Pengobatan Gratis, Pepesan Kosong Pememerintah


Pengobatan Gratis, Pepesan Kosong Pememerintah

Mataharinew.com, Buton – Pengobatan gratis bagi keluarga miskin yang didengung-dengumg kan pemerintah pusat  dan daerah ternyata hanyalah pepesan kosong. Pasalnya keluarga miskin  ketika berursan dengan rumah Sakit ( RS ), bukanna mendapatkan pelaanan maksia dengan fasilitas gratis, tetapi justeru disuguhi dengan  biaya-biaya yang nominalnya sangat mencekik leher.

Salah satu warga miskin yang mengalami itu adalah Nuriadin,  warga Desa Ambeau  Kecamatan Lasalim Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.  Dia bukannya mendapatkan pelayanan maksimal dengan faslitas gratis saat  isterinya masuk Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Wajo Kabupaten Buton. Dia justeru disuguhi dengan nota yang harus ditebusnya yang toalnya mencapai lebih dari  Rp. 1 juta. Hal itu tentu saja sangat memberatkan dirinya sebagai keluarga miskin.

Padahal pemerintah pusat dengan program JAMAKESMAS nya telah menganggarka triliuna rupiah dalam APBN untuk menamin mayarakat miskin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Demikian juga dengan  Pemrov Sultra telah menganggarkan ratusan miliar dalam APBD nya  untuk pelayanan keeshatan gratis melalui progrm BAHTEMAS. Bahkan pemropov Sultra, mengklaim meprogram ini telah menjangkau seluruh masyarakat miskin d Gubernur Sultra, dan mejadi salah satu program Guberur Sultra   Nur Alam, SE yang mengalami kesuksesan.

Pada Jurnalis Mataharinews.com, Nuridin mengisahkan apa yang dialaminya itu. Menurtnya  dr Frederik doker anatesi yang menangani operasi cesar  istrinya keluar dari ruang orperasi dan meyampaikan kalau anak dan ibunya selamat.

Namun luka operasi sang ibu belum dijahit.  Untuk menjahit luka bekas opersi itu, kata nuriadin menirukan apa yang dikatakan dr Frederik kelurga korban membayar Rp. 700 Ribu untuk membeli membeli obat bius.

Yang sangat disesalinya, dokter anestasia itu keluar menemui dirinya dalam keadaan tanganya masih dilumuri darah karena baru melakukan operasi  serta membiarkan isterinta dalam keadaan tak berdaya, dengan kondisi luka bekas operasi yang belum dijahit .

“ Apa yang dilakuan dokter Frederik itu sangat tidak manusiawi. Bagai mana mungkin, seorang dokter  meninggalka pasiennya dalam kondisi tak berdaya dengan luka bekas operasi, hanya untuk uang sebesar Rp.700 ribu?” , jelas Nuriadin saat ditemui di kantor LBH Buton Raya ( 19/10).

Tidak saja sampai disitu ungkap Nuridin,ketika dokter telah memperbolehkan istrinya pulang (18/10), mereka kembali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dan dipermalukan didepan orang banyak. Perlakukan tidk manusiawi dan memalukan itu, katanya, istri dan keluarga itrinya dihalau seperti ayam saat akan meninggalkan RSUD.

“ Seperti  ayam saja, mereka  digiring oleh kepetugas untuk  kembali ke petugas piket guna menyeleaikan administrasi. Padahal saya sebagai penanggung  jawab masih berada dalam ruang perawatan karena sedang membereskan barang-barang miliknya yang akan dibawah pulang” cetusnya.

Mendengar  ada keributn diluar, kontang saja, dia langsung keluar dan menemui petugs piket yang bernama Rusnia,A.Md.Keb.  Dia mempertanyakan mengapa keluarganya diperlakukan seperti itu. Petugas piket itu menjawab  kalau  pasien belum bisa pulang sebab masih ada administrasi yang harus diselesaikan.

Mendengar penjelasan petugas piket tersebut, Spontan Nuriadin menjawab bahwa pasien tersebut adalah istrinya dan yang bertanggung jawab adalah dirinya. Olehny itu di memita, agar istinya bisa ke mobil untuk istirahat mengingat kondisinya yang masih lemah. Namun petugas piket itu tetap berkeras, pasien harus tetap tidak boleh kemana-mana sebelum segalah sesuatunya yang menyangkut administrasi diselesaikan.

Khawatir terjadi sesuatu terhadap istrinya, dia langsung mendesak petugas tersebut untuk segera merinci apa saja  yang harus diselesaikan. Petugas piket yang bernama Rusnia tersebut langsung menyodorkan kuitansi yang nominalnya mencapai lebih dari Rp.600 ribu. Tidak dapat berbuat banyak, dia langsung menyanggupi untuk melunasi semua itu, namun dengan catatan, kuitansi tersebut harus dibuat lebih rinci lagi,  apa saja yang harus dibayar sehingga mencapai jumlah sebesar itu.

“ Sebenarnya waktu itu saya tidak punya uang, tapi saya takut terjadi apa-apa trhdap istri saya, akhirnya saya sanggupi saja” keluh Nuriadin.

Masih menurut Nuriadin, nau teryata petugas tersebut bukaya menyanggupi permintaannya tesebut, dia malah menelepon seseorang. Setelah menelepon, petugas tersebut meyampaikan pada dirinya “Kalau begitu tunggu dulu dokter”  kata Nuridin menirukan ucapan petugas tersebut pada dirinya.

Setelah lama menunggu konfirmasi dari dokter yang ditelepon oleh petugas piket tersebut belum ada, akhirnya dia juga pergi meyusul istrinya yang terbih dahulu meniggalkan RSUD sambil meninggalkan pesan kalau ingin menagi silakan saja e desa Abeau di keacatan Lasalimu. (MA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s