Raja Muna XXXIV – La Ode Pulu (1914-1918)


Pada masa pemerintahan la Ode Pulu, intervensi politik Kolonial Belanda di Kerajaan Muna semakin kuat.Hal ini berkaitan dengan diterimanya pemerintahan Kolonial Belanda di Kesultanan Buton. Dengan demikian Pemerintah Kolonial Belanda semakin mudah menjalankan Politik ‘devide et impera’ nya. Salah satu trik politik devide et Impera tersebut adalah dimana pada akhir masa pemerintahan La Ode Pulu ( 1918 ) Pemerintah Kolonial belanda dan Kesultanan Buton secara sepihak melakukan perjanjian yang dikenal dengan Korte Verklaring pada 2 Agustus 1918. dalam perjanjian itu Belanda diwakili oleh Residen Bougman sedangkan Kesultanan Buton di Wakili oleh Sultan Buton La Ode Muhammad Asyikin. Isi perjanjian tersebut adalah Belanda hanya mengakui ada dua pemerintahan setingkat swapraja di Sulawesi tenggara yaitu Swapraja Laiwoi dan Swapraja Buton. Dengan demikian menurut perjanjian tersebut secara otomatis muna menjadi bagian dari Kesultanan Buton/ Underafdeling.
Sebagai Raja yang berdaulat dan diangkat oleh Sarano Wuna, La Ode Pulu tidak mengakui perjanjian Korte Varklering tersebut sehingga beliau memimpin rakyat Muna untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda dan Buton untuk menolak secara keselurahan dari isi perjanjian tersebut .Penolakan Raja La ODe Pandu dan segenap Rakyat Kerajaan Muna tersebut kemudian menjadi alasan bagi Belanda untuk mengirimkan pasukan militer guna memerangi kerajaan Muna yang dianggap membangkang padahal sesungghnya Belanda ingin menjadikan Kerajaan Muna sebagai Jajahannya. Untuk memuluskan tujuannya Belanda mengajak Kesultanan Buton memerangi Kerajaan Muna.
Invasi militer pasukan koalisi Buton dan Belanda tersebut dihadapi Rakyat Muna dengan tidak gentar sehingga terjadi perang terbuka antara Rakyat Muna yang pasukan koalisi Buton Belanda. Karena kalah dalam persenjataan dan jumlah personil pasukan. maka La Ode Pulu dan pasukannya dapat dikalahkan oleh Pasukan Koalisi Belanda-Buton. Setelah mengalami kekalahan La Ode Pulu di tangkap oleh Belanda dan asingkan di Nusa Kambangan. Selama dua Tahun pasca pemerinyahan La Ode Pulu, Kerjaan Muna berada dalam Kekuasaan Kolonial Belanda sampai dewan Adat ( Sarano Wuna mengadakan rapat dan mengangkat La Ode Afiuddin sebagai Raja.

Jadi secara resmi Pemerintahan Kolonial Belanda berhasil menguasai Muna pasca penanda tanganan perjanjian Korte Varklering tersebut yaitu tahun 1918. Ada juga yang mengatakan Belanda berhasil menguasai Muna pada tahun 1906 yaitu bertepatan dipindahkanya Ibu Kota Kerajaan Muna dari Kota Muna ( Kampung Lama ) ke Kota Raha ibu Kota Kabupaten Muna saat ini. Pemindahan Ibu Kota Kerajaan Muna dari Kota Muna ke Raha itu terjadi pada masa pemerintahan Raja Muna ke – 30 La Ode Ngkaili.

Demikian pula klaim Buton bahwa Kerajaan Muna adalah bagian/barata sebenarnya tidak pernah ada karena tidak pernah ada sebab tidak pernah mendapat engakuan dari Raja-Raja Muna dan Sarano Wuna serta seluruh rakyat Kerajaan Muna sampai Kerajaan Muna bubar karena bergabung dengan NKRI. Klaim Kesultanan Buton terhadap Kerajaan Muna menjadi bagian dari baratanya hanya berpedoman pada perjanjian Korte Varklering ton produk sindikasi Kesultanan Buton dengan Kolonial Belanda.

5 thoughts on “Raja Muna XXXIV – La Ode Pulu (1914-1918)

  1. saya melihat bahwa ternyata nenek moyang saya adalah raja-raja yang tidak tunduk kepada pemerintahan Belanda pada saat itru dan kini saya sebagai anak bangsa yang paham akan pentingnya kemerdekaan indonesia menjadi semangt baru untuk membangun gerakan pemuda asia raya untuk mempertahan asia raya dari sengkraman kapitalis imperialisme Global

    Suka

  2. Simak terus posting-posting di blog ini agar semakin jelas bahwa Orang Muna dari dulu tidak pernah tunduk pada imperialisme dan liberalisme dan kita sebagai penerusnya harus berbangga dengan sikap nenek moyang kita tersebut dan bertekat untuk meneruskannya sebagai mana falsafa yang diajarkan Sugi Manuru ” Hansuru-hansuru badha sumano kono habsuru Liwu, Hansuru-hansuru Liwu sumano Kono Hansuru Adhati, hansuru-hansuru Adhati sumano Tangka Agama” Dengan semangat Poangka-angka tao, Poadha-adhati, Pomaasi-maasigho dan Pobini-biniti Kuli……. Selamat Berjuang Ingat Kabarakatino Wuna

    Suka

  3. Dahulu… Ada beberapa yang menjadi Sultan di Buton berasal dari Muna, dan sebaliknya Ada beberapa Raja di Muna berasal dari Buton..
    Apakah ini merupakan bukti persaudaraan ataukah ini bukti pengabilalihan kekuasan dari kedua belah pihak?…???????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s