NEGERI PARA PENYAMUN


Oleh : Muh. Alimuddin

Kisah ini adalah Fiksi tapi Fakta sehingga kami menamakannya sebagai cerita Faksi. Dibilang fiksi karena penaman tokoh dan tempat yang ada dalam kisah ini semuanya fiktif belaka. Sedangkan faktanya konten yang ada dalam kisah ini merupakan kisah nyata yang dapat dilihat, diraba dan diterawang ( 3D ?) oleh setiap orang. Kami tidak mau mengklaim ini sebagai kisah nyata, tapi setidaknya ini adalah realita yang sangat sulit dibantah dengan argumentasi dan berbagai alasan apapun untuk mengingkarinya.
Syahdan, di sebuah sebuah wilayah otonom (setingkat Kabupaten kalau di dalam sistem Pemerintahan RI) yang kami namakan sebagai negeri para penyamun, hiduplah seorang yang kami beri nama La Faksi ( selanjutnya tokoh dan tempat yang ada dalam cerita ini penamaannya semuanya suka-suka kami), seorang yang sederhana dan banyak mengetahui sepak terjang penguasa di Negeri Para Penyamun tersebut, baik yang lalu maupun yang kini . La Faksi bukanlah Orang yang hanya numpang hidup di negeri tersebut, tapi dia lahir besar bahkan nenek moyangnnya pun lahir hidup dan mati di di negeri itu, sehingga faktanya La Faksi adalah Orang Negeri Para Penyamun tersebut.
Karena La Faksi adalah Orang di Negeri Para Penyamun maka La Faksi merupakan salah seorang dari lebih 300 Ribu orang di Negeri Para Penyamun yang menjadi Korban Kerakusan dan keserakahan para penguasa dan segelintir orang-orang yang dulu mengaku sebagai aktifis dan kini menjadi bagian dari kekuasaan.
Dulunya La Faksi bergabung dengan para aktifis penyamun yang kini menjadi bagian penguasa tersebut. Bergabungnya La Faksi di kelempok itu karena terdorong suatu niat yang suci untuk berjuang melepaskan rakyat di Negeri Para Penyamun dari belenggu tirani dan keserakahan serta kerakusan penguasa negeri pada saat itu yang diklaim oleh aktifis penyamun tersebut sebagai penyamun kelas kakap.
La Faksi Percaya, data – data tertulis yang disajikan sangat terang benderang (menjiplak istilah SBY) mengindikasikan penguasa penyamun saat itu telah merampok uang rakyat adalah sebuah keniscayaa. Hal yang menyebabkan La Faksi begitu yakin adalah data-data yang diperoleh tersebut telah dikaji secara ilmiah baik dari segi hukum maupun dari segi penerapan kebijakan oleh mereka yangmemiliki kapasitas untuk itu. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa Penguasa Negeri Para Penyamun kala itu telah menerapkan kebijakan yang salah sehingga berpotensi terjadinya perampokan uang rakyat.
Fakta lainya yang dapat dilihat dengan kacamata awam tampa kajian para pakar adalah kondisi rakyat Megeri Para Penyamun tersebut sangat miskin. Lapangan kerja boleh dikata tidak ada harga bahan kebutuhan pokok dan kebutuhanseunder lainya sangat mahal sehingga rakyat di negeri itu sangat sulit untuk mengaksesnya. Kondisi itu sangat kontraditif dengan kekayaan alam yang di miliki negeri itu. Betangan tanah negeri para penyamun tersebut sangat subur dan ditumbuhi sekitar 60% hutan yang kayunya memiliki harga yang sangat mahal di pasaran baik lokal,nasional apalagi di tingkat Internasional.
Demkian juga dengan lautnya yang mengelilingi Pulau Negeri itu dapat di andaikan sebagai ‘Kolam Susu’ seperti yang digambarkan oleh Kus Plus dalam sebuah lagunya yang melegenda. Dilaut, rakyat negeri para Penyamun hanya cukup bermodalkan kail dan maka ikan dan udang akan mengamprimu. Sedangkan di darat Tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Jadi jelasnya Alam yang dimilikioleh Negeri itu adalah ‘Tanah Sorga’
Pertanyaannya sekarang mengapa rakyat negeri itu tetap menjadi miskin, padahal mereka hidup dalam sorga ? Pertanyaan itu pula yang menggelitik La Faksi sehingga dia mau mencari tahu penyebabnya. Ternyata setelah bergabung dengan para aktifis penyamun dalam wadal sebuah NGO atau lebih kerennya lagi di sebut eLeSeNg, maka La Faksi sedikit mengetahui bahwa penyebabnya adalah kekayaan negeri itu dielksploitasi oleh penguasa dan kroni-kroninya dan hasilnya di makan sendiri bukan digunakan mensejahterahkan Rakyatnya. Bahkan La Faksi melihat sendiri puluhan ribu hektarhutan dibabat, sementara kayunya ditimbun hampir menutupi seluruh tanah di Negeri itu untuk menunggu untuk di jual. Dan begitu kayunya laku terjual uangnya sebagian kecil masuk ke pundi-pundi daerah sedangkan sebagian besarnya masuk ke kantong penguasa dan kroninya.
La Faksi sagat berang dengan kejadian itu. Dengan dibantu sedikit kekuatan rakyat mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap para perampok itu. Teman-teman La Faksi juga ikut bersamanya. Bahkan mereka tidak segan-segan menunjuk hidung siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal perampokan uang rakyat tersebut. Rakyat menjadi kagum dengan keberanian mereka itu. “ ini baru pejuang rakyat, kita harus dukung mereka” begitulah sebagian komentar orang.
Dari teriakan-teriakan mereka yang begitu keras ternyata telah membangun persepsi orang bahwa mereka benar-benar bersih, sebab hanyalah orang – orang bersihlah yang berani berteriak di jalan kalau orang lain itu maling. Tak pelak dukungan rakyat pun terus mengalir hingga pada suatu waktu kelompok mereka ikut dalam Pilkada ( meminjam istilah di Negara RI ) dan akhirnya memenangkan Pilkada itu.
Dengan kemenangan itu Rakyat berharap banyak, diantaranya penyamun di Pemerintahan sudah tidak ada lagi. Tapi faktanya? Begitu mereka berkuasa ternyata sifat-sifatpenyamun mereka muncul. Bahkan secara terang benderang mereka lakonkan di depan kelopak mata rakyat yang menggantungkan sejuta harapan pada mereka. Hal yang baru saja terjadi adalah ketika seorang yang tidak dilantik menjadi pejabat Eselon 3 berteriak untuk dikembalikan uangnya yang telah terlanjur diserahkan sebagai jaminan untuk menjadi pejabat. Berita itu sempat menghiasi Media tapi sepertinya tidak ada tindak lanjutnya. Yach…… begitulah karakter di negeri penyamun……….. rakyatpun harus sabar menunggu lima tahun lagi untuk terjadi perubahan di negerinya…………. Tapi apakah itu tidak terlalu lama?….. tidak adakah elompok lain yang memiliki eberanian untuk menatuhkan pejabat itu di tengah jalan dan mereka tidak lagi di berikesempatan untuk berkuasa di Negeri itu ? KITA TUNGGU SAJA…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s