Nilai-Nilai Luhur KATOBA dalam Budaya Muna


Katoba merupakan salah satu budaya masyarakat Muna yang bertujuan untuk mengokohkan nilai-nilai ke-Islam-an seorang anak yang sudah menjelang akil balik. Melalui Katoba, seorang anak yang berusia antara 6 – 12 tahun ditempa dengan berbagai nasihat kehidupan (nilai-nilai luhur ajaran Islam) yang nantinya nasihat-nasihat tersebut diharapkan dapat teraktualisasi dalam keidupan sehari-harinya ketika remaja, dewasa, hingga hari tuanya kelak.

IMG_0003

Disisi lain, budaya Katoba menurut La Ode Abdul Muksin (salah seorang Tokoh Adat Muna), merupakan suatu pertanda yang menunjukkan bahwa sang anak yang dikatoba tersebut sudah mengetahui tentang kebersihan dan kesucian dirinya. Katoba terhadap seorang anak bisa dilakukan jika anak tersebut telah dikangkilo (dikhitan/disunat).

Jika seorang anak yang sudah menjelang akil balik dikatoba, maka anak tersebut sudah diketagorikan remaja. Remaja dalam hal ini adalah sudah tau tentang kebersihan dan kesucian, utamanya kebersiahan dan kesucian dirinya. Dalam konteks yang lebih luas, anak tersebut sudah dapat membedakan mana yang baik dan hal apa saja yang tidak baik dalam kehidupan ini,” urai La Ode Abdul Muksin.

Dalam Katoba, seorang anak dinasihati untuk takut kepada kedua orang tuanya, mengikuti kakak (orang lebih tua darinya), dan menyayangi adik (orang yang lebih muda darinya). Namun nasihat Katoba ini tentunya dalam konteks dan konten yang sesuai dengan ajaran Islam.

Jika konteks dan konten bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, apalagi itu terkait dengan hal-hal yang membahayakan dan mengancam keselamatan hidup sang anak, termasuk menyandera kebahagiaan hidup anak menurut ajaran agama Islam, maka sang anak memiliki alternatif untuk tidak menurut.

Selain nasihat tersebut, menurut La Ode Abdul Muksin, dalam Katoba juga terdapat pesan atau nilai moral yang disampaikan kepada anak yang dikatoba. Pesan atau nilai moral tersebut adalah TOSOSO, TOBOTUKI, TOFEKAKODOHO, dan TOFEKOMIINA.

TOSOSO adalah menyesali jika melakukan kesalahan. Dalam konteks ini seorang anak diingatkan untuk melakukan introspeksi diri dan menyadari diri jika telah melakukan kekeliruan atau kesalahan.

TOBOTUKI adalah memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan. Setelah menyadari kesalahan yang telah dilakukannya, seorang anak diingatkan untuk tidak lagi mengulangi kesalahanya tersebut.

TOFEKAKODOHO adalah menjauhkan diri dari dosa dan keslaahan. Dalam konteks ini, seorang anak selalu diingatkan untuk menjaga dirinya dan menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak baik menurut ajaran agama Islam.

TOFEKOMIINA merupakan sikap menolak kejahatan atau menolak sesuatu yang tidak baik. Pesan moral ini mengisyaratkan kepada anak yang dikatoba agar memiliki ketegaran da kekuatan hati untuk menolak kejahatan atau menolak sesuatu perbuatan yang tidak baik.

Jika disimak dengan seksama, maka pesan atau nilai moral dari Katoba tersebut merupakan intisari dari taubatan nasuha dalam ajaran agama Islam.

Penulis : LA ODE MUHAMMAD RAMADAN

ramadan............

Iklan

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.