Aduan Kuda di Kabupaten Muna


 

A. Selayang Pandang

Aduan Kuda merupakan salah satu olahraga tradisional yang terkenal di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna dan telah menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat luas. Di kalangan masyarakat Muna, atraksi ini populer dengan sebutan pogeraha adara, yang berarti ‘adu kekuatan kuda‘. Atraksi aduan kuda memiliki nilai filosofi yang berkaitan dengan keutamaan hak dan harga diri dalam melaksanakan tanggung jawab. Masyarakat suku Muna akan berupaya sekuat tenaga dalam menjaga hak dan harga dirinya, walaupun nyawa taruhannya. Sampai sekarang, filosofi tersebut tetap menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku Muna.

Atraksi adu kuda ini merupakan warisan dari kerajaan Muna di era kejayaannya. Pada awalnya, aduan kuda ditampilkan pada saat raja-raja di Kerajaan Muna kedatangan tamu penting dari luar daerah, seperti dari pulau Jawa atau dari daerah lain. Untuk menghibur para tamu tersebut, maka diadakanlah atraksi aduan kuda yang kemudian menjadi tradisi turun-temurun. Setelah kerajaan runtuh, tradisi aduan kuda tetap berkembang, bahkan saat ini menjadi salah satu tradisi unggulan masyarakat suku Muna.

Setiap tahun setidaknya tiga kali diadakan atraksi aduan kuda, yaitu pada peringatan Hari Kemerdekaan RepublikIndonesiadan dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha). Biasanya, aduan tersebut selalu ramai ditonton oleh masyarakat. Pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, penontonnya bisa mencapai ribuan yang datang dari berbagai daerah.

B. Keistimewaan

Atraksi aduan kuda dipimpin oleh pawang dengan membacakan mantra untuk membangkitkan kemarahan dua kuda jantan yang akan dipertandingkan. Setelah pembacaan mantra selesai, maka sekelompok kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan dihadirkan di tengah arena. Tentu saja kuda yang dijadikan pemimpin dalam kelompok tersebut adalah kuda yang berbadan besar dan garang. Dari sisi lain, juga dikeluarkan seekor kuda jantan yang bertubuh besar siap menantang pimpinan gerombolan kuda betina tersebut. Kuda jantan ini berusaha mendekatkan dirinya ke kelompok kuda-kuda betina, sehingga pimpinan kuda betina menjadi marah. Maka pertarungan untuk menunjukkan keunggulan di hadapan kuda betina tidak dapat dielakkan lagi. Kemarahan kuda akan memuncak dengan saling menendang, menggigit, dan menanduk.

Untuk mengantisipasi amukan kuda agar tidak mencederai para penonton, maka peran pawang kuda sangat menentukan. Selain dapat membangkitkan emosi kuda jantan untuk saling menyerang, para pawang juga bertugas mengendalikan amukan kuda agar tidak melampiaskan kemarahannya kepada para penonton. Dengan adanya pawang tersebut, aduan kuda berlangsung dengan lancar dan para penonton dapat menyaksikan pertarungan kuda dari jarak dekat.

Hal lain yang tidak kalah menarik dari atraksi aduan kuda adalah tontonan tambahan yang kerap ditampilkan sebagai pembuka, seperti tari-tarian kebesaran, pencak silat, dan pertunjukan musik dari artis lokal. Pertunjukan pembuka tersebut dipersembahkan oleh beberapa orang gadis dan pemuda setempat.

C. Lokasi

Aduan kuda biasanya diadakan di lapangan terbuka di Ibu Kota Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia.

D. Akses

Untuk mencapai lokasi aduan kuda ini, para wisatawan dapat menempuh dua alternatif perjalanan, yaitu menggunakan kapal laut atau pesawat perintis. Jika menggunakan kapal laut, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Nusantara di Kota Kendari menuju Pelabuhan Raha (Ibu Kota Kabupaten Muna) dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Sementara jika menggunakan pesawat perintis, perjalanan dimulai dari Bandara Walter Monginsidi yang terletak di Kota Kendari menuju Bandara Sugimanuru yang terdapat di Kabupaten Muna atau 25 km dari Kota Raha. Setelah sampai di Bandara Sugimanuru, pejalanan dilanjutkan ke Kota Raha menggunakan angkutan umum dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari Kota Raha, perjalanan dilanjutkan ke lokasi aduan kuda yang berjarak 20 km dengan waktu tempuh sekitar 25 menit.

E. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di lokasi aduan kuda belum tersedia tempat menginap bagi wisatawan yang datang dari luar daerah. Apabila wisatawan memerlukan penginapan, dapat menghubungi tetua adat untuk mendapatkan tempat penginapan, karena masyarakat suku Muna sangat menghargai tamu dan bersedia menyediakan tempat bagi mereka yang datang dari jauh. Tetapi, jika wisatawan membutuhkan penginapan yang nyaman dan fasilitas yang lebih lengkap, bisa mendapatkannya di Kota Raha. Sementara untuk kebutuhan makanan, para wisatawan dapat memperolehnya di warung-warung makan yang ada di sekitar lokasi wisata yang menyajikan aneka makanan khas masyarakat suku Muna.

4 thoughts on “Aduan Kuda di Kabupaten Muna

  1. sukses dan lestarikan tradisi budaya aduan kuda sebagai bagian dari aikon budaya Kab muna, semoga anak cucu kita bisa tetap melihat dan mengetahui tradisi daeranya, aduan kuda (pogiraha adhara). Ada pelajaran nilai filosofis dari budaya aduan kuda.

    Suka

  2. menarik… rencana tahun depan sy akan melakukan penelitian tentang aduan kuda di muna. mohon infonya yah siapa yang bisa dihubungi!!!!!

    Suka

  3. For Tini

    Kalau anda org Wuna, dpt lamgsung ke Desa Latugho kec Lawa dan anda temui La Ode Piiga
    Kalau belum pernah ke Kab. Muna anda dpt menghubungi saya di Hp 082348456846 atau dapat hubungi humas pemkab Muna di kantor pemda Muna.

    Selamat melakukan penelitian
    salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s