LEMBAGA ADAT MUNA (Setitik Harapan akan Lestarinya Adat Istiadat di Tanah Muna)


Medio Agustus 2017 lalu, Bupati Muna, L.M. Rusman Emba, S.T., mengukuhkan pengurus Lembaga Adat Muna. Seremonial pengukuhan yang berlangsung di Rumah Jabatan Galampa Kantolalo tersebut merupakan momentum penting untuk melestarikan nilai-nilai luhur adat istiadat di tanah Muna.

Ramadan.......,,,,

Dari sekedar seremonial pengukuhan tersebut, setidaknya ada setitik harapan kepada mereka yang diserahi amanah untuk menjadi motor penggerak dalam upaya melestarikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai adat istiadat suku/etnis Muna dalam kehidupan masyarakat Muna saat ini dan dimasa mendatang.

Selain harpan, seremonial pengkuhan Lembaga Adat Muna juga memunculkan segudang pertanyaan. Akankah lembaga adat yang dibentuk tersebut mampu menggali adat istiadat yang sesungguhnya yang pernah dijalani oleh etnis/suku Muna dimasa silam untuk selanjutnya dilestarikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan masyarakat Muna saat ini? ………..

Akankah Lembaga Adat Muna akan ‘berjalan’ independent tanpa adanya intervensi dan kepentingan tertentu dalam mengaktualisaiskan nilai-nilai adat istiadat suku/etnis Muna? ……………Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang terkait dengan eksisinya peran Lembaga Adat Muna dalam kehidupan masyarakat Muna saat ini dan dimasa mendatang.

Demi mewujudkan harapan dan tujuan dari terbentuknya Lembaga Adat Muna, maka sudah sejatinya jika lembaga tersebut dijadikan sebagai suatu organisasi adat yang tersusun atas pola-pola kelakuan, peranan- peranan, dan relasi-relasi yang terarah dan mengikat individu, serta mempunyai otoritas formal dan sanksi hukum adat dalam mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan adat istiadat dan hukum adat yang berlaku di tanah Muna.

Tak kalah penting, faktor lain yang akan mendukung tercapainya harapan dan tujuan pembentukan Lembaga Adat Muna adalah keberadaan pengurus yang berkecimpung dalam Lembaga Adat Muna tersebut adalah mereka yang ditokohkan, memahami seluk beluk adat istiadat suku/etnis Muna, serta memiliki kredibilitas, moral, kelakuan dan sikap yang dapat menjadi panutan dan suri tauladan bagi masyarakat Muna lainnya.

Sosok-sosok pengurus Lembaga Adat Muna ini menjadi sangat penting karena merekalah yang akan menjalankan fungsi Lembaga Adat Muna bersama pemerintah daerah dalam   merencanakan, mengarahkan, mensinergikan program pembangunan agar sesuai dengan tata nilai adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat Muna demi terwujudnya keselarasan, keserasian, keseimbangan, keadilan dan kesejahteraan masyarakat Muna.

Selain itu, sosok-sosok yang menjadi pengurus Lembaga Adat Muna juga akan menjalankan fungsi sebagai alat kontrol keamanan, ketenteraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat, baik preventif maupun represif dalam menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan, penengah (hakim perdamaian) terhadap sengketa adat istiadat yang timbul di masyarakat.

Setidaknya, Lembaga Adat Muna harus mampu menunjukkan fungsi dan peran untuk :

  1. Membantu pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang, terutama dalam bidang keagamaan, kebudayaan dan kemasyarakatan;
  2. Melaksanakan hukum adat dan istiadat di tanah Muna;
  3. Memberikan kedudukan hukum menurut adat istiadat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial ke-adat-an dan ke-agama-an;
  4. Membina dan mengembangkan nilai-nilai adat dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan adat khususnya;
  5. Menjaga, memelihara dan memanfaatkan kekayaan adat istiadat Muna untuk kesejahteraan masyarakat di tanah Muna.

 

 SEKILAS TENTANG ADAT PERNIKAHAN SUKU/ETNIS MUNA

Dalam sistem pernikahan suku/etnis Muna, dikenal tiga kelompok/golongan masyarakat yakni KAOMU, WALAKA, dan MARADIKA.

KAOMU, adatnya 20 boka.

WALAKA yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu seperti kepala wilayah (camat), kepala kampung (kepala desa), adatnya 15 boka.

WALAKA yang belum/tidak menduduki posisi/jabatan tertentu, adatnya 10 boka 10 suku.

MARADIKA yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu seperti kepala dusun/RT/RW, adatnya 7 Boka 2 Suku.

MARADIKA yang belum/tidak menduduki posisi/jabatan tertentu, adatnya 3 Boka 2 Suku.

KAOMU adatnya 20 boka. Adat Kaomu ini tidak berubah walupun menikahi wanita kalangan manapun (baik menikahi wanita sesama KAOMU, atau menikahi wanita  WALAKA atau menikahi wanita MARADIKA).

Jika WALAKA (baik yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu ataupun belum) menikahi wanita KAOMU, maka adatnya berubah menjadi 35 Boka.

Jika WALAKA yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu menikahi wanita MARADIKA maka adatnya 15 boka.

Jika WALAKA yang belum menduduki posisi/jabatan tertentu menikahi wanita MARADIKA maka adatnya 10 boka 10 suku.

Jika MARADIKA yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu menikahi wanita KAOMU, adatnya 75 Boka.

Jika MARADIKA yang belum/tidak menduduki posisi/jabatan tertentu menikahi wanita KAOMU, adatnya NANGKU-NANGKU ADJARA (…….tak terhingga…….).

Jika MARADIKA (baik yang telah menduduki posisi/jabatan tertentu ataupun belum) menikahi wanita WALAKA, adatnya 35 boka.

Jika ada suku dari luar Muna yang menikah dengan orang Muna, adatnya disebut FETEGHO RUMAMPE (……..ketentuan adat Fetegho Rumampe dapat dibaca di salah satu tulisan pada blog : www.formuna.wordpress.com)…….

1 boka nilainya Rp 24.000,- (saat tulisan ini ditayangkan)

1 Suku nilainya sama dengan 0,25 boka.*

PENULIS : LaOde Muhammad Ramadan

ramadan......

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.