MUNA PULAU KARST


Memperhatikan komposisi dan struktur Tanah Wuna (Witeno Wuna), mulai dari jenis bebatuan, topografi, aliran sungai permukaan dan sungai bawah tanah, gua/goa hingga endapan sedimen yang ada, Muna termasuk kategori pulau karst.

karst 1

Witeno Wuna diperkirakan sudah berumur ribuan hingga jutaan tahun lamanya. Diprediksi pula, dahulu Pulau Muna merupakan dasar lautan yang kemudian terangkat ke permukaan akibat pergeseran dan pergerakan tektonik, termasuk proses alam lainnya seperti karsifikasi yang menghasilkan daerah karst.

Karst adalah bentuk bentang alam khas yang terjadi akibat proses pelarutan pada suatu kawasan batuan karbonat atau batuan mudah terlarut (umumnya formasi batu gamping) sehingga menghasilkan berbagai bentuk permukaan bumi yang unik dan menarik dengan ciri-ciri khas exokarst (di atas permukaan) dan indokarst (di bawah permukaan).

Secara teori, daerah karst (termasuk karst Muna) terbentuk oleh pelarutan batuan secara kimia oleh air pada batuan gamping, gipsum, batu garam atau batuan lain yang mudah larut. Unsur ini bertanggung jawab terhadap terbentuknya fenomena karst baik di permukaan maupun bawah permukaan bumi.

Air hujan dan karbondioksida akan melarutkan batu gamping sehingga di permukaan terbentuk aneka jenis bukit dan lembah. Di bawah permukaanpun berkembang sistem per-goa-an dan sungai bawah tanah. Proses karsifikasi ini berlangsung selama jutaan tahun sehingga menghasilkan bentangan alam kawasan karst dalam berbagai bentuk.

KARAKTERISTIK KARST WUNA

Kawasan karst Muna banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah yang juga menjadi pemasok ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (air bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

karst 2

Kawasan karst Muna memiliki karakteristik relief yang khas. Pada kawasan ini terdapat aliran sungai yang secara tiba-tiba masuk ke dalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. Pola pengaliran air juga tidak sempurna, kadang tampak, kadang hilang, yang disebut sebagai sungai bawah tanah.

Adapun ciri-ciri kawasan karst Muna antara lain :

  1. Terdapat sejumlah cekungan (depresi) dengan bentuk dan ukuran yang bervariasi, cekungan tersebut digenangi air atau tanpa air dengan kedalaman dan jarak yang berbeda-beda.
  2. Bukit-bukit kecil dalam jumlah banyak yang merupakan sisi-sisi erosi akibat pelarutan kimia pada batu gamping, sehingga terbentuk bukit-bukit (conical hills).
  3. Sungai-sungai tidak mengalami perkembangan pada permukaan. Sungai pada daerah Karst Muna umumnya terputus-putus, hilang kedalam tanah dan begitu saja muncul dari dalam tanah.
  4. Terdapat sungai-sungai di bawah permukaan, adanya goa-goa kapur pada permukaan atau di atas permukaan.
  5. Terdapat endapan sedimen lumpur berwarna merah (terrarosa) yang merupakan endapan resedual akibat pelapukan batu gamping.
  6. Permukaan yang terbuka mempunyai kenampakan yang kasar, pecah-pecah atau lubang-lubang maupun runcing-runcing (lapies)
  7. Banyak terdapat stalaktit dan stalakmit akibat air yang masuk ke lubang-lubang (doline) kemudian turun ke gua dan menetes dari atap gua ke dasar gua yang berubah jadi batuan.

KAWASAN KARST MUNA PENOPANG KEHIDUPAN

Kawasan karst Muna, tidak hanya sebatas bukit gamping dan sungai di bawahnya, namun merupakan sebuah ekosistem yang kompleks. Beragam makhluk hidup tergantung dari keberadaannya, tidak terkecuali manusia.

karst 3

Kawasan karst Muna memiliki keberagaman flora dan fauna yang merupakan unsur penting dalam kehidupan. Kawasan karst Muna di lapisan permukaan ditandai dengan terbentuknya bukit-bukit, lembah-lembah terjal, atau cekungan. Cekungan-cekungan atau lembah ini menampung air hujan dan berfungsi sebagai telaga.

Sungai di kawasan karst Muna banyak yang terputus alirannya–tidak punya muara dan bertemu laut–karena “hilang” dan masuk ke bawah tanah. Aliran air yang “menghilang” dari permukaan ini, adalah indikasi keberadaan sistem perairan bawah tanah.

Saat musim hujan, air hujan akan lebih banyak masuk ke dalam rongga-rongga atau celah yang langsung menuju ke sungai bawah tanah. Sedangkan lapisan di bawah tanah mengalami pelarutan yang menyebabkan terbentuknya ruangan-ruangan, lorong sungai bawah tanah, dikenal dengan goa atau sistem per-goa-an.

Goa yang cukup besar, memungkinkan manusia untuk masuk ke dalamnya. Namun tidak semua goa dapat dimasuki dengan mudah. Keberadaan goa tersebut, mencerminkan kompleksitas sistem perairan bawah tanah.

Kompleksitas kawasan karst Muna membuatnya jadi habitat berbagai satwa–secara langsung atau tidak–berperan penting bagi manusia. Misalkan saja keberadaan kelelawar yang hidup di goa-goa karst merupakan pengendali alamiah hama pertanian maupun penyerbukan berbagai jenis tanaman.

Kehadiran kelelawar sebagai pemangsa serangga, berperan penting untuk mengendalikan populasi serangga yang berpotensi menimbulkan wabah penyakit, misalnya penyebaran penyakit malaria dan arthropods penyebar penyakit ternak.*

penulis : LA ODE MUHAMMAD RAMADAN

FB_IMG_1506213307937

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.