Witeno Wuna dengan Gugusan Pulau-Pulau Kecilnya


Witeno Wuna wite barakati merupakan sebutan ‘sakral’ terhadap keberkatan tanah di Kabupaten Muna. Daerah yang termasuk kabupaten kepulauan di Provinsi Sulawesi Tenggara ini memiliki wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan wilayah daratanya. Luas wilayah lautnya tercatat mencapai angka 2.559,4 kilometer persegi dengan panjang garis pantai hingga 337 kilometer.

Sebagai daerah kepulauan, Witeno Wuna dikelilingi oleh gugusan pulau-pulau kecil, baik itu pulau kecil berpenghuni maupun pulau kecil tidak berpenghuni. Terdapat 203 pulau kecil yang mengitari Kabupaten Muna dengan rincian 7 pulau kecil berpenghuni tetap, 4 pulau kecil berpenghuni tidak tetap dan 192 pulau kecil tidak berpenghuni.

Pulau-pulau kecil yang berpenghuni tetap itu dapat digambarkan sebagai berikut :    

PULAU KOGHOLIFANO

Pulau Kogholifano merupakan desa pulau yang berada pada koordinat 04°58,305′ Lintang Selatan dan 122°47,256′ Bujur Timur. Pulau ini merupakan wilayah administratif Kecamatan Pasir Putih.

Pantai dan Perumahan

Pulau yang memiliki luas sekitar 151 hektar atau 1,51 kilometer persegi dengan panjang garis pantai mencapai 5,50 kilometer itu, memiliki 2 (dua) dusun dan 4 (empat) RT.

Penduduk yang bermukim di pulau ini mencapai 900-an jiwa dengan 180 rumah tangga.

Pulau Kogholifano memiliki ciri-ciri fisik berbentuk elips yang memanjang dari Barat ke Timur dengan ketinggian daratan berkisar 2 – 9 meter di atas permukaan laut, dan kondisi pantai sebagian besar berbatu.

Sarana infrastruktur yang terdapat di Pulau Kogholifano meliputi Mesjid, SD dan SMP satu atap, dermaga, balai desa, pustu, pasar desa/pasar tradisional.

Sumber air bersih diperoleh masyarakat dari Desa Pola dan Mata Indaha. Sementara untuk penerangan listrik berasal dari Listrik Tenaga Surya (LTS) dan listrik desa tenaga diesel.

Mata pencaharian utama penduduk Desa Kogholifano, Pulau Kogholifano meliputi nelayan dengan alat tangkap pukat dan pancing rawai; petani/pekebun; dan jasa pertukangan.

Penduduk Pulau Kogholifano didominasi oleh Suku Muna yang seluruhnya beragama Islam.

PULAU BAKEALU

Pulau Bakealu merupakan desa pulau yang terdapat di Kecamatan Wakorumba Selatan. Posisinya berada di Selat Buton dengan luas wilayah mencapai 12,32 hektar atau 0,12 kilometer persegi. Panjang garis pantainya sekitar 1,8 kilometer. Di pulau kecil ini, terdapat 2 (dua) dusun, 1 (satu) RT, dan 2 (dua) RW.

Bakealu 11

Pulau yang berada koordinat 04°50,022′ Lintang Selatan dan 122°44,648′ Bujur Timur itu dihuni sekitar 300-an jiwa penduduk. Pulau ini didominasi oleh Suku Muna. Ciri-ciri fisik pulau adalah pantai berpasir yang cukup landai dengan ketinggian 0-16 meter di atas permukaan laut.

Pulau Bakealu cukup potensial bagi pengembangan budidaya rumput laut dan ikan. Parameter kualitas air di perairan pulau tersebut meliputi suhu rata-rata 29oC, kecepatan arus 9,69 sentimeter perdetik, kecerahan 7 meter, salinitas 32 Ppm dan pH 7,6.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau Bekealu adalah Mesjid, Sekolah Dasar, Dermaga, Balai Desa, dan kebun bibit rumput laut.

Pada tahun 2010 lalu melalui kegiatan PNPM dilakukan pemasangan jaringan air bersih. Sumber air berasal dari mata air Amanggili, Desa Wakorumba, Kecamatan Wakorumba Selatan.

