Raja Muna XIV – LA Ode Saete gelar Sorano Masigi ( 1816-1830 ).


La Ode Saete merupakan Raja Muna yang dipilih oleh sarano (dewan adat ) Wuna. Pada waktu yang bersamaan, Kolonial belanda menunjuk la Ode Wita dari Kesultanan Buton Sebagai Raja Muna sehingga pada waktu itu terjadi dualisme kekuasaan di Muna.Rakyat Kerajaan Muna dan Sarano Wuna menolak La Ode Wita yang telah ditunjuk Kolonial Belanda tersebut
Karenanya sejak awal pemerintahan La Ode Saete, Belanda dan sekutunya Buton memerangi Kerajaan Muna sebagai akibat dari penolakan Sarano Wuna dan Rakyat Muna terhadap pengangkatan La Ode Wita sebagai Raja Muna yang di tunjuk oleh Belada. Menghadapi dua kekuatan besar tersebut, La Ode Saete tidak gentar. Dia menyusun menyusun strategi dalam menghadapi perang tersebut serta menyeruhkan perang semesta.
Strategi yang pertama dipilih oleh La Ode Saete untuk menghadapi perang tersebut adalah Raja La Ode Saete kembali meindahkan pusat pemerintahan dekat dengan masjid Muna di Kota Lama Muna. Setelah itu Raja La Ode Saete juga menyususn strategi perang dalam melakukan konfrontasi dengan Belanda yang berkoalisi dengan Kesultanan Buton tersebut. Strategi yang dilakukan oleh La Ode Saete tersebut ternyata sangat jitu sehingga Belanda tidak dapat menguasai Kerajaan Muna. Karena La Ode Wita mengembalikan Pusat Kerajaan Muna kembali di Kota Tua Wuna berdekatan dengan Masjid Wuna, membuat beliau digelar dengan ‘ Omputo Sorano Masigi’ artinya raja yang mendekati masjid.
Semasa kepemimpinan La Ode SAETE sebagai raja Muna, terjadi beberapa kali perang terbuka antara Kerajaan Muna dan Kolonial Belanda yang dibantu dengan Kesultanan buton. Dalam perang tersebut Pasukan Belanda dan dan Buton terus mengalami kekalahan. Belanda dan sekutunya Buton kewalahan menghadapi Pasukan Kerajaan Muna.
Beberapa kali Pasukan Koalisi Buton Belanda dapat dihancurkan oleh pasukan kerajaan Muna yang dipimpin oleh Raja La Ode Saete. Tak mampu menundukan Kerajaan Muna, akhirnya La Ode Wita Raja yang dilantik Oleh Belanda akhirnya ditarik kembali Ke Kesultanan Buton. La Ode Saete mengakhiri masa kekuasaannya di Muna setelah beliau Mangkat pada tahun 1830.

2 thoughts on “Raja Muna XIV – LA Ode Saete gelar Sorano Masigi ( 1816-1830 ).

  1. formuna berkata:

    Kawan Azmisha Yang terhormat

    Samapi saat ini belum kami temukan dokumen sejarah yang mengisahkan La Ode Wuna. Memang dalam tradisi lisan sering diceritakan tentang kisah La Ode Wuna yang konon berwujud ular berkepala manusia.

    Legenda yang mengisahkan tentang La Ode Wuna pun berbeda-beda, ada yang mengsahkan bahwa dia diusir dari kerajaan Muna karena bertingkah yang dapat mencorong kewibawaan ayahandanya raja Muna Sugi Manuru.

    Dalam perjalanan dalam pembuangannya tersebut dia terlebih dahulu singgah di Oenggumora ( saat ini masuk dalam wilayah kecamatan Pasir Putih . Dari Oenggumora itulah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Maluku dengan menumpang dua buah kelapa.

    Tapi ini hanyalah leenda yang tidak bisa dikatakan sebagai sejarah karena dalam penyajiannya dibumbui dengan mitos-mitos.

    Selanjutnya mau percaya mau tidak silakan…. tapi sangat bagus mungkin kawan mau melakukan penelitian khusus tentang kisah ini.

    Salam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s