HUMBU / KAHUMBU


HUMBU/KAHUMBU merupakan bahasa daerah orang Muna (Wambano Mieno Wuna) yang dalam Bahasa Indonesia berarti gosip atau desas-desus atau rumor.

gosip

Dikalangan mieno Wuna (orang Muna), HUMBU/KAHUMBU merupakan selentingan berita atau informasi yang tersebar luas dan sekaligus menjadi rahasia umum di publik, tetapi kebenarannya diragukan atau merupakan berita negatif.

HUMBU/KAHUMBU juga bisa berupa obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang seseorang, atau pergunjingan membicarakan orang lain dalam hal-hal yang tidak wajar.

Aktivitas atau kegiatan HUMBU/KAHUMBU bisa saja dilakukan oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Biasanya mereka melakukan ini demi mengisi waktu luang, utamanya mereka yang tidak punya kegiatan positif. Selain itu, HUMBU/KAHUMBU juga dilakukan sebagai bentuk aktualisasi diri seseorang supaya dinilai hebat atau menonjol dalam kelompok tersebut.

Bagi mieno Wuna, HUMBU/KAHUMBU merupakan perbuatan yang kurang terpuji. Perbuatan ini tidak sehat bagi kehidupan orang yang melakukanya. Sejumlah dampak negatif dari aktivitas HUMBU/KAHUMBU antara lain :

  1. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Mengetahui kehidupan dan keseharian orang lain untuk kemudian diperbincangkan dan dicarikan sisi negatifnya merupakan sesuatu hal yang tidak penting.
  2. Memupuk rasa iri dalam hati. Ketika seseorang melihat hal-hal yang mewah dan glamour pada orang lain, maka seseorang yang punya kebiasaan HUMBU/KAHUMBU akan merasa iri, lalu akan muncul keinginan untuk memilikinya juga. Keinginan inilah yang membuat seseorang hendak membeli sesuatu yang sama persis. Jika hawa nafsu seperti ini tidak dapat dikendalikan, maka mulailah otak seseorang berputar, memikirkan bagaimana caranya agar ia mendapatkan sesuatu sekalipun dengan cara-cara yang salah.
  3. Berubah menjadi orang yang cerewet. Kebiasaan HUMBU/KAHUMBU akan membuat seseorang merasa semuanya bisa diselesaikan, dipuaskan dan dibahagiakan melalui kata-kata. Padahal kadang-kadang dalam menyelesaikan masalah, kita hanya butuh diam. Kebiasaan duduk bersama teman-teman untuk ngerumpi memang membuat kosa kata seseorang semakin kaya. Namun sayang, kemampuan itu kerap disalahgunakan untuk hal-hal yang negatif dan tidak membangun. Salah satu yang mencolok adalah menjadi orang yang suka membahas privasi orang lain.
  4. Menjurus kepada fitnah, ejekan dan hinaan. Seseorang tidak akan bisa menjamin kebenaran dari semua hal yang terucap lewat bibirnya. Bisa jadi diantara hal yang disampaikannya menjadi fitnah bagi orang lain. Mungkin juga ketika seseorang menggosip (menggunjing), tiba-tiba ada saja kata-kata kasar dan sindiran yang keluar tanpa disadari untuk mengejek pihak/oknum tertentu.
  5. Cenderung lebih banyak salahnya. Ada pepatah “banyak bicara banyak salah, sedikit bicara sedikit salah“. Saat bibir tidak dapat dikendalikan alias ceplas-ceplos begitu saja membicarakan orang lain, maka ada kecenderungan apa yang disampaikan itu telah dikurangkan atau ditambahkan beberapa frase.

Dalam ajaran Islam, HUMBU/KAHUMBU disebut menggunjing atau ghibah atau juga suuzon. Sifat ini dilarang dalam ajaran Islam. Dalam Al Qur’an, kitab suci ummat Islam disebutkan : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain………” (Q.S. Al-Hujurat : 12).

Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau kalau tidak, hendaknya diam” (Muttafaqun ‘alaihi).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, Hadits ini sangat jelas menerangkan bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu yang sudah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara (Riyadhush Shalihin).

Salah satu tanda kesempurnaan Islam dan iman seseorang adalah menjaga lisan dari segala ucapan yang tidak bermanfaat. Rasulullah Muhammad SAW bersabda : “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba sebelum hatinya lurus, dan tidak akan lurus hatinya sebelum lisannya lurus.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Sehubungan tercelanya perbuatan HUMBU/KAHUMBU, ada baiknya kebiasaan ini dihilangkan. Beberapa cara atau upaya yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan HUMBU/KAHUMBU antara lain :

  1.  Mengalihkan konsentrasi pada hal-hal yang lebih positif.
  2.  Berhenti menilai orang lain sembarangan. Menilai orang lain sembarangan cendrung memperburuk image dan memperbanyak kesalahan sendiri. Sikap manusia terbuka adanya, namun dalamnya hati siapa yang tahu. Sekalipun sikap seseorang begini-begitu, namun belum tentu hatinya baik ataupun jahat.
  3. Menyampaikan informasi apa adanya. Apa yang telah dilihat dan telah didengar secara langsung dapat disampaikan kepada orang lain apa adanya, tanpa penambahan atau pengurangan. Tidak perlu bertele-tele, sebab cerita yang panjang lebar semakin besar resiko biasnya. Jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak. Sebisa mungkin menghindari menyampaikan informasi yang tidak didengar dan dilihat secara langsung. Resiko bias dan kesalahan terhadap informasi semcam ini sangat tinggi.
  4. Menyampaikan informasi tanpa emosional dan membedakan antara perasaan seseorang dengan informasi yang disampaikan. Dalam banyak konteks, seseorang menjadi berlebihan dikarenakan ia menyampaikan sesuatu dengan penuh emosional. Cobalah untuk terlebih dahulu meredam rasa amarah, kesal dan kebencian, termasuk juga rasa senang sesaat sebelum menyampaikan sesuatu. Jika seseorang mampu bersikap datar saat menyampaikan informasi, niscaya orang lainpun tidak salah mengertikannya.
  5. Biasa saja bila berjumpa dengan teman. Kebiasaan buruk beberapa orang adalah membuat percakapan dengan teman terdengar lebih seru dengan membicarakan orang lain. Apa untungnya membicarakan seseorang dibelakangnya? Justru hal ini lebih banyak ruginya sebab yang lain bisa menilai sebagai orang yang banyak bicara namun tindakan nol.
  6. Mencoba untuk memiliki kesibukan di waktu luang dan tidak menjadi orang yang proaktif/super sibuk mencari informasi tentang aib orang lain.

Berkomunikasi dengan sesama memang baik adanya. Dibalik semuanya itu, jangan hanya memperhatikan kuantitas dari setiap kata-kata yang diucapkan. Seseorang sebaiknya berusaha untuk mempertahankan kualitas setiap tutur kata, sebab perkataan seseorang identik dengan isi pikiranya. Artinya, baik tidaknya perkataan berbanding lurus/berhubungan langsung dengan isi otak seseorang. Oleh karena itu, pikirkanlah terlebih dahulu matang-matang sebelum mengucapkan sesuatu.

Penulis : La Ode Muhammad Ramadan

ramadan.....lm

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.