Sebagian besar penduduk Desa Bakealu telah menggunakan sarana MCK. Tercatat ada 26 unit MCK yang digunakan warga.

PULAU BONTU-BONTU TIMUR DAN PULAU BONTU-BONTU BARAT

Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat merupakan wilayah administrasi Kecamatan Towea. Kedua pulau ini terpisah oleh kanal selebar 30 meter. Dibagian Barat kanal disebut Pulau Bontu-Bontu Barat dan dibagian Timur kanal disebut Pulau Bontu-Bontu Timur. Antara Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat tersebut dihubungkan sebuah jembatan dengan konstruksi kayu.

1

Pulau Bontu-Bontu Timur yang menempati koordinat 04°35,739′ Lintang Selatan dan 122°43,156′ Bujur Timur memiliki luas sekitar 69,37 hektar. Panjang garis pantainya mencapai 5,08 kilometer. Penduduk yang mendiami Pulau Bontu-Bontu Timur mencapai 800-an jiwa dengan 126 rumah tangga.

Di Bontu-Bontu Barat, luasnya mencapai 59,50 hektar dengan panjang garis pantai 3,88 kilometer. Penduduk yang menghuni pulau yang berada di koordinat 04°35,680′ Lintang Selatan dan 122°43,016′ Bujur Timur ini mencapai 600-an jiwa dengan 80 rumah tangga.

Secara fisik, Pulau Bontu-Bontu Timur dan  Pulau Bontu-Bontu Barat memiliki ciri-ciri

  1. Kedua pulau ini dipisahkan oleh kanal dengan lebar sekitar 30 meter;
  2. Daratannya memiliki hutan mangrove yang didominasi species Rhizophora mucronata, Bruguiera Gymnorhiza dan Soneratia alba;
  3. Dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang namun kondisinya telah rusak berat;
  4. Berpantai pasir dan batu cadas;
  5. Posisi pulau terletak di depan Dermaga Fery Tampo dengan jarak tempuh dari dermaga tersebut sekitar 10 – 15 menit.

Kondisi kualitas air disekitar Pulau Bontu-Bontu Timur dan Pulau Bontu-Bontu Barat meliputi suhu berkisar 26oC, kecepatan arus 23,47 sentimeter perdetik, kecerahan 8,0 meter, pH 8,1 dan salinitas 33 ppm. Kondisi demikian cukup potensial untuk kegiatan budidaya laut seperti rumput laut dan teripang.

Sarana dan prasarana yang terdapat di kedua pulau ini adalah Mesjid, Sekolah, Dermaga, Balai Desa, Puskesmas, dan Pasar Desa/tradisional.

PULAU TOBEA

Pulau Tobea merupakan salah satu pulau yang tedapat di Kecamatan Towea. Luas Pulau ini mencapai 2.410,95 hektar atau 24,11 kilometer persegi dengan panjang garis pantai 42,56 kilometer.

Dusun Torega 1

Di pulau yang terbentang pada koordinat 04°31,228′ – 04°34,497′ Lintang Selatan dan 122°43,115′ – 122°44,517′ Bujur Timur ini terdapat 3 (tiga) desa yakni Desa Moasi (ibu kota kecamatan), Desa Wangkolabu, dan Desa Lakarama.

Ciri-ciri fisik pulau adalah :

  • Hampir seluruh pantainya memiliki mangrove, terutama bagian barat dan selebihnya pantai berpasir dan batu;
  • Daratannya terdiri dari tanah dan sebagian batu;
  • Ketinggian daratan berkisar antara 0 – 80 meter di atas permukaan laut.

Adapun data demografi, sosial ekonomi dan infrastruktur yang terdapat pada masing-masing desa pada Pulau Tobea adalah sebagai berikut :

  1. Desa Moasi

Jumlah Penduduk Desa Moasi mencapai 1.000-an jiwa dengan 182 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk meliputi nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Moasi beragama Islam. Suku yang mendiami desa tersebut adalah Suku Muna yang jumlahnya mencapai 90 persen, dan selebihnya suku Bajo, Bugis, Buton dan Jawa.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Moasi meliputi Mesjid, sekolah, dermaga tambatan perahu, balai desa, puskesmas, dan sumber air bersih berupa sumur gali.

