Tidak Kunjung di Perbaiki, Warga Blokir Jalan Jalan Propinsi


Mataharinews.com, Raha – Masyararakat yang bermukim disepnjang jalan propinsi,  lintas Raha ( Kabupaten Muna ) – Wamengkoli ( Kabupaten Buton) propinsi  sulawesi   Teggara (Sultra),  sepertinya sudah kehabisan kesabaran. Setelah sekian lama menanti realisasinya janji Nur alam,  Gubernur Sutra  yang telah empat kali berjanji untuk mengaspal jalan tersebut, namun  sampai saat ini, janji itu  belum juga teralisasi.  Untuk mengekspresikan rasa kekecewaan mereka, masyarakat yang bermukim disepanjang jalan itu, mengaktualisasikan nya dalam berbagai cara.

Bila beberapa waktu yag lalu,  masyarakat Desa Mabodo Kabupaten Muna, meletakan pot-pot bunga mereka ditengah jalan, untuk menahan laju kendaraan yang melintas, sekaligus protes atas jannji-janji Gubernur yang juga belum teralisasi, kini giliran Masyarakat Kelurahan Lapadaku Kecamatan Lawa, melakukan aksi yang sama, bahkn apa yang dilakuan oleh masyarakat Kelurahan Lapadaku lebih radilkal lagi.

Sebagai ekspresi kekecewaan, Masyarakat Kelurahan Lapadaku memblokade  seluruh badan jalan dengan batang  bambu. Akibatnya jalan tersebut tidak dapat lagi di lalui kendraan, baik roda empat keatas, maupun roda dua. Mereka secara bergantian menjaga jalan tersebut untuk memastika tidak satupun kendraan yang menerobos.

Menurut La Ode Gore, salah seorang yang sadang bertugas jaga yang ditemui jurnalis Mataharinews.com, aksi blokade jalan tersebut merupakan ekspresi kekecewaan mereka terhadap Nur Alam, Gubernur Sultra. Kata La ode Gore. Telah berkali-kali Nur Alam melontarkan janjinya, namun tidak pernah ditepati.

“ Nur Alam itu menganggap masyarakat Muna, seperti  anak kecil. Ketika dia menangis cukup hanya dijanji akan diberi permen, namun begitu anak diam janji tersebut diabaikan” jelas La Ode Gore.

Anenya, lanjut La Ode, masih ada saja masyarakat Muna yang bekerja untuk mensosialisasikan Nur Alam. Mereka itu cetusnya adalah manusia-manusia yang sudah mengabaikan harga diri demi untuk kepentingan politik sesaat. La Ode Gore juga menyesalkan pejabat di Muna yang terlibat langsung dalam mensosilisakan Nur Alam.

Pejabat-pejbat tersebut, kata La Ode Gore sengaja menjatuhkan kewibawaannya di mata masyarakatnya sendiri, Padahal, harusnya para pejabat itu memberikan contoh yang baik pada msyarakatnya bagaimana cara berpolitik yang bermartabat, bukan justeru mengajarkan politik menghamba.

“ Seharusnya para pejabat tersebut memperlihatkan kewibawaannya, dimata pemerintahan propinsi sehingga Kabupaten Muna memeiliki nilai tawar tinggi, bukan justeru memperlihatkan politik menghamba sehingga pemerintah Propinsi dalam hal ini Nur Alam hanya memandang Muna dengan sebelah mata” cetusnya.

  Karena tidak ad nilai tawar akibat politik pemnghambaan jelas La Ode Gore, Nur Alam sebagai Gubenur Sultra tidak segan-segan melontarkan janjinya, walapun itu tidak akan pernah ditepati.

Aksi pemblokiran jalan tersebut jelasnya, selain sebagai ungkapan kekecewaan terhadap Nur Alam, juga sebagai cara untuk mengurangi polusi debu yang ditimbulkan akibat lalu alang kendaraan. Untuk itu dia memohon maaf kepada pengguna jalan yag tergaggu akibat aksi tersebut. Dia juga menghimbau pada seluruh pengguna jalan tersebut, khususnya masyarakat Kabupaten Buton dan Kota Baubau  untuk memberikan sanksi politik pada Gubernur Sultra Nur Alam dengan cara tidak memilihnya kembali pada Pilgub 4 Nobember 2012 nanti.

“ Pemerintah yang tidak dapat merealisasikan janjinya jangan pernah diberi kesempatan lagi. Kebetulan Nur Alam kembali mencalonkan diri, maka saya menghimbau pada saudara-saudara saya di Buton dan Kota Baubau untuk tidak memilihnya kembali pada Plgub 4 November nanti” imbaunya.

Kekecewaan yang sama juga dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton. Seperti yang diungkapkan La Siha warga Kelurahan Nepa nepa Kecamatan  Lakudo. Menurutnya kesabaran masyarakat Lakudo menanti janji Gunernur sudah mencapai titik klimaks.

Rasa kecewa itu katanya,  akan direalisasikan pada Pilgub nanti dengan tidak akan memilih Nur Alam. Menurut La Siha, kecamatan Lakudo sebenarnya basis utama PAN di Kabupaten Buton. Itu dibuktikan pada pemilu legialatif 2009, warga Lakudo adalah penyumbang suara PAN yag sangat signifikan di Kabupaten Buton. Begitu juga ketika Pilkada Buton, pemilih pasangan Umar-Bakrin yang didusung PAN juga mengalami kemenangan di Lakudo. Tapi untuk Pilgub nanti suara masyarakat tidak akan lagi mendukung Nur Alam.

“ Warga Lakudo sebagian besar adalah pendukung PAN, tapi untuk Pilgub nanti. Masyarakat tidak akan memilih calon yag diusung PAN” tandas La Siha.

Akibat aksi pemblokiran jalan tersebut, kendaraan yang menggunakan jalan tersebut terpaksa memperpanjang jarak dan waktu tempuhnya karena harus berputar. Tentu saja hal ini dikeluhkan oleh para pegendara, khusuya kendaraan umum Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) baik yang dari kendari ke Baubau dan Kendari ke Mawasangka ( Kabupaten Buton) ataupun sebaliknya.

Kendati demikian, mereka masih dapat memaklumi, karen memang selama ini warga disepanjng jalan tersebut terpolusi debuh-debuh jalanan di musim kemarau dan lumpur di musim hutan akibat kendranan-kendaraan yag melewati jalan tersebut.

 “ Kami tidak marah, bahkan memaklumi aksi masyarakat tersebut, karen sudah cukup lama mereka menderita akibat tercemar debu di musim kemaru dan lumpur di musim hujan” tandas La Ali, salah seorang sopir AKDP . (MA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s