Kerajaan Gowa dan FKIKN Nilai FKN VIII di Kota Bau-Bau Sukses


Mataharinews.com, Baubau – Kerajaan Gowa, salah satu kerjaan besar besar di Nusantara. Pada masa kejayaanya dibawah Pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowapernah mengukir sejarah dengan perang mati hidup melawan Kolonial Belanda yang kemudian kekalahan Gowa dan melahirkan perjanjian Bongaya.

Dalam Festifal Keraton Nusantara VIII di Kota Baubau Pusat peradaban Ex Kesultanan Buton tahun 2012 ini, Ex Kerajaan Gowa berusaha tampil maksimal dengan menghadirkan seluruh pasukan kerajaan dan benda-benda pusaka milik kerajaan.

Selain itu Kerajaan Gowa dan kerajaan-kerajaan pendukungnya seperti Kerajaan Tallo dan Kerajaan Wajo menampilkan atraksi Budaya berupa taria-tarian dan beladiri khas Makassar seperti sepak raga, kekebalan terhadap api dan lain-lain.

H. Sirajuddin Ardan, SH, sesepuh Kerajaan Gowa menjelaskan, Kerajaan Gowa berusaha tampil maksimal dalam FKN VIII di Kota Baubau ini tidak lepas dari hubungan sejara antara Kerajaan Gowa dan Kesultanan Buton.

Perang besar antara Kerajaan Gowa dan Kolonial belanda yang melahirkan perjanjian Bongaya, jelas Sirajuddin terjadi di Teluk Baubau, tempat diselenggarakan FKN.

Di laut teluk Baubau ini, Kata Sirajuddin ribuan tentara Kerajaan Gowa gugur ketikan bertempur melawan Belanda. Mereka itu adalah pahlawan bangsa ini dalam perjuangan melawan kolonial, khususnya bagi masyarakat ex Kerajaan Gowa.

H. Sirajuddin Ardan yang ketika diwawancarai telah berada di Kota Makassar( 4/) juga menjelaskan, seandainya dirinya tidak sakit dan dapat mengikuti kegiatan FKN sampai tuntas, maka dirinya akan mengungkap falsafah Kesultanan Buton yang memiliki kemiripan dengan falsafah masyarakat Gowa yakni ‘labu wana, labu rope’.

“Sebenarnya, kalau kesehatan saya tidak terganggu dan memaksa saya kembali ke Makassar, maka saya akan mengungkap falsafa masyarakat Buton, yakni Labu Wana, Labu Rope yang memiliki kemiripan dangan falsafah masyarakat Gowa ” Jelas Sirajuddin saat diwawancarai via telepon.

Sementara ketika ditanya mengenai apa saja kesan dari FKN VIII kali ini, Sirajuddin menjelaskan, kesan pertama pertama yang ditangkap adalah keramahan masyarakat Kota Baubau yang menerimah peserta dari daerajh lain.

Hal itu cetus Sirajuddin tergambar dari tertibnya masyarakat dalam menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan FKN. Padahal masyarakat yang menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan membludak namun tidak ada yang mengganggu jalannya kegiatan dalam bentuk keributan.

Bahkan menurut salah seorang kerabat keraton yang memangk jabatan penting dalan Kerajaan Gowa, sebagai Gallarang Parigilolo ini, jalannya FKN VIII ini terbilang lebih baik dari pelaksanaan kegiatan yang sama di daerah lain.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Ketua Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Se- Nusantara ( FKIKN ), gusti Raden Ayu Kusumartia Pandan Wangi dalam sambutannya pada pembukaan Dialog dan Musyawarah Para Raja dan Sultan Se- Nusantara di Baruga Keraton Wolio, Baubau (4/9).

Menurut Gusti Raden Ayu Kusumartia Pandan Wangi, FKN VIII lebih baik dan sukses bila dibanding dengan pelaksanaan di daerah-daerah lain.

“Didaerah lain, parade perangkat kerajaan dan Kesultana serta pasukan kerajaan hanya sampai keluar arena upacara kemudian bubar. Namun di Baubau ini, parade itu dapat berjalan mengelilingi kota dan sampai finis ditempat yang ditentukan yaitu alun-alun Kotamara” Jelas pandan Sari.(MA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s