MENEROPONG BUDAYA KANTOLA DI KABUPATEN MUNA LEWAT LUBANG PIPET


Sebagian orang menganggap bahwa mereka yang suka mengkritik adalah “orang yang cerdas”. Tetapi, di balik dari perkataan mereka sesungguhnya tidak membuahkan hasil seperti yang kita harapkan. Di dunia budaya, misalnya, mereka mengatakan bahwa kebudayaan kita saat ini sedikit demi sedikit hampir punah. Artinya, warisan dari nenek moyang kita perlahan tapi pasti mulai hilang dan hampir seluruhnya diklaim oleh negara lain.

Mari kita lihat beberapa contoh rumit yang sedang terjadi. Masyarakat pribumi dengan bangganya ketika diajar oleh orang asing atau biasa kita sebut bule dalam hal kebudayaannya sendiri. Seharusnya kita sebagai orang pribumi harus malu dengan keadaan ini, seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. La Niampe, M. Hum. beberapa waktu lalu. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua ATL (Asosiasi Tradisi Lisan) serta beberapa lembaga lainnya yang berhubungan dengan kebudayaan. Lihat dan dengarkan saja para remaja kita sekarang ini. Mereka malu atau mungkin saja tidak tahu menggunakan bahasa daerahnya. Dalam keadaan seperti ini siapa yang mesti kita salahkan, pendidikan, orang tua, lingkungan, atau orang itu sendiri? Tak ada orang yang bisa menjawab.
Sekarang, kita beralih pada salah satu kebudayaan yang terdapat di salah satu daerah di Sulawei Tenggara tepatnya di Kabupaten Muna yaitu budaya kantola. Mari merunut sedikit cerita juga fakta mengenai hilangnya secara perlahan budaya kantola di kalangan masyarakat Muna. Beberapa waktu yang lalu ketika saya berkunjung ke Raha, ibu kota Kabupaten Muna, saya bertanya pada beberapa kelompok anak muda dan beberapa orang tua mengenai apa yang mereka ketahui tentang kantola ini. Setelah mewawancarai beberapa kelompok anak muda dan orang tua dengan alasan untuk kepentingan pengajuan judul skripsi guna penyelesaian studi, ternyata kantola tak bergaung di kalangan anak muda lagi hari ini, utamanya yang berdomisili di daerah Muna. Di sini, saya menyimpulkan bahwa sekarang ini hanya kalangan orang tua yang bisa melakukan kantola dan itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ini merupakan isyarat bahwa kesenian tradisional itu terancam punah.
Kantola sepintas mirip dengan kesenian berbalas pantun di negeri Jiran, namun kantola lebih spesifik, karena menggunakan bahasa daerah dan semuanya dalam bentuk bahasa kiasan. Biasanya dilakukan antara laki-laki dan perempuan secara berkelompok. Menurut saya, kantola merupakan warisan nenek moyang kita yang sangat bernilai tinggi. Selain itu, melalui kantola ini kita dapat melatih pola berpikir secara cepat dan tepat serta membiasakan orang untuk berbahasa yang santun.
Kantola atau berbalas pantun pada zamannya digunakan sebagai hiburan. Bahkan dengan berkantola orang bisa berlarut-larut malam melakukannya, ini pun saya mendapat ceritanya dari orang tua rekan saya yang kira-kira umurnya 78 tahun.
Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya kita khususnya budaya kantola di Kabupaten Muna dan Sulawesi Tenggara secara umum. Melalui tulisan ini pula saya mengharapkan kepada pemerhati budaya daerah, baik tulis maupun lisan, jajaran pemerintah yang berwenang di bidangnya, termasuk berbagai pihak terkait lainnya untuk mengupayakan langkah-langkah jitu guna melestarikan kesenian taradisional kantola.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melestarikan kantola itu sendiri. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berorientasi akhir pada proses memelihara dan melestarikan budaya merupakan hal yang mutlak dilakukan. Lomba kantola yang dapat diikuti dari berbagai lapisan masyarakat, orang tua, remaja, maupun anak-anak adalah contoh upaya yang bisa dilakukan. Cara ini saya pikir cukup jitu demi kelestarian budaya kita.
Jaga dan lestarikan budaya kita sekarang juga!!!

2 thoughts on “MENEROPONG BUDAYA KANTOLA DI KABUPATEN MUNA LEWAT LUBANG PIPET

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s