Peran Komunikasi dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kabupaten Muna


Masyarakat pesisir di negeri kita, termasuk di Kabupaten Muna, masih diidentikan dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang rentan terhadap tekanan pemilik modal. Terdapat sejumlah persoalan yang diduga memicu rendahnya taraf hidup masyarakat pesisir seperti akses yang terbatas akan aset dan sumber-sumber pembiayaan bagi nelayan kecil, aspek ekologis, dan sosial.

komunikasi

Salah satu upaya memecahkan sejumlah persoalan nelayan di negeri ini adalah komunikasi pembangunan partisipatif. Pendekatan ini dilakukan melalui pendidikan non formal dengan menitikberatkan pada komunikasi dialogis antar orang yang terlibat dalam proses pembangunan. Pola ini ditempuh dengan maksud memberdayakan semua elemen yang ada di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dalam konteks realisasi di lapangan, komunikasi program dalam menghadapi permasalahan masyarakat pesisir dapat dilakukan melalui lima hal yakni (pertama) Peningkatan keterampilan nelayan dan keluarganya dalam mengelola hasil tangkapan, memperbaiki sikap yang merusak lingkungan dengan mensosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam.

(kedua) Peningkatan kemampuan manajemen usaha penangkapan dan diversifikasi usaha yang disertai penguatan ekonomi keluarga melalui usaha produktif. (ketiga) Penguatan kelembagaan lokal termasuk organisasi pemasaran hasil perikanan; (keempat) Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dengan mengedepankan prinsip sustainability (sumberdaya alam) dan kesejahteraan masyarakat; serta (kelima) Membangun jejaring (network) dengan mitra usaha guna memperbesar armada dan menggunakan alat tangkap yang lebih efektif dan tidak merusak lingkungan.

Dari lima metode komunikasi itu, diharapkan pesan-pesan atau materi dalam komunikasi pembangunan masyarakat pesisir tidak sekedar mentransferkan informasi saja, namun menyangkut aspek transformasi keadaan dari kondisi sekarang yakni nelayan dan keluarganya yang masih terpinggirkan, menjadi lebih mandiri, sejahtera dan bermartabat.

Komunikasi pembangunan harus diselenggarakan secara partisipatif, sebab pendekatan ini memudahkan agent of change membantu masyarakat menyelesaikan persoalannya. Komunikasi pembangunan dapat dipandang sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, yang dalam kegiatannya berkaitan dengan orang dewasa.  Implikasi dari hal ini adalah pendekatan yang digunakan harus berorientasi pada pembelajaran orang dewasa (adult learning approach). Untuk itu, dalam penyiapan dan penyelenggaraannya perlu memperhatikan kebutuhan nyata peserta proses belajar.

Orang dewasa merupakan orang yang sudah kaya pengalaman sehingga perlu memperhatikan hal-hal berikut : (pertama) Pembelajaran orang dewasa didasarkan pada pengalaman masa lalu dan patut dihargai; (kedua) Pengalaman masa lampau tersebut harus dihargai oleh peserta lainnya dan harus diupayakan diterapkan dalam proses belajar. Pembelajaran yang melibatkan transformasi pengalaman masa lalu membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar dibandingkan model belajar lainnya.

(ketiga) Lingkungan mempengaruhi kemampuan orang dewasa dalam belajar.  Lingkungan terbaik seperti kondisi yang mengurangi gangguan pada orang dewasa yang sedang belajar akan memberikan dukungan yang berharga.  Peserta dewasa akan belajar dengan baik di lokasinya sendiri.  Orang dewasa tidak akan efektif jika belajar di bawah tekanan atau waktu yang dibatasi.  Mereka tidak  suka membuang waktu, dan orang dewasa lebih tertarik pada proses belajar yang memberikan hasil nyata dan cepat.

(keempat) Orang dewasa akan belajar selektif terhadap bahan atau materi yang dia perlukan, (kelima) Orang dewasa dapat didorong untuk belajar pada materi yang relevan pada peran dan kehidupannya saat ini, dan (keenam) Orang dewasa belajar untuk kehidupannya dan untuk mereka yang terlibat dalam kelompoknya.

