Rambi Wuna Ditampilkan di GKJ


KENDARI, KE – Rambi Wuna, musik khas tradisional Kerajaan Muna yang populer sejak abad ke-17 masehi, mulai mendapat perhatian serius dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Buktinya, Rambi Wuna menjadi satu-satunya musik tradisional Sulawesi Tenggara (Sultra) yang tampil di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (4/10).

Tampilnya Rambi Wuna dalam ajang itu, sebagai bagian dari promosi musik-musik tradisional Indonesia. Lainnya, promosi musik tradisional untuk menarik minat pariwisata dunia masuk Indonesia.

Banyak musik tradisional di Sultra, tetapi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih memilih Rambi Wuna, karena musik yang disuguhkan masih asli.

Ketua rombongan Rambi Wuna Ratna Ningsi Luneto mengungkapkan, tak mudah menampilkan musik tradisional di Gedung Kesenian Jakarta.

“Tapi karena ini undangan langsung dari kementerian, maka harus di ikuti. Sekalian promosi musik Rambi Wuna ini kepada dunia,” ucapnya di Kendari, belum lama ini.

Terdapat 21 orang pemusik berangkat ke Jakarta. Mereka membawa sejumlah alat musik tradisional khusus Rambi Wuna.

Yaitu Mata Tou, Gambus, Kusapi (kecapi), Dodoraba (Biola), Kaganda-ganda Mbite, Suli Anabati (suling), Paka-paka (belahan bambu yang dipukul), Bhoka-bhoka (sopotong bambu yang dipotong), Ganda ( gendang) dan Mbololo (Gong).

“Tampil di Gedung Kesenian Jakarta, menjadi impian semua seniman seluruh Indonesia. Gedung ini, merupakan tempat para seniman dari seluruh nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, sastra, dan lain sebagainya. Kita di Muna, harus berbagangga karena mendapat undangan khusus untuk tampil di sana,” tambah Ratna.

Rambi Wuna, merupakan musik tradisonal yang dimainkan ketika masyarakat Muna sedang bercocok tanam. Tujuan utama hanya untuk hiburan semata. Pada abad ke-16 musik ini juga dipakai untuk penyebaran agama Islam.

Pada abad ke-17 masa pemerintahan Raja Omputo Sangia, raja yang senang akan musik ini mengadakan barter dengan pedagang rempah-rempah dari Jawa dan menukarnya dengan gong, kemudian dipakai pada saat pingitan anak raja Wa Ode Komomono Kamba. Musik ini kemudian dikenal dengan nama Rambi Wuna. (aji/iis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s