Pencarian Jejak Leluhur Yang Terlupakan


Penelusuran Ke makam Wasitao, Perempuan Yang menurunkan Raja – Raja Di Kerajaan Konawe, Mekonongga, Wuna dan Buton Di Desa Lambo Tua, Kecamatan Mowewe Koltim
jam telah menunjukan pukul dua siang ketika saya menginjakan kaki di Kelurahan Woitombo Kecamatan Mowewe
Kabupaten Kolaka Timur ( DOB pemekaran dari Kabupaten Kolaka ). Didepan saya terlihat deretan gunung seakan mengucapkan selamat datang menyambut kedatangan saya hari itu.
Ya, deretan gunung itu tdak bermaksud untuk menghadang langkah bermaksud untuk menuju desa Lambo Tua yang terletak di lembah persis ditengah- tengah lingkaran pegunungan yang sebagaiannya ada d hadapan saya saat itu, tapi Pegunungan hijau nan asri itu menunjukan sikap yang rama seakan menerima keadiran saya yang bermaksud memecahkan misteri yang telah terkubur dalam ditengah-tengah lembah nya, tentang seorang perempuan yang feomenal yang bernama Wasitao anak dari Mokole Konawe yang hidup sekitar awal abad ke 13 yang kini berbaring tenang dalam peristirahatannya yang terakhir..
Sebelum saya menuju ke tujuan saya yakni makam Wasitao, Isteri La tiworo Raja I Kerajaan Tiworo pada abad ke 13 itu, terlebih dahulu saya mengontak sahabat saya yang saya kenal melalui media social facebook yang bernama Nurlina. Beliau adalah seorang guru salah satu sekolah dasar di desa tersebut. Sahabat saya itu kemudian menganalkan saya pada seorang pria paruh baya yang juga berprofesi sebagai guru. Pria itu bernama la Ode Talifu disebut sebagai juru kunci situs-situs bersejarah di Desa Lambo Tua termasuk makam Wasitao. Saya sangat cepat akrab dengan La Ode Talifu karena selain beliau sangat ramah menerimah kedatangan saya, ternyata beliau juga adalah Orang Muna yang berarti satu suku dengan saya.
Siapa sebenarnya Wasitao sehingga saya begitu berhasrat untuk men ziarahi makan nya? Dokumen yang tersimpan di Museum KITLV Belanda Berbahasa Wolio dan beraksara arab, menginformasikan bahwa La Tiworo (Raja Tiworo I) gelar benteno Neparia adalah bersaudara kandung dengan La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. Mereka adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo (dari Muna). La Tiworo mengawini Wa Sitao (Putri Raja Konawe, yaitu hasil perkawinan Elu La Nggai dan Wealanda), dikaruniai seorang anak perempuan bernama Wa Randea. Wa Randea dikawini Ki Jula dan dikaruniai sala seorang putri bernama Wa Tubapala. Watubapala kemudian menikah dengan Raja Muna Ke IV Sugi Manuru dan memiliki tiga orang anak masing-masing, La Kilaponto, La Posasu dan wade Pogo ( Dokumen KITLV ).
La Kilaponto Cucu dari Wasitao tersebut kemudian menjadi Raja Wuna ( Muna ) Ke 7 menggantikan ayahandanya Sugi Manuru Raja Wuna ke 6, kemudian dalam beberapa catatan sejarah dikatakan bahwa La Kilaponto adalah Raja yang mempersatukan kerajaan kerajaan besar di Sulawesi Tenggara ( Baca : SULTAN MURHUM ) yakni, Kerajaan Wuna, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Wolio ( La Kimi Batoa : 1995 ). Sedangkan dalam dokumen lainnya, dikatakan selain Tiga kerajaan besar tersebut, dua kerajaan lainya ikut menggabungkan diri sebagamana ungkapan berikut “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian Negeri, karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum ” ( Koleksi Belanda, hal 1 ).
Kembali pada cerita di Desa Lambo Tua, Sore harinya sekitar pukul 16.00 Wita, La Ode Talifu mengajak saya ke Desa Lambo Tua untuk men ziarahi makam Wasitao. Dengan masing- masing kami menunggangi sepeda motor, kami mulai menapaki jalan tanah yang mendaki cukup tinggi sepanjang satu setengah kilometer dari kaki bukit di Kelurahan Woitombo . Setelah sampai di puncak, kami kembali menuruni jalan yang juga sangat curam menuju dasar lembah dengan jarak yang sama. Didasar lembah itulah letak Desa Lambo Tua dan makam Wasitao. Menurut tradisi lisan yang berkembang dituturkan bahwa dilembah itulah pusat kerajaan Laiwoi/ Konawe atau mekongga dimana ayah Wasitao menjadi Mokole/ Raja.
