Kearifan lokal di Kabupaten Muna (Dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut)


Letak geografis Kabupaten Muna yang dikelilingi oleh lautan menggiring masyarakatnya, khususnya yang bermukim di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk melakukan interaksi dan pola adaptasi terhadap potensi sumberdaya pesisir dan laut yang ada. Dari interaksi dan pola adaptasi itu, masyarakat memiliki kemampuan mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.

kearifan lokl

Cukup banyak bentuk interkasi dan pola adaptasi manusia dengan alam lingkungannya, mulai dari yang ramah lingkungan hingga aktivitas yang bersifat destruktif. Semua interkasi dan pola adaptasi itu menjadi gagasan atau ide masyarakat setempat yang dilakukan secara terus menerus hingga menjadi sebuah tradisi dan bahkan ada yang akhirnya menjadi budaya di masyarakat tersebut.

Pada zaman dahulu, beberapa kelompok masyarakat pesisir di Pulau Muna dan sekitarnya dalam mengelola potensi sumberdaya pesisir dan laut, memiliki beberapa gagasan-gagasan setempat (local) serta tradisi dan budaya yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Aktivitas tersebut dalam tataran ilmu pengetahuan saat ini disebut dengan kearifan lokal.

Kearifan lokal yang dimaksud bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik diantara manusia, namun terkait pula dengan pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, budaya, adat kebiasaan atau etika yang baik tentang manusia dan alam dalam suatu relasi/hubungan diantara penghuni komunitas ekologis.

Di Muna terdapat beberapa tradisi yang masuk dalam kategori kearifan lokal. Tradisi masa lalu yang kini mulai terdegradasi dan melemah akibat perkembangan dan kemajuan zaman meliputi maluppa tambar adah kampoh, kafoghira, andre sikullung assena, decera, dipadoeang pina, bala, kaago-ago, kapopanga, maduai pina, dan katingka.

Maluppa tambar adah kampoh merupakan tradisi masa lalu masyarakat Desa Terapung Tapi-Tapi berupa ritual keagamaan untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari mara bahaya di laut dan memperoleh kemudahan dalam mencari ikan dan hasil laut lainnya. Dalam ritual tersebut tersirat pesan moral terkait dengan aktivitas pelestarian terumbu karang.

Kafoghira merupakan tradisi zaman dulu masyarakat Desa Wadolao berupa ritual buang sial dan baca doa selamat. Dalam proses ritual itu, tersirat pesan moral terkait dengan aktivitas penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Andre sikullung assena dan dipadoeang pina merupakan tradisi masa lalu bagi masyarakat Desa Pasikuta berupa ritual dao selamat dan silaturahmi dengan penguasa laut. Dalam ritual tersebut tersirat pesan moral terkait dengan aktivitas penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Decera merupakan tradisi masa lalu masyarakat Desa Pajala (Muna Barat) berupa ritual pembacaan doa selamat dan upacara peresmian pengoperasian kapal penankap ikan yang baru. Dalam pelaksanaan taradisi tersebut tersirat pesan moral terkait dengan aktivitas penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Bala merupakan tradisi zaman dulu masyarakat Kecamatan Napabalano berupa ritual saat memulai pembuatan alat tangkap sero. Dalam ritual tersebut tersirat pesan moral yang terkait dengan aktivitas penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Kaago-ago merupakan budaya tempo dulu masyarakat Desa Kembar Maminasa (Muna Barat) berupa ritual bagi masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan untuk menyambut awal tahun masehi. Dalam ritual itu terbesit pesan moral yang terkait dengan pelestarian terumbu karang.

Kapopanga merupakan tradisi zaman dulu masyarakat Kecamatan Napabalano berupa ritual saat terjadinya musibah di laut. Biasanya untuk mencari nelayan yang hilang akibat tenggelam. Dalam ritual tersebut tersirat pesan moral yang terkait dengan pelestarian terumbu karang.

Katingka merupakan tradisi tempo dulu masyarakat Kecamatan Napabalano berupa ritual saat pergantian musim barat dan musim timur. Dalam ritual tersebut ada pesan moral yang terkait dengan pelestarian terumbu karang.

Maduai pina merupakan tradisi zaman dulu bagi masyarakat Desa Bangko (Muna Barat) berupa ritual untuk menyambut awal msim barat dan musim timur. Dalam ritual tersebut terdapat pesan moral yang terkait dengan pelestarian terumbu karang.la ode muhammad ramadan

(Data dan informasi lengkap terkait tradisi dan budaya yang masuk kategori keaifan lokal di Pulau Muna, ada pada penulis).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s