.Raja Muna X – Titakono ( 1600- 1625 )



 pada masa pemerintahan La Titakono penyebar
Islam kedua yakni Firus Muammad masuk dimuna. Pada fase kedua masuknya penyebar
agama islam di muna juga belum berjalan secara efisien. Agama islam pada masa
itu berkembang sangat lamban. Hal ini berkaitan dengan Raja Muna belum memeluk
agama islam. Sebagai seorang pemimpin yang menjadi panutan seluruh warga,  maka masuknya seorang raja pada suatu aliran
atau agama tertentu sangat berperan terhadap penyebarluasan kepercarayaan atau
agama tersebut.Hal ini juga terjadi di Kerajaan Muna.
Walaupun
Raja Muna La Titakono belum memeluk islam. namun beliau sangaat toleran
terhadap pemeluk islam yang saat itu masih sangat minoritas serta menghargai
nilai-nilai islam. Sebagai bukti penghormatan beliau pada islams yaitu pada  masa pemerintahannya masjid pertama dibangun
di Muna ( 1614 ). Pembangunan masjid itu diikuti oleh pembagunan pusat
pendidikan islam. Seiring dengan  itu
ajaran islam sedikit demi sedikit mulai dipelajari masyarakat Muna. Seluruh
proses pembangunan masjid dan islamic center tersebut seluruhnya difasilitasi
oleh Raja La Titakono.
Bukti
lain sikap toleransi raja La Titakono terhadap islam adalah dibiarkanya salah
seorang putranya yaitu La Ode Sa
aduddin menjadi murid Firus Muhammad Penyebar islam kedua di Muna.
Bahkan La Ode Sa
aduddin menjadi orang istana pertama
yang memeluk agama Islam.
Agama
Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah Putra La Titakono yakni La
Ode Sa
aduddin di nobatkan menjadi Raja
Muna XI setelah La Titakono Mangkat.
Selain membangun
masjid, Raja Titakono membentuk lembaga baru dalam sturktur pemerintahan
kerajaan muna yaitu Bonto Bhalano. Bonto Bhalano adalah sebuah lembaga sejenis
Majelis Permusyawaratan Rakyat yang bertugas memilih dan mengangkat Raja Muna
Pada masa Pemerintahan Raja Muna IX TITAKONO struktur
golongan masyarakat Muna juga ditambah dengan golongan wesimbali.
Golongan Wesimbali
adalah goloangan yang  timbul karena
perkawinan antara dua golongan yang sebenar nya dilarang dalam hukum adat.
 Pada zaman dahulu wanita Kaomu dan Walaka
pantang menikah dengan goloangan Lakono sau poino kontu. Golongan Wesimbali
ini  terbagi lagi menjadi dua yaitu ;
Þ Golongan La Ode Wesimbali, yaitu turunan dari wanita
kaumu dengan laki-laki wawono liwu. Derajat dari La Ode Wasembali dijadikan
setara dengan Golongan Walaka, tetapi tidak boleh menduduki jabatan seperti
golongan Walaka.
Þ Golongan Walaka Wesimbali, yaitu keturunan dari wanita
kaomu dengan laki-laki dari golongan Wawono Liwu. Walaka Wasembali di
sejajarkan dengan derajatnya Anangkolaki (fitu bengkauno) tetapi jug tidak
dapat mendudukuki jabatan seperi golongan Angkolaki.
Raja Muna Titakono juga mengadakan  perubahan pada  struktur pemerintahan. Dalam Rapat Agung
Kerajaan di hadiri oleh Raja, 4 Mino, 4 kamokula diangkat Pejabat Bantobalono.
Banto Balano yang pertama adalah La Marati, anak dari Wa Ode Pogo hasil
perkawinanya dengan La Pokainse.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s