Sesampai di dasar lembah, saya sangat terkejut. Pasalnya situasi di dasar lembah dimana tempat yang diduga sebagai pusat pemerintahan kerajaan Konawe itu kondisi bentang alamnya persis dengan Kota Muna pusat Kerajaan Wuna yang di bangun oleh La Kilaponto Raja Muna ke 7 yang merangkap menjadi Raja Wolio/Buton ke 6. Sekeliling lembah berjajar barisan pengunungan nan hijau. Bahkan menurut La Ode Talifu, di puncak pegunungan itu terdapat susunan batu-batu serupa benteng, persis seperti benteng terpanjang di dunia yang mengelilingi Kota Muna.
Kondisi bentang alam Desa Lambo Tua itu yang memiliki kemiripan dengan Kota Muna, pusat pemerintahan Kerajaan Muna tersebut menambah keyakinan saya bahwa benar wilayah itu pernah menjadi pusat kerajaan yang dibangun oleh leluhur Wasitao nenek dari La Kilaponto. Bahkan boleh jadi ketika membangun Kota Wuna, La Kilaponto terinspirasi dengan wilayah itu. Hal itu bisa saja, sebab sebelum menjadi Raja Muna \dan membangun Kota Muna, La Kilaponto terlebih dahulu berkunjung ke Kerajaa Konawe untuk mengurus warisan yang ditinggalkan oleh nenek nya Wasitao dan menjadi Raja/Mokole di sana, sebagaimana kutipan berikut : “ Setelah beberapa lamanya maka terdengarlah chabar oleh La Kilaponto ( Murhum ) bahwa Wasitao anak Mokole Konawe telah meninggal dunia dan meninggalkan harta yang menjadi pusaka Warandea nenek murhum tersebut. Mendengar itu maka La Kilaponto ( Murhum ) sampailah di Konawe dan disebut namanya La Tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Konawe dan Mekongga. Dalam peperangan itu dimana Konawe mendapat kemenangan “ ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2).
Jadi begitu kembali ke Kerajaan Muna setelah lawatnnya tersebut dan menjadi Raja Muna Ke 7 menggntikan Raja Muna ke 6, dan ingin meningkatkan kewibawaannya, akhirnya la Kilaponto membangun sebuah tatanan pemerintahan yang lebih modern dan memusatkan pusat pemerintahan dengan membangun pusat pemerintahan di Kota Muna. Dan wilayah yang dipilih adalah kawasan yang memiliki kemiripan dengan pusat pemerintahan negeri leluhurnya yang pernah dikunjungi dan bahkan sempat menjadi mokole/raja di sana.
Menurut J. couvreur seorang kontrolir pemerintah Hindia Belanda yang pernah bertugas di Raha dalam laporan serah terima jabatan dalam bahasa Belanda( 1935 ) dan di bukukan dalam Bahasa Indonesia oleh Rene Van Deberg ( 2005 ), Kota Muna yang dibangun oleh Raja La Kilaponto tersebut dikelilingi oleh tembok batu ( benteng ) sepanjang 9,08 Km dengan ketebalan 2-3 meter yang dibangun selama 3 tahun oleh La Kilaponto (1538-1541). Dalam membangun benteng tersebut La Kilaponto di bantu oleh para Jin dan mahluk ghaib lainnya ( Van De berg, 2005: 10 ). Menyusul terbentuknya Kesultanan Buton ( 1541 ) dan dinobatkannya La Kilaponto sebagai Sultan Buton Ke 1 dengan gelar Murhum/ Qaimuin Khalifatul Khamis, pembangunan Kota Muna menjadi terhenti namun bentengnya telah selesai. Kota yang dibangun tersebut masih kosong. Pembangunan Kota dilanjutkan oleh Raja Muna ke 8 yang juga adik La Kilaponto yang bernama La Posasu ( Van Deberg, 2005:10 ).
Belum habis rasa takjub saya terhdap panorama lembah desa Lambo Tua tersebut, La Ode Talifu sudah kembali mengajak saya untuk mengunjungi Makam Wasitao. Di kompleks pemakaman yang sepertinya tidak terawatt tersebut, terhampar lima buah makam yang gunduknnya lebih tinggi dari tanah sekitarnya sebagaimana layaknya makam-makam raja atau keturunan bangsawan dalam masyarakat Tolaki dan Mekongga.