Prinsip partisipasi dalam komunikasi pembangunan bukan sebatas proses sekedar hadir, memberikan pendapat atau hanya berdasarkan persepsi pemerintah atau penyuluh sendiri.  Sangat rasional, jika masyarakat pesisir belum mau terlibat dalam berbagai program pembangunan, khususnya kegiatan penyuluhan karena sejak awal masyarakat tidak terlibat dalam menentukan kegiatan yang diprogramkan.

Terkait hal ini, proses aksi sosial dan proses pengambilan keputusan dapat dimodifikasi. Proses aksi sosial meliputi lima tahap yakni (1) stimulasi minat (stimulation of interest) yaitu inisiatif dalam komunitas mulai berkembang pada tahap awal dalam ide baru dan praktek; (2) inisiasi (initiation) yaitu kelompok yang besar mempertimbangkan ide baru atau praktek dan alternatif dalam implementasi; (3) legitimitasi (legitimation) merupakan tahap saat pimpinan komunitas memutuskan akan meneruskan tindakan atau tidak; (4) keputusan bertindak adalah rencana spesifik tindakan mulai dibangun; dan (5) aksi yaitu penerapan rencana.

Menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak cukup hanya dengan mengidentifikasi isu yang dihadapi saja, tetapi perlu diwujudkan beberapa aspek yaitu adanya aspek situasional, kolaborasi dan evaluasi diri dari setiap unsur yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program.

Sebagai sebuah sistem sosial, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki struktur sosial tertentu, memiliki status dan peran pada tiap anggota masyarakat. Strategi komunikasi pembangunan pada masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil harus bersifat spesifik untuk tiap wilayah. Setiap upaya perubahan perlu mempertimbangkan berbagai faktor seperti masalah sosial ekonomi, kondisi fisik lingkungan (sumber daya alam), dan sumber daya manusia secara umum (termasuk agen pembaharu).

Unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi pembangunan berubah-ubah dan harus diantisipasi secepatnya. Perubahan merupakan proses alamiah yang tidak bisa dihindari dan harus terjadi pada sesuatu, individu atau masyarakat sebagai reaksi atau adaptasi pada kondisi yang dihadapi.

Proses perubahan pada masyarakat pesisir dalam konteks perubahan sosial ke arah yang lebih baik berkaitan dengan transformasi struktur dan interaksi sosial dari sebuah masyarakat dan merupakan variasi atau modifikasi dalam pola organisasi sosial atau sub kelompok dalam masyarakat atau pada keseluruhan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, kendala-kendala yang dihadapi dan masalah yang timbul diantaranya adalah adanya keinginan untuk mempertahankan status quo (reluctant to change) oleh sekelompok masyarakat yang dapat mempengaruhi proses perubahan dapat diminimalisir.

Sebagaimana diketahui, dalam teori adopsi-inovasi ada tahapan yang dilalui jika suatu ide baru diterapkan dan proses itu merupakan proses mental.  Setiap tahap akan memerlukan waktu, pemikiran dan respon yang berlainan (awareness, interest, trial, evaluation dan keputusan apakah menolak ataukah menerima inovasi (pembaharuan–ide atau teknologi baru).  Mengantisipasi hal ini, sangat relevan bagi agen pembaharu untuk menerapkan pendekatan penyuluhan yang tepat sesuai dengan tahapan komunikasi yang sedang berlangsung di masyarakat.

Terdapat tiga pilihan metode pendekatan atau kombinasi ketiganya yang dapat digunakan dalam pelaksanaan program untuk memberdayakan masyarakat pesisir yakni : (pertama) Pendekatan perorangan, misalnya kegiatan kunjungan perorangan, konsultasi ke rumah, penggunaan surat atau telepon, dan magang. (kedua) Pendekatan kelompok, misalnya kursus tani-nelayan, demonstrasi cara atau hasil, kunjungan kelompok, karyawisata, diskusi kelompok, ceramah, pertunjukan film, slide, penyebaran brosur, buletin, folder, asah terampil, sarasehan, rembug, temu wicara, temu usaha, temu karya dan temu lapang. (ketiga) Pendekatan massal seperti pameran, pekan nasional (penas), pekan daerah (peda), pertunjukan film, drama, penyebaran pesan melalui siaran radio, televisi, surat kabar, selebaran atau majalah, pemasangan poster atau spanduk dan sebagainya. La Ode Muhammad Ramadan

Iklan

2 tanggapan untuk “Peran Komunikasi dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kabupaten Muna”

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.