Penguatan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut di Kabupaten Muna


Oleh : La Ode Muhammad Ramadan

Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut melalui penguatan kearifan lokal merupakan suatu kegiatan atau aktifitas stakeholders dalam memanfaatkan segala yang ada di pesisir dan laut, khususnya sumberdaya ikan, terumbu karang, dan mangrove dengan cara-cara yang ramah lingkungan untuk kesejahteraan hidup manusia. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut juga mencakup aspek upaya atau usaha stakeholders dalam mengubah ekosistem pesisir dan laut untuk memperoleh manfaat maksimal dengan mengupayakan kesinambungan produksi dan menjamin kelestarian sumberdaya tersebut.

ramadan

Aspek kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tersebut termanifestasikan pada kegiatan atau aktivitas yang ramah lingkungan karena kearifan lokal itu sendiri merupakan berbagai gagasan berupa pengetahuan dan pemahaman masyarakat setempat terkait hubungan manusia dengan alam dalam mengelola sumberdaya pesisir dan laut yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik. Kearifan lokal juga menyangkut keyakinan, budaya, adat kebiasaan dan etika yang baik tentang hubungan manusia dengan alam (sumberdaya pesisir dan laut) sebagai suatu komunitas ekologis.

Sejak dahulu kala sebelum zaman kecanggihan tekhnologi, sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna dikelola dengan segala kearifan lokal yang ada. Berbagai kearifan lokal yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut tersebut seperti kafoghira di Desa Wadolao; Maluppa Tambar Adah Kampoh di Desa Tapi-tapi; Andre Sikullung Assena dan Dipadoeang Pina di Desa Pasikuta; Decera di Desa Pajala; Kaago-ago di Desa Kembar Maminasa; Maduai Pina di Desa Bangko; Bala di Kelurahan Napabalano; Kapopanga di Kelurahan Tampo dan Katingka di Desa Napalakura.

Kearifan lokal tersebut mampu menjaga kelestarian sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna, khususnya sumberdaya ikan, mangrove dan terumbu karang. Stakeholder di Ka bupaten Muna mengakui bahwa berbagai aturan dan larangan dalam tradisi dan budaya yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mampu menjaga kelestarian sumberdaya pesisir dan laut dari kerusakan. Tradisi dan budaya tersebut cukup ampuh dalam mengendalikan berbagai aktivitas yang bersifat destruktif dan merusak. Kondisi ini terjadi sebelum era tahun 1990-an.

Memasuki era tahun 1990-an, tanda-tanda kerusakan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna mulai terlihat. Sejumlah stakeholders menilai, tanda-tanda kerusakan itu seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Di era ini, konfigurasi sistem pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut moderen mulai melemahkan kearifan lokal yang ada. Munculnya armada dan alat penangkapan ikan modern yang dapat menangkap ikan dalam jumlah besar namun tidak ramah lingkungan membuat banyak masyarakat lokal meninggalkan kearifan lokalnya dengan mengabaikan berbagai tradisi dan budaya yang mereka miliki.

Melemahnya kearifan lokal tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya pesisir dan laut. Dampak ikutannya adalah menurunnya hasil tangkapan ikan akibat eksploitasi berlebihan, termasuk hilangnya sejumlah jenis ikan akibat kerusakan terumbu karang dan mangrove.

Belajar dari fenomena kerusakan lingkungan akibat meninggalkan nilai-nilai tradisi dan budaya sebagai suatu kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, maka penguatan kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting.

Upaya dan langkah-langkah yang dilakukan sebagai bentuk penguatan dalam mewujudkan kearifan lokal agar menjadi dasar pijakan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna dapat mencakup :

  1. Meningkatkan kepatuhan dan ketaatan stakeholders terhadap berbagai tradisi, budaya, dan/atau hukum adat yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut di Kabupaten Muna.
  1. Meningkatkan keikutsertaan stakeholders dalam setiap kegiatan budaya, tradisi, dan/atau hukum adat yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut meskipun tanpa dukungan pemerintah setempat.
  1. Adanya ide, gagasan, dan kehendak stakeholders yang disampaikan kepada pemerintah daerah agar kearifan lokal diperkuat dengan hukum positif baik berupa peraturan desa maupun peraturan daerah.
  1. Melakukan upacara adat atau ritual yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut secara rutin.
  2. Menyampaikan cerita-cerita rakyat terkait kearifan lokal pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut kepada anak-anak.

ramadan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s