  1. Desa Wangkolabu

Penduduk yang mendiami Desa Wangkolabu mencapai 500-an jiwa dengan 124 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk terdiri atas nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumput laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Wangkolabu beragama Islam. Etnis Muna, Bugis dan Bajo merupakan penghuni desa ini.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Wangkolabu meliputi Mesjid, dermaga tambatan perahu, balai desa, dan sumber air bersih berupa sumur gali.

  1. Desa Lakarama

Desa Lakarama dihuni sekitar 1.300-an jiwa dengan 267 rumah tangga. Mata pencaharian penduduk terdiri atas nelayan/penangkap ikan, pembudidaya rumpu laut, pembudidaya ikan, pedagang, dan PNS.

Seluruh penduduk di Desa Lakarama beragama Islam. Sarana dan Prasarana yang terdapat di desa yang dihuni oleh etnis Muna dan Bajo ini meliputi Mesjid, sekolah, dermaga, balai desa, puskesmas, sumber air bersih berupa sumur gali, dan pasar desa/tradisional.

PULAU RENDA

Pulau Renda merupakan wilayah administrasi Desa Renda, Kecamatan Towea yang terbentang pada koordinat 04°34,329′ Lintang Selatan – 122°40,574′ Bujur Timur. Luas pulau ini mencapai 159,6 hektar atau 1,596 kilometer persegi. Jumlah penduduknya mencapai 400-an jiwa dengan 121 rumah tangga.

Renda 8a

Pulau yang didiami sejak tahun 1970-an oleh etnis Muna dan Bajo ini memiliki panjang garis pantai mencapai 7,57 kilometer. Bahasa Muna dan Bajo merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di pulau ini.

Ciri-ciri fisik pulau adalah terdapat hutan mangrove yang didominasi oleh species Rhizopora mucronata, Aegiceras floridum dan Bruguiera ghymnorrhiza. Ketinggian daratan Pulau Renda adalah 1 – 3 meter  di atas permukaan laut dengan karakteristik pantai landai dan berpasir putih. Pulau ini juga dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang dengan kondisi rusak.

Pulau Renda memiliki potensi yang layak untuk pengembangan budidaya kerapu dalam keramba (keramba jaring tancap dan keramba jaring apung), budidaya teripang dan budidaya rumput laut.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau Renda adalah Mesjid, sekolah, dermaga, balai desa, puskesmas/pustu.

PULAU PASIKUTA

Pulau Pasikuta merupakan pulau di Kecamatan Marobo yang berada pada koordinat 05°01,252′ Lintang Selatan dan 122°16,284′ Bujur Timur. Pulau ini terdiri atas 1 (satu) desa yaitu Desa Pasikuta.

Pasi Kuta 3

Luas pulau ini mencapai 2,96 hektar atau 0,03 kilometer persegi dengan panjang garis pantai mencapai 0,89 kilometer.

Jumlah penduduk pulau yang dihuni oleh etnis Muna, Bugis dan Bajo mencapai 900-an jiwa dengan 149 rumah tangga.

Ciri-ciri fisik Pulau Pasikuta adalah memiliki pantai berpasir putih kasar bercampur batuan kecil dengan ketinggian daratan berkisar 1 – 4 meter di atas permukaan laut.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Pulau tersebut adalah  sekolah dasar, SMP, dan Mesjid.

DESA TERAPUNG TAPI

Tapi-tapi merupakan desa terapung. Disebut sebagai Desa Terapung karena wilayah yang dijadikan kawasan pemukiman tersebut berada di lokasi yang tidak tampak massa daratannya meskipun pada saat surut terendah.

tapi-tapi

Secara administratif, Desa Tapi-Tapi masuk dalam wilayah hukum Kecamatan Marobo.

Jumlah penduduk yang bermukim di Desa terapung Tapi-Tapi mencapai 2.300-an jiwa dengan 149 rumah tangga. Penduduk Desa Tapi-tapi merupakan perpaduan beberapa etnis yakni Etnis Muna, Bugis dan Bajo.

Pulau ini memiliki kondisi perairan laut yang cocok untuk kegiatan budidaya laut seperti budidaya teripang, lobster, rumput laut, dan lainnya.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

Ramadan..........

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s