara lama Jalan Pertapaan (Mangga Kuning), mereka segera menemui Arowuna Laode Rere dan meminta agar rumah yang sedang dibangun tersebut juga dijadikan Kamali, namun ditolak. Istana atau kamali bukan asal bangunan akan tetapi sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa, rumah raja yang dibangun atas persetujuan Syarat Muna atau dalam bahasa Muna Dofongkorae Syarah, yaitu antara lain di Kota Muna, di Kota Raha ada dua yaitu Kamali Panda dan Kamali Wamelai, di Loghia dan Masalili. Semua Kamali atau Istana raja Muna dibangun dengan konstruksi tradisional sebagaimana halnya bangunan Kamali di kesultanan Buton, namun sayangnya semua Kamali tersebut sekarang tinggal nama atau tanpa bekas.
11
Menurut Laode Ali Hanafi yang juga putra almarhum Laode Pandu, ditulis dalam akun resmi Twiter miliknya menjelaskan bahwa terkait dengan kamali yang dibangun raja Muna Laode Rere ada persoalan dengan ayahnya. Perlu diketahui bahwa Laode Rere menjadi raja Muna tahun 1926-1928 sedangkan Laode Pandu waktu itu belum ada perannya dalam pemerintahan. Dan baru menjadi Kepala Hukum Adat tahun 1947. Oleh karena itu kurang tepat jika menghubungkan raja Muna Laode Rere dengan Laode Pandu memiliki persoalan apalagi persoalan pribadi, namun sewaktu ada pertemuan di Lasehao untuk membahas tentang siapa yang tepat menjadi pengganti Arowuna Laode Rere, dimana pertemuan tersebut dihadiri pula antara lain Arowuna Laode Rere sendiri, Laode Dika dan Laode Pandu. Dan dalam pertemuan dimaksud Arowuna Laode Rere memberikan masukan dengan tegas, agar kedepan siapa saja yang memimpin Muna tidak perlu lagi melihat apakah yang bersangkutan berasal dari keturunan raja atau yang bukan keturunan raja, yang penting jangan tunduk sama Buton atau dalam bahasa Muna “ Kofeompumu se Wolio”, Komembalimu ghatano Wolio “. Artinya jangan menyembah ke Buton, jangan menjadi budaknya Buton.
Dalam sejarah ternyata Laode Pandu yang kebetulan bukan berasal dari keturunan raja Muna menjadi Kepala Hukum Adat Muna menggantikan Laode Dika sebagai Lakina Muna atas dukungan Buton dan Belanda, sebagai bukti dimana pelantikannya dilakukan di atas kapal Belanda di Pulau Lima dekat kota raha karena tidak disetujui oleh rakyat Muna saat itu (lihat : La Kimi Batoa)
Jika arahan dari Arowuna Laode Rere tersebut yang menjadi persoalan pribadi antara Arowuna Laode Rere dan Laode Pandu kemungkinannya bisa terjadi, namun bukan persoalan kamali atau harta lainnya karena Arowuna Laode Rere sama sekali tidak memiliki sifat untuk menguasai harta kekayaan, buktinya sewaktu Laode Rere berakhir menjadi raja Muna dewan syarat ketika itu menyarankan agar Kamali yang dibangunnya tetap ditempati, namun ditolak dan satu pun tidak ada harta rakyat Muna yang dijadikan untuk milik pribadi.
Selanjutnya, yang perlu diketahui bahwa tidak semua rumah yang pernah ditempati oleh raja Muna disebut Kamali karena Kamali dibangun mendapat persetujuan Dewan Syarat Muna dan Dewan Syarat Muna versi kerajaan Muna (bukan versi Belanda) yang berakhir di era pemerintahan Lakina Muna Laode Dika.
Sebagai bukti sejarah bahwa Dewan Syarat Muna berakhir di era pemerintahan Laode Dika, yaitu dapat diketahui sewaktu raja Muda atau Solewata raja Muna (New Swaparaja) Laode Pandu mengambil keputusan untuk merubah adat Muna terkait dengan mahar perkawinan dari 20 Bhoka menjadi 55 bhoka tidak diterima masyarakat Muna karena Laode Pandu menerima jabatan sebagai kepala Hadat tidak melalui persetujuan dewan syarat Muna, namun melalui pengangkatan yang dilakukan oleh Belanda bekerja sama dengan Buton di atas kapal perang Belanda (lihat : La Kimi Batoa).
Adapun tanah-tanah mulai dari rumah tempat tinggal Pastor sekarang sampai sekolah Misi termasuk eks sekolah Cina yang sekarang berdiri eks gedung Bioskop depan toko Berdikari adalah milik raja Muna Laode Rere, namun saat itu Laode Rere masih menjabat sebagai raja Muna memberikan kepada Tuan Pastor dengan pertimbangan mereka akan mendirikan Sekolah dan Rumah Sakit milik Yayasan Katolik dengan bantuan dana dari Belgia.
12
Tindakan raja Muna Laode Rere memberikan kesempatan kepada Pastor untuk mendapatkan tempat di Muna, mendapat kecaman dari sultan Buton. Dan menurut tradisi lisan masyarakat Buton, mengatakan bahwa raja Muna Laode Rere ialah raja Muna yang membawa agama non Muslim masuk di daratan Muna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s