Dari lima buah makam yang ada di Kompleks pemakaman itu hanya ada dua makam perempuan yang letaknya masih satu gundukan dan makam itulah yang dikatakan sebagai makam Wasitao dan dayangnya. Sedangkan empat lainnya adalah makam laki-laki. Pengklasifikasian makam berasarkan jenis kelamin tersebut ditandai dari batu nisannya. Sebagaimana budaya masyarakat Tolaki- Mekongga dan masyarakat Muna, makam permpuan diberi dua nisan, sedangkan laki-laki nisannya hanya satu. .Selain hanya ada satu makam perempuan di kompleks pemakaman tersebut, ada juga satu makam laki-laki yang sangat menonjol dan lain dari makam-makam lainnya dimana makam tersebut memiliki nisan yang lebih besar. Ketika saya menanyakan pada La Ode Talifu siapa yang memiliki makam tersebut, namun beliau rupanya juga tidak tahu, Hanya menurut sepengetahuannya, ketika Wasitao di makam kan turut dikuburkan pula pengawa-pengawalnya secara hidup-hidup. Cerita ini memilki kisah yang sama dengan cara dimakam kan Raja Konawe yang bernama La Kidende yang makam nya ada di Unaaha, Ibukota Kabupaten Konawe. .
Kali Putih, Kali Bercabang Dua Yang Unik
Setelah mengirimkan doa untuk Nenek Wasito, La Ode Talifu kembi mengajak saya untuk melihat-lihat Kali Putih yang konon kali tempat yang sering digunakan oleh Wasitao untuk mandi. Kali yang bercabang dua ini cukup unik sebab walau kedua aliran kalinya berdekatan ( kira-kira berjarak 5 meter ) namun kondisi airnya sangat jelas perbedaannya. Cabang yang satunya, yang mengalir dari arah utara ke selatan airnya terlihat sangat jernih sedangkan yang satunya lagi, yang mengalir dari arah Barat ke Timur sedikit agak terlihat keruh.
Menurut masyarakat setempat, perbedaan itu semakin jelas apabila musim hujan. Pada saat-saat itu, khususnya setelah habis hujan, kali yang alirannya dari Barat ke Timur berwarna sangat kuning kecoklatan, sedangkan yang satunya tetap bening. Cerita masyarakat tentang keunikan Kali Putih tersebut seakan mengundang saya untuk kembali berkunjung ke tempat itu ketika bertepatan dengan musim hujan untuk menyaksikan sendiri keunikan kali tersebut.
Setelah senjah mulai datang menyelimuti Desa Lambo Tua dan sekitarnya, La Ode Talifu mengajak saya untuk kembali ke Kelurahan Woitombo kediaman beliau. Kaki ini terasa berat untuk meninggalkan desa nan asri dimana leluhur kami di makam kan. Namun karena hari sudah mulai gelap, akhirnya kuda besi yang saya tunggangiw saya hidupkan juga mesinnya dan langsung tancap gas mendaki bukit yang tadi kami turuni. Persis pukul 18:15, kami tiba di kediaman bapak La Ode Talifu yang mana malam itu menjadi tempat saya menginap.
Perjalanan singkat saya memang belum memberikan kesimpulan yang final tentang keberadaan makam Wasitao, nenek dari pada La Kilaponto alias Murhum alias Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Timba-timbaga Alias Haluoleo tersebut, namun setidaknya telah member seberkas sinar yang dapat mengarahkan para peneliti yang lebih expert di berbagai bidang untuk memecahkan misteri keberadaan leluhur masyarakat Muna, Buton, Mekongga dan Tolaki tersebut. Harapan saya, setelah reportase kunjungan saya di Desa Lambo Tua ini di publikasikan, ada para ahli yang mau tergerak hatinya untuk melakukan penelitian yang lebih paripurna lagi agar asal- usul La Kilaponto alias Murhum alias Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Timba-timbaga Alias Haluoleo dapat terungkap.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terhadap masyarakat Kelurahan Woitombo dan Desa Lambo Tua atas keramahannya dalam menerima saya, terkhusus pada Ibu guru Nurlina, Ichsan Safii dan Bapak La Ode Talifu yang telah memberikan tumpangan rumah nya untuk saya bermalam.
Woitombo, 23 Agustus 2015

 

Artikel terkait :

  1. Mengenal Wasitao 
  2. Kekuatan Angkatan Perang Kerajaan Wuna
  3. Pecarian Jejak Leluhur
  4. Orang Muna
  5. Asal Usul Pulau Muna
  6. 7 Keajaiban Dunia Versi Al Qur’an dan Hadits

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Pencarian Jejak Leluhur Yang Terlupakan”

Silakan berkomentar dengan santun

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.