Din: Seperti Biasa, Ucapan Presiden Mempesona Dalam dialog semalam semua pendapat diterima presiden kecuali satu, istilah ‘kebohongan’.


Selasa, 18 Januari 2011, 15:32 WIB

Elin Yunita Kristanti, Zaky Al-Yamani

VIVAnews – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din
Syamsuddin menilai, pertemuan dengan Presiden SBY semalam masih belum
membahas substansi persoalan. Perkataan presiden masih bersifat
normatif.

“Seperti biasanya,  ucapan presiden sangat mempesona
dan mengesankan. Namun  masih bersifat normatif. Dan pertemuan semalam
baru pada tingkat  permukaan belum menyentuh substansi masalah” ujar Din
di  Gedung CDCC, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 18 Januari 2011.

Din sendiri menggambarkan dialog semalam berlangsung hangat, terbuka namun belum substantif.

“Dialog
semalam baru di pintu  gerbang belum masuk rumah permasalahan,” ujar
Din. Menurutnya,  perlu diadakan dialog lanjutan untuk membahas
substansi  permasalahan.

“Kami mengapresiasi diadakannya dialog
lanjutan  untuk membahas sub permasalahan yang dialami bangsa ini. Bagi 
kami, ini (dialog semalam) belum selesai.”

Dalam dialog semalam,
Din menuturkan semua pendapat diterima presiden. Kecuali satu. “Istilah
kebohongan publik. Sudi Silalahi merasa tersinggung,” kata dia.

Din lantas menirukan ucapan Sudi Silalahi, “kami tidak punya apa-apa lagi kecuali kehormatan  yang kami jaga.”

Dijelaskan
Din, istilah ‘kebohongan pemerintah’ diusulkan badan pekerja dan tokoh
lintas agama menyetujuinya. “Bukan kebohongan tapi  kebohongan publik
antara yan terjadi dan tidak terjadi,” ujar dia.

Din menegaskan
gerakan moral tokoh lintas agama didukung oleh badan pekerja yang
terdiri dari 65 lembaga masyarakat madani yang punya pengalaman keahlian
di bidang masing-masing dan mempunyai data yang tokoh lintas agama
yakini akurat.

“Jadi ini bukan gerakan omong doang tapi base on fact,  sehingga dengan data itu dapat adu argumen,” ujar Din.

“Umpamanya
kemiskinan jangan ditutupi presentasi rakyat miskin yang diklaim
berkurang. Lihat realitasnya, masih banyak masyarakat yang susah makan
dan dapurnya masih menggunakan kayu bakar.”

Oleh karenanya,
pemerintah jangan bicara angka kuantitatif tapi kualitatif. “Itu (angka
kuantitatif) instrumen kapitalis,” tutur Din.

Untuk sementara para tokoh agama dalam posisi menunggu. “Kami akan mengamati apa yang dilakukan pemerintah. Kami menghargai good will pemerintah untuk menyelesaikan masalah bangsa, tapi tetap kita tunggu realisasi di lapangan” ujar Din. (umi)
• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s