Sekenario Membungkam Nazaruddin


Polisi Kolombia Jeli, Nazaruddin Tak Berkutik Lagi

Deden Gunawan – detikNews
Polisi Kolombia Jeli, Nazaruddin Tak Berkutik Lagi
Jakarta – Petualangan Muhammad Nazaruddin alias Nazar sebagai buronan berakhir sudah. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) yang tersangkut kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI di Jakabaring, Palembang itu akhirnya ditangkap polisi Kolombia.

Nazar ditangkap saat berada di Bandara Rafael Nunez International Airport di Kota Cartagena pada Sabtu malam menjelang Minggu, 7 Juli 2011 pukul 02.00 waktu setempat. Nazar saat itu hendak terbang menuju Bogota, ibukota Kolombia, untuk menonton salah satu pertandingan sepakbola FIFA U-20.

Pejabat polisi Kolombia menuturkan, petugas bandara mencurigai Nazar setelah menemukan perbedaan antara foto di paspor dengan wajah pria yang tengah menunggu proses pemeriksaan bandara. Paspor itu atas nama Syarifuddin.

Setelah diteliti, ketahuanlah Nazar adalah seorang buronan interpol. Tanpa waktu lama polisi Kolombia kemudian menahan mantan orang penting di partai besutan Presiden SBY itu.

Petugas Kolombia memberitahukan penangkapan Nazar kepada Duta Besar RI untuk Kolombia Michael Manufandu sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Mendapat laporan itu, Michael yang berada di Bogota langsung terbang ke Cartagena.

Di kantor polisi Kolombia, Michael melihat Nazar yang mengenakan kaos biru yang dipadu jaket biru tua dan celana jeans tampak lesu. Tangannya diborgol. Nazar gampang dikenali karena tidak ada perubahan mencolok pada fisiknya dengan foto yang beredar selama ini. “Hanya dia tampak lemas, mungkin karena tidak tidur,” kata Michael.

Michael mendampingi Nazar selama pemeriksaan 4 jam. Selama itu, Nazar tetap mengaku sebagai Syarifuddin. Ia menyangkal merupakan buron Interpol. Namun setelah melalui proses pemeriksaan oleh Interpol Kolombia dan perwakilan RI di Kolombia akhirnya ia mengakui, bahwa memang benar dia Nazaruddin.

Usai mengakui itu, Nazaruddin langsung diborgol dan diterbangkan ke Bogota untuk ditahan oleh Interpol. Setelah perjalanan selama satu jam, Nazar dimasukkan ke dalam penjara Bogota. “Registerasi di penjara Bogota atas nama Nazaruddin karena dia sudah mengakui nama sebenarnya Nazaruddin,” kata Minister Conselor Kedutaan Besar RI di Kolombia Made Subagia.

Nazar diketahui sudah berada di Kolombia selama 14 hari dan 4 hari di Cartagena. Dalam pelariannya, Nazar telah menyinggahi 5 negara yakni Singapura, Vietnam, Kamboja, Dominika, dan Kolombia. Sebelum ke Kolombia, ia transit di Madrid, Spanyol.

Nazar selama ini diketahui kabur bersama anak dan istrinya, Neneng Sri Wahyuni. Namun dua anak Nazar dititipkan pada saudaranya di Malaysia. Sementara sang istri dikabarkan ikut ke Kolombia. Tapi bagaimana Neneng sekarang tidak diketahui. “Nggak tahu di mananya,” kata Subagia.

Sementara Syarifuddin yang paspornya dipakai Nazar ternyata adalah sepupu tersangka suap Wisma Atlet itu. Ia saat ini masih ditahan di Polda Sumatera Utara. Sepupu Nazar itu masih diperiksa intensif Direskrim Polda Sumut untuk dimintai keterangan terkait paspornya yang berpindah tangan ke Nazar.

Kapolda Sumut Inspektur Jenderal Wisjnu Amat Sastro mengatakan, Syarifuddin datang sendiri ke Mapolda didampingi pengacara dan melaporkan soal paspornya yang hilang, Selasa (9/8/2011).

“Dia datang dari Jakarta naik pesawat pertama ke Medan. Kemudian nyari pengacara di sini (Medan) untuk mendampinginya melaporkan kehilangan paspor,” jelas Wisjnu kepada detik+.

Namun, Wisjnu tidak akan percaya begitu saja dengan laporan kehilangan Syarifuddin. Tim Direskrim Polda Sumut saat ini sedang memeriksa beberapa petugas imigrasi Medan yang bertugas saat keluarnya paspor atas nama Syarifuddin.

Sementara sumber detik+ di lingkaran dekat Nazar mengatakan, selama dalam pelarian Nazar memang dibantu oleh saudara-saudaranya. Mereka adalah Syarifuddin, Nasir, dan Helmi. Ketiganya adalah saudara sepupu Nazar.

Mereka punya tugas masing-masing. Syarifuddin bertugas membantu Nazar saat di luar negeri. Nasir bertugas melobi sejumlah kalangan di Indonesia terkait kepentingan Nazar. Sementara Helmi ditugasi menjalankan perusahaan-perusahaan milik Nazar di Indonesia. Namun saat detik+ mencoba menghubungi Nasir dan Helmi, telepon seluler keduanya tidak aktif.

“Sejak 2 hari ini memang Nasir dan Helmi tidak bisa dikontak. Padahal sebelumnya saya masih bisa BBM atau bertelepon dengan keduanya,” kata Tridianto, mantan staf Nazar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s